Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Memeluknya Kembali



“Mau… Saya mau, pak… Saya mau balik ke Jogja. Saya mau susul mas Raja…” kata Sekar sambil mengusap air matanya.


“Ok, kita antar kamu ke lapangan terbang,” kata Galang.


Cepat-cepat Galang dan Kasih mengantar Sekar dengan buggy menuju lapangan terbang yang lokasinya tidak jauh karena masih ada di lingkup Luxus Resort milik Galang. Sekar hanya membawa tas gantung yang tadi sempat dia bawa ke acara makan malam. Tidak ada barang yang Sekar bawa. Sekar juga masih memakai pakaian yang sama. Dress warna putih yang sudah sedikit kucel itu masih dia kenakan. Bahkan Sekar hanya memilih sandal jepit untuk naik pesawat karena terburu-buru mengejar waktu.


“Sekar, pokonya kita doa kan yang terbaik buat kalian berdua,” ucap Kasih dengan memeluk Sekar sebelum naik ke pesawat. Kasih mengusap lembut wajah Sekar dan merapikan rambut Sekar yang sudah berantakan karena tadi sempat lari-larian. “Maaf aku sama mas Galang gak bisa antar kamu sampai Jogja... Putri lagi di kamar. Kita gak mungkin ninggalin Putri sendirian. Gak pa pa, yah?” Kasih mengusap-usap punggung Sekar dalam pelukannya.


“Iya gak pa pa, Kas. Terimakasih...” Sekar melepas pelukannya dari Kasih. “Terimakasih ya, pak Galang. Maaf jadi merepotkan begini,” ucap Sekar.


“Gak masalah. Kamu hati-hati ya… Salam buat keluarga di rumah,” ucap Galang.


Tak lama kemudian setelah berpamitan, Sekar menaiki tangga masuk ke pesawat. Sekar mulai duduk di kursi pesawat. Hatinya masih tidak tenang memikirkan Raja yang akan menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. Sepanjang perjalanan Sekar hanya berdoa dan berharap dia bisa sampai di Jogja secepatnya untuk mencegah niatnya Raja.


Penerbangan dari Pulau Bintan ke Jogja yang biasanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam itu, akhirnya bisa ditempuh lebih cepat. Pesawat yang di tumpangi Sekar itu telah mendarat di lapangan udara Adisutjipto.


“Terimakasih ya mbak, pak pilot…” ucap Sekar sebelum melangkahkan kakinya keluar dari pesawat.


“Terimakasih juga ibu Sekar, hati-hati ya. Sampai jumpa lain waktu,” balas pramugari itu dengan penuh ramah.


“Sampai jumpa bu Sekar. Hati-hati ya, buk,” timpal pak pilot.


Sudah cukup lama Sekar tidak menapakan kakinya di kota kelahirannya. Malam ini dia berlari-lari menuju Stasiun Kereta Api Maguwo yang lokasinya terhubung dengan bandara Adisutjipto. Sekar sudah tidak mempedulikan bagaimana penampilannya sekarang. Yang dia inginkan bisa mengejar jadwal kereta agar bisa menuju Malioboro secepatnya.


“Huft… Huft…” nafasnya sampai terengah-engah karena berlarian. “Apa masih ada tiket untuk ke Maliboro, mbak?” tanya Sekar dengan mukanya yang panas dan bercucuran keringat.


“Maaf buk, kereta terakhir ke Maliboro baru aja jalan,” jawab petugas bagian ticketing.


Sekar mengkerjapkan matanya sebentar. Rasa haus membuat kepalanya pusing. Tapi dia harus mengejar waktu agar cepat sampai ke rumahnya. Sekar tidak ingin Raja menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.


Akhirnya Sekar memilih menggunakan taxi. Dia membayar lebih agar taxi itu bisa cepat sampai di rumahnya.


Mas, kenapa kamu gak angkat telpon aku…? Apa kamu sudah ditangkap pihak kepolisian? “Hiks…” Air mata Sekar mengalir lagi. Aku mohoh jangan lakukan itu… Aku datang untuk mu sekarang, batin Sekar dengan isak tangis yang membuat sopir taxi serba salah.


Jalanan kota Yogyakarta malam itu cukup macet karena bertepatan dengan malam minggu. Dimana banyak sekali pengguna jalan yang berkeliyaran dengan motor ataupun mobil mereka.


“Agak cepet lah pak!” Sekar sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumahnya. “Salip aja mobil yang itu. Lama banget jalannya!”


“Ini udah paling cepet, mbak… Bisa kena tilang polisi kalau nerobos lampu merah,” sahut pak sopir yang semakin frustasi menghadapi keinginan Sekar.


_____


Malam ini di rumah Sekar, Raja membuat ketegangan di hadapan pak Ram dan bu Ica, kedua orang tua Sekar. Pak Ram yang masih tidak percaya dengan pengakuan Raja, terus memukul-mukul raket pembunuh nyamuk di meja. Sementara bu Ica masih kelelahan setelah memukul Raja dengan panci miliknya.


“Maafkan saya pak, bu…” kata Raja dengan berdiri bertumpu dengan kedua lututnya.


“Jadi, kalau kamu membiarkan Sekar menikah dengan laki-laki lain… Apa tujuanmu datang ke sini?” tanya pak Ram dengan tegas.


“Saya mau menyerahkan diri kepada pihak kepolisian di sini. Agar bapak dan ibu semakin yakin, kalau saya akan membuktikan untuk menebus kesalahan saya,” jawab Raja dengan melirik kakak Sekar yang saat ini berdiri di samping suaminya. “Saya sudah menyuruh kakaknya Sekar untuk menelpon kantor polisi di sini.”


Pak Ram dan bu Ica menoleh mencari keberadaan Tia, kakak dari Sekar. Tia menganggukan kepalnya menatapa kedua orang tuanya.


“Iya, yah, ma. Aku baru aja membuat laporan lewat telpon agar mereka ke sini,” timpal Tia dengan mengusap perut buncitnya yang tengah hamil.


“Bagus…! Kamu harus menanggung semua perbuatanmu karena telah memperkosa anak saya!” kalimat tegas dari pak Ram itu sangat menghujam di hati Raja. Tapi Raja tidak peduli lagi. Raja hanya ingin menebus seluruh kesalahan yang telah dia buat kepada Sekar. Kalau pun harus dengan jalur hukum, Raja akan menempuh jalur itu agar keluarga Sekar puas.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ada suara mobil yang berhenti di depan rumah pak Ram. Suami Tia yang bernama Aan segera berjalan ke arah pintu untuk mengecek mobil itu.


“Tuh, mobil jemputanmu sudah datang. Sekarang biar saya yang merawat anak-anak ini,” kata pak Ram memandangi Raja yang dari tadi masih ada di depannya. Raja mencoba meraih tangan pak Ram dan bu Ica, tapi kedua orang tua itu menjauhkan tangan mereka. Masih tidak sudi bersentuhan dengan laki-laki yang sudah merusak anak mereka.


“Gak usah cari simpati,” celetuk bu Ica membuat perasaan Raja semakin down.


“Maaf kan saya, bu,” kata Raja. Raja segera menggeser kakinya mendekati stroller yang berisi Boy dan Gadis. Raja mencium pipi anak-anaknya satu per satu. “Papa pergi, nak. Ada kakek, nenek dan keluarga mama kalian. Sampai jumpa lagi, nak.” Mata Raja semakin merah menahan air mata. Tidak dipungkiri, sebetulnya kelopak mata pak Ram dan bu Ica juga sudah basah mendengar kalimat Raja barusan. Apalagi melihat sorot mata bayi kembar yang sepertinya ikut sedih. “Love you, Boy, Gadis,” ucap Raja mengusap stroller milik anak kembarnya.


Tak lama kemudian, suami Tia tadi berlari kembali menuju ruang keluarga.


“Pak! Buk! Sekar pulang…!” teriak Aan. Selang beberapa detik, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa.


“Mas Rajaaa…! Mas… Mas Raja….” suara Sekar memenuhi rumah itu.


Raja yang yang saat ini berdiri di dekat Boy dan Gadis, merasa tidak percaya dengan kedatangan Sekar. Raja melihat mata Sekar yang sudah sedikit bengkak. Tapi ada senyuman yang ada di bibir Sekar.


“Mas Raja…” Sekar menghamburkan pelukannya kepada Raja. “Hiks… Maaf kan aku, mas,” kata Sekar membuat bingung orang-orang yang ada di ruangan itu.


Raja sendiri yang sudah sekian lama tidak pernah mendapatkan pelukan dari Sekar, membalas pelukan ibu dari anak-anaknya itu.


“Maaf kan aku, mas…,” Sekar semakin berjinjit untuk memeluk Raja lebih erat.


Raja yang memendam rasa rindu untuk Sekar, ikut membalas pelukan Sekar semakin erat. Rasanya sangat bahagia sekali, membuat air mata yang sedari tadi dia tahan menetes.


 


*****


Bersambung…


*****