Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Diculik



Selesai sarapan, Raja mengajak Sekar dan anak-anaknya ke toko souvenir di resort untuk mencari mainan anak-anak. Raja banyak memasukan mobil-mobilan, boneka, robot dan buku anak-anak yang memilki tombol nyanyian kedalam keranjang belanjaan.


“Ada yang mau kamu beli, Sekar?” tanya Raja.


“Gak ada,” jawab Sekar singkat.


Pagi itu Raja mengajak Sekar untuk berkeliling di area Resort dengan bayi kembarnya. Raja sengaja mengulur waktu agar Sekar tidak bertemu dengan Kasih.


“Sekar, kita ajak Boy sama Gadis ke arena kids club yuk!” ajak Raja sambil mendorong stroller.


“Tapi kan Boy sama Gadis masih terlalu kecil, mas. Ntar yang ada mereka dinakali sama anak-anak yang badannya lebih gede,” sahut Sekar. “Kita balik villa aja deh… Kasih dah nungguin aku tuh,” kata Sekar membuat Raja tidak suka.


 


Terpaksa Raja mengiyakan keinginan Sekar untuk balik ke villa. Lagi pula persedian susu di botol dot Boy dan Gadis juga sudah habis. Tidak mungkin Raja membiarkan anak kembarnya kehausan.


Sesampainya di villa, Raja melihat Kasih sedang bermain dengan Putri.


“Eh Kar! Lama banget kamu… Ngapain aja?” tanya Kasih dengan sorot mata tidak suka dengan Raja.


“Sorry sorry… Ini habis beli mainan buat Boy sama Gadis. Kamu dah lama nungguin aku?” tanya Sekar balik.


“Baru sepuluh menitan lah…” jawab Kasih.


Akhirnya mereka melanjutkan obrolan di dalam villa. Raja yang tidak mau beranjak pergi dari villa Sekar, selalu menyibukan dirinya mengajak Boy dan Gadis bermain. Selain itu Raja menggunakan kesempatan itu untuk mengkorek informasi tentang laki-laki Australia yang akan mengajak Sekar candle light dinner malam ini.


“Nih Kar…” Kasih memberi kotak warna putih ke Sekar. Sekar yang penasaran dengan isi di dalamnya mulai membuka kotak itu.


“Wauuw…” Sekar terkagum-kagum melihat gaun warna putih yang ada di dalam kotak itu.


“Hihii… Suka?” Kasih sangat senang dengan ekspresi Sekar. “Ini gaun yang dikirim orang itu… Dia mau kamu pakai gaun ini.”


Sekar mulai mengambil gaun itu dan menempelkan ke tubuhnya. Kedua perempuan itu saling melontarkan pendapatnya tentang gaun warna putih dengan manik-manik mutiara.


Raja yang memperhatikan obrolan Sekar dan Kasih semakin tersulut rasa cemburunya. Apa lagi gaun yang akan dipakai Sekar adalah pemberian dari laki-laki lain. Rasanya harga diri Raja semakin terinjak-injak.


“Bagus banget ini… Aku suka banget…” puji Sekar dengan mengusap-usap gaun itu. “Eh, siapa namanya? Aku lupa.”


“Bimo,” jawab Kasih.


“Kok namanya Indonesia banget sih?” tanya Sekar dengan sedikit tertawa.


“Hla kan blasteran sama Indonesia, Kar…” jawab Kasih dengan ikut tertawa. “Pokoknya yang kali ini dijamin gak akan mengecewakan!” Kasih sedikit melirik ke arah Raja. “Mas Bimo juga mau ketemu Boy sama Gadis… Kamu ajak mereka ya?”


“Gak Bisa!” sahut Raja membuat Sekar dan Kasih menoleh ke Raja bersamaan. “Biar Gadis sama Boy denganku di sini.” Suara lantang Raja itu membuat senyum di bibir Sekar dan Kasih memudar. “Aku gak akan beri izin anakku ketemu dengan orang asing.” Suasana semakin tegang karena Raja tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


Hanya melihat gaun pemberian laki-laki lain saja sudah membuat Raja emosi. Ditambah orang itu ingin menemui bayi kembarnya. Raja tidak ingin ada laki-laki lain yang akan mengambil hati kedua anaknya.


Raja yang sudah berusaha membendung emosinya segera membawa Boy dan Gadis naik ke kamar atas. Lebih baik tidak mendengar pembicaraan Sekar dan Kasih. Raja merasa tidak akan sanggup membayangkan  Sekar memakai gaun sexy didampingi laki-laki lain.


Di kamar lantai 2 itu, Raja menelpon Galang untuk mencari tahu informasi tentang laki-laki yang bernama Bimo.


Tut…Tut…Tut…


“Hallo?” sapa Galang.


“Hallo Lang… Sorry ganggu waktumu lagi,” sahut Raja.


“Yeah, gak masalah. Kenapa?”


“Hm, gini… Apa kamu tahu laki-laki bernama Bimo yang akan dikenalkan istrimu ke Sekar?”


“Yeah. Dia salah satu VIP member golf di resortku. Sekaligus… partner bisnisku.” Raja semakin tidak suka mendengar jawaban dari Galang. Ternyata Kasih benar-benar mencarikan orang yang sebanding dengannya untuk Sekar. “Raj…”


“Yeah…?” Raja sedikit pusing memikirkan bila perjodohan orang yang bernama Bimo dengan Sekar berhasil.


“Rencanamu akan tetap berlanjutkan…? Aku akan tetap mendukungmu dengan Sekar. Soal istriku… Aku gak mungkin mengekang ide nya.”


“Huft… Yeah, aku ngerti. Gak masalah,” kata Raja yang kemudian menutup telponnya.


Siang harinya setelah Kasih beranjak dari villa Sekar, Sekar menuju kamarnya mencari Boy dan Gadis. Kedua buah hatinya itu sedang di beri susu dari botol dot oleh Raja.


“Udah pada bobok ya, mereka?” tanya Sekar dengan berbisik pelan.


“Iya…” jawab Raja sambil menarik pelan-pelan botol dot Boy dan Gadis. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya Raja  sambil meraih pergelangan tangan Sekar.


“Sekar… Apa kamu yakin akan menemui laki-laki itu?” tanya Raja dengan muka lesu.


“Em… Iya… Dari wajahnya kelihatan baik.”


Raja semakin pasrah harus merelakan Sekar. Bukan masalah fisik atau materi yang dilihat Sekar. Raja baru sadar kalau Sekar mencari sosok laki-laki berhati baik. Bukan seperti dirinya yang selalu melukai hati Sekar.


Akhirnya sore itu, Raja harus menyaksikan Sekar memakai gaun pemberian laki-laki lain. Tidak dipungkiri, Sekar memang terlihat sangat cantik dengan gaun panjang warna putih.


“Mas, jagain Boy sama Gadis ya… Aku pergi dulu,” kata Sekar sebelum keluar dari pintu kamar.


“Di mana acaranya?”


“Cuma di sini kok… Restaurant underwater depan sana…” jawab Sekar dengan senyum tipisnya.


_____


Sekar pun beranjak pergi menuju Restaurant Underwater yang lokasinya sedikit jauh dari villanya. Banyak mata yang memandangi Sekar selagi dirinya berjalan menuju restaurant itu.


Kata anggun dan anggun lah yang didengar Sekar dari orang-orang lokal. Sementara tamu-tamu asing akan berbisik… Gorgeous… alias mengagumkan. Sekar semakin bersemangat melangkahkan kakinya untuk menemui laki-laki bernama Bimo.


Sesampainya di restaurant, Sekar bertanya kepada hostess tentang reservasi meja atas nama Bimo.


“Miss, ada reservasi atas nama pak Bimo? Mejanya sebelah mana ya?” tanya Sekar dengan ramah.


“Pak Bimo? Em… Nama ibu Brigitta Sekar ya?” tanya hostess itu.


“Iya.”


“Mari saya antar buk…”


Suasana di restaurant itu cukup ramai. Hampir semua tamu adalah wisatawan asing.


“Selamat sore, pak Bimo… Ibu Sekarnya sudah datang,” kata hostess tadi dengan menarik kursi untuk Sekar.


“Thank you, miss,” kata Sekar kepada hostess tadi.


Sekar dan Bimo pun melanjutkan acara pertemuan mereka. Bimo yang gaya bicaranya lebih dewasa membuat Sekar merasa nyaman alias sreg dengan pilihan Kasih. Sekar dan Bimo saling becerita tentang kehidupan mereka.


Sekitar satu jam lamanya Bimo dan Sekar menunggu pesanan mereka. Yah, itu wajar karena  restaurant sore itu benar-benar penuh.


“Ow… jadi dulu pak Bimo hampir menikah gitu?” tanya Sekar setelah mendengar cerita dari Bimo.


“Yes… almost (hampir), tapi ngak jadi,” jawab Bimo dengan senyumnya.


Mereka melanjutkan dengan menyantap hidangan setelah makanan yang dipesan datang. Banyak sekali hidangan yang ada di meja mereka, membuat Sekar tertawa harus dari mana melahap makanan itu.


Orangnya baik… Perhatian… Wawasannya juga luas… Semoga ini adalah awal yang baik, batin Sekar sambil mengunyah makanan.


Selesai makan, Bimo mengajak Sekar untuk berdansa dekat live musik. Mereka berdansa cukup lama. Sampai akhirnya Bimo memberanikan dirinya untuk membuka pembicaraan lagi.


“Sekar…” kata Bimo di dekat telinga Sekar.


“Hm…?” Sekar mendekatkan telinganya ke bibir Bimo.


“Em… Mau kah kamu menjadi…” Belum sempat Bimo menyelesaikan kalimatnya, handphone Sekar berdering.


Tilulit…Tilulit…Tilulit…


“Sebentar ya, pak. Kasih nelpon saya.” Sekar menarik tangannya dari tengkuk Bimo. “Hallo, Kas? Kenapa?” tanya Sekar.


“Gawat...! Gawat, Kar! Mas Rajamu nyulik Boy sama Gadis!”


 


*****


Bersambung…


Like Like Like…


*****