Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Sabar



Raja yang mendengar ucapan Sekar itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui Sekar. Raja berusaha menekan egonya sedalam-dalamnya demi kebaikan Sekar dan anak kembarnya. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan Sekar dan anaknya harus diprioritaskan.


“Shan, kamu kasih makanan ini ke mereka. Pastikan Sekar mau makan. Aku belum lihat dari tadi sore Sekar mengisi perutnya.” Raja memberi kantong plastik berisi beberapa kotak makanan dengan apel ke Shan.


“Terus pak Raja mau kemana?” tanya sambil menerima kantong plastik itu.


“Mau pergi keluar cari angin sambil ngrokok. Pastikan Sekar mau makan makanan itu. Ok?” Raja menepuk bahu Shan sebelum pergi.


“Ok pak,” Shan mengangguk dan membawa makanan itu ke ruang rawat Sekar.


Di ruangan itu Sekar tengah dipeluk oleh dokter Ucy. Mungkin saja karena Sekar habis mengamuk setelah sadar dari pingsannya. Sehingga dokter Ucy berusaha menenangkannya.


“Udah… Jangan nangis lagi. Dia udah pergi kok,” kata dokter Ucy.


“Enggak kak… Hkzz… Aku takut… Aku gak mau lihat dia… HuuUuu Hiks.” Sekar mulai menoleh ke arah pintu ruangannya yang tidak tertutup. Di pintu masuk itu ada laki-laki muda yang tidak dikenal Sekar.


Tok Tok…!


“Permisi…” Shan mendekati meja kabinet di samping bednya Sekar. Pak Ansu yang melihat gelagat Sekar memperhatikan Shan mulai mengusap kepala Sekar.


“Dia Shan karyawan saya. Sengaja saya suruh dia kemari biar bisa bantu-bantu. Gak pa pa kan nak…?” tanya pak Ansu dengan nada lembut. Sekar hanya mengangguk sambil menatap Shan.


“Ini saya ada kotak ikan bakar napoleon sama nasi. Ada apel juga, bu,” Shan memberi senyum kepada Sekar.


“Makan dulu ya… Kamu harus isi perut biar bisa ngasih asi buat Boy sama Gadis. Stok susu si Boy udah habis. Kamu gak usah mikir yang macam-macam dulu. Yang terpenting sekarang kamu harus mikir Boy sama Gadis… Yuk kita makan sama-sama,” Dokter Ucy mulai mengambil kotak makan untuk diberikan ke Sekar.


Sekar mulai meraih kotak makan itu dan mengecek isinya. Sekar mulai tersenyum kepada Shan yang sudah membawa makanan.


“Terimakasih, ya Shan.” Shan hanya mengangguk menanggapi ucapan Sekar. “Dok, habis ini bisa minta tolong gak?” tanya Sekar sambil membuka kotak makanannya.


“Minta tolong apa?”


“Aku mau chiffon cake pakai ditaburi keju yang banyak. Lagi pingin makan itu…” Sekar sedikit merengek.


“Tumben?” tanya dokter Ucy sambil menatap pak Ansu sedikit tersenyum. Pak Ansu menanggapi tatapan dokter Ucy dengan anggukan dan mata yang terpejam.


“Iya… Laper habis triak-triak…” Sebetulnya karena aku mimpiin makan chiffon cake yang lembut sampai taburan kejunya itu penuh di daguku. Mimpi yang aneh macam lagi ngidam aja, gumam Sekar dalam batinnya mengingat-ingat mimpinya.


“Shan, bisa kamu carikan chiffon cake? Minta extra keju buat cakenya. Ini uangnya…” kata pak Ansu sambil memberi uang ke Shan.


“Baik, pak. Saya permisi cari chiffon cake… Mari bu Sekar, bu dokter…” kata Shan sambil menerima beberapa lembar uang dari tangan pak Ansu.


“Shan?” tanya Raja mulai menghampiri Shan.


“Gimana Sekar? Apa dia mau makan?” Raja mulai mematikan rokoknya.


“Iya, bu Sekar mau makan. Tapi dia juga minta dibelikan chiffon cake pakai keju yang banyak,” Shan mulai melihat kanan dan kiri dari tempat dia berdiri. Banyak toko yang sudah tutup karena saat ini sudah jam 11 malam. Tiba-tiba ada ide pikiran jahil yang melintas di benak Shan… “Pak Raja yang cari lah chiffon cakenya… Itung-itung buat nebus kesalahan bapak waktu bu Sekar ngidam tapi pak Raja malah enak-enakan sama wanita yang dulu itu,” kata Shan sedikit mengangkat salah satu sudut bibirnya.


“Hm. Yeah… Yok kita ke yacht, mutarin Tarempa buat cari toko kue yang buka,” ajak Raja.


Akhirnya mereka memutari pulau Tarempa menggunakan yacht. Raja juga mengecek toko kue yang masih buka di pulau itu lewat handphone. Tapi hampir semuanya tutup. Kalau ada toko yang masih buka pun, mereka tidak menjual chiffon cake yang dimau Sekar.


Setelah kurang lebih satu setengah jam mencari, akhirnya mereka mendapatkan kue yang dimau Sekar. Cepat-cepat tengah malam itu Shan berjalan menuju lantai dua di rumah sakit untuk memberikan kue yang dimau Sekar.


Raja juga ikut mengintip Sekar dari kaca bening yang ada di pintu kamar rawat.


“Bu Sekar, silahkan kuenya…” kata Shan sambil memberikan kotak kue. Sekar menerima dan membuka kotak kue itu. Senyum di bibirnya merekah kembali melihat kue yang dia mau.


Raja yang melihat itu ikut tersenyum. Rasanya ingin sekali duduk di samping Sekar dan menyuapi kue itu dengan tangannya. Raja hanya bisa kesal, geram dan sedih dengan kondisi yang tidak memungkinkan itu.


Akhirnya hari berikutnya Gadis boleh pulang. Pak Ansu mengantar cucunya dan Sekar bersama dokter Ucy juga menuju rumah dokter Ucy. Raja hanya bisa melihat pemandangan itu dari jauh ditemani Shan.


Begitulah hari-hari Raja terus memantau Sekar dan anak kembarnya dari kejauhan. Hatinya sebenarnya tidak menerima keadaan itu. Dia sudah berusaha cukup sabar menanti hari yang tepat untuk mendekati Sekar lagi. Tapi dokter Ucy dan pak Ansu selalu melerai Raja. Karena dokter Ucy dan pak Ansu sudah beberapa kali membicarakan keinginan Raja menjumpai Sekar, tapi Sekar tidak mau hal itu terjadi.


Sejauh ini Raja hanya mampu bermain dengan Gadis dan Boy saat Sekar pergi bekerja. Dokter Ucy menghimbau agar kedatangan Raja tidak diketahui oleh tetangga dan para pedagang pasar depan klinik rumahnya. Dokter Ucy tidak mau kalau Sekar sampai mengetahui tindakannya itu. Yang dipikirkan dokter Ucy adalah kondisi kesehatan Gadis yang mulai stabil. Gadis sudah jarang mengalami demam yang sebelumnya cukup sering. Mungkin kehadiran Raja sebagai ayah Gadis adalah keinginan ikatan batin antara Gadis dan Raja. Yah, naluri anak kecil untuk dimanja oleh ayahnya.


“Sekarang Gadis semakin gak mau kalah dari Boy, kalau minum asi. Suhu badannya juga setiap hari mulai stabil,” kata dokter Ucy di depan Raja dan pak Ansu.


“Dok, kapan saya bisa menjumpai Sekar?” tanya Raja sambil menggendong Boy.


Pertanyaan itu sudah hampir tiap hari dokter Ucy dengar dari Raja. Dokter Ucy pun berusaha untuk hal itu. Melihat kesungguhan Raja ingin menjalin hubungan lagi dengan Sekar. Tapi dokter Ucy selalu mengatakan ‘Sabar… Tunggu dulu’. Begitulah kata-kata yang membuat Raja gemas.


Sudah hampir setahun lamanya Raja mencoba bersabar. Bahkan sampai Boy dan Gadis sudah bisa berjalan. Perasaan Raja sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.


Sore itu Raja datang ke Timur Tarempa tempat Sekar bekerja. Dia memakai topi dan masker penutup mulut untuk melihat Sekar bermain cello dari kejauhan. Raja duduk di sofa paling ujung untuk menunggu Sekar selesai bermain cello.


*****


Bersambung…


*****