Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Suasana Sore



Mendengar ucapan Lia itu, dokter Ucy cepat-cepat menuju kamarnya. Dia mengemasi barang-barangnya yang tidak terlalu banyak. Tekadnya sudah bulat untuk segera pergi dari kapal itu. Dia memilih jalan ini agar bisa segera melupakan perasaannya kepada pak Ansu.


“Yah… Mungkin emang belom jodohku, kamu pak… Semoga aja bapak bahagia sama pilihan bapak sekarang,” bisik dokter Ucy sambil memasukan baju dan peralatan make up ke koper.


Setelah kurang lebih lima belas menit mengemasi barang, dokter Ucy sudah siap dengan kopernya di deck lantai satu. Dia berjalan menyusuri lorong kapal menuju deck bagian belakang tempat kapal suami Lia bertengger.


Disana sudah ada Shan yang bertanggung jawab menerima stock barang yang dibawa oleh suami Lia. Shan yang berkonsentrasi penuh menghitung jumlah barang, tidak memperhatikan saat dokter Ucy akan menuju kapal yang dibawa suami Lia.


“Hati-hati ya kak. Kabarin aku kalau udah sampai,” ucap Sekar sambil menggendong Boy.


“Bu dokter jangan lupa minum pil anti mabuk. Soalnya kapalnya kecil, jadi goncangannya terasa kasar… Hati-hati ya bu,” ucap Lia.


“Iya, saya pasti jaga diri baik-baik. Kalian lanjutin happy-happy nya disini. Saya turun dulu, ya… See you next time.”


Akhirnya dokter Ucy menuruni tangga gantung penghubung kapal itu dengan kapal kecil di belakang. Mereka mulai melambaikan tangan setelah kapal yang di tumpangi dokter Ucy berjalan. Dari kapal itu dokter Ucy bisa melihat pak Ansu dan Madam Lily yang tengah berdiri di teras deck lantai dua. Saat pak Ansu menangkap wajahnya, cepat-cepat dokter Ucy menyembunyikan wajahnya.


"Terserah kalian mau ngapain di sana. Selamat tinggal pak Ansu..." ucap dokter Ucy.


_____


Setelah selesai mengantar keberangkatan dokter Ucy, Sekar kembali ke kamarnya bersama Boy. Di dalam kamar itu suaminya tengah tidur. Mukanya sangat berantakan penuh dengan warnah merah.


“Gadis sayang… Dimana kamu nak?” Sekar mencari-cari anak perempuannya itu. Dia membuka kamar mandi tapi tidak ada.


“Haduh… Mas Raja bangun! Ini malah enak-enak tidur disuruh jaga anak,” celetuk Sekar sambil menggoyangkan lengan Raja.


“Kenapa yank?” tanya Raja dengan suara parau. “Huuaamm…”


“Mana Gadis, mas? Tuh lihat muka mu penuh lipstick ku,” Sekar menyodorkan kaca kecil ke Raja. Raja yang melihat mukanya penuh lipstick tersenyum geli.


“Hihiii… Ini pasti ulah Gadis. Dia kayanya main di dalam wardrobe pakaian mu. Tuh… Kakinya goyang-goyang,” Raja mengalihkan pandangannya ke kaki Gadis, tapi badan anaknya itu tidak terlihat karena bersembunyi di balik gaun-gaun panjang milik mamanya.


Dengan langkah mengendap-endap, Sekar mendekati Gadis.


“Baaa…! Hayooo…!” Sekar berlanjut menggelitiki tubuh kecil anaknya itu.


“Huaaa hihihiiii! Mamaaa!” Anak itu tampak kegirangan cekikikan. Sekar melihat banyak gaunnya sudah terukir dengan warna merah lipstick. Anaknya itu memang suka sekali menggambar dengan koleksi lipstick yang dimiliki Sekar.


Dengan hati-hati Sekar meraih tubuh Gadis agar kepalanya tidak terjedor sekat wardrobe. Tapi ketika Sekar berhasil menggendong Gadis, Boy mulai merengek minta digendong. Keduanya memang suka saling berebut minta digendong mamanya.


“Mama aku juga endong! Adis ga usaaah!” rengek Boy.


“No! Boy ga ucah! Adis aja yang endong ama mama. Boy cama papa aja,” celetuk Gadis sambil melingkarkan tangannya ke leher Sekar.


“Iya sini anak pa pa…” sambung Raja berjalan mendekati Boy. Raja meraih tubuh Boy ke dalam dekapannya.


“Ga mauuu… muka papa kaya badut merah-merah gitu…” masih merengek sambil memukul dadaa ayahnya.


“Ini karna warna lipstick, Boy… Nih…” Raja mulai menggosok wajahnya dengan jari. Menunjukan kalau mukanya hanya kotor. “Papa kan ganteng kayak Boy kecil… Yuk mandi sama-sama sambil main air mau gak?” ajak Raja membuat kedua anaknya bersorak penuh semangat.


“Mau…!”


“Kalau gitu kita mandi di jacuzzi sama-sama. Biar ruangannya cukup berempat,” timpal Raja lagi dengan menarik hidung Gadis dan Boy satu per satu.


“Hloh mas? Emang di sini ada jacuzzi?” tanya Sekar tidak percaya.


“Ada sayang… Ini kan kapal phinisi bergaya kapal pesiar… Masak yang punya sendiri gak tahu…” ledek Raja mengusap kepala istrinya.


“Hehee… Kan kamu yang beliin, mas… Aku kan terima bersih tinggal makai,” sabung Sekar.


“Ya udah, sini ikut papa…” ajak Raja sambil mendorong punggung Sekar, menuntun istrinya untuk berjalan menuju salah satu pintu yang ada di kamarnya.


Ternyata design jacuzzi itu cukup modern. Sentuhan warna hitam menonjolkan kesan mewah. Di samping jacuzzi itu barulah ada swimming pool portable yang sangat cocok untuk Boy dan Gadis. Designnya terbuat dari plastik, jadi terbilang cukup aman untuk anak balita.


“Wa… Keyen banget pa…” celetuk Gadis.


“Papa sama mama di sini. Kalian di sebelah ini ya…” ucap Raja menjelaskan kepada kedua anaknya.



Mereka pun mengganti pakaian dengan baju renang. Sekar memasukan tubuh Gadis yang sudah berganti baju renang ke dalam swimming pool portable.


“Nih… Bebek-bebeknya. Bola plastiknya juga nih buat Boy… Kalian main yang akur ya nak… Jangan perang-perangan,” ucap Sekar sambil memberikan mainan plastik. Kedua anak itu tampak akur bermain bersama. Raja yang menggenggam handphone, mengambil beberapa foto istri dan anak-anaknya.


“Sayang…” Raja berjalan mendekati istrinya.


“Sini kita berendam di jacuzzi,” ajak Raja mendorong pinggang istrinya.


Sore itu mereka berempat menghabiskan waktu dengan berendam sambil menikmati sunset. Sekar bisa sedikit meregangkan rasa lelah di tubuhnya setelah banyaknya aktifitas.


“Sayang, gimana dokter Ucy sama ayah?” tanya Raja sambil meminta Sekar duduk di depannya.


“Ayah mas Raja tuh gak jelas. Dia nolak kak Ucy,” jawab Sekar sambil menerima kecupan demi kecupan di tengkuk dan bahunya. “Tadi sore kak Ucy ikut suaminya mbak Lia pergi ke Tanjung Priok. Dia mau balik Tarempa duluan… Kaya nya ayahnya mas suka deh sama bu Lily…” tebak Sekar.


“Kalau ayah sama bu Lily juga gak pa pa. Nanti aku punya sodara baru si Galang,” celetuk Raja tanpa memikirkan pendapat istrinya.


“Kok gitu? Aku tuh maunya kak Ucy sama grandpa nya anak-anak… Dokter Ucy itu naksir ayahnya mas udah dari dulu sejak mereka sering ketemu di Tarempa. Aku tuh gak enak aja karena dari dulu dokter Ucy selalu bantuin aku. Mas Raja bantuin lah supaya ayah mau menerima kak Ucy,” gerutu Sekar tidak bisa menerima kekalahan dokter Ucy dari madam Lily.


“Iya… Sini kamu hadap sini dulu…” sambung Raja meminta istrinya membalikan tubuhnya agar bisa menatap wajah Sekar. Pelan-pelan Raja meraih tubuh Sekar agar duduk di pangkuannya.


“Hm… Mulai deh…” celetuk Sekar karena merasa ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam bagian intimnya. “Aw! Ini belom malem loh mas…” Sekar sedikit bergedik merinding merasakan tubuh keduanya sudah mulai menyatu.


“Anggap aja ini upah ku karena kamu minta aku buat bujuk ayah,” Raja mulai meringis setelah dirinya berhasil mencelupkan pusakanya.


“Tapi kan kamu belom bujuk ayah mas… Rugi dong aku,” sabung Sekar menatap wajah suaminya.


“Ini namanya DP sayang… Udah ah aku mu konsen dulu. Kamu jangan ganggu aku.”


“Iya… Tapi jangan kasar-kasar nanti anak-anak tahu… Gak ethis kan…”


“Iya… Jangan ngomel mulu ah!”


Selesai berendam, mereka kembali ke kamar. Sekar mendandani Gadis agar terlihat lebih cantik karena malam ini ada acara surprise birthday party untuk madam Lily. Sementara Raja mendandani Boy dengan memberi sedikit gel rambut kepada anaknya.


“Mas Raja kamu apakan anak kuuu...?!” pekik Sekar melihat Rambut Boy sudah naik ke atas di bagian tengahnya. Keduanya justru tertawa cekikikan melihat mama Sekar bad mood.


“Ini gaya apa Boy… Coba bilang ke mama…” pinta Raja kepada Boy.


“Punk ma… Boy punk…” celetuk Boy merasa dirinya keren.


Sekar yang tidak suka keusilan suaminya itu mulai mencubiti suaminya.


“Aaa…. Gak suka… Betulin rambut adek nya! Hayo kamu betulin rambut Boy. Itu jelek… Aku gak suka,” Sekar merengek memperhatikan Boy dan Gadis yang justru cekikikan.


“Hahaaa! Biarin lah yank… Sekali-kali gak pa pa. Anaknya juga suka kok. Buat koleksi foto nanti,”


“Tega ya kamu gituin Boy hanya demi foto. Papa macam apa sih kamu ini… Hihh!” Masih mencubiti Raja tanpa ampun.


Akhirnya Sekar pun mengalah karena Boy terlihat senang dengan gaya rambut nyeleneh ala papanya. Mereka berempat mulai berjalan menuju deck lantai satu untuk makan malam bersama dan menghadiri acara ulang tahun madam Lily.


 


*****


Bersambung…


*****