Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Dipalak Restu



Kedua orang tua dokter Ucy memandangi anaknya yang berdiri bersampingan dengan laki-laki asing di hadapannya. Kedua bola mata orang tua dokter Ucy memandang pak Ansu penuh curiga.


Hm… Lumayan juga tampangnya. Dari cara berpakaian dia terlihat rapi dan modis. Apakah yang dia pakai ini barang-barang second monja juga…? Tanya ibunya dokter Ucy dalam batin.


“Siapa tadi nama panggilanmu?” tanya bu Bambang.


“Ansu, buk,” menjawab dengan penuh sopan.


“Dari mana asalnya?” tanya bu Bambang lagi.


“Makassar. Tapi saya tinggal dan menetap di daerah Anambas.”


“Berapa usia kamu?” tanya pak Bambang sedikit curiga karena wajah pak Ansu tidak semuda anaknya.


“Saya… 55,” jawab pak Ansu membuat kedua orang tua dokter Ucy saling berpandangan. Mereka mengamati postur tubuh pak Ansu dari atas sampai bawah.


“Pak, bu… aku mohon bapak sama ibu mau memberi restu untuk kami,” sambung dokter Ucy sedikit cemas karena orang tuanya saling diam.


“Memang siapa yang gak mau merestui kamu…? Bapak sama ibu kan cuma lagi mengintrogasi,” balas pak Bambang. “Gimana kalian awalnya kenal? Kamu kerja sebagai dokter juga ya?”


“Saya mengenal Ucy sudah cukup lama. Pekerjaan saya bukan dokter. Sebetulnya saya juga sudah tidak aktif bekerja lagi. Tapi…” belum sempat pak Ansu menyelesaikan kalimatnya, ucapannya itu dipotong oleh bu Bambang.


“Astaga… gimana nanti kamu mau menghidupi anak saya? Kamu ini gimana sih, Cy?” bu Bambang memprotes pilihan anaknya.


“Sebentar…” pak Bambang mencermati nama pak Ansu yang tertera di serifikat. Dia mencoba mangingat-ingat nama seseorang yang tidak asing di dalam pikirannya. “Benedictus Ansuman… Ini namanya mirip banget sama pemilik rumah sakit di Tarempa…?” pak Bambang menurunkan kacamata yang dia pakai agar pandangannya tidak double melihat wajah pak Ansu.


“Masak sih pak? Bukannya orang itu juga punya bisnis di kapal phinisi itu ya?” sambung bu Bambang bertanya-tanya. “Cy…?”


“Iya pak, buk. Suamiku ini adalah orang yang bapak sama ibu bicarakan,” ucap dokter Ucy dengan mengumbar senyumnya.


“Jadi kamu ini adalah ayahnya Raja yang dulu menghamili Sekar ya?” tanya pak Bambang mengingat cerita anaknya. “Yang waktu Sekar lagi hamil terus anakmu itu nikah sama perempuan lain, tapi umur pernikahan mereka kata Ucy cuma seumur jagung? Ya kan?” berusaha terus mengingat tapi dengan memori yang memojokkan pak Ansu.


Hm… Kenapa sih harus membahas kejelekan Raja? Kan aku yang nikahin Ucy, batin pak Ansu merasa terpojok kejelakan anaknya diungkit-ungkit.


“Iya pak, saya ayahnya Raja. Tapi hubungan Raja dan Sekar sudah membaik. Mereka juga sudah menikah dua minggu yang lalu.” Pak Ansu berusaha menjelaskan detailnya untuk menghapus opini jelek tentang anaknya.


“Syukurlah kalau gitu. Sekar bisa mendapatkan pertanggung jawaban,” sambung pak Bambang. “Kita sebagai orang tua harus tetap mengawasi anak-anak kita meskipun mereka sudah besar. Jangan sampai hal-hal seperti itu terjadi lagi.”


“Baik, pak. Saya akan terus mengawasi anak-anak saya.” Pak Ansu mengiyakan ucapan mertuanya itu.


“Hm… Jadi gimana, Cy. Kamu sudah mantap dengan pilihan kamu ini?” tanya pak Bambang memastikan kepada anaknya.


“Iya, Pak. Ucy mantap milih mas Ansu. Lagian aku juga udah dinikahin mas Ansu di Maldives,” jawab dokter Ucy dengan wajah yang tidak kalah tegang dari suaminya.


“Hm… Ini sih kita dipalak restu, buk. Mau gak mau kita harus tetap merestui,” sambung pak Bambang melirik ke arah istrinya.


“Jadi gimana pak, buk?” tanya pak Ansu tidak sabar mendengar jawaban dari orang tua istrinya.


Pak Bambang dan bu Bambang terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan pak Ansu.


“Hm… Berhubung Ucy terlihat bahagia… Ditambah kalian juga sudah menikah di luar negeri. Bapak dan ibu juga harus… merestui kalian.”


Akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu pak Ansu dan dokter Ucy keluar juga. Mereka bisa bernafas lega setelah mendengar kalimat dari pak Bambang.


Raut wajah bahagia terpancar dari pak Ansu dan dokter Ucy. Begitupun dengan pak Bambang dan bu Bambang ikut senang melihat wajah ceria dari anaknya itu.


Setelah acara meminta restu berjalan dengan lancar. Pak Ansu menelpon Raja dan Sekar agar datang menunju rumah orang tua istrinya. Raja membawa istri dan anak-anaknya menuju ke rumah dokter Ucy pada malam hari karena harus menunggu kedua anak kembarnya bangun dari tidur terlebih dahulu.


Sesampainya Raja di rumah kakek dan nenek tirinya itu, dia mendapat ceramah yang berjilid-jilid atas perbuatannya di masa lalu. Pak Ansu membiarkan anaknya itu diceramahi oleh mertuanya. Segala kalimat yang diucapkan pak Bambang dan bu Bambang disetujuhi oleh pak Ansu.


“Kamu ini jadi laki-laki itu harus punya pendirian. Jangan main serong kanan ok main serong kiri ok!” ucap pak Bambang.


“Dengerin tu, Raj,” sambung pak Ansu.


“Kalau udah nikah sama Sekar ya harus setia sama Sekar. Jangan lirik-lirik lagi,” pak Bambang masih saja melanjutkan ceramahnya meskipun isi ceramahnya hanya seputar itu-itu saja.


“Ingat itu, Raj,” pak Ansu terus menimpali ucapan pak Bambang.


“Kamu juga Ans! Inget umur. Jangan permainkan Ucy,” ucap pak Bambang membuat menantunya terdiam saat ini. “Jadi kapan kamu akan menggelar pernikahan lagi sama Ucy?” tanya pak Bambang.


Galang yang mendengar berita kalau pak Ansu akan menikah dengan dokter Ucy cukup senang dan sedikit kuatir bila harus menyampaikan berita itu kepada mamanya, Madam Lily. Secara hingar bingar berita hubungan pak Ansu dan dokter Ucy tidak pernah terendus. Tapi keduanya mendadak menikah.


_____


El yang semalam mendapat panggilan dari Raja kalau ayahnya akan menggelar penikahan lagi di Batam segera menuju Batam. Dia cukup terkejut saat melihat kehadiran Mona di depan pintu jemputan.


“Mona?” Sapa El. “Ngapain kamu di sini?” tanya El saat dirinya keluar dari bandara Batam.


“I’m waiting you (Aku nungguin kamu),” menghamburkan pelukan meskipun El tidak membalasnya. “Aku dapat information dari ayah kamu kalau dia akan married again with doctor Ucy. So dari pagi aku nungguin kamu di tempat departure biar kita bisa jalan bareng ke doctor Ucy’s home (rumah dokter Ucy),” ucap Mona dengan mengambil jaket dari tangan El. Berusaha mengambil hati El sebaik mungkin.


“So you are planning to join on the wedding party? Ck!” (Jadi kamu berencana untuk gabung ke pesta pernikahan?) Mona menanggapi pertanyaan dengan mengangguk. Wajah kesal El itu terlihat di mata Mona. “Did you return Raja money?” (apa kamu udah balikin uangnya Raja?) tanya El mengungkit uang Raja yang pernah diberikan kepada Mona.


“Em… Not yet…” (belum) menjawab dengan takut.


“Why?” bertanya menyelidik.


“Sorry. Aku belum ada money.”


“Bukannya kamu dapat working contract dengan magazine di Jakarta?” tanya El semakin kesal.


“Yeah. But aku pakai duit itu buat operation di Jakarta,” jawab Mona dengan jujur.


“Operation apa? Sakit apa?” tanya El memperhatikan Mona dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perempuan itu terlihat sehat-sehat saja. Wajahnya pun terlihat segar.


“Em… Hymenoplasty. Buat kencangin mi5s V aku…” menjawab dengan malu. Mona semakin malu ketika melihat reaksi wajah El semakin marah.


“Buat apa kamu operasi itu segala?” bertanya semakin tidak suka karena menurut El itu hanya menghambur-hamburkan uang.


“Aku lakuin buat kamu. Why? Kenapa reaction (reaksi) kamu jadi gini?” tanya Mona semakin serba salah.


“Aku bilang kamu cukup jadi GOOD GIRL. Seperti Sekar! Kenapa kamu jadi boros lagi?” Mona semakin serba salah ketika El selalu menyebut nama Sekar.


“SEKAR! SEKAR! SEKAR! Why always Sekar?!” Mona menumpahkan kekesalannya dengan berapi-api. “Aku rubah penampilan aku biar seperti Sekar. Aku udah jarang party. Aku juga belajar main cello biar seperti Sekar. But… you never see it!  (Tapi… Kamu gak pernah melihatnya) I know I’m not perfect like Sekar, that’s why I did that operation for you… (Aku tahu aku gak sempurna seperti Sekar, itu mengapa aku melakukan operasi ini buat kamu…)” Mona terengah-engah karena rasa kesalnya kepada El yang sepertinya buta tidak melihat perubahannya. “Fine… Aku pikir aku harus pergi dari hidupmu El. I’m not Sekar. I’m Mona.” (Aku bukan Sekar. Aku Mona)


Mona mulai memberikan jaket El yang sempat dia pegang. Dia membalikan badan untuk meninggalkan El. Mona merasa perjuangannya untuk mendapatkan El sudah cukup.


“Mona…” ucap El ketika perempuan itu sudah pergi beberapa langkah darinya. “Mona…!” El berjalan menghampiri Mona.


“Apa?”


“Sejak kapan kamu merubah penampilan?” tanya El dengan senyum tipisnya. Dia baru sadar kalau baju yang dipakai Mona itu kedodoran dari atas sampai bawah.


Mona yang melihat senyum tipis El, merasa dirinya memiliki harapan lagi untuk kembali bersama El.


“Kamu suka baju sama celana kolor yang ku pakai?” tanya Mona dengan memamerkan tshirt ukuran XL nya. “Kalau kamu suka, aku akan borong semua tshirt ukuran XL,” ucap Mona dengan wajah ceria.


“No need… (Gak usah)” El mulai memeluk perempuan di depannya itu. “Aku cuma mau kamu jangan boros-boros. Thank you karena kamu mau berubah. Tapi maksud aku berubah bukan berarti totally kamu harus menjadi Sekar. I want you to be good girl. Love you…” Mona yang mendengar kata ‘love you’ dari El sedikit kaget. Akhirnya kata-kata ajaib itu keluar lagi dari mulut El setelah sekian lama.


“Love you too…” Semakin mempererat pelukan El. “Love you so much.”


“Just be good girl,” mengusap kepala Mona dengan penuh sayang.


“So… Boleh aku ikut ke acara wedding party ayah kamu?”


“Yeah. Let’s go!” El maraih tangan Mona untuk segera keluar dari bandara dan menuju rumah dokter Ucy.


 


*****


Bersambung…


*****