
Selesai El dan Mona menyelesaikan tugas di dapur, mereka berjalan menuju ruang keluarga. Di sana pak Ansu sedang berbicara serius dengan bapak mertuanya untuk membahas masalah pernikahan yang akan digelar beberapa hari lagi. Mereka merencanakan untuk membuat private party yang akan dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.
“Ben…” sapa pak Ansu.
“Yes pak. Ada apa?”
“Apa kamu sudah memesan tiket untuk keluarganya Sekar biar datang ke Batam?” tanya Pak Ansu.
“Aku udah urus itu, Yah. Mereka akan datang sehari sebelum acara wedding,” sambung Raja.
“Iya Yah, jangan kuatir. Ayah sama mama di Jogja sangat semangat untuk melihat pernikahan ayah sama mama Ucy,” celetuk Sekar yang tengah memangku Gadis.
_______
Setelah membahas acara pernikahan yang akan dilangsungkan di Batam. Mereka berlanjut dengan mengobrol santai.
“Om, mana duit taruhan?” tanya Shan kepada Ben di sela kesibukannya mengatur acara pernikahan pak Ansu dan dokter Ucy.
“Duit taruhan apa?” tanya Ben pura-pura lupa.
“Hm… Kan tebakanku bener kalau pak Ansu bakalan sama dokter Ucy, bukan madam Lily. Mana duitnya?” mengadahkan tangan di depan Ben.
“Ck! Ingat aja loh kalau soal duit.” Ben meggerutu dengan menarik dompet dari saku celana.
“Iyalah…” Shan mulai senang mendapatkan uang taruhannya.
_____
Di sudut ruangan lain, El tengah mengobati luka di tangan Mona yang tadi sempat terluka karena goresan alat parut.
“Huhuhuu stop it… It’s too hot for me,” ( hentikan... ini sangat panas buatku) Mona merintih kesakitan setelah El mengolesi dengan krim berwarna putih. Dia menautkan kepalanya di punggung kursi karena rasa panas yang tidak tertahankan.
“Are you okay?” bertanya dengan rasa cemas tapi menonjolkan senyuman di bibirnya.
“How come okay?! What kind of cream you put on my skin? (Krim macam apa yang kamu oles di kulitku?) Ini pedesnya kayak chili (cabe)!” Merintih kesakitan sampai keringat keluar dari dahinya. Beberapa detik Mona menahan rasa sakit dalam diam.
“Gimana? Still pain?” (Masih sakit?) tanya El dengan memperhatikan telapak tangan Mona yang ada di atas pahanya.
“Much better now (lebih baikan sekarang) Sekarang terasa dingin. Thank you,” jawab Mona dengan mengamati telapak tangannya juga.
“Ini cuma luka kecil. Emang waktu kamu operasi kemarin gak sakit?” tanya El dengan melihat ke area sensitive milik Mona.
“I don’t feel anything (Aku gak ngerasa apa-apa). Mereka kasih bius total. And after that I feel fine (Dan setelah itu aku merasa baik). Gak sakit sama sekali,” jawab Mona dengan mengatupkan cara duduknya.
“Can I see it?” (Bisa aku melihatnya?) bertanya dengan meraba paha Mona. Perempuan itu cepat-cepat berdiri dari duduknya dan menjahui El.
“No… Aku gak mau ngelakuin itu sebelum kita married. I know I’m not virgin (aku tahu aku gak prawan). Dan last time kamu juga udah melihat semuanya. Tapi itu dulu. Aku mau kita married. If suddenly you cancel our plan for married (Jika tiba-tiba kamu batalin rencana kita untuk menikah), aku gak akan terlalu kecewa karena at least (seenggaknya) aku bisa jaga diri aku sekarang,” berkata dengan mantap. El yang mendengar hal itu hampir tidak percaya kalau perempuan di hadapannya sekarang sudah membangun prinsip yang lebih kokoh.
“So… Kapan kamu punya waktu luang buat menikah denganku?” tanya El sambil mendekati Mona. Perempuan itu tertegun tidak percaya kalau El akan mengajaknya menikah secepat ini.
“I’m ready enytime,” (aku siap kapan pun) menjawab dengan cepat. Takut kehilangan kesempatan.
Begitulah lamaran yang diterima Mona. Dia menghamburkan pelukan kepada El. Memeluk erat dengan rasa bahagia.
_____
Di tempat lain ada pandangan yang membuat Raja tidak nyaman. Dia memperhatian istrinya sedang memilah-milah gaun yang pas untuk menghadiri resepsi pernikahan mertuanya.
“Mas, gimana menurutmu? Bagus gak?” tanya Sekar dengan sedikit berpose di depan cermin kamarnya.
“Gak... Yang atas terlalu terbuka. Aku gak suka gaun itu. Terlalu mengekspose bagian dada,” jawab Raja dengan sibuk mengamati layar tabletnya.
Akhirnya Sekar mengganti gaunnya dengan yang lain. Ini sudah yang ke 7x Sekar mencoba gaun. Tapi suaminya itu selalu bilang gak pas atau gak cocok. Padahal hampir semua baju yang dia coba adalah pilihan Raja saat berbelanja di Jogja dan Maldives.
“Mas, gimana kalau yang ini?” tanya Sekar dengan mendekat ke tempat duduk suaminya. Dia memutar badannya agar suaminya bisa menilai.
“Ah…” Sekar menahan rasa yang mengganjal di bagian tengah sana. Jari suaminya sudah masuk ke bagian intimnya.
“Ini baju memang aku beli untukmu. Tapi cuma aku aja yang boleh melihat kamu memakai ini,” ucap Raja dengan merangkul tubuh istrinya dari belakang. Jari tangannya semakin menancap-nancap bergoyang memberikan sensai tersendiri untuk istrinya.
Mau tidak mau Sekar harus menuruti sikap suaminya yang sedang bermain dengannya saat ini. Raja membuka celananya untuk menghujamkan miliknya ke tubuh Sekar.
“Ah sakit…”
“Apanya yang sakit? Bukannya udah sering kita main?” tanya Raja tanpa mempedulikan ekspresi wajah Sekar yang mengrenyitkan dahi menahan rasa sakit.
“Tapi kamu tuw terlalu sering mainnya. Bikin agak bengkak dan panas di area sensitive ku ini,” sedikit mengeluh karena memang begitu yang dirasakan Sekar.
“Ya udah, nanti malem kamu boleh istirahat. Tapi besok pagi aku ambil jatah lagi,” sambung Raja membuat Sekar menelan ludah.
_____
Begitulah rutinitas sebelum menjelang acara pernikahan pak Ansu dan dokter Ucy di Luxus Resort Batam. Setelah 4 hari, mereka yang menginap di rumah dokter Ucy mulai menuju Luxus Resort untuk merayakan pernikahan yang digelar di taman resort.
Sesuai dengan rencana awal yang mengusung konsep private party, sehingga hanya keluarga dan kerabat dekat saja yang hadir.
“Mas, selamat ya…” ucap madam Lily saat menyalami pak Ansu di atas pelaminan.
“Terimakasih, Ly,” balas pak Ansu. Madam Lily seolah ingin memeluk pak Ansu untuk memberikan ucapan selamat. Tapi dokter Ucy yang berdiri di samping pak Ansu menarik lengan suaminya itu untuk mundur. Sorot mata istrinya itu melirik matanya dengan tajam, seolah memberi isyarat… Awas kalau kamu berani peluk-peluk wanita ini. Habis kamu mas Ansu!
“Terimakasih bu Lily buat kehadirannya,” sambung dokter Ucy dengan mengulurkan tangannya kepada bu Lily untuk berjabat tangan.
“Eh? Iya bu dokter… Saya sampai terpesona melihat suamimu pakai baju pengantin kayak sekarang,” ucap madam Lily dengan meraih tangan dokter Ucy.
“Hehee… Terimakasih buk buat pujiannya, sekarang sudah menjadi suami saya.” Dokter Ucy mengumbar senyum selebar-lebarnya.
Pak Ansu yang merasakan suasana panas antara madan Lily dan istrinya sedikit ketakutan kalau terjadi baku hantam. Tapi untunglah keduanya masih bisa bersikap elegant, meskipun sedikit dibumbui ketegangan.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu para perempuan lajang akan segera terlaksana. Mereka mencari posisi yang pas untuk menangkap buket bunga yang akan dilempar oleh dokter Ucy. Padahal tradisi pernikahan yang diusung adalah bertema adat Makassar yang digabung dengan adat Melayu. Tapi dokter Ucy ingin menyelipkan acara lempar buket bunga untuk memeriyahkan acara pernikahannya.
“Ok, aku lempar ya… satu… dua… tigaaa…!” ucap dokter Ucy. Kini buket bunga itu melayang di udara. Banyak perempuan lajang yang bergerombol ingin mendapatkan buket bunga. Karena siapa yang berhasil menangkap buket bunga, dipercayai dirinya akan segera menyusul untuk menikah.
“YEEEEEEEE! Hahaa! Gue yang dapet!” celetuk Ben.
Para perempuan melangkah mendekati Ben. Mereka tidak terima kalau Ben yang mendapatkan. Termasuk Mona yang sedari tadi berharap bisa mendapatkan buket bunga yang dilempar dari tangan pengantin.
PLAK! Mona mengeplak bahu Ben.
“Give it to mama Ucy again! (Kasih kan ke mama Ucy lagi) Biar dia lempar sekali lagi. Ini gak adil kalau kamu yang dapat. Kalian setuju kan?” tanya Mona kepada para perempuan lajang di sekitarnya.
Acara lempar bunga pun diulangi lagi atas permintaan Mona dan para perempuan lajang lainnya. Mereka bersiap-siap kembali untuk menangkap buket bunga.
NGUUUIIINGGG! Kini buket bunga itu mendarat di pangkuan Sekar yang sebetulnya tidak ikut berebut mendapatkannya.
“Mas… Aku gak ikut-ikut hlo…” ucap Sekar menatap mata suaminya yang hampir copot.
“Ikut aku…” ajak Raja dengan meraih tangan Sekar.
“Kemana?”
“Kamar.”
.
.
.
❤Tamat❤