Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Meskipun Bos Salah, Bos Itu Selalu Benar



Sekar berlari sekuat tenaga menuju villanya. Lokasi villa yang bernomor 045 itu tidak terlalu jauh dari Restaurant Underwater tempat acara yang dia tinggalkan. Ini merupakan keuntungan bagi Sekar sehingga dia bisa segera mengganti bajunya.


Di dalam kamar, Sekar berusaha membuka gaun yang begitu melekat di tubuhnya. Dia putar-putar badanya di depan kaca untuk mencari tahu kenapa gaun itu susah dibuka.


“Duh… Sial banget. Ada ritsletingnya di belakang. Harus panggil kak Jun nih buat bukain gaunnya. Bisa aja sih aku buka sendiri… Tapi ntar takutnya robek. Kak Jun bisa nuntut ganti rugi kalau gaun ini rusak. Hih! Susahnya dibuka!” gerutu Sekar di depan cermin.


KREEKK…


Pintu kamar Sekar terbuka. Dia mulai menoleh ke arah pintunya.


“Sekar…”


“Loh? Mas Raja? Ngapain kesini? Kok bisa masuk?” tanya Sekar sambil menopang kain baju yang sudah setengah terbuka.


“Kamu lupa kunci pintunya,” jawab Raja sambil menerka-nerka apa yang sedang Sekar lakukan. Pandangan Raja tertuju pada gaun Sekar yang hampir melorot. Bagian dada putih perempuan itu sedikit terlihat. Raja yang melihat itu bukannya pergi dan menutup pintu. Tapi dia justru menutup pintu dan melangkah mendekati Sekar.


“Mas Raja tunggu aku di luar dulu. Ini aku lagi mau ganti baju,” kata Sekar sambil menarik bajunya untuk dipakai lagi.


Raja semakin berjalan mendekati Sekar. Melangkahkan kakinya dan kini jarak mereka berdua hanya tinggal setengah langkah lagi.


“Kamu kesusahan buka ritslelting?” tanya Raja dengan menatap mata… turun ke hidung… dan bibir Sekar.


“Huft...” Apa yang mau dia lakukan? Apa ini yang namanya godaan duniawi yang enak-enak? Kenapa tubuh ku terasa panas? Gumam Sekar sambil menatap mata Raja. “Kok mas Raja tahu aku kesusahan buka ritsleting?” tanya Sekar yang semakin mendongakan kepalanya menatap Raja.


Kedua tangan Raja mulai meraih bahu Sekar dan memutar tubuh Sekar. Jari Raja meraih slider ritsleting dan menaikannya.


“Gak usah diganti gaunnya,” kata Raja dengan berbisik ke telinga Sekar.


“Em…”


 


Otak Sekar semakin susah diajak berfikir. Serasa terhenti menikmati suasana yang ada. Tangannya tiba-tiba kaku tidak bisa bergerak menghentikan aksi tangan Raja yang merabai punggungnya. Badannya terasa berat untuk menjauhi pergerakan tangan Raja yang mulai menyentuh bahunya. Lehernya terasa tersengat aliran listrik lewat rambut brewok Raja yang terusap-usap di bahunya. Sekar benar-benar menjadi patung dengan telapak tangan yang mengepal.


“El… Laki-laki itu suka perempuan matang. Kamu harus belajar menjadi perempuan matang,” kata Raja berbisik ke telinga Sekar.


Hembusan nafas Raja semakin dirasakan oleh Sekar. Tubuh keduanya semakin panas. Raja memutar tubuh Sekar dan mulai menatap mata perempuan itu.


“Perempuan matang seperti apa?” tanya Sekar penuh curiga.


“Perempuan yang pandai berciuman,” jawab Raja dengan menurunkan pandangannya ke bibir Sekar. “Aku akan mengajarimu berciuman,” kata Raja yang kemudian berangkup wajah Sekar dengan kedua tangannya.


Raja mendekatkan bibirnya ke bibir Sekar. Merasakan hembusan nafas Sekar yang membuatnya semakin bergelora. Bibir keduanya mulai bersentuhan.


“Mas… hehee… Brewok mu bikin aku geli,” kata Sekar membuat konsentrasi Raja buyar.


Sekar benar-benar merasakan kegelian. Dia mengusap pipi, dagu dan bibirnya. Tapi Raja tetap ingin melanjutkan aksinya untuk mencium Sekar dengan dalih mengajari perempuan itu. Raja meraih pinggang Sekar dengan sigap dan menarik tengkuk Sekar mendekat ke wajahnya.


Raja mencium bibir perempuan itu dan membasahi bibir Sekar dengan lidahnya. Sekar sangat terkejut dengan perbuatan Raja. Sekar pikir ciuman yang diajarkan Raja akan seperti saat kejadian di kapal. Raja mulai menjulurkan lidahnya untuk memasuki bibir Sekar. Raja mulai mencari lidah dan melu*mat bibir Sekar. Raja menggoyangkan lidah Sekar dengan lidahnya. Raja semakin membenamkan lidahnya beberapa saat, merasakan hembusan nafas yang memanas. Raja menghisap-hisap lidah Sekar sampai si empunya terengah-engah. Raja mulai merabai pantat Sekar dan mendorongnya mendekati kejantanannya. Raja semakin melu*mat habis bibir Sekar dengan penuh nafsu. Bibirnya mulai menggigit leher Sekar sampai si empunya mengerang.


“Ahhh… Mas…”


Raja kembali mencium bibir Sekar dan mengkecup-kecupp.


Raja mulai menurunkan ritsleting Sekar yang tadi dia tutup. Tangannya merabai punggung mulus perempuan itu. Sekar yang merasa dirinya seperti diperkosa mulai melakukan perlawanan dengan menginjak kaki Raja. Tapi itu tidak mempan karena Raja memakai sepatu boots tebal.


Dengan sekuat tenaga Sekar mendorong tubuh Raja. Tapi gagal. Dia mengumpulkan tenaganya untuk mendorong lagi. Tapi tetap gagal. Akhirnya dia menggigit bibir Raja. Raja mulai meregangkan cengkramannya dari tubuh Sekar. Di saat itulah Sekar mendorong tubuh Raja.


“Ini belajar ciuman atau pemerkosaan ini?!” kata Sekar dengan nada tinggi. “Kenapa ritsleting baju ku juga ikut dibuka?!” Kata Sekar sambil mengusap bibirnya.


“Aku sekalian membantu mu membuka baju. Tadi katanya mau ganti baju?” kata Raja balik bertanya.


“Udah sana keluar! Aku akan belajar jadi wanita matang lewat youtube! Cepat keluar…” kata Sekar sambil menggerakan tanggannya mengusir Raja.


Raja hanya tersenyum menanggapi ucapan Sekar yang terakhir. Dia semakin gemas dengan Sekar. Tiba-tiba handphone Sekar berdering.


Tilulit… Tilulit… Tilulit…


Sekar segera meraih handphonenya. Ada tulisan ‘Ayah Calling…’ di layarnya. Sekar segera menerima panggilan itu.


“Hallo ayah…” kata Sekar sambil mengangkat gaunnya yang melorot. “Ada apa nelpon?” tanya Sekar sambil mendorong tubuh Raja dengan kakinya agar Raja keluar dari kamarnya. Setelah Raja keluar, Sekar mengunci kamarnya.


“Cuma mau ngecek aja kamu lagi dimana sekarang,” jawab ayah Sekar.


“Sekar lagi di Bintan sekarang. Kasih temenku punya acara disini. Ayah lagi dimana sekarang?”


“Ya di rumah sama mama mu, nduk. Jaga toko kue kita… Ngomong-ngomong mamamu habis bertengkar sama tetangga baru kita.”


“Ha? Kok bisa? Bertengkar gimana? Adu mulut doang kan, yah?”


“Ya iya… Masa mau jotos-jotosan. Pak Ali tetangga kita itu buka toko kue. Ya pasti mama sama ayahmu ini marah lah. Dia bikin menu dan aneka kuenya sama persis kaya punya kita,” kata ayah Sekar menjelaskan.


“Ish… Ngeselin. Aku jadi mau pulang biar ku labrak orang itu,” kata Sekar dengan menggebu-gebu.


“Hahaaa! Itu kenapa ayah telpon kamu.”


“Badannya gimana, yah? Kekar gak? Kalau gak kekar ntar biar ku jotos-jotos.”


“Hahaaa! Ayah suka yang beginian. Tapi badannya agak berotot juga. Makanya mamamu yang maju perang tadi.” Ucapan ayah Sekar yang bernama pak Ram itu membuat Sekar membayangkan betapa kekarnya badan Raja. Sudah pasti kalah kalau dia harus melawan orang sebesar Raja. Sekar hanya menggelengkan kepalanya karena masih teringat betapa panasnya ciuman Raja.


“Nduk… Nduk… Sekar…”


(Nduk: panggilan anak perempuan dalam bahasa Jawa)


“Iya, yah? Gimana?”


“Kapan kamu pulang?”


“Ntar aku cek sama bosku dulu. Soalnya aku ini masih terhitung kerja part time. Gajinya belum dikasih. Padahal aku udah tanda tangan kerja untuk 30 hari,” kata Sekar menjelaskan.


“Ah… ya dah. Kamu tanya bos mu dulu. Kamu harus kerja sebaik mungkin. Jangan melawan sama bos. Meskipun bos salah, bos itu selalu benar. Ayah tutup dulu telponnya,” kata pak Ram yang kemudian memutus telponnya.


Kata-kata terakhir ayahnya itu terngiang di kepala Sekar.


Enak aja, kalau bos salah maunya dibenerin terus. Bisa habis bibirku kena amukan bibirnya, gerutu Sekar sambil merabai bibirnya.


Meskipun kesal dengan perilaku Raja tapi entah kenapa bibirnya ingin tersenyum bila mengingat kejadian yang dilakukan oleh Raja kepada dirinya.


 


*****


Apakah ini pertanda alam juga kalau Pak Ram memberi rambu-rambu hijau ke Raja?


Bersambung…


*****