
Setelah mendengar ucapan Raja kalau Ben sudah ada di Pulau Letung, Sekar ingin cepat-cepat menghabiskan makan dan mengambil handphonenya untuk menelpon Ben.
Sekar segera berdiri meninggalkan Raja yang masih makan. Sekar mulai masuk ke kamar dan mengambil handphonenya. Mencari kontak nomor Ben. Dia mulai menekan nama Ben. Tapi sayangnya tidak ada signal di layarnya. Sekar mencoba mencari sinyal di dekat jendela kamar tapi tidak mendapatkannya juga.
Raja yang melihat tingkah laku Sekar itu mulai mendekati Sekar. Dia meraih handphone Sekar dan memasukan ke kantong celananya.
“Di daerah ini jaringan signal masih susah didapat. Kenapa mau telpon Ben?” tanya Raja sambil menghalangi pergerakan Sekar dengan kedua lengannya.
Sekar semakin terhimpit dengan tubuh Raja yang terus mendekatinya. Raja mendekatkan bibirnya ke bibir Sekar.
Sekar berusaha menghindar dan menabrakan tubuhnya ke Raja. Siapa tahu Raja bisa terjatuh kalau dia mendorong dengan seluruh badannya.
“Minggir! Minggir! Itu bukan urusan mu! Mas Raja sengaja kan nyuruh Ben agar aku pakai kamar ini?! Semua tamu cuma nginap di lantai 2 dan 3. Ini rencana kalian kan?! Kalau aku teriak-teriak biar gak ada yang dengar?! Iya kan?!” Sekar mendorong tubuh Raja berkali-kali. Tapi orangnya tetap menghalangi pergerakan Sekar.
Raja hanya tersenyum menanggapi celotehan Sekar. Tangannya masih sempat mengusap pipi Sekar.
“Jangan sentuh-sentuh! Masih kurang pelampiasan yang semalam?! Ha?!” Sekar mulai menggigit lengan Raja.
“Aw! Sekar...” Raja berusaha meraih tubuh Sekar dan memeluknya. “Sekar, I love you. Aku suka kamu.”
DEG!
Sekar terdiam beberapa saat. Mengingat ucapan Raja barusan. Ada perasaan senang tapi juga bercampur sedih.
Raja mulai mengeratkan pelukannya dan menghujani kepala Sekar dengan ciuman tanpa henti. Berkali-kali Raja mengatakan ‘I love you’. Sekar masih belum percaya dengan ucapan Raja itu.
Apa maksud mu, mas? Trend apa lagi ini? Meniduri dulu… terus baru bilang I love you? Apa karena kamu semalam mabuk jadi belum sempat bilang I love you? Terus gimana Mona? Sekar terus bertanya-tanya dalam pikirannya.
“Terus gimana sama Mona, mas? Bukannya kamu tergila-gila dengan perempuan itu?” tanya Sekar mencari kepastian.
Raja terdiam beberapa saat. Dia teringat kembali dengan Mona. Nama perempuan yang masih ada di hatinya. Raja masih belum pasti dengan perasaannya. Rasanya ingin memiliki kedua-duanya. Apa itu mungkin?
“Jangan kamu pikirkan,” jawab Raja.
Jawaban Raja yang membingungkan itu membuat Sekar kesal. Bagaimana dia tidak memikirkan Mona? Yang dikuatirkan Sekar adalah kalau nanti Mona sudah sadar, apa Raja akan tetap mencintainya? Atau Raja akan mencampakannya? Ini membuat otak Sekar berfikir terus.
“Mas… Aku mau tanya…”
“Apa?”
“Em…”
Belum sempat Sekar bertanya, Raja sudah mencium bibir perempuan itu lagi. Menggiring Sekar ke tempat tidur.
Duh… Ini kenapa bau-baunya minta lagi? Kalau aku melawan orang ini sudah pasti aku kalah. Aku gak mau dibuang ke laut. Aku masih mau hidup. Apa salahnya menerima mas Raja di hidupku. Mungkin dengan berjalannya waktu mas Raja bisa melupakan Mona. Lagian dia udah bilang cinta, gumam Sekar sambil menikmati ciuman Raja.
Raja mulai melepaskan pakaian Sekar satu per satu. Entah kenapa otaknya hanya dipenuhi hawa nafsu bila bersama Sekar.
Sekar, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Rasanya susah sekali mengendalikan hasrat seksku ini. Aku mengenalmu baru beberapa hari. Tapi aku ingin terus bersamamu. Entah apa yang akan terjadi kalau Mona nantinya sadar. Kalau Mona masih ingin bersamaku, aku tidak tahu apa aku harus menerima atau menolaknya? Percakapan terakhir ditelpon itu tidak jelas. Dia mengatakan maaf. Entah maaf untuk meninggalkanku atau maaf untuk kembali bersamaku. Aku sangat mencintai Mona. Sekalipun dia melakukan kesalahan, aku tidak tega menghukumnya. Batin Raja, dalam pikirannya terus dibayangi wajah Mona.
“Ah… mas Raja!”
“Aw! Kenapa gigit tanganku?” Raja menghentikan hentakannya.
“Kamu ini melamunin apa? Aku udah kesakitan! Udah ah! Aku gak mau lagi,” kata sekar dengan pasang muka ngambek.
“Tapi aku belum klimaks,” Raja mulai melanjutkan lagi. “Bentar lagi. Kamu diem aja,” Raja kembali menikmati santapan paginya.
“Aw! Jangan remas keras keras! Kamu pikir ini balon apa?” Sekar melanjutkan protesnya tapi Raja tidak mempedulikan.
“Minggirin tanganmu. Jangan ganggu. Ini sekarang milikku,” Raja melanjutkan memberi tanda di sekujur leher dan dadanya Sekar. “Udah kubilangin diem aja. Jangan cubit-cubit! Mau ku buang ke laut kamu?” Raja menggretak Sekar.
“Ini es susu segar,” balas Raja semakin penuh nafsu.
“Mas…”
“Apalagi sih?”
“Apa mas Raja akan menikahiku?”
DEG!
Pertanyaan yang dari dulu Raja harapkan keluar dari mulut Mona justru keluar dari mulut Sekar. Raja terdiam beberapa saat memandangi wajah manis di bawah tubuhnya. Mengecup bibir Sekar.
“Nanti ya kita tunggu Mona sadar dulu,” jawab Raja yang kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi.
Sekar semakin bingung. Segala pertanyaannya selalu dihubungkan dengan Mona dan Mona.
Kalau Mona sadar, berarti mas Raja akan menikahi ku? Apa betul gitu? Tapi kenapa harus nunggu Mona sadar? Apa mas Raja mau pamer acara pernikahannya dengan Mona? Kenapa sih pakai main teka-teki segala…? Batin Sekar sambil mencengkram seprei.
“Ah… Ah… Arghh!”
“Kenapa, mas?”
Tak lama kemudian Raja menumpahkan laharnya ke perut Sekar. Memeluk tubuh perempuan itu dan mengatakan...
“I love you.”
Sekar hanya tersenyum mendengar ucapan Raja itu. Pikirannya melayang-layang.
Aku rasa aku siap menulis kisahku di noveltoon. Aku hanya tinggal menunggu mas Raja mengucapkan… Will you marry me Sekar… Hihii… Batin Sekar dengan senyum kebahagiannya.
“I love you too, mas Raja,” kata Sekar membalas pelukan Raja.
Raja mulai membawa Sekar ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesekali dia mengecup bibir perempuan itu saat berandam di bath up bersama. Bermain dengan rambut panjang Sekar yang selalu dia katai berantakan.
Setelah selesai mandi. Mereka menyiapkan diri untuk pergi ke Pulau Letung. Raja mengajak Sekar untuk menikmati hamparan permadani biru kepulauan Anambas. Raja memeluk tubuh Sekar dari belakang sambil menjelaskan nama-nama pulau di sekitarnya.
“Kalau yang sana pulau apa, mas?” tanya Sekar.
“Itu Pulau Siantan. Sudah padat penduduk disana. Ada air terjun juga di daerah Tarempa.”
“Wauw… Di pulau kecil ada air terjunnya juga ya?”
“Iya. Kita bisa kesana kalau kamu mau,” jawab Raja sambil merapikan rambut Sekar yang terbang menutupi mukanya.
“Boleh? Aku mau…” kata Sekar sambil mendongakan mukanya menatap Raja.
Raja memutar tubuh Sekar dan mulai me*lum4t bibir Sekar. Meremas-remas benda yang sudah jadi miliknya. Raja menikmati setiap desahan perempuan itu. Menyingkap rok Sekar dan mulai bermain ditemani hamparan laut dari deck lantai 7.
*****
Mona, tolong cepat sadar agar semua jelas
Bersambung…
*****