
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dari Pulau Letung, akhirnya mereka sampai di Pulaunya Raja. Raja mengantar Sekar ke villanya. Setelah itu Raja pergi menengok Mona di ruang rawat. Ada dokter perempuan bernama Ucy yang menjaga Mona malam itu.
“Selamat malam mas Raja. Mari masuk,” kata dokter Ucy sambil mengecek alat bantu pernafasan Ventilator yang terpasang.
“Malam dok. Gimana kondisi Mona? Apa ada kemajuan?” tanya Raja sambil mengusap tangan Mona.
“Masih sama, mas. Kak Mona baru bisa menggerakan jari-jarinya sedikit demi sedikit,” jawab dokter itu. “Saya permisi keluar.”
Dokter Ucy mulai keluar dari ruangan. Memberikan waktu untuk Raja agar bisa berduaan dengan Mona.
“Kok aku jadi gak suka ya sama mas Raja? Denger-denger dia udah tunangan sama cewek barunya. Kasihan Mona kalau dia sadar nanti. Ku pikir mas Raja itu orangnya setia. Jadi gak ngefans lagi deh sama mas Raja,” bisik dokter Ucy sambil memperhatikan Raja dari jendela kaca.
_____
Keesokan harinya, Sekar terbangun dari tidur nyenyaknya. Hal yang pertama kali dia cek adalah handphone. Dibukanya pesan whatsapp hanya ada pesan dari Ben. Sekar berfikir Raja akan mengirim pesan untuknya sebelum berangkat ke Natuna. Ternyata tidak.
“Mungkin mas Raja sudah sibuk disana atau mungkin gak ada signal… Uhhh…” Sekar mulai meregangkan ototnya sambil duduk di bed.
Sekar mulai mentransfer hasil rekaman suara yang dinyanyikan nya ke salah satu ipod miliknya. Selama proses mentransfer, Sekar meletakan handphone dan ipod nya di meja. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jarum jam menunjukan pukul 8 pagi, Sekar sudah siap dengan ipod yang sudah berisi dengan hasil rekaman. Dia pergi mengunjungi Mona.
_____
Pagi itu ada dokter Ucy yang shiftnya belum digantikan. Sekar mengetuk jendela kaca agar dokter Ucy melihat kehadirannya. Dokter Ucy yang tengah membersihkan tubuh Mona, segera membuka pintu untuk Sekar.
“Selamat pagi, dok. Saya Sekar. Apa saya boleh jenguk kak Mona?” Dokter Ucy memandangi Sekar.
“Ow jadi kamu yang punya ide buat mutar lagu di kamar ini?”
“Iya, dok. Kok dokter tahu?”
“Bang El kemarin ngasih info ke saya. Mari masuk Sekar,” ajak dokter Ucy. “Saya baru selesai memandikan Mona dengan lap hangat. Saya ganti infusnya dulu ya untuk masukin nutrisi dan obat-obatan pasien. Kamu boleh putar lagunya. Bang El kemarin nyiapin speaker kecil. Nah tuh ada di meja,” kata doketr Ucy sambil menunjuk speaker dengan jarinya.
Sekar mulai memutar lagu dari ipodnya. Memperhatikan dokter Ucy yang sedang sibuk dengan tugasnya.
“Kamu kelihatan masih muda. Sekar ini adiknya kak Mona ya?” tanya dokter Ucy sembari tersenyum.
“Ah, bukan dok,” jawab Sekar sambil mengusap tangan Mona yang halus.
“Terus? Sodaranya bang El sama mas Raja ya?”
“Em... Saya tunangannya mas Raja, dok.” Jawaban Sekar itu membuat dokter Ucy sedikit kaget. Dia mengamati Sekar beberapa detik.
Ha? Jadi perempuan ini tunangan mas Raja? Manis juga sih wajahnya… Duh! Jangan-jangan orang ini mau nyelakai Mona. Secara aku dengar cerita dari Ben kalau Mona adalah calon istrinya mas Raja. Sekarang tunangannya pula yang mau membantu kesembuhan calon istri mas Raja? Harus dicurigai ini. Gak boleh kendor buat jagain Mona. Batin dokter Ucy.
“Ow gitu… Asli orang mana?” tanya dokter Ucy.
“Asli Jogja. Dokter asli mana?”
“Saya orang Tarempa, Utara Pulau ini. Dulu kuliah saya juga di Jogja loh. Saya ngekos di daerah Malioboro. Jadi kangen saya sama kota itu,” kata dokter Ucy sambil mengingat masa lalunya.
“Loh? Rumah saya di daerah Maliboro, dok. Rumah saya buka toko kue. Namanya ‘Sekar Bakery & Cake’. Dokter pernah beli di tempat saya gak?” tanya Sekar semakin penasaran.
“Bentar bentar… Kamu ini… adiknya Tia ya?”
“Sempitnya dunia ini.... Hihii. Si Tia dulu suka bawa jajanan kue. Bungkus plastiknya ada tulisan Sekar Bakery & Cake. Kita emang gak satu jurusan. Tapi kita suka nongkrong rame-rame di kantin kampus. Jadi gimana kakakmu itu? Udah nikah dia?”
“Belum, dok. Mungkin bentar lagi, mbak Tia udah ada pacar.”
“Ow gitu… Kapan-kapan main ke Tarempa ya ke rumah saya. Saya tinggal sendiri di Tarempa. Orang tua saya kedua-duanya juga dokter. Tapi mereka kerjanya di Batam… Ngomong-ngomong ini siapa yang cover lagu ini?” tanya dokter Ucy yang tengah menikmati lagu dari ipod.
“Ini saya yang nyanyi sama main cellonya.”
“Bagus banget…! Boleh kirim di HP saya gak? Buat penghantar tidur.”
“Boleh lah, dok. Mau kirim di whatsapp atau bluetooth?”
“Whatsapp aja. Ini nomor saya.” Dokter Ucy menyodorkan handphoennya. “Eh, kita keluar yuk sambil cerita-cerita. Biar lebih leluasa ngobrolnya. Ntar kalau kita cekikikan kena marah sama senior dokter di sini.” Ucap dokter Ucy sambil meraih tangan Sekar.
Mereka pun mulai duduk di kursi depan kamar rawat Mona. Dokter Ucy yang karakternya suka ngobrol, bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu di Jogja.
“Terus kamu kenal mas Raja dimana? Kalian ketemu di Jogja ya?” tanya dokter Ucy.
“Enggak, dok. Panjang ceritanya. Ngomong-ngomong dokter udah berapa lama merawat kak Mona?”
“Saya baru sebulan merawat dia. Ada 2 dokter yang cabut. Mereka gak betah karena mas Raja banyak ngomel dan ngepush kita buat bikin Mona sadar. Tapi kan segalanya kembali ke Sang Pencipta…” Dokter Ucy malah jadi curhat.
“Tapi sebenarnya kalau jadi Mona itu kayanya enak. Mas Raja kaya sayanggg banget sama Mona. Kalau mas Raja lagi di Pulau ini, dia bisa nungguin Mona seharian. Dari mandiin Mona… Ngajak ngobrol Mona agar Mona sadar… Mas Raja juga sering tidur di sofa ruangan ini. Semalam aja mas Raja tidur di sini sebelum ke Natuna.”
Ucapan dokter Ucy itu membuat Sekar cemburu. Sekar berusaha menahan egonya. Menguatkan hatinya. Dia berfikir mungkin itu adalah tanda empati Raja untuk Mona.
Aku gak boleh egois. Aku percaya dengan janjinya mas Raja kalau dia akan menikahiku. Aku gak boleh terkecoh. Mungkin mas Raja hanya kasihan sama Mona. Mas Raja adalah tunanganku. Kami saling mencintai. Sekar berusaha menepis rasa cemburunya.
Tak lama kemudian dokter Ucy mendapat pesan dari senior dokter untuk menuju ke ruang kerjanya.
“Eh, saya pergi dulu ya… 5 sampai 10 menit mungkin. Ada seniorku manggil.” Dokter Ucy mulai berdiri dari tempat duduknya.
“Saya boleh masuk ke ruang rawat kak Mona, dok?”
“Em… boleh.” Biarin ajalah Sekar masuk, lagian ada cctv yang tersalur ke ruang kerja dokter, gumam dokter Ucy.
Akhirnya dokter Ucy pergi menemui senior dokter dan Sekar masuk ke ruang rawat Mona. Sekar mulai memandangi wajah cantik Mona.
“Kak Mona, semoga kakak suka sama lagu-lagu ini. Ini lagu-lagu ceria loh, aku yang nyanyiin.” Sekar duduk di samping kursi bednya Mona. Sekar mengusap jari-jari Mona. “Kalau kakak suka, kakak harus cepat sadar... Kak Mona bisa request lagu apa aja. Pasti aku nyanyiin sambil main cello.” Ucapan Sekar itu tiba-tiba disambut dengan gerakan jari Mona.
Mata Sekar tebelalak melihat jari-jari itu bergerak. Sekar berdiri mengamati wajah Mona. Di sudut mata Mona yang terpejam, ada air mata yang mulai mengalir. Dia menjadi panik. Sangat panik. Sekar sangat takut terjadi sesuatu kepada Mona. Sekar segera keluar dari ruangan dan berlari mencari dokter Ucy.
*****
Wah… apa jadinya bila Mona siuman?
Bersambung…
*****