Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Kado Buat Pak Ansu



El yang saat ini tengah menikmati lagu terakhir dari Sekar, dikejutkan dengan kedatangan Ben. Ben menepuk bahu El.


“Bang El,” sapa Ben.


“Kenapa?” El menoleh ke arah Ben.


“Bisa minta tolong? Bang El bisa pergi ke pulau pribadi mas Raja, buat nemui dokternya Mona?”


“Kenapa Mona?” tanya El mulai kuatir.


“Tadi Sekar bilang mau putar musik di ruangan rawat Mona. Sekar punya inisiatif buat merangsang otak Mona biar bekerja kembali dengan lagu dan instrumen musik yang dia mainkan. Tapi kan harus izin ke dokternya dulu. Abang mau kan bantuin ngomong ke dokter itu?”


Baik sekali kamu Sekar sampai punya ide bagus kaya gitu. Andai aku bertemu Sekar dari dulu. Aku pasti tidak akan menjalin hubungan dengan Mona, batin El.


“Harus sekarang ya?”


“Iya bang. Sini susah signal. Makanya saya minta tolong ke abang buat balik ke pulau itu sekarang. Lagian saya pilih lokasi dinner buat kalian berdua disana juga. Di villa baru yang paling ujung. Tempatnya super romantis. Dijamin Sekar suka nantinya,” jawab Ben terus membujuk El agar segera hengkang dari Pulau Letung.


“Hm… Ok. Kesembuhan Mona juga tanggung jawab ku. Salam buat Sekar ya.”


“Mari saya antar ke yacht, bang.”


Ben mulai mengantar El sampai ke yacht. Memastikan El pergi dengan yacht yang dia siapkan. Setelah itu Ben tinggal melaksanakan tugas mulia lainnya.


Ben kembali ke beach party mencari Raja. Ben melangkahkan kakinya mendekati Raja yang tengah duduk memandangi handphone. Dia sedikit berjinjit untuk mengintip apa yang dilihat Raja.


Hm… Dasar play boy! Mau ngajak Sekar tunangan tapi isi galeri masih penuh muka Mona. Plin-plan… Anak-anak pak Ansu gak ada yang bener. El juga udah ngebet sama Sekar. Rumitnya dunia percintaan segiempat, gerutu Ben di belakang Raja.


“E’hem… Mas Raja,” kata Ben.


“Ben? Kenapa?” Raja mulai mengantongi handphonenya.


“Mas Raja sebaiknya ngajak Sekar tunangan hari ini. Saya udah siapkan cincin buat kalian. Ukuran jari Sekar kayannya sama dengan Mona. Jadi saya ambil stok cincin yang disimpan di kapal,” kata Ben sambil menyodorkan kotak cincin.


Raja mengambil kotak itu dan membuka untuk mengecek. Memandangi bentuk cincin dengan batu berlian yang sama persis dia berikan untuk Mona. Perasaannya semakin galau. Haruskah dia melanjutkan idenya untuk mengikat Sekar agar Sekar mau terus bersamanya selagi menunggu Mona sadar?


“Ben…”


“Ya mas?”


“Siapa menurutmu yang paling cantik antara Mona dan Sekar?” Pertanyaan gila yang didengar Ben itu membuat Ben ingin mengeplak kepala Raja.


Udah semakin sinting dia?! Bukannya cinta memandang hati, bukan rupa? Gini gini gue masih waras! Gerutu Ben sambil memasang senyuman.


“Em… gimana ya mas. Mona itu cantik, tapi Sekar juga manis. Sekar anaknya juga baik. Disuruh apa-apa nurut. Kalau saya… suka sama Sekar. Gimana semalam? Berhasil bobok manja sama Sekar? Hihii. Bercanda ni mas…” Ben terkekeh membayangkan adegan panas Raja dan Sekar.


Yah, Sekar memang perempuan baik. Masih perawan. Aku sangat beruntung mendapatkannya. Batin Raja sambil melambaikan tangan ke Sekar yang masih bermain cello.


“Hm… Ben…”


“Kenapa lagi mas?”


“Kamu jangan dekat-dekat Sekar. Saya tahu kamu suka deketin semua staff perempuan di kapal. Ini peringatan buat kamu,” kata Raja sedikit garang menatap Ben.


“Ya, mas. Saya akan jaga jarak dengan Sekar.” Hanya depan kamu saja maksudku…, bisik Ben sambil menganggukan kepalnya.


Akhirnya setelah percakapan itu, Ben pergi ke depan panggung mengambil mic. Ben tetap meminta Sekar agar berdiri di depan panggung.


“Selamat sore untuk semua tamu bapak Ansu yang terhormat. Saya ingin mengucapkan happy birthday untuk bos saya yang paling hebat,” kata Ben. Pak Ansu yang sedang berbicara dengan temannya mulai menoleh ke arah panggung tempat Ben berdiri. “Di hari yang spesial ini, mas Raja selaku putranya pak Ansu ingin memberi kado ulang tahun… Kadonya sangat spesial ni, pak,” kata Ben sembari tersenyum menatap muka pak Ansu dari panggung.


Pak Ansu semakin tertarik dengan ucapan Ben. Dia melangkahkan kakinya maju ke depan panggung mendekati Raja yang sedang berdiri disana.


“Kado apa Raja?” tanya pak Ansu sambil menepuk bahu Raja dari belakang.


“Nanti ayah akan tahu,” jawab Raja singkat.


“Mas Raja, silahkan maju ke depan panggung,” pinta Ben. Raja mulai melangkahkan kakinya menaiki panggung. Dia berdiri tepat di samping Sekar. “Pak Ansu… Kadonya adalah calon mantu... Mas Raja, silahkan cincin pertunangan untuk Sekar boleh disematkan.”


Pak Ansu tertawa lepas mendengar ucapan Ben. Seperti penantian yang panjang bagi pak Ansu melihat Raja bahagia kembali. Di lubuk hati terdalam pak Ansu, ada rasa bersalah kepada Raja karena semenjak kehadiran El, El selalu menginginkan apa yang dimiliki Raja.


Sekar yang saat ini jarinya tengah dipegang oleh Raja sedikit gemetaran. Rasanya bahagia sekali karena setidaknya ada ikatan pertunangan. Seperti ada sebuah kepastian ke depannya akan segera dinikahi oleh Raja. Yah, begitulah pikiran Sekar saat ini. Terbawa halusinasi menjadi peran utama di novel yang dia kerjakan.


“I love you, mas Raja,” kata Sekar dengan pelan sambil menyematkan cincin ke jari Raja.


Setelah pertukaran cincin itu, Raja mencium kening Sekar. Ada rasa bersalah kepada Mona. Tapi celananya jadi ketat lagi setelah bersentuhan dengan tubuh Sekar.


Raja dan Sekar mulai turun dari panggung. Para tamu memberi ucapan selamat kepada Raja dan Sekar. Mereka ikut berbahagia dengan pertunangan itu. Pak Ansu juga ikut memberi ucapan selamat kepada Sekar dan anaknya.


“Selamat Raja, kamu memilih perempuan yang tepat. Ayah suka pilihan mu. Manis dan bertalenta,” kata pak Ansu yang menghamburkan pelukan kepada anaknya.


“Selamat Sekar. Ayah akan persiapkan acara pernikahan kalian secepatnya,” Pak Ansu mengusap tangan Sekar.


“Hehee. Terimakasih, pak. Tapi kami masih mau nunggu kak Mona sembuh dari komanya dulu,” kata Sekar membuat muka bahagia pak Ansu sedikit redup.


“Kenapa?” tanya pak Ansu bingung.


“Mas Raja maunya gitu, pak,” jawab Sekar seadanya. Pak Ansu mulai menatap muka Raja dengan curiga.


“Sekar, tolong ambilkan saya air mineral, nak,” kata pak Ansu. Sekar pun beranjak pergi untuk mengambil air mineral. Selagi pak Ansu bersama Raja, dia mulai mengomeli anaknya.


“Maksudnya apa itu, Raja? Kenapa harus nunggu Mona sadar? Jangan kamu katakan pertunangan ini hanya untuk main-main. Sekar itu manusia. Bukan barang yang bisa kamu mainkan!” Ucapan pak Ansu itu tidak dibalas oleh Raja. Bagi Raja, ayahnya itu tidak berhak mencampuri kehidupannya. Depresi yang merenggut kematian ibunya itu, dianggap Raja karena kesalahan ayahnya. Menurut Raja, ayahnya itu bukan ayah yang baik karena telah berselingkuh dengan ibunya El.


 


*****


Apakah Sekar sebaiknya sama Ben saja ya?


Ben agaknya juga suka Sekar…


Bersambung…


*****