
Mereka berdua menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Raja yang masih tidak suka dengan tanda merah yang dibuat oleh El, memberi scrub ke bagian kulit itu. Menggosok berkali-kali tapi malah semakin merah di sekitar tanda itu.
“Kenapa ini susah dihilangkan?” Raja mencoba menggosok dengan tangannya. “Kamu tahu caranya? Udah lima kali scrub tapi masih sama.”
“Aku mana tahu. Mas Raja yang lebih pengalaman,” celetuk Sekar membuat Raja tersenyum. “Udah ah! Ini perih banget kulitku. Bentar lagi dah mau ngelupas kayanya,” kata Sekar membuat Raja gemas.
“Hehee. Iya maaf.” Raja mulai menyalakan shower dan mengguyur tubuh mereka.
Raja mengusap tubuh Sekar. Mulai dari tengkuk… Punggung… Pantat… Berjongkok dan mengusap kedua kaki Sekar. Sekar menikmati air hangat sambil menggosok tangan dan lengannya yang masih terkena busa sabun.
Tangan Raja mulai mengusap paha Sekar dan Pikirannya terhenti di bagian tengah. Raja meremas bagian kesukaannya. Mengecupi, memeluk dan membenamkan wajahnya di bagian intim perempuan di hadapannya.
Kucuran air hangat dari shower terasa semakin hangat dirasakan Sekar. Ada bagian kenyal menjulur… menghisap-hisap di titik gairah yang mulai berdenyut. Kedua kakinya mulai gemetaran. Tubuhnya semakin menginginkan lebih. Salah satu tangannya menumpu pada pintu kaca kamar mandi. Tangan yang satunya mendorong kepala Raja agar lebih terbenam menjilati area yang sudah memanas.
“Ah… Ah…” ******* Sekar yang memenuhi ruang shower itu membuat Raja puas.
“Do you like it?” (Kamu menyukainya?)
“Yah… lanjutkan… Do it again… Ah…”
Tangan Raja semakin meremas pinggang Sekar dan mengelus turun ke bawah. Raja mulai mengecupi dari setiap inci bagian tengah naik ke atas. Raja menuntun tangan Sekar agar memegang kejantanan yang mulai menegang.
“Sayang… it’s your turn (ini giliranmu)… Aku mau kamu menghisapnya.” Raja menuntun Sekar agar berjongkok.
Ini sangat menggairahkan. Yah! Lebih dalam lagi. Ah…! Ah…! Arghh! “Hisap terus sayang, Do it more…” Raja mendorong kepala Sekar agar semakin dalam perempuan itu mendekat melakukan tugas mulianya.
“Mas…”
“Kenapa?”
“Capek mulutku.”
Raja meraih Sekar agar berdiri. Mengecupi bibir perempuan itu dengan lembut. Sekar melingkarkan tangannya ke pinggang Raja. Merasakan betapa padat dan kekar tubuh pria yang menikmati bibirnya. Kakinya semakin melangkah maju untuk memasrahkan tubuhnya yang sudah candu untuk disentuh Raja. Jari-jari Sekar bermain di punggung dan semakin merapatkan tubuhnya ke Raja.
Sekar menikmati permainan jari Raja yang memutar-mutar bulatan kecil di buah dadanya. Kedua mata mereka semakin menutup rapat merasakan gairah panas yang semakin memuncak. Raja menggendong tubuh tunangannya menuju bed.
Raja merangkak mendekati Sekar yang sudah terbaring. Kecupan demi kecupan ia daratkan lagi. Memberi tanda merah pekat sampai Sekar merintih.
Raja menggesekakn barangnya yang sudah menegang ke sangkar utama tempat berlabuh. Raja mengangkat kedua kaki Sekar agar menggantung di punggung belakangnya. Menelusup dan sedikit memaksakan benda lonjong ukuran besar untuk masuk ke lorong basah dan hangat.
“Argh… Mas Raja…” Sedikit memekik dan mengrenyitkan mata karena sisa sakit sebelumnya yang belum sembuh.
“Masih sakit, sayang?”
“He’em…”
“Tahan sedikit. Lama kelamaan ga akan sakit.” Senyum penuh nafsu mulai berseringai lagi.
Raja mulai menghentakan dengan pelan... Meremas dua gundukan yang sudah banyak bekas gigitannya. Menekan dan meremas terus menghentakan bagian yang sudah menyatu. Raja memaksa menerobos terus memasuki lorong hangat yang semakin licin. Permainan ritme sedang belum juga memuaskannya. Raja menghentakan semakin dalam... semakin dalam... semakin kasar.
“Mas Raja…”
“Hem?” Raja menikmati rasa yang menggairahkan itu. Membuka p4ha Sekar semakin lebar untuk terus mendesak masuk sampai puncak batas finish. Ekspresi wajah Sekar yang menahan kesakitan membuat gairahnya terus bertambah. Goncangan kapal seakan mendukung Raja yang terus menghentakan dengan ritme kasar.
Raja meraih tubuh Sekar agar berganti posisi untuk duduk. Penyatuan masih dipertahankan oleh Raja. Meraih pinggang Sekar dan menaik-turunkannya.
“Ah… Ah… Huft…” Sekar semakin lemas menghadapi Raja. Dia melingkarkan tangannya di leher Raja. Raja semakin puas karena permainan dimenangkan olehnya.
Raja membaringkan tubuh Sekar lagi dan menggunakan kekuatan maksimalnya. Saat lahar panas akan keluar. Entah kenapa susah sekali dia menarik kejantanannya. Raja terdiam beberapa saat mengecup bibir Sekar.
“Arghh… Ah… Ahhh…” Hembusan nafas hangat Raja itu dirasakan oleh Sekar.
Maaf Sekar, aku menumpahkan semua di dalam, Batin Raja sambil mengusap pipi Sekar yang panas. Mereka terdiam beberapa saat setelah permainan yang panjang.
“Terimakasih sayang,” Raja mengecup kening Sekar. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Memeluk Sekar dan membetulkan posisi kepala Sekar agar nyaman tidur dalam dekapan nya. Mata terpejam dengan wajah kelelahan itu membuat Raja semakin sayang memandangi tunangannya. Mereka berdua mulai tertidur setelah menikmati permainan panas.
Pyuk… Pyuk… Pyuk…
Suara ombak laut yang menghantam yacht, membangunkan Raja dari tidur lelapnya. Meregangkan otot dan menurunkan selimutnya. Raja meraih handphone dan mengusap jari jempolnya di layar. Ada panggilan masuk dari Ben dan dokter Ucy disana. Dia tidak tertarik untuk menelpon balik kedua orang itu. Pandangannya beralih ke wajah Sekar yang masih terlelap.
Mengusap lengan hingga turun ke pinggang dan sekitarnya. Menghujani wajah yang masih terlihat lelah dengan ciuman.
“Love you…” Bisik Raja ke telinga Sekar. Bibir mungil itu mulai tersenyum mendengar kata-kata manis dari Raja. Sekar meraih tubuh Raja agar memeluknya.
“Good Morning mas…”
“Good morning darling… Masih sakit?” Raja mengecup bibir Sekar.
Sekar mulai sadar dengan apa yang telah dia lakukan semalam. Dia sangat malu mengingat dirinya yang aktif membalas setiap sentuhan Raja.
“Ini kenapa wajahnya disembunyikan…?” tanya Raja dengan gaya menggoda Sekar.
Menggelitik tubuh di pelukannya itu. “Biar aku lihat sini…”
“Aw… Geli mas…” Masih membenamkan wajahnya di dada Raja. “Aw… Hihiii. Geli mas…! Udah udah. Aw… Stop stop…!” Raja merangkup wajah itu dan mengecup bibir Sekar.
“Kamu suka semalam?” Mendengar pertanyaan Raja itu Sekar hanya tersenyum mengangguk.
“Kamu mau lagi?”
“Ha? Lagi?” Sekar mulai menjauhi Raja dan memakai handuk.
“Mau kemana?” tanya Raja bingung.
“Mau keluar kamar. Masih pagi tahu… Masa mau battle (bertempur) lagi...” jawab Sekar sebelum keluar dari kamar. Raja hanya tersenyum simpul menanggapi sikap Sekar.
Kita di tengah lautan. Mau lari kemana kamu? Kalau aku mau, aku bisa paksa kamu. Meski kamu nolak, gumam Raja.
Raja melangkahkan kakinya menaiki tangga ke deck tengah. Disana Sekar sedang sibuk membuat sesuatu untuk dimakan.
“Lagi buat apa?” tanya Raja memperhatikan gerak-gerik Sekar.
“Em… Sup ikan.”
“Emang ada ikan di chiller (lemari pendingin)?” tanya Raja ikut mengecek isi chillernya. “Ini kan ikan yang dulu itu. Kita cari ikan yang baru aja. Takut ada bakteri. Dah agak bau lagi…” Raja menciumi 3 ekor ikan di piring. “Mau berapa ikan? Biar aku pasang jala.”
“Em… satu aja buat aku,” jawab Sekar sambil mengupas bawang putih.
“Kenapa satu? Kamu gak mau masak buat aku?” Raja menatap mata Sekar.
“Nanti takutnya mas Raja gak mau makan kaya dulu itu. Kan sayang ikannya kebuang juga.” Jawaban Sekar membuat Raja mengingat waktu kejadian dia mendapat telpon dari Ben mengabari keadaan Mona.
“Maaf ya… Tapi kali ini aku akan makan sampai habis.” Raja mengusap pipi Sekar. “Mau berapa ikan?”
“Yang banyak…! Aku mau ikan napoleon kaya waktu itu. Yang paling besar... Aku mau bikin sushi…” jawab Sekar penuh semangat.
Raja hanya tersenyum memandangi Sekar. Dia mulai memasang jala dan menyalakan yacht ke arah Pulau Siantan.
*****
Wah… Nafsu makan bertambah mbak Sekar…
Bersambung…
*****