
Raja yang melihat wajah manis Sekar sedang tertidur, membuat hatinya tergerak untuk menyentuh wajah Sekar. Dia mulai mengusap pipi halus Sekar.
Sekar… mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk memaafkanku. Kamu pasti mengalami masa-masa sulit saat aku bersama Mona. Itu pasti sangat berat buatmu, batin Raja sambil mengingat semua kenangan pahit yang pernah dia berikan untuk Sekar. Bahkan bila diingat-ingat tidak ada kebahagian yang dia berikan untuk Sekar. Selama dia berhubungan dengan Sekar dulu, pikirannya justru dibayang-bayangi oleh Mona. Itu artinya dirinya menduakan ketulusan Sekar. Rasa bersalah Raja semakin dalam. Apalagi sekarang Sekar memiliki phobia dengan dirinya.
“Aku mencintaimu sayang… Hanya ada kamu di hatiku saat ini… Gak ada yang lain… Kecuali dengan bayi kembar kita… Aku mencintai kalian…” Bisik Raja dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Raja mengusap-usap wajah Sekar yang dia rindukan.
“Aku akan berusaha bersabar untuk menunggumu menerimaku kembali…” Raja mulai memberanikan dirinya memberi kecupan di kening Sekar. Bibir Raja yang merasakan betapa halusnya kulit ibu dari anak-anaknya itu, seperti ingin berlama-lamaan berhenti disana. Raja mengusap kedua telinga Sekar dengan pelan. Raja mulai melihat bibir mungil milik Sekar. Dia mencium bibir Sekar. Dirasakanya hembusan nafas Sekar yang hangat. Membuat Raja teringat saat pertama kali dia bertemu dengan Sekar di kapal phinisinya.
“Cepat sembuh ya sayang…” Raja mulai beranjak dari bednya Sekar. Rasanya Raja masih belum puas untuk berlama-lamaan dengan Sekar. Tapi dia harus sadar diri, kalau saat ini Sekar masih takut dengannya.
Selesai menjenguk Sekar, Raja menuju kamar Gadis. Anaknya itu tengah diberi susu dari botol oleh dokter Ucy.
“Susu apa itu dok? Kok anak saya dikasih susu botolan?” Raja yang masih tidak tahu mengurus bayi menuduh dokter Ucy sesuka pemikirannya.
“Ini isinya asi, mas Raja… Setiap hari Sekar selalu memompa asi buat stok persediaan Boy sama Gadis,” Sekali lagi Raja salah paham dengan dugaannya. “Mas Raja jangan kuatir. Sekar sangat mementingkan asupan gizi buat anak mas Raja.” Ucapan dokter Ucy itu bagai sindiran halus untuk Raja. Secara selama ini Raja belum pernah memberikan apa-apa untuk Boy dan Gadis. Sekali lagi Raja harus menutup mulutnya yang sudah lancang itu.
Entah mengapa bayi mungil yang tengah menikmati susu dari botol itu melihat Raja dengan mengkedipkan matanya. Gadis mulai melepas dot dari mulutnya.
“Heggg…eee…” Gadis mulai memamerkan gusinya ke Raja. Seolah-olah bayi itu tahu siapa yang ada di dekatnya saat ini. Raja pun tergerak hatinya memberi senyum untuk anak perempuannya itu.
“Boleh saya gendong Gadis, dok?” tanya Raja kepada dokter Ucy, memastikan agar dirinya tidak salah lagi.
“Boleh… Hati-hati ya…” jawab dokter Ucy.
Raja mulai mencium pipi Gadis yang tidak kalah gembul dari Boy. Anaknya itu memberi respon dengan menarik brewok Raja. Dia terlihat sangat senang melihat Raja. Kaki Gadis mulai aktif menendang-nendang.
Shan yang dari tadi berdiri dekat dokter Ucy, juga ikut tersenyum. Tendang aja Dis… Jambak brewoknya… Tendang hidungnya… kasih balasan buat om mu ini… Enak aja dulu mukul hidungku sampai berdarah! Hm! Gerutu Shan dalam batinnya dengan seulas senyuman.
Tangan mungil Gadis yang menjambak brewoknya itu justru dinikmati oleh Raja. Baginya ini adalah tanda sayang Gadis untuk dirinya. Raja yang belum terlalu pintar menggendong bayi hanya menyangkutkan kepala Gadis dekat lehernya. Raja mencoba menimang-nimang anaknya itu. Tiba-tiba ada cairan yang terasa mengalir di leher Raja.
“Eh…? Kenapa ini? Kenapa muntah nak?” Raja mulai kebingungan menatap dokter Ucy dan ayahnya yang ada di sudut ruangan bersama Boy.
Dokter Ucy mulai mengambil tissue untuk mengelap susu yang keluar dari mulut Gadis. Gadis masih di mode muka yang sama cengar-cengir memamerkan gusinya.
“KenapahH inihh dedeknyaa…? Hem… Kekenyangan ya… Hehee…” Goda dokter Ucy sambil mengelap mulut dan sekitar pipi Gadis.
Dokter Ucy mulai meraih Gadis dari gendongan Raja. Menidurkan Gadis ke bednya lagi. Sementara itu Raja cepat-cepat mengambil tissue untuk membersihkan leher dan bahunya.
“Gadis cuma gumoh, mas… Anak kecil kalau kekenyangan suka gitu.”
Belum ada 3 detik dokter Ucy menidurkan Gadis, bayi itu mulai…
“OeekkKK…OeekkKK…OeekkKK…!”
“Kenapa ya? Kok nangis?” pertanyaan dokter Ucy itu membuat pak Ansu geleng-geleng kepala. Pak Ansu berharap dokter Ucy bisa mengajari Raja. Tapi ternyata… Pak Ansu baru ingat kalau dokter Ucy masih single, belum punya pengalaman menjadi ibu.
“E’hem… Coba kamu gendong Gadis lagi. Mungkin dia masih kangen sama kamu,” kata pak Ansu menatap Raja dari sudut sofa.
Akhirnya Raja mengangkat Gadis lagi kedalam pelukannya. Ajaibnya anaknya itu mulai diam kembali. Mode cengar-cengir mulai merekah kembali di bibir Gadis. Sekarang Raja baru memahami apa yang diinginkan Gadis.
“Kamu suka ya digendong ayah…” Raja mulai menimang-nimang Gadis kembali.
Sekitar 3 jam lamanya Raja bermain-main dengan Gadis dan Boy. Sebuah kebahagian yang belum pernah dirasakan Raja. Raja sangat bersyukur karena tindakah dirinya menyod0mi Sekar dulu tidak sampai membuat Sekar keguguran.
Ternyata ini kebahagian yang kamu rasakan ya, sayang… Melihat senyum Gadis dan Boy… Mengajaknya bermain… Memberi asi dari botol… Ini membuatku bahagia… Terimakasih Sekar, kamu sudah melahirkan bayi kembar yang sangat menggemaskan. Aku harap kamu bisa menerimaku secepatnya. Aku ingin memberikan kebahagian yang utuh untukmu dan anak-anak kita… Batin Raja sambil bermain…
“Peek a Boo… Baa… Ciluuukkk… Ba…” Begitulah Raja mepelajari jurus andalan ayahnya menggoda Boy.
Pak Ansu juga mengajarkan Raja untuk mengganti popok pada Boy. Dokter Ucy dan Shan yang masih single pun ikut mengamati langkah-langkah yang diajarkan oleh pak Ansu. Meskipun sebenarnya pak Ansu juga sudah sedikit lupa bagaimana langkah yang benar itu. Tapi dia tidak mau terlihat payah di depan orang-orang muda di hadapannya.
Setelah mendapat pelajaran yang mahal harganya itu, Raja meminta izin untuk keluar sebentar membeli makanan bersama Shan.
“Mau beli makan malam apa kita, pak?” tanya Shan setelah berada di luar gedung rumah sakit. Pertanyaan itu membuat Raja teringat dengan ikan napoleon kesukaan Sekar saat seminggu mereka berada di yacht dulu.
“Kita beli ikan bakar napoleon kesukaan Sekar. Sama… buah apel,” jawab Raja mengingat-ingat terakhir kali Sekar mintab dipotongkan apel. Tapi permintaan Sekar dulu itu tidak dilakukan oleh Raja karena terburu-buru menemui Mona.
Raja bersungguh-sungguh ingin menebus semua kesalahannya kepada Sekar.
Apapun yang diinginkan Sekar saat ini Raja akan memenuhinya. Raja ingin membuat Sekar bahagia. Raja tidak mau Sekar merasakan kepedihan lagi.
Setelah kurang lebih satu jam lamanya Raja dan Shan mencari ikan bakar napoleon dan buah apel, mereka kembali ke rumah sakit. Raja berharap Sekar mau menerima makanan yang dia beli.
TINGGG… Pintu lift mulai terbuka. Raja dan Shan berjalan menuju ruang VIP 17. Betapa kagetnya Raja mendengar suara Sekar yang menggema di lorong lantai itu.
“AKU JIJIK DENGAN MONSTER ITU! AKU GAK MAU LIHAT DIA…!! AKU GAK MAU DIA DEKAT DEKAT DENGAN BOY DAN GADIS! Aku gak mauuu… AKU GAK MAUUU!”
Sudah pasti kalimat Sekar itu ditujukan untuk Raja. Raja menghela nafasnya. “Huft…” Rasanya sangat menyakitkan mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang yang dia cintai. Shan hanya diam memandangi muka merah Raja.
*****
Bersambung…👶👶
*****