Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Penguntit



Setelah pembicaraan dengan Galang lewat handphone, Raja menyodorkan handphonenya ke bagian resepsionis. Ada pesan masuk di email Raja, kalau dia mendapatkan complimentary menginap di salah satu villa di resort itu.


Selama 2 hari itu Raja merenungkan semua perbuatan yang telah dia lakukan ke Sekar. Raja juga menggunakan waktunya ketika tidak bekerja untuk membaca karangan novel Sekar yang lain. Yang tidak lain lagi adalah tentang kisah cinta Kasih dan Galang yang sudah diunggah Sekar di noveltoon.


Raja mulai membadingkan dirinya dengan Galang. Galang yang hanya mengenal Kasih dalam waktu sebulan, tapi Galang berani menikahi Kasih. Sedangkan dirinya hanya menggantungkan perasaan Sekar.


Maafkan aku Sekar yang dulu pernah memberi harapan palsu untuk menikahimu, batin Raja.


Malam itu setelah  Raja menyelesaikan membaca novel yang di buat oleh Sekar, Raja merasa rindu mendengar suara nyanyian Sekar. Biasanya kalau di Tarempa, dia bisa datang langsung ke lounge bar menikmati suara merdu Sekar dengan dawaian cello. Raja mulai sadar kembali kalau dirinya tidak pernah mementingkan hal-hal kecil yang dilakukan Sekar. Raja tidak pernah merekam suara merdu Sekar. Raja juga hanya memiliki sedikit koleksi foto Sekar.


Hari berikutnya, Raja memutuskan untuk pergi ke salon yang berada di resort itu. Dia ingin merubah penampilannya yang sangar menjadi lebih kebapakan. Memotong rambut gondrong dan mencukur brewok yang terlalu lebat.


“Wauuww… Sudah cucok meong sekarang. Makin ganteg dan greget…” kata orang salon yang berpenampilan perempuan tapi suaranya ngebas.


“Thanks mam,” kata Raja sambil merogoh dompetnya dan memberi tip.


“Thank you om…” pegawai salon itu mengambil tip pemberian Raja. “Kita ada promo waxing juga. Waxing bulu-bulu biar makin fresh… Mampir lagi ya om besok? Mau saya booking kan?” menawari dengan gaya centilnya.


“No thanks.” Menolak sedikit risih karena lengannya dicolek-colek.


Setelah selesai dari salon, Raja berjalan menuju sebuah cafe yang ada di lobby. Dari kejauhan, Raja melihat Sekar yang tengah berjalan dengan Kasih. Dia segera mengambil masker penutup mulut dan memakai topinya.


Dari posisi Raja duduk itu, dia melihat senyum Sekar yang merekah. Perempuan yang dia cintai itu terlihat bahagia bercakap-cakap dengan Kasih.


_____


Pagi itu Sekar dan Kasih berjalan ke outlet toko baju yang ada di lobby. Sekar menemani Kasih untuk membeli baju di toko itu.


“Waahhh banyak koleksi baru ya mbak?” tanya Kasih kepada penjaga outlet itu.


“Iya buk, baru datang dari Thailand kemarin… Kalau yang sebelah sana produk lokal dari Bandung,” sahut penjaga outlet baju.


Sekar pun ikut melihat-lihat baju di outlet itu. Hal pertama kali bila dirinya merasa tertarik, Sekar akan mengecek harga label di baju itu.


Ya ampun...? Mahal kali harganya. Cuma kaos gini aja $50 sing (Singapore) dollar? Batin Sekar.


Sekar mulai memilah-milah baju yang lain. Siapa tahu ada harga yang cocok dengan kantongnya. Dia juga mengecek baju anak-anak. Matanya terbelalak melihat baju anak-anak lebih mahal dari baju orang dewasa. Ingin sekali rasanya membeli baju baru untuk Boy dan Gadis. Tapi dirinya harus ingat kalau saat ini tidak memilki pekerjaan.


Lucu sekali ini kalau dipakai buat Boy… Apalagi yang ini warnanya cantik untuk Gadis… Batin Sekar yang hanya mampu mengusap-usap baju yang dia lirik. Sebetulnya bisa saja Sekar memakai kartu pemberian pak Ansu. Tapi dia mengurungkan niatnya karena kalau sudah pernah menggesek pasti akan ketagihan buat belanja yang lain.


Raja yang duduk di café mulai menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Sekar. Raja melihat Kasih yang sudah menumpuk banyak baju di kasir untuk dibeli. Sedangkan Sekar tidak mengambil apapun. Dari kondisi itu, Raja sedikit gemas karena tidak bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Sekar. Akhirnya ada sebuah ide yang melintas di benaknya.


“Miss…” sapa Raja kepada karyawan di konter cafe itu. “Bisa minta tolong beri uang ini untuk perempuan yang sedang bersama istri bos mu itu?” tanya Raja sambil menyodorkan beberapa lembar uang Singapore dollar. “Kamu bilang, uang ini dari Pak Ansu. Kamu harus pastikan dia menerima uang ini. Jangan sampai dia menolak... Dan ini buat kamu.” Raja memberi selembar tip untuk karyawan cafe itu.


Perempuan yang disuruh Raja itu segera pergi menemui Sekar. Sedangkan Raja mulai meninggalkan cafe.


“Buk… Permisi buk…” sapa perempuan cafe tadi kepada Sekar.


“Ya? Kenapa mbak?” tanya Sekar.


“Ini saya disuruh ngasih uang ini ke ibu. Dari pak Ansu.” Sekar yang melihat uang cash berlembar-lembar itu cukup bingung. Secara pak Ansu sudah pergi dari resort itu sejak kemarin malam. “Ini buk, saya harus buru-buru balik kerja,” kata perempuan itu menyodorkan lebih dekat. Sekar yang masih kebingungan mulai menerima uang yang diberikan oleh perempuan itu.


“Iya buk, sama-sama. Saya permisi dulu…”


Sekar mulai menatap uang yang dia pegang… Apa memang aku harus belanja buat Boy sama Gadis ya? Baik banget sih grandpa kalian, nak… Batin Sekar.


Dari kejauhan, Raja masih memperhatikan Sekar. Raja melihat Sekar mulai mengambil beberapa baju anak-anak untuk dibayar ke konter. Wajah bahagia yang dipancarkan oleh Sekar itu membuat Raja merasa bangga karena pemberiannya tidak ditolak.


Pagi itu Raja tidak henti-hentinya mengikuti kemanapun langkah Sekar. Raja memandangi wajah manis yang sudah membuatnya rindu lagi sedang menikmati sarapan di restaurant. Raja menutupi wajahnya dengan koran untuk mengintip Sekar yang sedang makan.


“Jadi gini, Sekar… Aku dah bilang ke mas Galang biar ngasih kerjaan ke kamu di sini. Mas Galang bilang nanti kamu boleh ngisi bagian entertainment di restaurant bawah air punya kita di sini... Kamu gak usah kuatir lagi soal pekerjaan. Yang perlu kamu kuatirkan gimana caranya kamu harus jujur ke orang tuamu di Jogja…” Ucapan Kasih itu membuat aktifitas Sekar mengunyah menjadi terhenti. “Mau sampai kapan kamu sembunyiin Boy sama Gadis…?”


“Iya… Aku juga mikir ke arah itu,” jawab Sekar.


“Mikirnya jangan kelamaan… Kamu juga harus nyari ayah baru buat Boy sama Gadis.” Ucapan Kasih kali ini membuat Raja yang sedang menguping, meremas kertas korannya. Raja tidak rela kalau sampai hal itu terjadi. Dia tidak akan membiarkan Sekar dimiliki oleh laki-laki mana pun.


“Kamu masih ingat sama Teo gak? Karyawannya mas Galang yang pernah ngajarin kamu renang dulu itu…” Sekar mencoba mengingat-ingat wajah Teo.


“Kenapa dia?” tanya Sekar.


“Dulu dia pernah tanya-tanya soal kamu… Mungkin saja dia masih suka sama kamu. Mau gak aku comblangin?” tanya Kasih memberi penawaran. Raja sudah mulai meradang mendengar arah pembicaraan Kasih.


“Haduh… Emang dia masih mau sama aku? Aku kan udah punya anak, Kas! Gak ah…” tolak Sekar sambil melahap makanannya. Raja mulai tersenyum kembali mendengar jawaban Sekar.


“Hm… Kamu deketin aja tamu-tamu VIP di lounge bar ini. Mereka kebanyakan duda… Bule-bule dari Australia. Ganteng-ganteng… Hihiii. Mas Galang aja suka marah kalau aku datang ke lounge bar sendirian. Padahal aku cuma pesan mocktail bentar… terus pergi. Tapi dia suka curiga kalau aku tepe tepe… Cemburuan gak jelas… Hm!” kasih mulai melahap makanannya kembali.


“Baguslah itu tandanya suamimu sayang sama kamu. Hla aku… Siapa yang mau cemburu sama aku?” Sambung Sekar membuat kedua perempuan itu tertawa.


“Hahaaa…”


Gak lucu sama sekali! Kamu anggap aku ini apa? Awas kalau sampai kamu berani deketin pria lain! Gerutu Raja semakin tidak suka mendengar pembicaraan Sekar dan Kasih.


 


*****


Sepertinya ada baiknya Sekar mengikuti saran Kasih…


Bersambung…


*****


Note:


(Mocktail: Minuman tanpa alkohol, campuran jus buah dengan atau tanpa soda)


(Tepe-tepe : TP artinya tebar pesona)