
Raja cukup senang menerima kemarahan Sekar. Itu artinya usahanya untuk mengganggu makan malam berhasil. Raja tidak peduli balasan pukulan yang dia terima dari Sekar. Itu tidak seberapa untuk tubuhnya yang berotot. Hanya saja Raja berpura-pura kesakitan agar dikasihani Sekar.
“Aduh… Sakit yank! Sakit Sekar… Udah udah… Stop stop…” rengek Raja sambil menahan tawa.
“Iniiihhh! Buat kamu yang usil! Ngeselin! Gak bisa lihat aku senang! Sini tabok lagi!” Sekar memukul Raja dengan tasnya agar lebih terasa mengenai badan Raja.
“Hehee… Ampun Sekar… Aw! Sakit sakit… Kena gantungan kuncinya! Aw!” Raja mulai mengeluh karena memang gantungan koin di tas Sekar mengenai pipinya. Sekar segera menghentikan aksinya melihat Raja benar-benar meringis kesakitan.
“Apanya yang kena?” tanya Sekar mengamati wajah Raja. Aduh… Mati aku… Berdarah pipinya… batin Sekar. “Hah? Jangan dipegang! Tanganmu banyak kuman. Aku ambil plaster dulu…” Sekar segera berlari mencari plaster dan kain lap hangat untuk mengobati luka Raja.
Jahat betul sih aku ni… Padahal Cuma mau ngasih pelajaran biasa, malah bikin mas Raja berdarah, gerutu Sekar menyalahkan dirinya.
Secepat kilat dengan langkah kaki seribu Sekar menuju teras lagi menemui Raja.
“Duh mas… Maaf ya… Aku gak bermaksud bikin kamu berdarah kayak gini…” kata Sekar mulai memegang wajah Raja. Sekar dengan hati-hati mencocol-cocolkan kain hangat di pipi Raja. Sebetulnya cukup perih dirasakan Raja. Tapi demi mendapat perhatian Sekar, Raja rela menahan rasa perih. Raja justru fokus dengan hembusan nafas Sekar. Raja menghirup dalam-dalam aroma parfum dan tubuh Sekar.
“Masih sakit, mas?” tanya Sekar kuatir karena ada sedikit warana biru lebam di pipi Raja.
“Iya masih sakit,” Raja pura-pura melanjutkan akting terbaiknya. “Yang agak bawah sini juga sakit…” merengek lagi. Sekar dengan telaten mengkompres sekitar pipi Raja.
Lama kelamaan Sekar sadara kalau aksinya itu sedang dinikmati Raja.
“Ishh…!” NgeekK...! Sekar menekan pipi Raja yang tidak ada luka dengan kain hangat itu. “Mas Raja ni pura-pura sakit ya?” protes Sekar yang disambut senyuman oleh Raja.
“Kan kamu lihat sendiri pipiku berdarah…” Raja mengelak dengan memegang pergelangan tangan Sekar.
“Udah ah! Biar aku pasang plaster aja!” Sekar menarik tangannya dari Raja.
Selesai memasang plaster di pipi Raja, mereka segera memindahkan Boy dan Gadis masuk ke dalam kamar.
Raja membantu Sekar untuk menjaga Boy selagi Gadis diberi asi oleh Sekar. Raja menimang-nimang Boy sampai tidak lama kemudian Raja dan Boy tertidur di bed itu.
“Ayah sama anak sama… Kalau tidur pasti tengkurap gitu,” bisik Sekar yang masih sibuk memberi asi untuk Gadis.
Tak lama kemudian, Gadis sudah tertidur pulas. Sekar membaringkan Gadis di samping Boy. Karena malas untuk membangunkan Raja, Sekar memilih tidur di sofa panjang. Sekar tidak mau kalau dirinya satu ranjang dengan Raja.
_____
Di saat tengah malam, Raja terbangun dari tidur. Dia merasa tidak nyaman karena sabuk di celannya masih terpasang. Raja melepaskan sabuk dari celananya dan melangkah menghampiri Sekar yang tertidur di sofa.
“Sekar… Maaf ya sayang, aku tadi gangguin kamu sama Teo. Aku gak bisa membiarkan laki-laki lain mendekati mu…” Raja mendaratkan bibirnya ke bibir Sekar. Raja terdiam beberapa detik menikmati hembusan nafas Sekar. “Aku sangat-sangat mencintaimu… Aku janji akan selalu ada di sisi mu. Aku mencintai mu Sekar,” kata Raja dengan bibirnya yang masih menyentuh bibir Sekar.
Malam itu, Raja seperti mendapat dorongan yang kuat untuk merasakan hangatnya tubuh Sekar. Raja membuka t-shirtnya karena biasanya kalau dia tidur selalu bertelanjang dada. Raja menggeser tubuh Sekar dan ikut membaringkan tubuhnya di sofa yang ukurannya pas untuk berdua. Raja memeluk dan menelusupkan wajahnya ke leher Sekar untuk merasakn aroma tubuh yang selalu dirindukannya. Raja mengusap-usap pantat dan gundukan sumber asi. Tangan Raja yang terus mengusap dada Sekar itu membuat alam bawah sadar Sekar memalingkan badannya.
“Hem…” Wajah Sekar mulai berada di depan dada Raja. “Mau nen3n ya, dek?” Sekar mulai menarik baju tidur kerutnya dan menurunkan bhranya.
“Huft…” Raja tidak percaya malam ini akan menjadi malam yang indah untuknya. “Apa boleh buat, sayang… Aku juga sangat menginginkannya…” bisik Raja sambil mendekatkan bibirnya ke buuah d4da Sekar yang sudah terpampang. Malam semakin panjang untuk Raja. Tak tanggung-tanggung Raja menarik baju dan bhra yang sebelah. Mengusap-usap sambil menjilatinya satu persatu penuh hati-hati.
_____
“Good morning…” sapa Raja dengan senyum bahagianya.
“Kenapa mereka nangis, mas?” tanya Sekar sambil meregangkan tangan dan tubuhnya yang pegal.
“Kayaknya popoknya penuh, nih… Cup cup… Bentar ya sayang, papa gantiin dulu,” kata Raja sambil membuka popok yang dipakai Gadis.
Sekar segera berdiri dari sofanya. Baru beranjak berdiri, Sekar merasakan kedua tali bhranya lepas dari kaitan.
“Bentar ya mas, aku ke toilet dulu.” Sekar cepat-cepat munuju toilet untuk membetulkan tali bhranya. Barulah setelah itu Sekar membantu Raja mengganti popok Boy dan Gadis.
Begitulah pagi hari yang menurut Raja romantis. Meski harus mencium bau pesing anak-anaknya, tapi asalkan bisa berdekatan dengan Sekar itu tidak masalah. Toh, bau pesingnya juga dari anak kembarnya.
Setelah mandi, pagi itu mereka menuju ke restaurant untuk sarapan. Raja mengajak Sekar dan anak-anaknya ke meja yang sama. Mereka juga berpapasan dengan Galang dan Kasih. Kasih sedikit sibuk memberi yogurt dengan potongan pisang dan strawberry untuk Putri.
“Good morning, Lang!” sapa Raja.
“Good morning, Raj!” sapa Galang balik. “Jadi gimana? Apa kamu sudah menyuruh karyawanmu mendownload aplikasi itu?” tanya Raja.
“Yeah! Pasti. Kamu tenang aja. Aku sudah ngasih instruksi ke mereka. Aku juga sudah kirim email ke semua hotel Luxus di cabang lain,” jawab Galang yang tidak dimengerti oleh Kasih dan Sekar. Kedua perempuan itu hanya menganggap mungkin Raja dan Galang sedang menjalankan bisnis baru.
“Thanks, Lang! Oh ya… enjoy your breakfast. Aku sama Sekar ke meja sana. See you, mam!” Raja menganggukan kepalanya ke Kasih. Kasih membalasnya dengan senyuman kecut.
Begitulah suasan pagi hari di tempat restaurant. Sekar mulai melahap makanan yang diambil dari buffet restaurant. Roti yang sudah dipanggang, 2 omlet karena Sekar masih dalam masa menyusui, jus jeruk, ikan salmon, kue-kue kecil dan susu segar.
Raja cukup senang bisa memperhatikan Sekar yang makannya lahap.
“Jadi hari ini kamu ada rencana kegiatan apa?” tanya Raja di sela-sela makannya.
“Em… Membahas rencana Kasih,” jawab Sekar.
“Rencana apa?” tanya Raja penasaran.
“Kasih minta tolong aku buat candle light dinner lagi sama salah satu temen cowoknya dari Australia,” Jawab Sekar tanpa rasa bersalah. Raja mulai menghentikan tangannya untuk memotong omlet.
Rencana gila apa lagi yang akan kalian lakukan? Apa kamu gak bisa lihat, aku tulus ingin balikan sama kamu, Sekar… Raja meneguk air mineralnya untuk melancarkan makanan yang mengganjal di tenggorokan.
*****
Bersamabung…
*****