Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Opung



Siang itu di rumah dokter Ucy cukup ramai. Banyak tamu dari keluarga dokter Ucy yang datang ke rumah itu. Kedatangan El dan Mona juga ikut memeriahkan suasana rumah dokter Ucy.


“Om El…!” Sapa Boy saat melihat El memasuki halaman rumah.


“Hai! Sini keponakan om.” El meraih tubuh Boy kedalam dekapannya. “Lagi apa kalian?” tanya El melihat ke arah Raja yang sedang menggendong Gadis.


“Boy lagi orbol ama Jeki,” jawab Boy dengan menujuk ke sangkar Jeki.


“Good afternooOOnn! Tamu nomor 35 36 sudah datang. Welcome to Jeki family!” sapa Jeki dengan suara khasnya.


“Huaa hahaaa! Liat itu buyungnya mau omong lagi, pa,” Gadis menepuk-nepuk bahu papanya. “Tadi Adis ajak omong dia gak mau. Tapi liat om El datang dia jadi mau omong lagi. Dasal buyung betina! Ku bilangin oma nanti!” celetuk Gadis sambil mengguncang sangkar Jeki.


“Jangan digoyang-goyang Adis! Ini burungku! Jeki punyaku!” ucap Boy tidak terima Jeki diperlakukan tidak baik.


“Don’t touch my home!” (Jangan sentuh rumahku) Jeki melompat-lompat di dalam sangkar. “Help me handsome…! Adis is hurting me! She is going to be crazy…! She wants to kill me… Huh…” (Tolong aku tampan…! Adis menyakitiku! Dia sedang jadi gila…! Dia ingin bunuh aku… Huh…) Tiba-tiba Jeki terkapar padahal hanya sangkarnya yang digoncang oleh Gadis.


“Oh My Godness… Burungnya is death,” (Oh ya ampun… Burungnya matek) celetuk Boy memandangi Jeki yang terkapar. Raja dan El yang sedang menggendong balita kembar itu ikut kaget. Tidak menyangka burung betina itu bisa mati semudah itu.


Ketika mereka sedang memperhatikan Jeki, bu Bambang berjalan medekati mereka. Dia ikut nimbrung memperhatikan sangkar Jeki.


“Raj, lagi ngapain kalian?” tanya bu Bambang menepuk bahu Raja. Gadis yang merasa bersalah memasang muka muramnya. Anak balita iku seakan tahu kalau dirinya melakukan kesalahan.


“Buk… eh Nek,” Raja sedikit terkejut dengan kehadiran nenek tirinya itu.


“Sedang lihatin apa kalian?” tanya bu Bambang memperhatikan pemandangan di depannya, termasuk keberadaan El dan Mona yang baru saja datang.


“’Em, ini si Jeki tiba-tiba terkapar. Padahal sangkarnya aja yang digoyang-goyangkan Gadis,” jawab Raja dengan menengok muka Gadis yang takut kena marah. Tapi bukannya rasa marah, bu Bambang justru menanggapi dengan senyuman.


“Halah halah… Ini burung betina emang banyak bertingkah. Gayanya emang gitu sok caper di depan banyak laki-laki. Makanya dikasih nama Jeki meskipun betina. Dia cuma pura-pura pingsan. Kalian jangan ketipu sama tingkahnya,” ucap bu Bambang membuat mereka lega. “Yuk masuk ke dalam! Makan siang udah siap,” ajak bu Bambang.


Mereka mulai berjalan meninggalkan sangkar Jeki. Kedua balita itu saling beradu pandang masih menyalahkan satu sama lain.


“Hola…! Jeki is back again! Bon appétit everybody,” (Hola…! Jeki kembali lagi! Selamat makan semuanya) celetuk Jeki saat dirinya ditinggal begitu saja. Berusaha mencari perhatian lagi kepada para laki-laki.


“Nah, tuh kan… Si Jeki hidup lagi. Dia emang hobbynya pura-pura. Selalu bikin kesel orang rumah. Banyak tingkah. Ya macam kalian-kalian ini waktu rebutan cewek,” sambung bu Bambang menunjuk Raja dan El.


Raja dan El hanya diam saling pandang. Tidak mau menyangkal tuduhan nenek tirinya itu.


Sesampainya di dalam rumah, suasananya sangat ramai. Keluarga besar dari pak Bambang dan bu Bambang sedang berkumpul di rumah itu. Mereka berjalan kesana-kemari. Ada yang makan dengan membawa piring sambil berjalan-jalan, Memamerkan baju pesta, bermain catur dan masih banyak lagi. Apalagi ada banyak anak kecil yang berlari-larian semakin menambah suasana rumah itu menjadi heboh.


"Kalian ke dapur dulu. Mau nyari mama kalian. Nanti nenek susul," ucap bu Bambang.


Mereka pun berlanjut menuju dapur menuruti perintah bu Bambang.


“Mas…” sapa Sekar memanggil suaminya. Matanya memandangi kehadiran El dan Mona.


“Sekar, how are you?” sapa Mona dengan melangkah lebih mendekati dimana Sekar berdiri. “Aku Mona. Sorry. I never say hi before.” (Maaf. Aku gak pernah menyapamu sebelumnya)


“I’m good. How are you?” tanya Sekar balik. Sebetulnya Sekar sedikit canggung harus berdekatan dengan Mona. Tapi menurut berita dari suaminya kalau El dan Mona akan menjalin hubungan kembali membuat Sekar harus berdekatan dengan Mona. Cepat atau lambat Mona akan menjadi bagian dari keluarga besar pak Ansu lagi.


“I feel good today,” jawab Mona dengan melirik ke arah El. Perasaannya tentu saja baik karena dirinya diterima kembali oleh El. “Lagi apa?” tanya Mona melihat meja di samping Sekar.


“Habis selesai makan. Did you had lunch?” (Apa kamu udah makan siang?)


“Actually aku udah makan. But if you offer me, aku masih punya space buat makan lagi,” jawab Mona dengan menebarkan senyumnya.


Percakapan Sekar dan Mona yang baru saja mengalir akrab itu tiba-tiba berhenti setelah kedatangan bu Bambang dan dokter Ucy.


“Jadi kamu yang namanya Mona ya?” celetuk bu Bambang dengan pertanyaannya. Mona mulai menoleh ke arah suara yang menyebut namanya.


“Iya, grandma. Saya Mona,” jawab Mona.


“Iya opung. Saya minta maaf,” Mona berusaha bersikap lebih sopan.


“Kata ayahnya El, kamu kan mau jadi istrinya El. Bisa gak kamu ngerjain tugas rumah tangga? Macam nyapu, masak, ngepel, nyuci?” tanya bu Bambang kepada Mona.


“Saya bisa dikit-dikit opung,” menjawab dengan meraba arah pembicaraan bu Bambang.


“Kok baru dikit-dikit? Harus belajar dong… Tuh ada banyak tumpukan peralatan dapur yang kotor. Bisa kamu cucikan itu semua?” Mona semakin terpojok dengan perintah bu Bambang. Peralatan dapur seperti panci, spatula dan tumpukan piring kotor di dapur itu cukup banyak berserak.


“Iya opung. Saya akan cuci itu semua,” jawab Mona. Dirinya sebenarnya tidak yakin akan menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya berat. Tapi demi mengambil hati keluarganya El, dia harus siap melakukan apa saja agar diterima.


“Bagus. Yuk Kalian keluar daru ruang dapur ini. Biarkan Mona belajar mencuci piring,” ajak bu Bambang melambaikan tangan ke arah Raja, El dan Sekar.


Mereka semua menuruti perintah bu Bambang. Mona yang ditinggal sendirian di dapur harus mengerjakan perintah dari bu Bambang.


“Gak pa-pa. I can do this (Aku bisa kerjain ini). Meski my nails (kuku ku) bisa rusak, aku harus bisa nyuci ini semua,” bisik Mona dengan memandangi tumpukan piring kotor di depannya.


Cat kuku yang menempel di kuku Mona berjenis gel polish yang tidak mudah mengelupas. Tapi bila jari-jarinya itu terus-menerus berbenturan dengan panci, piring, gelas dan peralatan stainless lainnya, otomatis cat kuku itu akan rusak.


“Kenapa sih gak ada dishwashing gloves (sarung tangan pencuci)? Atau mesin cuci piring aja sekalian? Gak cuma kuku aja yang akan rusak. Tapi jari bisa luka kalau harus nyuci sebanyak ini. Huft…” Sedikit mengeluh tapi juga melakukan perintah opung.


Beberapa menit kemudian, El muncul di belakang Mona.


“Mo…”


“El?” Mona menoleh memandangi El yang sekarang berdiri di sampingnya.


“Butuh bantuan?”


“No. Aku bisa selesaikan sendiri. Kamu ngobrol aja sama mereka. Biar aku selesaikan ini. Nanti opung kamu bisa marah lagi kalau kamu bantu aku,” ucap Mona dengan yakin. Meskipun sebenarnya dia senang bila El membantunya.


“Let me help you,” (Biarkan aku membantumu) El merebut spons yang dipegang Mona.


“No… Don’t do this. Your opung will bite me if she knows,” Mona berusaha merebut kembali spons yang direbut El. Tapi El tidak mau memberikan lagi. (Tidak… Jangan lakukan ini. Opung kamu akan gigit aku jika dia sampai tahu)


“Stop it. Aku tahu kamu ada kontrak kerja buat pemotretan. Gimana kalau tangan sama jarimu rusak dan luka?”


“Tapi opung bisa marah…” jawab Mona lebih mementingkan opung tiri El.


“Dia gak akan marah. Kamu bisa bantu buat bilas pakai air. Biar aku yang ngerjain pakai spons,” ucap El tetap membuat Mona cemas menatap pintu dapur. “Mona…” Cup! El mencium kening Mona.


“Hah?” Masih saja melirik ke arah pintu memastikan opung tidak berdiri disana.


“Gak usah takut sama opung. Raja bilang dia memang gitu karakternya. Raja juga kena marah kemarin.”


“Are you sure?”


“Yeah… Let’s do this!”


El dan Mona mulai bekerja sama untuk menyelesaikan tugas mencuci piring di dapur.


 


*****


Bersambung…


*****