Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Ikan Kakap... Ikan Paus... Ikan Duyung



Selesai acara makan, para laki-laki di kapal itu berlomba memancing. Perlombaan itu juga diikuti oleh karyawan atau para awak kapal yang ingin ikut memancing. Raja mengizinkan para karyawannya untuk mengkuti lomba asal dengan catatan tidak sedang sibuk.


“Peraturannya kalau udah dapat ikan, ikannya harus dilepas... Kita cuma mau nimbang berapa berat ikan yang bisa kita pancing selama 2 jam. Jadi semakin besar ikannya semakin besar kesempatan kalian untuk menang. Pemenang pertama dapat liburan gratis ke Switzerland dengan pasangannya. Pemenang kedua dapat liburan gratis ke Maldives dengan pasangannya. Pemenang kedua bisa ke Thailand dengan pasangannya juga. Bagi yang tidak punya pasangan bisa ajak saya. Hihiii... Sekian terimakasih… MANCING MANIAAA… Tunjukan bakatmu!” ucap Ben membuat para peserta semakin semangat pagi itu.


“Kalau gitu saya mau ikut lomba aja, mas... Siapa tahu bisa menang. Nanti kalau saya menang, pasti mas Ansu akan saya ajak liburan. Mau ya…” ucap madam Lily yang juga didengar oleh dokter Ucy. Hati dokter Ucy semakin terbakar cemburu memperhatikan setiap tingkah laku madam Lily yang sok manja kepada pak Ansu.


“Ben… Saya juga mau ikut daftar lomba mancing! Siapa tahu saya juga bisa menang,” ucap dokter Ucy mengadahkan tangannya.


“Siap bu dokter! Nanti kalau menang ajak saya liburannya ya…”


“Hahahaa…!” orang-orang tertawa mendengar ucapan Ben. Apalagi mereka tahu status dokter Ucy yang masih single.


Perlombaan memancing sebentar lagi akan dimulai. Para peserta memilih alat pancing yang akan digunakan. Mereka mondar-mandir memilih alat pancing dengan kualitas terbaiknya. Termasuk dokter Ucy yang bingung mau memilih alat pancing yang mana.


“Cy… Apa kabar? Udah sehat?” tanya pak Ansu yang tiba-tiba muncul di samping dokter Ucy.


“Baik, pak…” jawab dokter Ucy sambil fokus memilih alat pancing.


“Jangan yang itu. Kamu pakai ini,” pak Ansu menyodorkan alat pancing yang dia pegang. “Yang ini senar pancingnya masih kuat. Kalau nanti kamu dapat ikan besar, senarnya ngak akan mudah putus.”


“Ini kalau buat saya, terus bapak pakai apa?” tanya dokter Ucy dengan mengambil alat pancing itu dari tangan pak Ansu.


“Saya bisa pakai yang ini,” pak Ansu mengambil pancing yang bentuk tongkat dan warnanya sama dengan pancing yang dia beri ke dokter Ucy. “Kamu pakai itu, siapa tahu nanti kamu bisa menangin perlombaan, terus bisa ajak laki-laki yang kamu sukai… yang semalem kamu sebut-sebut saat ngigau…” pak Ansu tersenyum tipis mengingat betapa lucunya saat dokter Ucy mengigau.


NGUUIINNGG HWUSSS… Kepala dokter Ucy serasa ditabrak oleh helikopter.


“Ngigau...? Saya ngigau?” dokter Ucy semakin malu dihadapan pak Ansu.


“Iya ngigau… Tapi sayangnya saya belum tahu namanya tuh… Hahaaa… Emang siapa laki-laki yang kamu sukai itu?” dokter Ucy sedikit lega mendengar ucapan pak Ansu karen bibirnya tidak menyebut nama pak Ansu.


“Nanti bapak juga tahu sendiri…” timpal dokter Ucy. “Em… emang semalam saya sama bapak ngapain aja ya? Kok saya bisa sampai…”


“Jangan asal nuduh kamu,” pak Ansu segera memotong pembicaraan dokter Ucy. “Semalam kamu itu ngerasa gerah kepanasan… Terus buka baju sendiri…” dokter Ucy menjadi malu telah berfikir kalau pak Ansu yang menelanjanginya, ternyata itu adalah perbuatannya sediri. “Habis itu muntah-muntah…” dokter Ucy semakin tidak punya muka di hadapan pak Ansu. “Terus ngigau kalau kamu suka sama bapak-bapak… Emang siapa orangnya? Jadi penasaran saya. Bilang ke saya kalau orang itu berani nolak kamu.” Ucapan yang terakhir itu membuat dokter Ucy kecewa, ternyata pak Ansu terlihat tidak memiliki perasaan dengannya.


“Haduh… gak usah lah, pak. Ini cuma urusan pribadi saya. Bapak gak akan mengenal orangnya. Bapak juga gak akan bisa bertatap muka dengan orang itu,” ucap dokter Ucy dengan mengumbar senyuman palsu.


“Emang bule negara mana dia? kenapa saya gak bisa bertatap muka dengannya?”


“Hehee… Bukan bule kok, pak. Saya pecinta pribumi. Dia seorang pengusaha sukses,” jawab dokter Ucy kepada pak Ansu, sedikit memberi clue tentang sosok laki-laki yang sebetulnya adalah dirinya sendiri.


“…Em… Pengusaha apa dia, Cy?”


“Pokoknya di bidang kelautan… Bapak gak usah nyari tahu siapa dia, karena pak Ansu gak akan pernah bisa menemukan orang itu… Dari pada kita bahas orang yang gak jelas perasaannya ke saya itu, mending kita pemanasan buat mancing. Yuk, pak!” ajak dokter Ucy mengalihkan topik pembicaraan.


Dokter Ucy dan pak Ansu menuju tepi deck untuk melempar senar pancing mereka. Mereka duduk bersebelahan dengan berbagi umpan untuk memberi makan ikan. Madam Lily yang saat ini siap dengan alat pancingnya, berjalan mendekati tempat pak Ansu dan dokter Ucy.


“Mas, itu kalian dapat umpan dari mana? Boleh saya ikut gabung sama kalian pakai umpan itu?” tanya madam Lily.


Hm… Baru juga ada kesemptan berdua… Udah direcokin lagi deh sama senior, batin dokter Ucy.


“Bu dokter, boleh kan saya ikut gabung?” tanya madam Lily.


“Oh mari mari buk… Tentu boleh… Ini pakai umpannya,” dokter Ucy menggeser pantatnya agar dirinya lebih berdekatan ke pak Ansu. Sedangkan madam Lily bisa duduk di sebelahnya.


“Makasih ya bu dokter… Saya mau mancing ikan kakap yang besar dan guedeee biar bisa menangin jalan-jalan ke Switzerland…” ucap madam Lily penuh semangat.


“Semangat ya buk… Kalau saya mau mancing ikan paus aja yang jelas gede badannya,” timpal dokter Ucy dengan melirik ke arah pak Ansu.


Kenapa sih kedua perempuan ini? Kayak gak akur? Batin pak Ansu sedikit merasa aneh dengan kedua perempuan itu.


Akhirnya perlombaan pun dimulai. Ben selaku ketua tim panitia, selalu mondar-mandir memantau jalannya perlombaan. Beberapa dari mereka mulai saling jejeritan karena berhasil memancing ikan yang badannya berukuran besar.


Raja yang juga mengikuti perlombaan memancing tengah menarik senarnya dari deck lantai 4 depan kamarnya. Dia memancing dengan ditemani oleh istrinya yang terus-terusan meremas pagar tepi kapal.


“Mas, ini mancing model apa sih? Kalau mancing ya mancing… Masa mancing sambil main sogok dari belakang gini?” protes Sekar yang heran dengan sikap suaminya. Dia masih belum puas menghentakan juniornya semalaman.


“Sayang… kamu tahu kan berapa lama dulu aku berpuasa nggak main sama kamu… Jadi anggap saja aku sedang ambil tabungan aku,” celetuk Raja berlanjut sambil meremas-remas seluruh bagian sensitive istrinya.


“Kamu pikir ini perhitungan debet dan kredit?... Aku tuh paling gak suka posisi berdiri gini. Kakiku gemetaran…” merengek dengan ekspresi memelas terbaiknya. Raja yang melihat raut wajah istrinya itu justru semakin gemas. Dia menggigit memberi tanda cuph4ng di tengkuk Sekar. Hm… Emang dia ni gak bisa diajak kompromi dari dulu soal beginian, batin Sekar sambil menahan gigitan Raja.


“Ah! Tapi aku suka sayang…” berlanjut memberikan hentakan manja.


“Hm… Ya sudahlah mas… lanjutkan sesukamu,” Sekar mengalah karena percuma saja bedebat dengan Raja.


Selama perlombaan memancing, Raja terus menerus tanpa henti mengambil jatah tabungannya itu. Dia yang sebetulnya jago memancing, tidak fokus dengan perlombaan. Pikirannya bercabang terlalu menghayati permainannya bersama sang istri.


CUP! Raja mencium kepala Sekar setelah permainan dirasa cukup untuk pagi ini. Dia membetulkan pakaian Sekar dan dirinya setelah 2 jam sesuai lamanya perlombaan memancing.


“Terimakasih Sayang…”


“Iya mas,” Sekar memegangi pinggangnya karena terasa kram.


“Kenapa sayang? Sakit?” tanya Raja ikut mengusap pinggang Sekar.


“Tadi waktu jinjit kayanya ototku ketarik deh, mas. Jadi agak nyut-nyutan…” jawab Sekar.


“Duh, sorry yank. Em… mau ku panggil dokter Ucy? Atau mamanya Kasih yang pandai urut itu?” sedikit panik karena akibat ulahnya sendiri.


“Gak usah, bentar lagi paling juga sembuh… Kalau gak sembuh ya… Em… Mas Raja malam ini puasa deh. Hihiii…” meskipun sedikit nyeri, Sekar masih mengejak suaminya bercanda.


“Gak! Kalau itu gak bisa,” menolak keras karena itu adalah favorite utamnya sekarang. “Tapi kamu bisa jalan kan sayang?”


“Iya masih bisa. Mas Raja tenang aja,” jawab Sekar dengan senyumnya.


“Kalau gak bisa, aku bisa gendong kamu.”


“Bisa kok mas. Jangan berlebihan gitu deh. Malu nanti sama tamu yang lain… Udah yuk kita ke bawah. Nengok siapa yang menang. Yang pasti bukan kamu… Hihii… Masa selama 2 jam cuma dapet satu ikan kecil. Bikin malu aja,” meledek sambil mencubit Raja.


“Hahaaa! Nanti kalau aku yang menangin perlombaan kasihan karyawanku, yank. Biarin aja mereka yang dapet voucer liburan. Lagian kalau kita mau liburan kemana, kamu tinggal bilang ke aku.” Ucapan Raja itu membuat Sekar semakin jatuh hati kepada suaminya. “Yok kita ke bawah!”


Akhirnya Raja dan Sekar berjalan menuju deck lantai satu tempat perlombaan memancing sesungguhnya dilakukan. Mereka juga membawa kedua anak kembarnya yang lagi asyik bermain rumah-rumahan menuju deck lantai satu. Raja menggendong Boy dan Sekar menggendong Gadis.


 


 


 


 


*****


Wah… Apakah dokter Ucy bisa dapetin salah satu voucher ya?


Bersambung…


*****