
Saat Sekar mencari-cari ruangan dokter Ucy, orang yang dicari keluar dari salah satu ruangan. Dokter Ucy dan senior dokter laki-laki yang sempat melihat rekaman cctv di ruang kerja, segera menuju ruang rawat Mona.
“Kak Mona ngeluarin air mata, dok!” Sekar meraih tangan dokter Ucy, menariknya agar lebih cepat berjalan.
Dokter Ucy dan senior dokter segera masuk ke ruang rawat Mona. Sekar memperhatikan kedua orang itu dari jendela kaca. Perasaannya sekarang benar-benar campur aduk. Rasa galau setelah mendengar pernyataan dokter Ucy kalau Raja begitu perhatian ke Mona membuat dirinya takut kehilangan Raja. Tapi bagaimana pun kesadaran Mona sudah ditunggu-tunggu orang banyak.
Tak lama kemudian, dokter Ucy keluar dari ruang rawat. Sedangkan dokter laki-laki masih mengecek kondisi tubuh Mona.
“Gimana kondisinya, dok?” tanya Sekar. Dokter Ucy tersenyum memandang Sekar.
“Mona masih belum sadar… Tapi, sistem motorik dan sensoriknya ada perkembangan lebih baik. Mungkin lagu yang kamu putar membuat indera pendengarnya terangsang dan merespon dengan tangisan. Cara kamu memutar lagu sangat bagus bisa membantu kesadaran Mona cepat pulih. Saya juga melihat di wajahnya ada sedikit senyuman. Jari-jari kaki sudah bergerak sedikit demi sedikit… Ini kemajuan yang luar biasa selama saya menjaga dia disini.” Dokter Ucy mulai mengusap lengan Sekar. “Ini berkat kamu juga, Sekar.”
Ternyata kamu anak yang baik, Sekar. Maaf ya saya sempat berprasangka buruk, batin dokter Ucy menatap Sekar dengan senyuman.
“Syukurlah, dok. Saya akan menghubungi mas Raja dulu. Mau kasih tahu hal ini.” Sekar mulai meraih handphonennya dari kantong.
“Percuma… saya tahu daerah mana mas Raja ada rapat. Disana gak ada signal. Saya akan bagi tahu Ben agar dia yang infoin ke mas Raja.”
“O… baik lah, dok.”
Pagi itu setelah senior dokter selesai memeriksa Mona, Sekar masuk kembali ke ruangan Mona. Kali ini hanya Mona dan Sekar yang ada di ruangan itu. Sekar memutar musik di ipodnya yang sempat mati karena isinya hanya 5 lagu. Yah, 5 lagu tentang jatuh cinta yang dia nyanyikan saat acara ulang tahun pak Ansu. Sekar mengamati raut wajah Mona dengan detail. Perempuan itu mulai tersenyum kembali saat mendengar lagu yang dia putar. Tangannya juga sedikit bergerak.
“Apa ya rasanya koma? Apa itu sakit? Kasihan sekali kamu… Huft… Kalau kak Mona suka lagu-lagu tentang jatuh cinta, nanti aku bisa carikan lagi… Atau kakak suka dengan suaraku yang mengcover lagu ini? Atau permainan celloku? Bagian mana yang kamu suka? Em… Atau aku harus bernyanyi dan bermain cello buat kamu? Kalau kamu suka seperti itu, aku janji akan merekam permain cello sambil nyanyi lagi. Yang penting kak Mona cepat sadar ya…” Sekar mulai mengusap tangan Mona yang bergerak-gerak. Mona seperti menyukai saat Sekar menyentuh tangannya.
Sekar sudah 2 jam duduk di samping Mona. Pantatnya mulai pegel. Ingin bergerak berpindah tempat tapi jari Mona seperti tidak mau dilepas. Masih nyangkut dengan jarinya. Akhirnya dia membuka aplikasi noveltoonnya. Mengupload beberapa hasil karangan tentang karyanya yang baru. Sekar membuat dirinya betah duduk di samping Mona. Dia juga merevisi karangan ‘My Butler’ pada beberapa bab.
“Bab nomor 10… Bab nomor 15, dan 19… Akhirnya selesai… Semoga Kasih dan suaminya tidak membaca karangan ini…Hihii…” Sekar mulai menutup aplikasi itu.
Beberapa saat kemudian ada suara El terdengar oleh Sekar. El yang tadinya ditelpon doker Ucy kalau Mona ada sedikit kemajuan, segera datang menuju ruang rawat Mona.
“Sekar…”
“Abang?”
“Gimana kondisinya? Terimakasih ya, aku sudah dengar cerita dari dokter Ucy kalau ide kamu memutar musik ini membantu penyembuhan Mona,” kata El sambil memeluk Sekar. El menggunakan kesempatan itu untuk terus memeluk Sekar.
Entah kenapa pelukan itu bukan seperti pelukan terimakasih, tapi pelukan dengan hasrat terselubung. Sekar merasa tidak nyaman karena tangan El sudah meraba-raba punggung. Sekar mulai menggigit bahu El dengan keras.
“Awww!” El melepaskan pelukannya.
“Makanya jangan raba-raba, abang. Saya ini calon adik ipar, abang!” Ucapan Sekar itu membuat El kaget.
“Adik ipar? Maksudnya?” tanya El kebingungan.
“Bang El gak tahu ya kemarin waktu ulang tahun ayah kalian, mas Raja udah ajak saya tunangan.” Sekar memamerkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
Pantas saja hari ini si Ben susah ku hubungi! Sial! Aku tidak butuh pengkhianat! Gerutu El dalam hati.
“Aku gak bermaksud meraba-raba kamu, Sekar. Aku cuma terlawat senang aja. Maaf ya.”
“Iya... jangan aneh-aneh ya bang.” Sekar muali tersenyum kembali.
“Emang lagu apa aja yang kamu putar?” tanya El mengalihkan pembicaraan.
“Lagu sejenis falling in love gitu. Mungkin kak Mona teringat kali sama bang El di alam bawah sadarnya. Jadi dia sempat tersenyum kecil gitu waktu dengar lagu sejenis itu. Tapi isi ipod saya cuma 5 lagu. Jadi mau saya tambah lagi biar kak Mona gak bosen.”
“Ow… jadi kamu mau bikin rekaman cover musik lagi?” Sekar menjawab dengan menganggukan kepalanya. “Kalau kamu mau, kamu bisa datang ke villa ku. Biasanya Ben menyimpan alat-alat musik dan perekam di villa ku. Soalnya villaku paling dekat dengan dermaga, mudah buat kapal-kapal bersandar disana. Jadi banyak kapal kalau nurunin barang termasuk alat musik di titipkan ke villaku.”
“Emang boleh saya pakai alat-alatnya?”
“Boleh. Terbuka kapan pun kamu mau,” jawab El dengan kepalanya sudah bermunculan ide gila.
Semoga dia mau… Ayo… Katakan mau… Aku gak usah pakai Ben si pengkhianat itu, guman El.
Sekar menimbang-nimbang saran El itu. Niat Sekar untuk mengcover lagu-lagu ceria agar bisa dinikmati Mona semakin menggebu. Sekar betul-betul ingin Mona segera sadar agar dia bisa menikah dengan Raja.
Kayanya gak pa pa lah kalau aku datang ke villa bang El cuma untuk rekaman suara sama main cello… Bang El juga gak pernah jahat atau macam-macam sama aku, batin Sekar.
“Ok deh kalau gitu. Nanti sore saya datang ke tempat bang El. Saya akan cari reverensi lagu-lagu apa yang bagus. Biar nanti sampai sana langsung bisa rekaman,” kata Sekar membuat El tersenyum penuh kemenangan
“Yah. Ide bagus.”
“Em… Kalau gitu mumpung bang El disini, gantian bang El jagain kak Mona ya... Saya mau ke kamar dulu. Mau telpon ayah saya juga. Nanti kita ketemu di villa bang El ya… Saya akan kirim pesan sebelum ke villa abang.”
“Yah… saya akan tunggu. Kamu bisa istirahat dulu. Jangan lupa buat makan siang ya.”
“Hehee… Iya… permisi saya pergi dulu, bang.”
Sekar mulai pergi dari ruang rawat Mona. El mengepalkan tangannya bersorak penuh kemenangan.
“Yes! Yes! Ternyata cukup simpel menjaring ikan kecil itu. Sekarang aku akan beri pelajaran untuk Ben!”
*****
Terbongkar sudah aksi si Pengkhianat
Bersambung…
*****