Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Tancap Goyang-Goyang (21+)



Pak Ansu segera mengajak istrinya pergi ke jetty untuk menuju yacht yang sudah siap membawa mereka berangkat ke ‘Blue Ocean Water Villa’.


“Mas… Kita mau kemana sih? Jauh ya?” tanya dokter Ucy dengan mendekatkan bibir ke telinga suaminya.


“Kita mau menginap di salah satu villa yang lokasinya di tengah laut.”


“Menginap? Tapi aku gak bawa  baju. Berapa hari kita akan menginap di sana?”


“Cuma 2 hari 2 malam. Tadi aku sudah menyuruh salah satu butler villa untuk mengemasi barang-barang kita. Tuh… Koper kita sudah ada di depan,” ucap pak Ansu dengan menunjuk keberadaan koper mereka.


“Terus nanti kita makannya gimana kalau ada di tengah laut?” tanya dokter Ucy lagi.


“Nanti ada karyawan resort yang mengantar kalau kita mau pesan. Kamu gak usah mikirin soal begituan,” jawab pak Ansu membuat istrinya lega. “Sini geser sini duduknya. Jangan duduk jauh-jauh. Nanti kamu ilang,” meraih pinggang istrinya agar berdekatan dengannya.


Tak lama setelah 10 menit perjalanan menggunakan yacht, mereka sampai di salah satu villa yang lokasinya memang di tengah laut. Villa itu cukup besar, dari luarnya terlihat ada swimming pool dan perosotan.



“Wow… Ini serius kita mau nginap di sini?” tanya dokter Ucy yang terperanga melihat villa di depan matanya.


“Yeah, I think so… Mirip sama yang di email kan mereka,” pak Ansu mulai mengkecup kepala istrinya.


Mereka di bantu 2 karyawan untuk mengangkat koper memasuki ruang villa. Salah satu dari karyawan itu menjelaskan setiap ruangan yang ada di villa.


“Villanya bagus banget…” celetuk dokter Ucy setelah memasuki ruangan di villa. Ada ruang tamu, dapur yang lengkap dengan beberapa stok makanan, Mini bar yang lengkap dengan minuman alkohol dan non alkohol, jacuzzi yang berlokasi di luar ruangan, swimming pool dan yang paling penting adalah ada bed yang empuk untuk ritual.


“Gimana? Kamu suka?” tanya pak Ansu dengan mengusap-usap punggung istrinya.


“Suka banget mas…” dokter Ucy menghamburkan pelukannya ke tubuh suaminya.


Pak Ansu cukup senang dengan pelukan pertama yang dia dapat dari istrinya. Dia mengkecupi kening dokter Ucy penuh sayang.


“Excuse me, Sir, madam. Anything else do you need?” (Permisi pak, bu. Ada yang lain anda butuhkan?) tanya karyawan yang tadi mengantar mereka. “I put your luggage in wardrobe room.” (Saya meletakkan tas anda di ruang ganti)


“Ok Thanks. Later on if I need something I’ll call you…” jawab pak Ansu. (Ok Makasih. Nanti jika aku butuh sesuatu aku akan menelponmu)


“Sure. Anytime if you need something you can contact me. We hope you enjoy stay with us. And we will leave now. Have a nice evening.” (Tentu. Kapanpun jika anda butuh sesuatu, anda bisa mengkontak saya. Kami harap anda menikmati tinggal bersama kami. Dan kami akan pergi. Semoga soremu menyenangkan)


“Thank you. Have a nice evening,” balas pak Ansu.


Kedua karyawan tadi pun keluar dari villa itu dan pergi dengan yacht untuk meninggalkan villa. Kini hanyalah pak Ansu dan istrinya di dalam villa.


“Ucy…”


“Ya mas?”


“Kok badan mu lengket?” bertanya dengan merabai leher istrinya.


“Ish… Kok gitu sih bilangnya?”


“Hla emang gitu kenyataannya. Ini pasti karena kena angin laut sama keringat saat acara weddding tadi,” ucap pak Ansu masih sibuk merabai pundak istrinya.


“Ya udah jangan pegang-pegang… Aku mandi dulu,” menurunkan tangan pak Ansu dari pundaknya.


“Mau mandi sama-sama gak? Sini ku bantu bukain bajunya…” meraih ritseleting di belakang punggung.


“Ish… Jangan…”


“Udah sini nurut! Gak usah pakai malu-malu.”


 


Pak Ansu POV


Huft… Mimpi apa aku bisa memperistri kamu Cy… Ucy… Kenapa gak dari dulu aja kita betemu lebih cepat? Setelah nganggur gak pernah kepakai selama 13 tahun, akhirnya malam ini aku akan bekerja malam lagi.


“Mas…”


“Apa?”


“Katanya aku lengket… Kok pegang-pegang?”


“Udah diem… Jangan banyak tanya.”


Istri mudaku ini orangnya sangat cerewet. Tapi aku menyukainya. Astaga… kenyal sakali payu*d4ranya. Kenapa gak ku remas aja dari dulu… Huft… Masih cukup kencang untuk ukuran perempuan 38 tahun. Atau jangan-jangan ini masih kencang karena gak pernah kena remasan?


Author POV


Pak Ansu mulai melupakan rencana mandi berdua. Dia justru disibukan dengan menciumi bibir istrinya. Tangannya *******-***** pant4t… si kenyal yang menggantung… dan…


Dokter Ucy cukup gugup. Ini adalah pertama kalinya dia akan melakukan hubungan badan. Dia dirundu rasa cemas karena akan melakukan dengan pria yang sudah berpengalaman. Pikirannya berfikir keras apakah dirinya harus mengimbangi permainan suaminya atau tidak. Secara pengalaman dalam bidang peranjangan dia tidak punya.


“Cy… Kok bengong?” tanya pak Ansu dengan menggosok-gosok teman lamanya setelah melepas semua pakaian. Dia memberikan pemanasan dan signal ke sang istri kalau kejantanannya itu cukup besar bila sudah aktif. Pak Ansu mulai melangkah mendekati istri yang sudah menunjukan raut muka tegang.


“Kamu ini kenapa? Aku deketin kok menjauh?” bertanya dengan menarik kaki istrinya.


“Emang harus sekarang ya mas?”


“Iya…” pak Ansu mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Dia cukup sadar kalau istrinya itu tidak bisa diajak bermain tancap goyang-goyang secara langsung. Sehingga pak Ansu memilih memberikan pemanasan kepada istrinya.


Dia mengkecupi dan m3lum4+ bibir istrinya cukup lama. Tangannya aktif bermain di kedua bukit kenyal sambil terus menggesekkan barang lonjongnya ke bagian tengah.


“Ah… Ah…” Pak Ansu semakin gencar melakukan serangan sampai istrinya terus mendesah. Dia menggigit p4yu*d4r4 istrinya sampai si gunung kenyal basah kuyup. “Mas…” meremas rambut suaminya karena gigitan cukup terasa ganas.


“Jangan remas rambutku Cy… Nanti rontok. Udah rapuh…”


“Gigitnya jangan kencang-kencang… Nanti berdarah…”


Pak Ansu kembali melancarkan serangan lagi. Dia mengkecupi sekitar perut dan turun ke tempat tujuan utama.


“Cy… Buka dong pahanya. Kenapa ditutup rapat? Gimana bisa masuk…” mendorong paha istrinya agar mendapat akses ke lorong basah. Pelan-pelan pak Ansu memasuki sangkar yang sedikit becek.


“Mas… susuku jangan kamu remas terus…”


“Kamu ini gak tahu kode ya? Ini kode biar kamu membuka paha lebih lebar…” balas pak Ansu semakin meremas benda sintal di hadapannya.


“Aw… Sakit…” rintih dokter Ucy ketika pak Ansu mendorong kejantanannya. “MAS… Stop stop… perih…” pak Ansu sedikit frustasi karena istri mudanya itu terus mengeluh.


“Cy… Sebenarnya punyaku yang kebesaran atau punyamu yang sempit sih…? Ini kenapa susah… Macam masih perawan aja…” Kali ini ucapan pak Ansu membuat bibir dokter Ucy mengkerucut.


“Kalau gak suka main sama yang perawan ya udah aku main sama laki-laki lain aja,” berusaha menjauhkan tubuhnya dari pak Ansu.


Pak Ansu yang tidak menyangka kalau istri mudanya itu masih perawan cukup kaget. Dia memeluk tubuh istrinya agar tidak menjauh darinya.


“Maaf sayang… aku gak tahu…” menghujani ciuman dengan penuh kelembutan.


Tangan pak Ansu mulai memasukan kejantanan ke bagian intim istri yang sedang dia ciumi. Bibir dokter Ucy menganga disaat merasakan benda lonjong sudah berhasil masuk ke bagian intimnya.


“Argh… Mas…”  merintih meski belum secara full dihujam sampai batas finish. Aduh… perih… Jadi ini ya rasanya bikin anuku kembang kempis… batin dokter Ucy dengan mengrenyitkan matanya.


Pak Ansu mulai menggoyangkan pinggangnya dengan hati-hati. Dia cukup was-was kalau encoknya kambuh.


“Mas…”


“Apa…?”


“Kok dari tadi goyanganya cuma gini aja?”


“Aku takut kamu kesakitan…” menjawab berbohong padahal dirinya takut pinggangnya bermasalah.


“Enggak mas… Kalau kayak gini terus rasanya kayak cacing tidur.”


Pak Ansu merasa tidak terima dirinya disebut cacing tidur. Dia mengkerahkan tenaganya untuk memberi service terbaik untuk istrinya.


Pelan-pelan pak Ansu menambahakan ritme goyangan agar istrinya merasa puas. Dia meremas benda sintal yang kini bergoyang cukup kencang. Menekan dan terus menekan membaut keringat keduanya bercucuran.


“Mas… Perutmu berdarah…” pak Ansu melihat sepintas cipratan darah yang ada di perutnya.


“Ini bukan darahku. Ini punyamu…” berlanjut menggoyang sampai lupa cara berhenti. Gak pernah menyangka, aku bisa membobol gawang prawan di usiaku saat ini. Hahaaa… Masih sangat sempit dan rapat.


“Argh… Argghhh… Ah…” Akhirnya tumpah sudah semua cairan kental hangat di dalam sana. Pak Ansu mulai tumbang dengan memeluk tubuh istrinya. Dia mengkecupi dan berlanjut mencium bibir istrinya.


“Love you Ucy…”


Dokter Ucy tidak mampu membalas ucapan itu dengan kata-kata. Dia membalas dengan memeluk erat tubuh suami yang sudah lelah menggoyangnya.


 


*****


Bersambung…


*****