
Tak lama kemudian, suara handphone Sekar dan Raja saling bersahutan berbunyi.
Tilulit…Tilulit…Tilulit2x
Sekar yang sudah tidak punya tenaga itu tidak mampu menggerakan kakinya untuk meraih handphonenya di jaket Raja. Raja mulai membetulkan celananya dan mengusap rambut Sekar yang menutupi wajah. Dia mengecup kepala Sekar yang tertunduk di ujung kursi.
Raja segera meraih jaketnya dan mengambil handphone. Dilihatnya ada panggilan dari dokter Ucy. Raja mulai menggeser layar handphone untuk menerima panggilan itu.
“Hallo?” sapa Raja.
“Hallo, mas Raja... Kata sopirnya Sekar, kamu bawa Sekar pergi ya? Dimana kalian? Boy sama Gadis lagi nangis. Bisa sekarang bawa Sekar pulang?” tanya dokter Ucy.
“Iya…” Raja menoleh ke Sekar yang masih memeluk lututnya. “Saya akan antar sekarang. Tolong jaga mereka, dok.” Raja segera menutup telponnya.
Raja mulai memakaikan jaketnya ke Sekar. Mau tidak mau Sekar pun memakai jaket dari Raja.
“Maaf ya sayang,” Raja mulai menarik resleting jaketnya untuk Sekar. Sekar mulai mengusap wajahnya yang masih basah karena air mata.
Sekar meraih robekan gaun yang ada di lantai mobil. Raja yang melihat Sekar mencoba menjadikan robekan gaun jadi rok ikut membantu Sekar. Sekar sudah sangat malas harus bersentuhan dengan Raja. Dia membiarkan tangan Raja melakukan untuknya.
“Yuk, pindah kursi depan,” ajak Raja.
“Gak!” jawab Sekar tanpa memandang Raja.
Sekar mulai mengambil handphonenya yang ada di saku jaket Raja. Masih sedikit sesenggukan, Sekar mengecek pesan whatsapp yang masuk di handphonenya.
Kak Ucy
(Sekar dimana kamu dek? Boy sama Gadis lagi rewel. Stok asi udah abis. Cepat pulang ya)
Begitulah isi pesan dokter Ucy yang juga ikut dibaca Raja. Raja mulai merangkup wajah Sekar lagi. Meski tangan Sekar memberi perlawanan, Raja mengkecup bibir Sekar lagi.
“Ishhh! Apa sih?! Aku mau pulang! Anakku udah nangis,” kata Sekar sambil menyingkirkan tangan Raja dari pipinya.
“Iya… Aku antar kamu balik. Tapi kamu pindah kursi depan ya… Yuk…! Kalau gak mau…” Tangan Raja mulai merabai paha Sekar.
Sekar segera menghindar dengan berpindah melompat ke kursi depan. Raja mulai tersenyum sambil memandangi pantat Sekar.
“Jangan sentuh sentuh!” Sekar menoleh melihat senyum Raja yang berseringai.
Raja mulai melompat ke kursi kemudi. Raja melihat seatbelt Sekar yang belum terpasang. Dia mulai meraih seatbelt Sekar untuk mengaitkan ke buckle. Dan CUP! Raja mencari kesempatan untuk mencium bibir Sekar lagi.
“I love you,” kata Raja yang tidak digubris Sekar sama sekali.
Dulu kamu mengatakan I love You… Tapi kamu ninggalin aku. Sekarang kamu udah nikah sama Mona… Masih juga kamu mengatakan I love You. Sepertinya kata-kata itu sangat pasaran keluar dari mulutmu. Aku gak akan luluh dengan gombalanmu itu! Ish! I love you, you love me bye bye terus nemplok ke perempuan lain. Dasar gak ada pendirian! Gerutu Sekar dalam batinnya sambil memalingkan wajah ke jendela mobil.
Raja berlajut menyalakan mesin mobil dan memutar mobil menuju rumah dokter Ucy.
“Emang kamu tahu aku tinggal dimana?” tanya Sekar tanpa memandang wajah Raja.
“Iya sayang. Aku udah sering ketemu Boy sama Gadis. Boy sangat mirip denganku waktu kecil.” Jawab Raja dengan senyumnya, meskin tidak diperhatikan Sekar.
Setengah jam kemudian Raja sampai di rumah dokter Ucy. Sekar mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci itu.
“Cepat bukain!” pinta Sekar dengan ketus sambil mendorong-dorong pintu mobil.
Raja menikmati pemandangan itu beberapa detik. Sekali lagi Raja mencari kesempatan untuk mencium Sekar karena masih belum puas melampiaskan hasratnya.
Raja mulai meraih bahu Sekar untuk melihat wajah manis perempuan yang membuatnya menegang malam ini.
“Mmmppp? Mau apa? Ishhh…” Sekar mencoba menghindar dari bibir Raja. Ekspresi menggemaskan wajah manis itu membuat Raja ingin mencicipinya lagi.
“Huh… Hah… Huft…” Sekar mengatur pernafasannya yang terengah-engah. Raja menggunakan kesempatan itu untuk melahap bergantian sumber makanan Boy dan Gadis. Raja tidak mempedulikan tangan Sekar yang menjambak rambutnya. Jika Sekar menarik rambutnya, Raja akan tetap menggigit dan menggoyangkan lidahnya menarik buuah dad4 itu.
Pukulan dan jambakan seakan tidak mempan digunakan Sekar untuk menghindari Raja. Tubuhnya juga sudah lelah dan banyak tanda merah yang dibuat oleh Raja.
“Apa kamu gak kasihan sama Boy dan Gadis? Mereka pasti sangat kehausan sekarang. Mau sampai kapan kamu begini?” tanya Sekar dengan nada lemah.
Barulah Raja tersadar dengan bayi kembarnya. Raja mulai merapikan jaket Sekar dan mengkecup pipi Sekar. Sekar sudah malas melawan Raja, karena percuma melawan orang gila.
Akhirnya Raja mengizinkan Sekar keluar dari mobil. Cepat-cepat Raja mengekor Sekar sebelum Sekar menutup pintu gerbang. Sekar sudah tidak tahu lagi dengan apa yang akan terjadi. Suara tangisan Boy dan Gadis membuat langkah kaki Sekar lebih cepat berjalan menuju lantai dua kamarnya. Raja terus-menerus mengikuti Sekar, tidak mau melepaskan mangsanya.
“OeekKK…OeekKK…OeekKK…!” Boy dan Gadis terus-terusan menangis.
Dokter Ucy yang melihat kedatangan Raja sedikit terkejut. Apalagi melihat rok Sekar yang sudah robek-robek. Rambutnya pun sudah acak-acakan.
“Kak, tolong usir laki-laki itu. Aku dah gak ngerti gimana ngusir orang ini,” kata Sekar sambil meraih Gadis.
Dokter Ucy mulai berdiri dari bed dan mengajak Raja keluar dari kamar Sekar. Sekar mulai mengunci pintu kamarnya termasuk menggeser slot kunci. Sekar tidak mau tubuhnya dijajah terus oleh Raja.
Secara bergantin Sekar memberi asi untuk Boy dan Gadis. Sekar melihat banyak sekali bercak merah yang dibuat oleh Raja.
Saat memberi asi untuk Boy, Sekar mulai berfikir. Rumah dokter Ucy sudah tidak aman untuknya. Sekar juga takut suatu hari nanti Raja akan mengambil Boy dan Gadis. Lalu setelah itu, dirinya lah yang akan menderita lagi kehilangan cinta dari anak-anaknya.
Beberapa menit Sekar mencari solusi dari masalahnya itu. Setelah dia selesai menidurkan Boy dan Gadis, Sekar meraih handphonenya. Tengah malam itu Sekar menelpon sahabatnya yang bernama Kasih.
Tut…Tut…Tut… Panggilan pertama tidak dijawab. Sekar mencoba menelpon kembali. Tut…Tut…Tut…
“Hallo…?” jawab Kasih dengan suara serak karena terbangun dari tidurnya. “Kenapa Kar telpon malem malem gini?” tanya Kasih.
“Hai Kas… Maaf ya ganggu malem-malem gini... Em… Kamu lagi sibuk gak…? Soalnya aku mau ngobrol agak panjang nih…” kata Sekar sambil berjalan ke arah jendela kamarnya. Menjauhi Boy dan Gadis agar tidurnya tidak terganggu.
“Mau sibuk apa malem-malem gini…?HuUAm… Suami juga lagi di Jerman,” jawan Kasih apa adanya.
“Ow… Maaf ya gangguin tidurmu... Gini, Kas…”
Sekar mulai menceritakan kehidupannya kepada Kasih. Mulai dari kisah cintanya bersama Raja sampai dia memiliki bayi kembar. Tidak ada air mata yang mengalir dari mata Sekar. Tapi suaranya sangat getir mengingat semua memori menyakitkan bersama Raja. Kasih yang mendengar cerita Sekar sampai menghabiskan beberapa lembar tissue.
“Kenapa kamu gak bilang dari dulu sih?! Dulu waktu aku punya masalah aku lari ke kamu… Tapi ini kamu malah gak pernah cerita!” Kasih sedikit kesal mendengar cerita Sekar. Lebih tepatnya kesal dengan perlakukan Raja yang begitu tega dengan Sekar.
“Maaf, Kas. Aku malu banget,” kata Sekar sambil menyeka ingus di hidungnya.
“Udahlah… Kamu sama babymu ke sini aja ke Bintan. Kamu resign (keluar) dari tempat kerjamu disana. Nanti aku minta mas Galang buat ngasih kerjaan disini. Pokoknya kamu harus sembunyiin dek bayimu dari laki-laki itu. Jangan sampai bapaknya yang plin plan itu nyulik mereka!” kata Kasih dengan kesal. Sekar mulai tersenyum mendengar ucapan Kasih.
“Maaf ya Kasih, aku merepotkanmu…”
“Gak lah… Kita kan udah keluarga. Jangan sungkan buat cerita apapun ke aku,” kata Kasih.
“Em, iya Kas... Ow ya, satu lagi… Aku mohon kamu rahasiakan ini dari keluarga kita di Jogja… Aku belom siap buat cerita ke orangtuaku. Aku takut mereka marah atau syok.”
“Pasti. Aman…”
Begitulah percakapan Sekar dan Kasih di telpon. Sekar mulai menutup telponnya dan mengemasi barang-barang milik baby kembar dan miliknya ke koper.
*****
Akhirnya Sekar mengadu juga ke Kasih sahabat lamanya…
Bersambung…
*****