Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Pagi Hari



Selesai mandi, dokter Ucy keluar dengan memakai bathrobe mandinya. Dia berjalan sedikit cepat menghampiri Sekar yang duduk di sofa sambil membaca majalah.


“Dek, mana Kasih?” tanya dokter Ucy sambil clingak clinguk mencari kebaradaan Kasih.


“Ke bawah kak. Dipanggil sama mertuanya, katanya anaknya nangis. Kenapa?”


“Ga pa pa cuma tanya. Aku mau cerita ni…” Dokter Ucy mulai duduk di samping Sekar.


“Hihii… cerita apa? Gimana semalam sama pak Ansu…? Hayo… Udah jadian ya? Bentar lagi ada yang nyusul aku nikah nih,” celetuk Sekar dengan nada menggoda.


“Apanya jadian! Orang semalem aku mabuk berat. Gimana coba mau jadian sama si bapak ganteng itu…” gerutu dokter Ucy masih kesal dan menyesal atas tindakanya yang memalukan.


“Nah tuh pakai mabuk segala… Hahaa hayoo… berapa ronde semalam? Banyak banget tissue berserak di lantai…? Jadi penasaran kalian pakai gaya apa aja…” Sekar semakin menggoda dokter Ucy.


“Hush! Kamu ni… Tissue-tissue itu bekas aku muntah semalam. Bukan karena main sama si bapak… Mana mungkin dia mau sama aku. Orang semalam aku lihat dia mesra-mesraan sama bu Lily,” gerutu dokter Ucy mengingat acara dansa semalam.


“Hloh? Kalau kalian gak ngapa-ngapain kenapa aku lihat mertuaku keluar dari kamar kakak pagi tadi…?” Mereka berdua saling pandang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi semalam. “Kakak juga cuma pakai pakaian dal4m doang waktu bangun…”


“Iya juga sih…” sambung dokter Ucy masih belum bisa mengingat secara full apa saja yang telah terjadi terhadap dirinya dengan pak Ansu.


“Masa sih tissue sebanyak itu gak ada kecebongnya bapak ganteng?” Senyum lebar kedua perempuan itu mulai merekah.


“Betul itu kak… Emang kak Ucy gak inget sama sekali kejadian semalam?” tanya Sekar.


“…Em… yang ku ingat cuma aku muntah-muntah doang… Terus pak Ansu elus-elus punggung aku,” tersenyum mengingat sweet moment dengan pak Ansu. “Habis itu apa lagi ya…? Kayaknya dia pegang dadaku deh…” dokter Ucy mengingat tangan pak Ansu yang berada di atas dadanya. Sekar yang mendengar cerita itu semakin penasaran.


“Terus kalian ngapain lagi?” tanya Sekar dengan bibir yang semakin lebar.


“…Apalagi ya…? Aku lupa habis itu,” sidikit kesal karena tidak bisa mengingat apapun kejadian selanjutnya.


“Hm… Makannya jangan mabuk kak…,” Sekar sedikit kesal karena si empunya cerita lupa dengan momen mendebarkan.


“Yah… gimana dong… Aku bener-bener gak ingat.” Dokter Ucy semakin gemas dengan dirinya sendiri.


Kalau pak Ansu udah gituin aku pasti ada noda darah yang tertinggal harusnya di bed… Tapi mungkin saja nodanya gak sampai mengenai bed. Mungkin aja dia udah ngelap pakai tissue… Hm… Tapi kan tissuenya hampir semua merah karena muntahan anggur merah yang ku minum… Ish… Kenapa sih aku semalam gak minum anggur putih aja biar bisa bedain bercak darah sama anggur merah…! Kesel deh kalau gini gak bisa inget sama sekali kejadian semalam!... Tapi kalau pun kita melakukan hubungan badan pasti tubuhku terasa berbeda… Paling tidak sakit di area intimku… Tapi ini kenapa enggak sama sekali ya? Batin dokter Ucy.


“Gini aja kak… Kak Ucy tanya langsung sama pak Ansu. Lebih baik mastiin ke orangnya langsung,” saran Sekar membuat dokter Ucy memuncungkan bibirnya.


“Gila ya kamu! Mana berani aku dek!”


“Hla dari pada penasaran sendiri gak bisa mengingat kejadian semalam… Mending mana? Mending tanya sama orang yang bersangkutan kan? Lagian kenapa kakak bisa sampai telanjang juga…?” tanya Sekar.


“Betul juga ya… Mungkin aja pak Ansu yang nelanjangin aku…” tersenyum beraharap kalau pak Ansu menelanjangi dirinya. Itu berarti pak Ansu ada rasa tertarik terhadap dirinya, begitu insting dokter Ucy menafsirkan dengan senyum bahagia penuh harap. “Nanti aku tanya aja sama si bapak. Siapa tahu emang… Hihiii… Semoga aja habis ini kita betulan jadian…” dokter Ucy semakin berharap bisa menjalin hubungan dengan pak Ansu.


“Ya udah yuk kita ke bawah dulu… ikut liatin mereka yang pada mancing,” ajak Sekar.


“Iya… Aku pakai baju dulu. Masak ya mau pakai bathrobe gini…”


“Iya sana aku tungguin. Dandan yang cantik sekalian. Jangan sampai kalah sama bu Lily!”


“Kalau soal cantik ya aku sudah pasti kalah lah, dek… Orangnya cantik gitu macam Sophia Latjuba kok mau dilawan.”


“Mulai deh pesimis lagi… Jangan suka pesimis gitu lah kak… Siapa tahu jodoh kakak itu emang pak Ansu… Makanya kakak belom nikah-nikah dari dulu.” Dokter Ucy semakin semangat mendengar ucapan Sekar.


Cepat-cepat dokter Ucy membuka wardrobe dan memilih gaun pakaian terbaiknya yang sekiranya pantas untuk menemui pak Ansu. Dia sedikit memberi bedak untuk wajahnya. Tak lupa juga lipstick warna pink agar terlihat lebih manis.


“Hehee… Gimana? Gak norak kan, dek?”


“Iya pas banget, manis… Yuk ke bawah! Mas Raja dah nungguin buat sarapan,” ajak Sekar.


Mereka pun berjalan menuju ke deck lantai 1. Disana sudah ada beberapa orang yang duduk di meja makan.


“Sayang… Ngapain aja? Kenapa lama?” tanya Raja dengan mencium kedua pipi Sekar.


“Iya mas. Mana anak-anak?” tanya Sekar.


Meski cemburu, tapi dokter Ucy tidak mau meperlihatkan rasa kesalnya.


Dokter Ucy berlanjut untuk mengisi perutnya dari pada pusing mikirin perasaan pak Ansu terhadapnya. Dia duduk bersampingan dengan Tia (Kakak dari Sekar sekaligus teman lama dokter Ucy waktu di kampus Jogja) yang sedang hamil.


“Apa kabar, Tia?” sapa dokter Ucy.


“Hai mbak! Baik. Sini duduk samping aku,” ajak Tia sambil mengambil nasi. “Semalem kenapa gak kelihatan?” tanya Tia.


“Iya semalem aku tidur cepat.” Dokter Ucy mulai menuangkan orange juice ke gelasnya. Matanya tetap sesekali melirik ke arah pak Ansu yang sedang tertawa lepas dengan madam Lily.


Ish! Ngomongin apa sih mereka sampai ketawa aneh gitu! Bikin bad mood aja pagi-pagi, gerutu dokter Ucy.


“Kamu gak lanjut ambil S3 mbak, di Jogja?” tanya Tia.


“Gak ah! Mau nyari suami dulu!” sedikit sewot karena melihat tangan pak Ansu merapikan rambut madam Lily yang berterbangan. Jawaban jujur dokter Ucy itu membuat semua mata di meja makan melihat ke arahnya. Mereka tersenyum simpul dengan kejujuran perempuan yang masih menyandang status single itu.


El dan Raja yang menangkap sorot mata dokter Ucy ke arah ayahnya menjadi curiga. Keduanya saling beradu pandang tersenyum menanggapi ucapan dokter Ucy.


“Raj…” El menghampiri Raja yang sedang mengambilkan makanan untuk Sekar. “Kayak nya kita gak akan bermusuhan mikirin siapa di hati ayah kita lagi…”


“Yeah… I know (aku tahu)… Sudah ada 2 calon. Tergantung ayah mau pilih yang mana,” sambung Raja dengan raut bahagianya. Begitu pun sebaliknya dengan El. Tapi beda halnya dengan Sekar yang mendengar percakapan antara suaminya dan kakak iparnya itu. Sekar tetap berharap pak Ansu akan memilih dokter Ucy. “Kamu juga harus nyari calon! Aku masih was was kalau kamu lirik-lirik istriku lagi!”


“Hahaa! Ya gak mungkin lah! Aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kamu lebih pantas buat Sekar. Lagi pula udah ada keponakan kembar tuh,” El menunjuk Boy dan Gadis yang sedang ditimang-timang oleh madam Lily dan pak Ansu.


“Tapi bang El juga harus nyari calon… Inget usia terus bertambah. Masa mau kalah sama ayahnya yang direbutin sama 2 wanita tuh,” sambung Sekar. “Em… apa kabar mbak Mona sekarang?” tanya Sekar membuat El dan Raja meneguk air mineral bersamaan.


“Ku rasa ada baiknya kita gak bahas nama orang itu lagi,” jawab El sambil melirik Raja. Sekar jadi sedikit curiga dengan tatapan El dan Raja yang aneh.


“Jangan main rahasia-rahasian ah sama aku! Terutama kamu ni mas!” Sekar memelintir lengan Raja.


“Aduh?! Kok aku sih yank? Tanya tuh sama El…” timpal Raja.


“Habis mas Raja dulu ninggalin aku karena dia...” Sekar jadi ngambek mengingat masa lalunya. Raja segera memeluk istrinya itu sebelum berlinang air mata di pagi hari.


“Gak akan pernah lagi sayang… Udah jangan ngambek gini. Aku gak pernah kontek perempuan itu lagi. Dia juga gak gangguin aku kok sayang…” Raja mengusap-usap punggung istrinya memberi ketenangan.


“Iya… Kamu gak usah kuatir, Sekar. Dia gak ada gangguin suamimu. Dia cuma sering hubungin aku buat balikan,” sambung El membuat Sekar sedikit lega.


“Terus?” tanya Sekar sambil melepaskan pelukan suaminya.


“Ya gak mungkin aku mau. Aku gak mau membawa dia masuk ke lingkup keluarga kita,” jawab El jujur dengan keputusannya.


“Tapi kan kasihan… Kenapa gak dikasih kesempatan?” Tanya Sekar membuat El menjadi gemas.


“Nah… Gini ni Raj yang bikin aku susah move on dari istri kamu. Terlalu baik orangnya,” celetuk El membuat Raja naik darah. Dia segera berdiri dari tempat duduknya dan merangkul leher El dengan tangannya. “Aw… Bercanda Raj! Aw! Hahaa…”


“Awas kamu ya…” Raja masih memberi tekanan di bagian yang dia kapit. Sekar sedikit terhibur karena merasa dirinya direbutkan.


“Mas Raja, udah ah. Kasihan tahu main piting (kapit),” Sekar memukul punggung Raja.


Begitulah suasan di pagi hari sebelum acara lomba mancing di mulai. Sekar bisa melihat Raja dan El sudah berdamai. Tapi dalam hati kecilnya sebagai wanita, masih ada rasa kasihan terhadap kondisi Mona.


 


*****


Mbak Mona kalau bang El gak mau diajak balikan, ikut berebut pak Ansu aja sama bu dokter dan madam Lily. Siapa tahu menang…


Bersambung…


*****