Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Maju Mundur



Beberapa saat mereka terdiam setelah permainan panas yang sukses mencapai klimaks. Keduanya terengah-engah dalam tawa. Pak Ansu mengungkung tubuh dengan mengusap-usap rambut dan pipi halus istri mudanya itu.


“Kamu ngapain aja dari dulu gak pernah main beginian?” mengkecup-kecup bibir membuat istrinya malu. “Gimana? Mau nambah lagi?” memutar-mutar bulatan salah satu gunung sintal.


“Aw! Mas…” merintih manja padahal sangat suka dengan sensasi yang dirasakan.


“Lanjut lagi ya…?” bertanya dengan mulai menggosok si jantan ke tempat peraduan.


Keduanya menikamti sensai yang membakar tubuh mereka. Pak Ansu meluncurkan kecupan dan gigitan ke leher istrinya yang terus mendesah. Kedua tangannya kembali bermain di gunung kembar, membuat istrinya semakin mengerang keenakan.


“Mas…”


“Hm…?”


“Cepet masukin…”


“Ketagihan ya…” Pak Ansu tertawa kecil merasa berhasil membuat istrinya minta lagi. Dia kembali memasukan untuk bermain di ronde yang kedua.


Kali ini istri mudanya itu lebih pandai. Dia melingkarkan kaki di pinggang suaminya. Dokter Ucy pun cepat menangkap gerakan maju mundur ala poco poco yang dilakukan suaminya saat ini. Keduanya terus saling menekan satu sama lain. Dengan gerakan tangan meremas punggung, dokter Ucy berhasil membuat suaminya mencapai klimaks.


“Argh… Ah… Cy…” pak Ansu menautkan dahinya ke dahi istrinya. Dia mengrenyitkan dahi dengan memejamkan mata beberapa saat.


“Mas… Kamu gak pa pa kan?”


“Argh…” pak Ansu menggelengkan kepalanya.


“Susah dicabut Cy… pinggangku nyut-nyutan,” dokter Ucy tersenyum geli mendengar ucapan suaminya. Dia menganggap ucapan itu hanyalah candaan.


“Ah! Jangan boong! Bilang aja mau nambah lagi!”


“Kamu ini suami lagi sakit dibilang boong. Lagi nyeri betulan ini!” memencet hidung istrinya dengan gemas.


“Hihii… Ya udah, minggir dulu. Aku kompres pakai air hangat biar terasa baikan mau?” bertanya dengan mengusap pipi suaminya.


“He em… Tapi masih susah dicabut…”


“Haduh… Ini aku dah gak tegang loh… Coba kamu lebih rileks.” Dokter Ucy mengusap-usap punggung dan pinggang suaminya untuk memberikan kenyamanan.


Akhirnya setelah melewati prahara terjebak di sangkar, pak Ansu mampu menarik maskot utamanya. Dia cukup lega karena bisa berbaring dengan nyaman di samping istrinya.


Sial… Ketahuan jadinya aku punya encok, gerutu pak Ansu dengan memandangi istrinya saat berjalan menuju kamar mandi.


Tak lama kemudian dokter Ucy kembali dengan membawa handuk basah yang hangat untuk mengkompres pinggang suaminya.


“Ini yang mau dikompres bagian belakang atau depan?” menggoda dengan membetulkan piyama yang dia kenakan. Dokter Ucy merangkak mendekati suami yang terkapar di bed.


“Belakang yang dikompres. Depan minta digosok-gosok sama dijilat nanti…” menjawab dengan menarik piyama istrinya agar tetap terbuka.


“Hm… Udah tengkurap dulu! Jangan banyak gaya.” Tangan dokter Ucy mengeplak pelan pantat suaminya itu.


Begitulah ronde kedua yang berakhir naas dengan encok yang mengganggu lalu lintas honeymoon. Meskipun malu, tapi dari sisi ini pak Ansu bisa melihat kebaikan istri mudanya itu dalam merawat dirinya.


“Gimana? Lebih enakan?” tanya dokter Ucy.


“Iya… Makasih ya sayang. Udah gak nyut-nyutan lagi,” menjawab dengan menjulurkan tangannya ke benda yang menggantung. Dia meremas pelan membuat istrinya kembang kempis lagi.


“Mas… Mandi dulu yuk… Lengket badan ku,” menjawab dengan melirik benda lonjong yang sudah menegang lagi.


“Hm…”


Akhirnya mereka berdua menuju ke jacuzzi yang berada di luar villa untuk berendam terlebih dahulu. Gelembung-gelembung air dari kolam sangat membantu melancarkan peredaran darah. Terutama untuk pinggang pak Ansu yang butuh relaksasi agar siap untuk ronde berikutnya.


“Cy…” pak Ansu menarik tubuh istrinya agar lebih dekat saat menikmati gelembung air yang menyembur di pinggangnya.


“Kamu mau anak berapa?” tanya pak Ansu.


“Em… Kalau aku sih sedikasihnya aja mas. Lagi pula di usiaku yang sekarang, aku gak berharap lebih. Menjadi ibu sambung untuk Raja sama El aja aku sudah cukup senang,” menjawab dengan bijak membuat suaminya semakin cinta.


Selesai bermain di jacuzzi, mereka berlanjut berendam di bath up dengan busa. Keduanya berlanjut bertempur bagai kapal selam sampai tedengar suara belebep… belebep… berkali-kali karena tekanan air berhimpitan dengan gencatan senajata pak Ansu.


“Mas… Udah yuk. Aku capek, airnya juga udah gak hangat lagi,” ucap dokter Ucy.


“Bentar lagi. Naggung belum keluar,” berlanjut sibuk terus mendorong pantat istrinya untuk maju mundur. Dokter Ucy cukup lelah menghadapi suaminya itu.


Padahal tadi pinggangnya sakit. Tapi ini udah ronde ketiga. Gimana kalau pinggangnya gak sakit? Pasti aku udah dirobek-robek gak karuan, batin dokter Ucy dengan mengusap badannya dengan handuk.


“Makan yok!” ajak pak Ansu dengan mendorong pinggang istrinya menuju ke ruang makan.


Mereka terdiam menikmati sajian makanan yang berasal dari Hot Box. Ada Seafood salad, Grilled lobster with garlic parsley butter dengan  kentang rebus, Calamari with mayonnaise dan potongan buah.


“Mas…”


“Apa?”


“Emang kamu mau punya anak lagi ya?” tanya dokter Ucy penasaran. Pikirannya penasaran karena takut kalau suaminya itu mengharapkan keturunan darinya.


“Aku sih suka-suka aja gangguin kamu di ranjang,” menjawab dengan kalimat bercanda.


“Aku serius tanyanya, mas. Kamu kan tahu aku udah hampir kepala empat,” balas dokter Ucy menunjukan wajah cemasnya.


“Cy… Di usiaku yang sekarang, aku sudah cukup senang bisa memperistri wanita seperti mu. Kalau kamu hamil atau gak hamil pun, itu gak akan jadi masalah buat aku. Jadi kamu jangan kuatir. Kalau kita dikasih, itu berarti kita diberi kepercayaan untuk merawat anak. Kalau kita gak dikasih, ya sudah kita lanjut bermain terus di temapt tidur.” Dokter Ucy tertawa mendengar kalimat bijak yang diakhir dengan guyonan mesum suaminya itu. “Kita hidup di dunia ini harus dinikmati. Kalau gak dikasih momongan ya berarti belum rejeki kita di situ. Kuncinya kita harus belajar ikhlas dan bersabar. Seperti kamu yang bersabar nungguin aku 38 tahun. Aku emang ditakdirkan beruntung selalu dapat perawan,” memberi petuah tapi tetap membanggakan dirinya sendiri.


“Hm… Ngelantur terus deh.”


Selesai makan, mereka duduk bersantai dengan menonton movie. Jangan ditanya lagi movie yang dipilih oleh pak Ansu. Karena ini adalah acara honeymoon, tentu saja movie yang dipilih adalah seperti itu. Tangannya terus bertengger antara pegunungan kenyal dan kel3ntit untuk dibuat terangsang.


“Ah Mas…” Dokter Ucy mendesah merasakan permainan jari suaminya. Pelan-pelan pak Ansu membaringkan istrinya untuk berbaring. Dia mulai menarik tali piyama agar terbuka.


Astaga… Ronde keempat sudah mau di mulai… gumam dokter Ucy dengan melihat muka suaminya yang sudah terjelembab di lorong waktu.


Lidah suaminya itu mulai bergoyang di bagian intim. Menghisap-hisap membuatnya mengerang karena rasa nikmat. Aliran darahnya terasa tergelitik karena suaminya berhasil membuatnya melayang.


“Cy…”


“Yeah?”


“Kamu di atas ya… Takut encok ku kabuh.” Ingin sekali dokter Ucy tertawa tapi dia tahan. Keinginan suaminya itu dia turuti.


Ternyata asyik juga di atas. Aku yang pegang kendali. Hihiii… Suamiku suamiku… tatapan mu ini bikin organ ku kembang kempis atas bawah. Huft… Jadi penasaran gantengnya kamu waktu muda kayak apa. Gumam Dokter Ucy dengan meremas dada suaminya.


Gerakan poco poco maju mundur berlanjut lagi di ronde keempat. Sampai Akhirnya tubuh istri pak Ansu tumbang di dadanya.


“Mas aku capek.”


“Ya udah… Kita break dulu. Nanti dilanjut lagi…”


Hm… Kalau gini caranya lama-lama aku juga kena encok kalau terus lanjut, batin dokter Ucy tidak menyangka kalau stamina suaminya terus on meski sudah di ronde keempat.


*****


Bersambung…


*****