
Raja dan Sekar berlanjut membahas tentang Mona. Mereka juga menikmati penerbangan yang sudah mulai berjalan. Sekar mulai meletakan handphonenya di meja dan fokus mendengarkan cerita Raja.
“Ayo cerita mas, aku mau tahu tentang Mona. Penasaran aja kenapa dia sukses membuat cinta segitiga. Hihii… Bercanda hlo ni, mas,” kata Sekar sambil menusuk-nusuk lengan Raja dengan jari telunjuknya. Raja hanya diam, mengamati setiap pergerakan Sekar.
Raja Point Of View
Perempuan ini gila atau apa sih? Meskipun dia hanya part time di kapal ku, tapi aku ini atasannya dia. Berani sekali dia menyentuh lengan ku dengan jarinya. Tapi jujur… Aku menikmati kelucuannya ini. Berbeda dengan Mona yang pendiam.
“Mona… dia manis… Bibirnya manis, sexy…” Entah apa yang kuucapkan ini. Aku hanya mendeskripsikan perempuan di depan ku ini. “Rambut panjangnya cantik bergelombang sampai sedada,” mata ku semakin tidak fokus memandang payu*dara yang tadi kuremas-remas. Hahaa! Apa bisa adegan di seaplane tadi diulang? Biarlah kalau adegan itu bisa diulang dari Indonesia ujung timur ke Indonesia ujung barat, aku rela memangku tubuhnya. Ingin ku rangkup dengan telapak tanganku. Besar… Kencang… Kenyal…
“Ow… Jadi mas Raja dan bang El suka rambut bergelombang? Sama kaya rambut saya dong, mas.”
Polos sekali perempuan ini. Bukan masalah rambut yang aku lihat sekarang. Lihat… Lihat… lehernya itu. Kulitnya tidak seputih Mona. Tapi justru itu yang membuat perempuan ini sexy…
“Hm… Aku suka rambut panjangnya.” Entah rambut kamu atau rambut Mona, yang pasti aku menikmati apa yang kupandangi sekarang. Benda itu nampak jelas menyempul. “Bisa saya minta jaketnya? Nanti kalau sudah sampai Bintan, kamu boleh pakai lagi.”
“Oh iya ya, mas…” Akhirnya dia lepas jaketku. Biar lebih jelas aku memandanginya. “Ini mas… Makasih loh.”
“Sama-sama.”
Huft… Sekarang makin nampak jelas. Ukuran put*ingnya sepertinya kecil… Seperti belum pernah kena sesapan. Yah, masih kecil. Aku sudah meremas-remasnya tadi.
“Mas, saya ke toilet dulu ya. Mau ganti baju sekalian cuci muka. Habis itu ntar kita lanjut lagi ceritanya.”
“Ah, ok.”
Author Point Of View
Sekar merasa tidak nyaman setelah melepas jaket Raja. Sekar mulai berdiri dari kursinya dan membuka koper. Mengambil kaos, celana dan bhranya. Sekar segera berjalan ke toilet untuk membersihkan diri.
Sekar menatap wajahnya di depan cermin. Membayangkan seperti apa wajah perempuan bernama Mona.
“Andai aku bisa menjadi perempuan bernama Mona itu. Atau bahkan mirip seperti kembar identik. Apa bang El bisa menyukaiku? Hihii… Gak pa pa juga kan berandai-andai. Kalau aku bisa memenangkan hati bang El, pasti gak akan ada cinta segitiga yang saling menyakiti… Aku harus cari tahu siapa itu Mona sedetail-detailnya. Biar aku juga bisa membuat bang El klepek-klepek. Hihii,” bisik Sekar sambil mengganti pakaiannya.
Setelah beberapa menit, Sekar kembali ke tempat duduknya. Dia sudah terlihat lebih segar dengan rambut yang diikat.
“Huuhhh. Segar,” kata Sekar yang kemudian duduk kembali. Raja kembali memperhatikan perempuan di sampingnya itu. “Mari mas Raja… Silahkan dilanjutkan ceritanya tentang kak Mona,” kata Sekar.
“Huft… Ok…” jawab Raja dengan meregangkan otot tangannya. “Em… kalau boleh tahu kenapa kamu tertarik dengan Mona?” tanya Raja.
Sekar menjadi bingung harus menjawab pertanyaan Raja itu. Secara misinya Sekar saat ini adalah memenangkan hatinya El. Supaya tidak ada cinta segitiga yang membuat El tersakiti.
“Em… Mau tahu aja. Siapa tahu… Em… Itu… Em... Kalau saya bisa mendekati bang El… Mas Raja sama kak Mona gak punya pengganggu. Hehee. Itu cuma analisa saya,” kata Sekar malu-malu sambil menutup mukanya.
Ow… Jadi dia naksir El. Ck! Semua perempuan kenapa suka sama dia? Apa hebatnya si otak udang itu? Menyebalkan! Tapi kalau dipikir-pikir… Ada baiknya juga kalau Sekar mendekati El. Jadi tidak ada parasit antara aku dan Mona, batin Raja.
“Kamu mau saya bantu deketin El?”
“He’em.”
“Waaaaaaa Yeeeeee!!” kata Sekar berteriak kegirangan.
“Jangan senang dulu. Belum tentu El mau sama kamu.” Ucapan Raja itu membuat Sekar terdiam dari teriakannya.
“Heheee. Maaf mas,” Sekar mulai menutup rapat mulutnya dengan tangan. “Jadi rencana mas Raja apa buat comblangin saya dengan bang El?”
“Nanti saya pikirkan. Kamu harus merubah sikapmu yang agak bar-bar ini,” kata Raja dengan senyum yang berseringai.
Sekar pun memang sadar diri kalau dirinya sedikit bar-bar. Hobby panjat memanjat sudah dilihat Raja waktu di kapal. Gaya bicara Sekar juga ceplas-ceplos dan bahkan Sekar pernah menghajar suami Kasih dengan tangannya. Sepertinya Sekar harus banyak belajar menjadi perempuan tulen dan lemah lembut. Ini akan menjadi misi Sekar untuk mendapatkan hatinya El.
Setelah pembicaran itu, Sekar mulai terkapar tidur. Rasa kantuk masih dirasakan karena semalam begadang bersama El. Raja yang masih sibuk membaca majalah bisnis mulai meletakan majalahnya. Raja membetulkan posisi tidur Sekar agar perempuan itu tidur lebih nyaman.
Raja mengatur posisi kursi Sekar agar Sekar bisa meluruskan kakinya. Raja mengamati wajah perempuan di sampingnya itu. Entah kenapa di dalam pesawat itu terjadi goncangan tiba-tiba. Dan CUP! 1…2…3…4…5…detik… Goncangan mulai hilang. Tapi Raja enggan menarik bibirnya dari bibir Sekar. 6…7…8…9…10… Lidahnya mulai memasuki bibir ranum yang sejak kemarin menggodanya. Menelusup mencari lidah Sekar dan menggoyangkannya penuh kelembutan. Menghisap-hisap dengan pelan-pelan. Menjilati bibir bagian luar dan menelusup masuk ke mulut Sekar lagi. Menghisap merasakan saliva yang sudah hampir mengering 55…56…57…58…59…60 detik.
Raja menjauhkan wajahnya karena merasakan tubuh Sekar bergerak. Secepat kilat Raja kembali ke kursinya dan memasang seat belt. Meraih majalah yang tadi dia baca.
“Mas Raja?!” kata Sekar sedikit membentak.
“Mas Raja nyium aku ya?!”
“Nyium apa?! Jangan kurang ajar kamu. Tuh dagumu penuh air liurmu. Makanya kalau tidur jangan mangap!” jawab Raja dengan ketus.
Raja sendiri bingung kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya. Sejak ayah Raja yang bernama pak Ansu mengetahui adanya cinta segitiga antara kedua putranya dengan Mona, pak Ansu berusaha mencari perempuan untuk Raja. Secara Mona yang merupakan pacarnya Raja mulai berpaling ke El. Jadi demi kebaikan, pak Ansu mencari pengganti sosok Mona untuk Raja. Tapi Raja selalu menolak. Raja selalu mengatakan kalau rasa cintanya hanya untuk Mona.
Tapi entah kenapa perasaan Raja mulai goyah saat bertemu dengan Sekar. Padahal secara penampilan, Sekar bukanlah kriterianya. Namun ada perasaan aneh yang kali ini muncul dari hatinya. Meskipun Raja berusaha menepis perasaan itu. Tapi sepertinya kondisi alam memberi kesempatan untuk Raja melakukan lagi dan lagi dan lagi kepada Sekar.
“Nih! Tissue. Bersihkan tuh air liur mu,” kata Raja dengan memberi tissue kepada Sekar.
Ish…! Ini kaya ceritanya si Kasih waktu suaminya berbuat mesum waktu tidur! Menyebalkan! Aku kan naksirnya sama bang El! Gerutu Sekar dalam batin. Sekar terpaksa mengambil tissue yang diberikan Raja. Karena Sekar merasakan bibir dan sekitar dagunya memang basah.
“Saya gak suka nyium perempuan yang suka ngeces kalau tidur. Jangan kuatir. Kamu lanjutkan tidur mu,” kata Raja memasang muka datar.
Kok dia gak ada grogi-groginya sih? Enggak salah tingkah gitu kaya ceritanya si Kasih. Atau emang ini air liur ku karena ngiler? Huft… Ini pasti karena alam bawah sadar ku menginginkan menjadi Kasih. Jadi terbawa emosi gini, batin Sekar dalam hatinya.
Sekar segera memalingkan badannya agar tidak menghadap Raja. Melanjutkan tidurnya karena perjalanan masih panjang.
*****
Wah Wah… katanya mau jadi mak comblang
Kenapa dicicipin juga bibir Sekarnya
Bersambung…
*****