Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Daun Putri Malu



Akhirnya malam itu pak Ansu merasa bersalah telah membentak dokter Ucy. Dia terus-terusan mencoba menghubungi dokter Ucy tapi tidak bisa terhubung. Pesan di whatsapp yang dia tulispun masih belum terbaca. Atau mungkin pesan itu tidak terkirim karena dokter Ucy telah mengeblock nomornya.


Suasana trip hari berikutnya membuat pak Ansu tidak bersemangat lagi karena dirinya terus kepikiran dengan dokter Ucy. Beberapa kesempatan pak Ansu memergoki Sekar melakukan video call dengan dokter Ucy. Sambungan telpon keduanya terhubung, tapi beda halnya ketika pak Ansu yang menelpon. Sambungan itu selalu saja ‘…Tululut…’ dan mendadak mati.


“Sayang kalian jangan berebut ya, pegang handphonenya gantian...” celetuk Sekar memberikan handphonenya kepada Gadis.


Mau sampai kapan dia ngeblock nomor ku? Dasar perempuan! Bikin semalaman susah tidur… gerutu pak Ansu dalam batinnya, memandangi handphone Sekar yang tengah dipegang kedua cucunya.


“Tante dah sampai mana?” tanya Gadis sambil memutar badannya. Menjauhkan handphone itu dari Boy.


“Sampai Tarempa sayang… Rumah Adis sama Boy dulu,” jawab dokter Ucy yang terdengar ke telinga pak Ansu.


“Nanti Adis sama mama ke sana ya tante,” celetuk Gadis.


“Sama Boy ama papa juga ya tante… Sama grandpa juga boleh ya…” sambung Boy membuat pak Ansu tersenyum.


“Grandpa gak usah aja sayang. Kasihan sibuk. Kalau kecapekan kan bisa sakit…” timpal dokter Ucy.


“Ok deh tante…” sahut Boy dan Gadis bersamaan.


Hm… Bilang aja sekalian gak mau ketemu aku. Kenapa sih dia itu… Berubahnya cepet banget! Kemarin berani nyium… Sekarang macam daun putri malu. Belum ku sentuh pun sudah mengatup. Pak Ansu menggerutu tiada henti.


_____


Waktu trip masih tersisa 3 hari lagi. Selama 3 hari itu perasaan pak Ansu dilanda rasa gundah gulana. Biasanya kalau ada dokter Ucy di sekitarnya, dia bisa mengajak ngobrol dengan perempuan itu. Karena beberapa tahun terakhir ini, dia selalu ditemani dokter Ucy saat menjenguk Boy dan Gadis. Sehingga intensitas pertemuan mereka sering terjadi.


“Kenapa aku jadi galau begini saat orangnya gak ada?” gumam pak Ansu saat duduk di teras kamarnya. “Kenapa juga sih jarak kita terlalu jauh...? Apa dia gak mikir kalau orang tuanya nanti sampai menolak ku? Huft…”


Ketika pak Ansu tenggelam dalam pikirannya tentang dokter Ucy, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


TOK TOK TOK…


“Ben? Kenapa?” tanya pak Ansu setelah membuka pintu.


“Kita hampir sampai di pelabuhan Batam, pak. Sesuai dengan rencana, Pak Ram dan keluarganya akan turun di pelabuhan Batam untuk menuju Bandara Hang Nadim. Mereka akan balik ke Jogja karena ada urusan kerjaan. Termasuk nyonya Sarah, mamanya bu Kasih,” jawab Ben.


“Ok, saya akan temui mereka,” sambung pak Ansu yang kemudian menutup pintu kamarnya.


“Satu lagi, pak…”


“Apa?”


“Pak Galang dan keluarganya juga akan turun di pelabuhan Batam. Mereka ada acara lanjutan di resort mereka di Batam,” jawab Ben sambil berjalan di samping pak Ansu.


“Ow… Jadi semua pada turun di Batam…?”


“Betul pak. Mereka sudah siap dengan kopernya di deck bawah,” sambung Ben lagi.


Pak Ansu dan Ben segera menuju deck lantai satu. Di sana sudah banyak koper berjejer dengan pemiliknya. Orang pertama yang dihampiri pak Ansu adalah pak Ram. Mereka saling berjabat tangan.


“Lain kali saya pasti akan datang ke Anambas ke rumah menantu saya,” ucap pak Ram sambil menoleh ke arah Raja yang sedang berdiri menggendong Boy.


“Kami tunggu kehadirannya, pak. Terus, kalau ada acara apa-apa undang kami ya pak. Nikahannya El atau mungkin siapa tahu pak Ansu mau nyusul juga. Hahaaa!” ucap pak Ram menimbulkan gelak tawa pada beberapa orang yang mendengar ucapannya.


“Pasti pak pasti… Kalau ada calonnya. Hahaa! Hm…” entah kenapa wajah dokter Ucy melintas di benak pak Ansu.


Selanjutnya Raja dan Sekar mendekati pak Ram dan bu Ica. Keduanya berpesan agar pak Ram dan bu Ica selalu menjaga kesehatan.


Sedangkan pak Ansu beralih mendekati madam Lily dan keluarganya Galang.


“Li, hati-hati ya. Lain kali kalau ada waktu main saja ke Anambas, pulaunya Raja. Galang sudah tahu lokasinya,” ucap pak Ansu yang disambut senyuman ramah dari madam Lily.


“Pasti, mas. Saya akan sempatkan ke sana. Kalau pun dari dulu saya tahu, sudah pasti dari dulu saya akan main ke sana,” sambung madam Lily.


“Yah… Kapan pun kalau ada waktu datang aja. Kita harus tetap menjaga silaturahmi pertemanan kita.”


“Hm…” Madam Lily mulai menghela nafasnya. Ternyata pak Ansu tetap menganggapnya sebagai teman. Tapi madam Lily cukup bisa menghargai perasaan pak Ansu. Lagi pula memang dari dulu almarhum suaminya adalah teman dekat pak Ansu. Memang akan terasa aneh kalau mereka berlanjut ke jenjang yang lebih dari sekedar teman.


Setelah acara berpamitan, sepuluh menit kemudian kapal yang ditumpangi mereka berhasil berlabuh di pelabuhan Batam. Kali ini Ben bertanggung jawab untuk mengantar keluarga Sekar ke bandara Batam. Sedangkan Shan mengantar keluarga Galang menuju Resort Luxus cabang Batam.


“Akhirnya… Selesai juga acaranya…” Ucap Raja sambil merangkul Sekar setelah melambaikan tangan kepada orang-orang yang turun di pelabuhan Batam.


“Yok! Sekarang Boy sama Gadis ikut main ke kamar om El…” ajak El dengan menggendong Boy di kanan dan Gadis di tangan kirinya.


“Ayah… Aku sama Sekar ke atas dulu ya. Mau istirahat, capek tadi bantuin packing mereka,” timpal Raja lagi.


“Hm… yah… Sana-sana istirahat kalian…”


Tinggallah pak Ansu di tempat itu. Dia merasakan hal yang sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Kesepian… begitulah kata yang tepat mengungkapkan perasaannya.


Aku ini kenapa sih…? Cucu udah dua. Raja sama El sudah akur. Mungkin Sekar bentar lagi hamil. Cepat atau lambat El pasti juga akan nyusul nikah… Apalagi yang aku rasa kurang…? Kenapa sih kepalaku ini selalu pusing mikirn Ucy Ucy teruuusss! Hm! Ck! Pak Ansu masih belum mengetahui, apa yang sebenarnya dirinya mau.


Karena rasa pusing yang melanda, pak Ansu kembali ke kamarnya. Dia mencoba untuk beristirahat. Merebahkan dirinya di bed yang empuk juga tidak membuat pikirannya berhenti memikirkan dokter Ucy. Suara lantangnya saat membentak perempuan itu justru memenuhi pikirannya sendiri.


Dengan rasa kesal, pak Ansu melangkah menuju deck lantai 3, tempat kamar dimana dokter Ucy sebelumnya tinggal. Pak Ansu duduk di tepi bed dan membayangkan saat dokter Ucy mabuk .


“Jadi waktu itu kamu mabuk karena melihat aku dansa sama Lily… Huft… Sejak kapan sebenarnya kamu menyukai ku? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Kamu pasti berfikir aku ada hubungan dengan Lily…” ucap pak Ansu sambil mengusap bed yang dia duduki.


Disaat pikiran pak Ansu tertuju kepada dokter Ucy, ada suara-suara aneh yang dia dengar dari atap kamar itu


“Ck! Raja Raja… kamu apakan istri mu di sana? Gaduh sekali dari sini!” ucap pak Ansu dengan menatap langit-langit kamar.


 


*****


Bersambung…


*****