Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Maldives



Siang itu pak Ansu mengambil penerbangan dari Tarempa menuju Singapore. Dia cukup beruntung karena saat ini dirinya memegang passport. Jadi tidak ada kendala untuk menuju Maldives secara langsung. Untuk masalah visa sendiri, kewarganegaraan Indonesia dibebaskan dari persoalan visa untuk ke Maldives, asalkan tidak lebih dari 30 hari. Sehingga pak Ansu tidak perlu memusingkan persoalan dokumen.


“Untung aja Ucy dapet voucher ke Maldives, bukan ke Switzerland. Jadi gak harus nunggu untuk apply visa,” gumam pak Ansu sambil menunggu jam pesawat berangkat.


Setelah menunggu beberapa menit, pak Ansu mulai masuk ke kabin pesawat. Penerbangan dari Tarempa menuju ke Singapore tidaklah lama, hanya kurang lebih memakan waktu setengah jam.


 


Saat di International Changi Airport Singapore, pak Ansu harus menunggu cukup lama. Sekitar 4 jam dirinya harus menunggu jadwal penerbangan selanjutnya. Dia menghabiskan waktunya pergi ke starbucks untuk meminum kopi. Karena sudah habis 2 cup, pak Ansu memutuskan untuk tidak memesan kopi lagi. Dia takut jantungnya akan berdegup kencang hanya gara-gara kopi. Lebih baik dia simpan rasa dag-dig-dug itu saat menemui dokter Ucy.


Dia berlanjut ke toko baju karena saat pergi dari Tarempa, dia tidak membawa apa-apa. Pak Ansu memutuskan untuk membeli beberapa stel baju dan celana santai di bandara itu.


Apa aku harus mengganti gaya berpakaian ya? Ucy kan masih 38 tahun… Tapi gayanya macam Sekar, mengikuti model masa kini. Hm… Aku harus terlihat lebih keren di mata Ucy. Biar dia makin tergila-gila sama aku. Hahaaa… Jadi gak sabar buat menerima kecupan bibirnya itu… Ucy Ucy… Apa sih yang kamu sukai dari ku? Pikiran pak Ansu sudah bertravelling ria membayangkan bibir mungil dokter Ucy yang pernah mendarat di pipinya. Baginya saat ini, itu adalah moment romantis yang sudah lama tidak dirasakan.


Setelah membeli beberapa baju, pak Ansu juga membeli koper kecil yang bisa dia bawa ke kabin pesawat. Selesai membeli perlengkapan pribadi, dia melihat-lihat beberapa outlet yang mungkin perlu untuk dibeli juga.


“Cantik sekali kalung berlian itu…” bisik pak Ansu memandangi kalung berlian yang dipajang pada maneken.


“Please welcome, sir! We have new collection today,” ucap penunggu toko laki-laki. Bahasa inggrisnya sangat kental dengan dialeg orang Singapore. (Silahkan selamat datang, pak! Kita hari ini punya koleksi baru)


Karena pak Ansu tertarik dengan salah satu perhiasan, dia melangkahkan kaki memasuki outlet jawelry itu. Kalung berlian yang membuatnya tertarik itu terlihat elegant dengan liontin berwarna hijau.


“Pasti Ucy sangat cantik jika pakai kalung ini…” bisiknya pelan.


“Mau beli buat siapa, pak? Istrinya ya?” tanya penunggu tadi membuat pak Ansu terkejut.


“Hloh? Kamu bisa bahasa Indonesia ya?”


“Saya bisa sikit-sikit cakap melayu,” jawabnya penuh ramah.


“Ow… Ya agak mirip-mirip lah Indonesia dan Melayu… Bisa saya lihat kalung itu?” Tanya pak Ansu sambil menunjuk kalung yang dia incar. Penunggu toko itu dengan segera mengambilkan kalung berlian yang berada di dalam kaca kabinet.


“Ini pak…" menaruh perhiasan di hadapan pak Ansu. "Stone (batu) liontinnya cantik. Pasti istri di rumah makin sayang kalau dibelikan macam ni.”


“Saya beli buat calon istri saya. Baru berencana untuk melamarnya,” pak Ansu tersenyum-senyum mebayangkan dokter Ucy menjadi pengantinnya.


“Ow… sorry, pak.” Penjual itu mulai mengerem mulutnya yang asal tebak. Apa tak salah dia cakap? Astaga… Calon bini ke berapa lah orang tua ni mau nikah lagi? batin penjual itu dengan menggelengkan kepalanya. Tua-tua keladi… Makin tua makin jadi lah…


Setelah beberapa menit memandangi kalung itu, pak Ansu memutuskan untuk membelinya. Dia memasukan kalung itu di kotak kecil perhiasan dan menyimpan di saku jaketnya.


Akhirnya setelah lama menunggu jadwal keberangkatan ke Maldives, pak Ansu dipersilahkan masuk terlebih dahulu karena dirinya menggunakan bisniss class. Dia merebahkan tubuh dengan duduk berselonjor untuk bersiap tidur.


Penerbangan dari Singapore ke Maldives membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam. Belum lagi setelah sampai disana dia harus berganti dengan seaplane alias pesawat kecil untuk menuju resort private island itu. Jadi saat ini adalah kesemptan untuk dirinya beristirahat. Hitung-hitung mengumpulkan stamina untuk menghadapi energi dokter Ucy yang jauh lebih muda darinya.


“Semoga dia gak pakai acara ngambek-ngambek lagi setelah aku sampai sana,” bisik pak Ansu sebelum tertidur. Bibirnya selalu tersenyum tipis bila teringat dengan setiap moment bersama dokter Ucy.


_____


Saat ini di Maldives sudah menunjukan pukul 8 malam. Sekar dan Raja menitipkan kedua buah hatinya kepada dokter Ucy untuk melakukan makan malam di salah satu restaurant di resort itu.


Awalnya suasana makan malam mereka sangat romantis. Raja menyuapi istrinya dengan penuh mesra. Tentu saja satu sendok makan harus dibayar dengan kecupan. ‘CUP…’ Ini adalah kecupan yang kedelapan.


Meskipun Sekar merasa risih dan malu dengan tamu yang lain, dirinya harus mengikuti kemauan suaminya. Bila tidak begitu, permainan ranjang di malam hari akan seperti pertandingan smack down. Banting sana banting sini… Tancap tekan-tekan tidak kenal lelah… Sekar harus menghindari hal itu terjadi.


Tapi disaat Sekar dan Raja sedang asyik berduan, seseorang menghampiri meja mereka.


“Sekar? You are here (kamu disini)?” suara laki-laki itu sedikit tidak asing di telinga Sekar. Sekar menoleh mencari asal suara.


“Mas Bimo?” Sekar pun terkejut melihat Bimo ada di hadapannya. Apalagi Raja yang duduk di samping Sekar. Gaya protectivenya mulai keluar. Dia berdiri menghalangi Bimo agar tidak mendekati Sekar.


“Jangan lagi kamu dekati istri saya,” kalimat menggeretak sudah Raja lancarkan. “Kita balik ke villa sayang.” Raja meraih tangan istrinya untuk segera keluar dari restaurant. Raja tidak ingin memberi sedikit celah pun untuk Bimo mendekti Sekar. Meskipun hanya sekedar ‘say hai’ alias menyapa.


“Mas Raja… lepasin sakit tangan ku. Jangan cepet-cepet jalannya. Ini aku pakai high heels, susah jalannya,” Sekar sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki suaminya.


“Sayang…” Raja menghentikan langkahnya. Dia melirik kaki istrinya sebentar. “Aku mau kamu jujur sama aku… Apa kamu menjalin komunikasi lagi dengan laki-laki itu?” bertanya dengan menatap kedua bola mata istrinya.


“Astaga mas… Mana mungkin aku berani berbuat kayak gitu. Lagian waktu itu kamu sendiri yang ngeblock nomor mas Bimo,” jawab Sekar sedikit kesal karena dituduh ada main serong dengan Bimo.


“Ikut aku…” Raja merangkul pinggang istrinya.


“Mau kemana kita?” tanya Sekar mulai curiga.


“Huft… Makan malamnya kan belom selesai, mas. Aku masih mau nyobain dessert (makanan penutup) di restaurant tadi…” ucap sekar dengan menoleh ke arah restaurant.


“Kamu bisa nyobain dessertnya di kamar… Di atas bed kita.” Raja semakin mendorong tubuh istrinya. Tapi karena malam ini Sekar sedikit melawan dengan pura-pura melambatkan langkahnya, Raja membopong tubuhnya.


“Mas Raja aku capek…” merengek karena sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya.


“Salah sendiri kenapa laki-laki itu bisa ada disini…” balas Raja.


“Ish! Mana aku tahu dia ada disini…” Sekar berusaha melompat dari dekapan suaminya.


“Udah diem! Gak usah melawan… Mau dikasih enak-enak aja kok melawan…”


“Ish! Ngeselin! Katanya bulan madu… Tapi istrinya capek malah mau dihajar aja.” Raja hanya tertawa menanggapi celotehan istrinya.


Tak lama kemudian, Raja sudah sampai di kamarnya yang berada di depan restaurant tadi.


Ya sudahlah mas… Aku pasrah aja. Melawan gak melawan kamu akan buat aku terkapar di tempat tidur, Sekar hanya diam membiarkan suaminya melepasi pakaian yang menempel di tubuhnya.


“I love you…”


“I love you too, mas…”


“Boleh ya…”


“Iya… Hajar aja mas…”


Dengan semangat 45, Raja mengungkung tubuh istrinya. Dari gaya gajah duduk sampai kuda-kuda berkelana, Raja luncurkan membuat istrinya menjerit-jerit.


_____


Dokter Ucy yang menginap di water villa dekat villa milik Raja dan Sekar, merasa kesal dengan jeritan suara yang dia dengar.


“Villa sebelah kanan menjerit… Villa sebelah kiri pun ikut menjerit… Bisa becek sendiri cuma denger suara jeritan mereka. Huft… Nasip nasip… Apa aku ikut acara ‘Take Me Out’ di tv tv itu ya?” Dokter Ucy meneguk white wine dengan duduk di depan kamar. Dia merilekskan seluruh pikirannya.


Setelah 2 jam meneguk white wine secara pelan-pelan, seseorang mengetuk pintu villanya.


TOK TOK TOK…


Dengan badan yang sedikit terhuyung, dokter Ucy membuka pintu villanya. Ternyata orang yang mengetuk adalah Raja. Dia mengambil anak-anak yang dititipkan nya dan menaruh di stroller untuk dibawa ke villanya.


Setelah Raja pergi membawa Boy dan Gadis, dokter Ucy menutup pintu villanya lagi. Dia berlanjut membuka botol white wine yang kedua. Tapi belum sempat dia memutar tutup botol, dokter Ucy kembali mendengar pintu villanya diketuk lagi.


“Hm… Gangguin aja…” berjalan terhuyung-huyung menuju pintu villa.


Ceklek… Pintu itu mulai terbuka. Dokter Ucy yang merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat, beranggapan dirinya sedang berhalusinasi.


“Cy…” pak Ansu dengan sigap meraih pinggang dokter Ucy. Tubuh perempuan itu sudah tidak bisa berdiri secara stabil.


“Aku pasti sudah gila melihat laki-laki ini disini... Halusinasi macam apa inihhh...?” berkata terbata di dalam pelukan pak Ansu.


“Ini aku Cy…” pak Ansu memandangi wajah dan bibir dokter Ucy. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Persis seperti malam ketika dirinya melihat tubuh dokter Ucy yang memakai pakaiann d4lam saja.


“Cium aku kalau itu memang kamu…” pak Ansu semakin gemas mendapat perintah tidak terduga itu. Kakinya mulai mendorong pintu villa untuk di tutup.


 


 


 


*****


Bersambung…


*****