
Akhirnya dokter Ucy bisa kembali lega setelah pak Ansu pergi. Dia mulai menutup chiller itu dan kembali bergabung bersama Sekar dan Lia. Perasaan dokter Ucy semakin galau mengingat pak Ansu akan merayakan ulang tahun madam Lily.
“Wah… kayaknya bu Lily bakal jadi mama mertua mu tuh, buk,” ucap Lia dengan menyenggol lengan Sekar.
“Hush!” Sekar balik menyenggol Lia. “Jangan bahas soal itu, mbak. Kak Ucy juga naksir sama pak Ansu,” bisik Sekar membuat Lia kaget.
Demi menjaga perasaan dokter Ucy, Sekar dan Lia tidak membahas tentang pak Ansu dan madam Lily. Mereka mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
“Mbak Lia, apa kabar mas Roy suamimu?”
“Baik. Nanti sore dia nyusul kapal ini buat masok bahan bakar sama stock sayur-sayuran. Sekalian minta tanda tangan pak Raja,” jawab Lia.
“Ow… Emang kapal ini udah sampai mana, mbak?” tanya Sekar lagi.
“Kita udah sampai Utara Pulau Jawa Barat. Mungkin nanti kalau udah sampai sekitar Kepulauan Seribu, suamiku baru bisa nyusul kapal ini. Habis itu dia balik lagi ke pelabuhan Tanjung Priok buat pindah kapal, ikut trip tamu,” jawab Lia dengan detail.
Dokter Ucy yang mendengar percakapan antara Sekar dan Lia itu terlintas sebuah ide di dalam benaknya. Dia merasa tidak sanggup berlama-lamaan ikut trip kapal itu. Lebih tepatnya tidak sanggup menyaksikan keakraban pak Ansu dan madam Lily.
Apa aku ikut suaminya Lia aja ya buat menuju Tanjung Priok? Habis itu aku bisa ke bandara Jakarta dan balik ke Tarempa. Kalau aku terus-terusan di sini terasa aneh harus satu kapal sama pak Ansu. Apalagi dia pasti sudah membenciku… Huft… Jangan-jangan dia mikir aku bukan perempuan baik-baik setelah aku cium pipinya…? Hm… Apa aku harus minta maaf ke pak Ansu ya… Habis itu aku baru pergi ikut kapal suaminya Lia? Dokter Ucy mulai melamun memikirkan jalan terbaik untuk pergi dari kapal itu.
Tidak terasa ketika dokter Ucy tenggelam dalam lamunan pikirannya, sup Tom Yum yang di buat Sekar sudah jadi. Mereka bertiga mulai menikmati sup Tom Yum dengan cita rasa pedas.
“Huaaah…! Pedes banget! Ini tom yum apa mercon?” Lia memberi komentar setelah isi mangkuk sup nya habis.
“Huah…! Tapi mangkuk mbak Lia kan habis…” protes Sekar dengan memoncongkan bibirnya. Mereka berdua mulai menoleh ke dokter Ucy yang sudah berada di depan wastafel. Berulang kali dokter Ucy berkumur dengan air untuk menghilangkan rasa pedas di bibirnya.
“Hihihiiii…” Mereka bertiga saling pandang meringis dengan bibir merah masing-masing.
Beberapa saat setelah rasa padas di bibir perlahan menghilang, Sekar dan dokter Ucy membereskan peralatan dapur. Sementara itu Lia melanjutkan pekerjaannya untuk mendekor kue brownies ulang tahun madam Lily.
“Lia, kenapa kuenya kecil?” tanya dokter Ucy penasaran.
“Iya bu dokter. Yang ini emang beratnya cuma setengah kilo aja. Pak Ansu bilang… yang ini mau dikasihkan bu Lily sore ini. Tapi pak Ansu juga minta dibuatin kue ulang tahun yang 2 kiloan untuk nanti malam,” jawab Lia jujur. Karena pada malam harinya nanti pak Ansu akan memberi surprise yang kedua untuk madam Lily di depan semua orang di kapal. Jadi Lia berfikir, tidak perlu menutupi hal itu dari dokter Ucy.
“Ow gitu…” dokter Ucy mengangguk, berpura-pura dirinya baik-baik saja. Padahal dalam lubuk hatinya, rasa cemburu itu sudah menyeruak memenuhi hatinya. Tapi mau bagaimana lagi… Pak Ansu terlihat kesal dan tidak suka dengan dirinya. Jadi lebih baik harus tahu diri dan mengubur perasaannya dalam-dalam.
Selesai mendekor kue brownies, Lia mencuci tangannya dan merapikan rambutnya.
“Lia… Boleh saya yang antar kue nya ke kamar pak Ansu, tak?” tanya dokter Ucy membuat Lia bingung. “Tenang aja… Dijamin sampai dengan selamat sampai tujuan. Sekalian saya mau ngomong sesuatu ke pak Ansu. Boleh, ya?” memasang muka memelas, berharap kue itu akan diberikan ke tanganya.
“…Iya mbak. Gak pa pa, kasihin aja kue nya ke kak Ucy. Dia baik kok orangnya,” timpal Sekar dengan senyumnya.
Lia pun akhirnya memberikan kue itu ke dokter Ucy setelah Sekar memberi garansi. Dengan hati-hati dokter Ucy mengambil kue tadi.
“Jangan kuatir… Kue kamu aman sama saya,” kata dokter Ucy meyakinkan.
Dokter Ucy melakukan hal itu hanya semata ingin datang ke kamar pak Ansu untuk meminta maaf. Hal itu dia lakukan karena dirinya sadar kalau tindakannya mencium pipi Ansu tanpa permisi itu sudah salah.
Pelan-pelan dokter Ucy membawa kue itu menuju kamar pak Ansu. Dia mulai mengetuk kamar pak Ansu.
TOK TOK TOK…
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Ada 2 wajah yang dilihat oleh dokter Ucy. Yang tidak lain lagi adalah pak Ansu dan madam Lily.
“Cy…?” sapa pak Ansu.
Doktr Ucy yang sedikit kecewa karena disambut oleh madam Lily juga, berusaha menetralkan perasaannya. Dia tersenyum lebar menyodorkan kue untuk madam Lily.
“Terimakasih ya bu dokter…” sambung madam Lily.
“Sama-sama, bu… Em… saya boleh bicara sebentar tidak sama pak Ansu? Dua menit… Satu menit. Gak lama,” kata dokter Ucy.
“Iya… Saya bawa kue nya ke meja dulu ya… Sekali lagi makasih hlo, bu dokter…” Ucap madam Lily yang dibalas dengan senyuman dan anggukan dari dokter Ucy.
Setelah madam Lily masuk ke kamar pak Ansu, barulah dokter Ucy berani menatap pak Ansu lagi. Wajah datar yang masih membuat hatinya bergejolak itu juga menatap wajahnya.
“Saya mau minta maaf, pak. Saya tahu, saya sudah lancang mencium pipi bapak… Maaf…” karena rasa malu yang semakin mendominasi, dokter Ucy tidak mampu menatap wajah pak Ansu. Dia membungkukkan badannya setelah meminta maaf. “Semoga acaranya dengan bu Lily lancar. Permisi…”
Tanpa mendengar balasan ucapan pak Ansu, dokter Ucy membalikan badannya. Secepat kilat dia berjalan menuju deck lantai satu untuk menemui Sekar dan Lia lagi.
Sebetulnya pak Ansu merasa tidak nyaman dengan kondisi hungannya dengan dokter Ucy menjadi renggang seperti ini.
“Hmm… Apa aku sudah terlalu kasar membentaknya tadi siang?” bisik pak Ansu masih memperhatikan dokter Ucy menuruni tangga.
_____
Dokter Ucy yang saat ini sudah berada di deck lantai satu, sedikit merasa lega. Dia sudah tidak mempedulikan lagi perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Baginya bisa diberi kesempatan untuk meminta maaf kepada pak Ansu itu sudah cukup.
“Dek… Lagi ngapain kalian?” tanya dokter Ucy kepada Sekar dan Lia yang tengah memakan chocolate cheese cake.
“Cobain, kak. Ini enak…” ucap Sekar dengan menyodorkan piring yang berisi potongan kue.
“Banyakin makan coklat untuk menekan rasa stress.”
Setelah semua kue di piring habis, dokter Ucy memikirkan langkah apa yang akan dia ambil lagi. Rasanya semakin tidak nyaman berlama-lamaan mengikuti trip dengan berada di sekeliling pak Ansu.
“Lia… Saya boleh minta tolong gak?” tanya dokter Ucy sambil menatap Lia yang sedang mencuci tangan. Sekar yang mendengar pertanyaan itu pun ikut tertarik.
“Minta tolong apa bu dokter?”
“Saya mau nebeng suami kamu menuju Tanjung Priok. Boleh?” tanya dokter Ucy.
“Hloh kak? Mau ngapain ke Tanjung Priok?” sambung Sekar ikut penasaran.
“Aku ada urusan, dek… Em… Ibuk aku udah nungguin di Tarempa rumah aku. Jadi aku harus segera pulang. Kasian kalau nunggu lama-lama,” jawan dokter Ucy. Sebetulnya itu hanyalah alasan boongan dokter Ucy agar bisa cepat pergi dari kapal itu.
“Jadi kakak habis dari Tanjung Priok mau ke bandara? Gitu?”
“Iya… Kalau ikut trip kalian pasti lama,” jawab dokter Ucy memberi penjelasan kepada Sekar.
“Hm… Tapi nanti kita ke Maldives samaan ya… Jangan dicancel. Soalnya mas Raja udah pesen tiket biar satu pesawat sama kakak juga ntar.”
“Iya jangan kuatir. Aku pasti ke Maldives. Sayangkan vouchernya hangus… Rejeki kan gak boleh ditolak… terus itu gimana Lia? Bisa kan saya nebeng suami mu?” tanya dokter Ucy.
“Tentu bisa, bu dokter. Pokoknya jangan kuatir. Bu dokter siapin aja kopernya. Soalnya kapal yang dipakai suami saya udah dekat…”
*****
Bersambung…
*****