
Malam yang indah masih berlangsung di deck lantai empat milik Raja dan Sekar. Raja yang sudah melangsungkan beberapa ronde bed bergoyang masih belum puas menikmati tubuh istrinya.
“Sekali lagi ya, sayang…?” pinta Raja sambil menggoyangkan jari di bagian intim istrinya.
“Udah ah mas! Nih lihat… Dada udah kaya macan loreng penuh bercak-bercak merah,” protes Sekar sambil menggeliyat merasakan sensasi berdenyut akibat ulah suaminya. Dia meremas-remas lengan suaminya saat permainan itu dirasa kasar.
“Tapi tadi kata kamu tergantung aku… Ya kalau tergantung aku ya kamu harus nurut sayang!” Raja menggoyangkan jarinya lebih kasar.
“Argh! Mas!? Kamu ini gak kasian sama aku ya? Gimana kalau besok kalau gak bisa jalan?”
“Kalau gak bisa jalan ya tidur di bed lagi nemeni aku seharian… Lagian kita juga di kapal. Mau kemana coba kalau gak makan ya pasti main ranjang,” celetuk Raja dengan senyumnya.
“Ish kamu ni!” Sekar mencubit Raja. “AW?! Sakit…” merengek meminta ampun.
“Makanya jangan cubit cubit.”
Raja semakin tertantang menggoda istrinya. Dia mulai menindih lagi tubuh Sekar. Mengkecupi bibir Sekar beberapa kali.
“Tadi kan goyangannya cuma sedang-sedang, yank… (Cup) Aku mau lebih lagi. Boleh ya…” Sekar hanya mendelik mendengar ucapan suaminya itu. Dia menyiapkan dirinya untuk mendapat serangan lagi dari suaminya.
Pelan-pelan Raja meraih batang yang sudah menegang dan menempelkan ke pintu sangkar istrinya untuk yang… Entah berapa belas kali pengantin baru itu melakukan.
“Boleh ya sayang… Habis ini kita tidur. Aku janji,” ucap Raja meyakinkan istrinya.
Dengan tubuh yang sudah terasa lelah, Sekar menggeser kakinya untuk membuka akses agar kejantanan sang suami masuk ke tempat peraduan. Akhirnya tengah malam itu Raja bisa bermain dengan ritme yang dia inginkan. Dia benar-benar membuat istrinya kewalahan sampai tubuh mereka basah oleh keringat.
Haduh mas… Kamu ini kayak gak ada hari besok lagi. Rasanya udah perih sekali disana panas… Huft… Aku harus menyapih Boy sama Gadis kalau gini caranya… Udah pasti bentar lagi alamat buncit ini perut… Sekar memperhatikan wajah suaminya yang sangat fokus menikmati sensai permainan yang dibuatnya.
“Haduh mas… Kapan ini berhenti? Aku capek ngantuk… Udah setengah jam masa ya belum mau keluar juga?”
“Huh…! Em…! Argh…! Kamu tidur aja kalau ngantuk.”
“Gimana coba mau tidur kalau kamu terus ngegoyang kayak gini?” Raja hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan istrinya itu.
_____
Tengah malam itu ternyata bu Ica belum bisa tidur. Hal itu dikarenakan pada atap kamarnya terdengar suara-suara aneh. Dia merasa sangat terganggu oleh suara itu.
“Ayah…” Bu Ica menepuk lengan suaminya.
“Hm? Kenapa ma?” tanya pak Ram yang juga belom tidur.
“Itu lantai atas kamar Raja sama Sekar lagi ada apa ya…? Kok mama denger suara gludug gludug terus? Gak berhenti-berhenti hlo, Yah…” Bu Ica sampai terbangun dan duduk di bednya menjelaskan hal aneh ke suaminya.
“Ya biasalah, ma. Orang habis nikah ya pasti gitu-gitu… Buat ranjang berderit,” jawab pak Ram dengan mata terpejam. Tapi bibirnya tersenyum menjelaskan ke istrinya. “Mama mau kita buat adik buat Tia sama Sekar?” pak Ram mulai membuka matanya.
“Hush! Udah Tua pun kita ini… Udah punya cucu masa ya mau nyetak anak lagi? Apa nanti kata tetangga?”
“Halah halah… Lagi tahap berunding hlo padahal… Udah ngegas… Hm… Awas ya kalau besok minta jatah,” goda pak Ram sambil menusuk-nusuk punggung istrinya dengan jarinya.
“Udah jangan ganggu-ganggu gitu! Jangan lupa besok ayah harus bangun pagi buat lomba mancing sama pak Ansu tuh!” ucap bu Ica dengan menahan senyum lebarnya.
Begitulah suasana tengah malam di kamar bu Ica dan pak Ram yang ada di deck lantai tiga. Sedangkan di deck samping kamar bu Ica dan Ram ada kamar dokter Ucy yang malam ini benar-benar sunyi senyap.
Pak Ansu yang tadinya membopong dokter Ucy karena mabuk, masih berada di kamar itu. Dia menjaga dokter Ucy yang sesekali masih muntah mengeluarkan cairan anggur merah.
Pak Ansu selalu mengusap sekitar mulut dokter Ucy dengan tissue basah setelah perempuan itu memuntahkan cairan.
“Kamu ini kalau gak bisa minum alkohol gak usah sok minum kalau akhirnya cuma dimuntahin kayak gini. Hm… Kasihan badanmu kan kalau gini…” Bisik pak Ansu dengan mengolesi minyak kayu putih di sekitar perut, dada dan leher dokter Ucy.
_____
“Semalem tidur jam berapa, Kar? Kata mas Galang kamar atas tempat kalian gaduh gak berhenti-berhenti,” celetuk Kasih sambil melakukan gerakan buka tutup merentangkan tangan.
“Lupa aku jam berapa tidur semalam... Emang gaduh kayak apa? Perasaan kita gak gaduh-gaduh amat. Boy sama gadis semalem juga gak bangun kok,” sambung Sekar yang kemudian meneguk botol air mineralnya.
“Suara gaduhnya aku gak denger juga sih… Jam 10 aja aku dah tidur. Cuma dengerin cerita mas Galang aja.”
Beberapa saat kemudian ketika Sekar dan Kasih asyik melakukan gerakan exercise, mereka dikejutkan dengan kemunculan pak Ansu yang keluar dari kamar dokter Ucy. Pak Ansu yang merasa tidak melakukan apa-apa berjalan dengan sikap tenangnya menghampiri Sekar dan Kasih.
“Selamat pagi…” sapa pak Ansu.
“Selamat pagi…” jawab Kasih dan Sekar sambil menerka-nerka kenapa pak Ansu muncul dari kamar dokter Ucy sepagi ini dengan muka bantal. Rambutnya pun sedikit acak-acakan.
“Dimana suami kalian? Kenapa cuma kalian yang olahraga?” tanya pak Ansu ikut meregangkan otot tubuhnya karena merasa kurang tidur.
“Mereka udah pada di deck bawah, Yah. Udah siap untuk lomba mancing,” jawab Sekar.
“Wah, saya ketinggalan rupanya. Hehee. Kalian lanjut lagi olahraganya. Saya ke bawah dulu,” ucap pak Ansu yang kemudian meninggalkan Sekar dan Kasih.
Setelah punggung pak Ansu tidak terlihat oleh Sekar dan Kasih, mereka berdua berlari menuju kamar dokter Ucy. Beberapa kali Sekar mengetuk pintu kamar dokter Ucy tapi tidak ada jawaban.
Ceklek…
“Gak di kunci, Kar… Cus masuk kita…” ajak Kasih.
Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar. Keduanya menggelengkan kepala setelah melihat banyak tissue yang berserakan di lantai.
“Gila gila… Ini bener-bener gila. Stamina mas Raja masih belum seberapa dibanding ayahnya,” celetuk Sekar memandangi banyaknya jumlah tissue itu.
“Mas Galang pun kalau semalem gak sampai sebanyak ini mainnya. Hm… Ngeri sampai kak Ucy terkapar lemas kayak gini,” sambung Kasih memikirkan hal yang sama dengan Sekar. Keduanya saling tersenyum membayangkan adegan ranjan pak Ansu dan dokter Ucy.
Beberapa detik kemudian, dokter Ucy yang merasakan ada seseorang di kamarnya mulai membuka matanya. Dia mengekerjapkan matanya karena penglihatannya masih sedikit buram.
“Kalian?” doter Ucy mulai bangun dan duduk di bednya. “Kalian ngapain disini? Ada yang mau minta diperiksa?” tanya dokter Ucy yang masih tidak sadar kalau dirinya hanya berbalut selimut. Sekar dan Kasih yang mendapat pertanyaan itu hanya senyam senyum menanggapi pertanyaan itu.
“Bukan kita yang harus diperiksa… Kakak yang seharunya diperiksa. Hihiii… Berapa ronde semalam sama pak Ansu? Hayo ngaku sama aku?” celetuk Sekar masih membuat dokter Ucy tidak paham.
“Maksudnya?” menengok ke arah Sekar dan Kasih dengan muka bingung.
“Wah… Bukan kakak lagi kamu, Kar manggilnya. Panggil mama… Mama Ucy... Hihiii,” sambung Kasih semakin membuat dokter Ucy heran.
“Kalian ini ngomong apa…? Udah ah minggir… Aku mau mandi,” ucap dokter Ucy dengan beranjak dari bednya.
Barulah setelah dokter Ucy berdiri, dirinya baru sadar kalau tubuhnya hanya memakai pakain dal4m.
Hloh? Kok aku bisa telanjang? Batinnya tetap berjalan menuju kamar mandi. Dia berusaha mengingat kejadian apa yang membuatnya sampai hanya memakai bhra dan c3l4na dal4m saja. Tapi kepalanya yang masih sedikit pusing, belum mampu mengingat kejadian apa yang terjadi terhadap dirinya.
Dia mulai menyalakan shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya. Kucuran air yang jatuh ke kepala dokter Ucy membuat dirinya sedikit teringat dengan bayang-bayang wajah pak Ansu semalam. Bayangan kejadian semalam, perlahan mampu diingatnya. Dia mulai mengingat setiap tingkah laku konyolnya di depan pak Ansu.
AAAAA!!! Begonya aku… pasti pak Ansu jadi ill feel sama aku, pekik dokter Ucy dalam batinnya. Rasanya sangat malu mengingat saat dirinya muntah-muntah semalam. Dokter Ucy meremas-remas kepalanya yang diguyur air. Merutuki setiap hal aneh yang terjadi semalam.
*****
Bersambung…
*****