Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Aku Kecewa



“Selamat pagi mas Raja… Saya cuma mau memberi tahu kalau Mona sudah sadar.”


Ucapan dokter Ucy itu membuat apel yang dipegang Raja terjatuh. Sorot matanya menatap lautan. Rasanya percaya dan tidak percaya setelah akhirnya 3 bulan lebih perempuan yang dia nantikan sadar dari koma.


“Mas Raja posisinya ada dimana sekarang? Mona dari tadi menanyakan mas Raja terus. Dia bilang ingin bertemu mas Raja.” Kali ini ucapan dokter Ucy membuat dada Sekar sesak. Pikirannya takut kalau Raja akan berpaling ke Mona.


Tiba-tiba ada suara perempuan lain dari handphone dokter Ucy.


“Mas Raja… A…aku kangen...” Mendengar suara itu, air mata Raja menetes. Sekar yang melihat perubahan Raja mulai melepaskan pelukannya dari Raja. Dia mundur perlahan menjauhi Raja.


“Mona…?” Raja meremas kedua tangannya.


“Kapan mas Raja balik sini? Momo kangen ama mas…”


“Secepatnya… Kamu baik-baik disana. Aku pulang secepatnya,” Senyum bahagia mulai merekah di bibir Raja. Bahkan Mona masih ingat dengan panggilan sayang yang diberi Raja untuk nya.


Hati Sekar sudah tercabik-cabik mendengar percakapan itu. Dia bukan Raja yang dia kenal. Dia bukan lagi Raja yang hatinya untuknya. Sekar hanya terdiam mendengar suara Mona dan Raja. Dengan sekuat tenaga dia menahan air mata yang hampir jatuh.


“Aku tutup telponnya. Aku segera balik pakai heli. Tunggu aku disana, Momo.” Raja mulai menelpon pilotnya.


Kebetulan sekali pilotnya Raja berada di daerah Tarempa dengan helikopter milik perusahan Raja Phinisi. Pilot itu segera menjemput Raja dan Sekar.


Sekar hanya diam tidak mau berkata sepatah katapun. Dia membiarkan Raja menggandeng tangannya. Masih mencerna apa maksudnya Raja berbicara mesra di telpon dengan Mona? Sedangkan sekarang tangannya digandeng Raja menuju helikopter?


Di dalam helikopter, Raja masih memberi perhatian untuknya. Memasang seat belt, menggenggam tangannya dan sesekali Raja mengecupi kepala Sekar. Tapi itu semua terasa dingin dirasakan Sekar.


Wajah Sekar semakin pucat setelah helikopter sampai di Pulau Raja. Raja mengajak Sekar agar segera keluar dari helikopter. Langkah Raja yang lebar itu susah dijangkau oleh kaki Sekar yang tiba-tiba kaku. Sekar menarik tangannya dari genggaman Raja.


“Au… Mas, kakiku kram. Kamu duluan aja…” Sekar menundukan kepalanya. Memegangi kedua lutut yang terasa nyeri.


“Kamu gak pa pa kan, sayang? Ayo… Mona sudah nunggu kita…” Raja mencoba meraih pinggang Sekar agar bisa tegap.


“Kamu dulu aja. Aku nyusul…” Sekar masih menyembunyikan wajahnya dari Raja.


“Ya udah… aku duluan ya… Aku tunggu kamu disana,” Raja mulai berlari menuju ruang rawat Mona. Disaat itulah Sekar menghapus air mata yang sudah hampir jatuh.


Dari belakang Sekar terdengar suara perempuan. Yang tidak lain lagi adalah dokter Ucy.


“Dek? Kamu kenapa?” tanya dokter Ucy meraih lengan Sekar agar tidak membungkuk.


“Sedikit pusing, dok. Mungkin karena belum makan.” Sekar mulai berdiri tegap lagi.


“Oh… Ya udah, kita ke ruangan Mona yuk, ada pesta kecil-kecilan disana. Tadi Ben banyak menata makanan disana,” ajak dokter Ucy.


Mereka pun berjalan menuju ruang rawat Mona. Banyak suara terdengar di dalam ruangan yang pintunya terbuka itu. Ada El yang mukanya masih sedikit memar, pak Ansu, Ben, Raja dan tentu saja Mona. Raja tengah memeluk Mona. Rasa rindu dan bersalah bercampur menjadi satu. Dia memeluk Mona dengan erat di tempat tidur Mona.


Pemandangan itu membuat langkah Sekar terhenti. Wajah pucat pasi itu mulai terbaca oleh dokter Ucy yang ada di sebelahnya.


“Aku mau balik sama kamu, mas... Hiks… Hiks… Apa bisa kita lanjutin rencana nikahan kita dulu?” Air mata Mona mengalir deras menyesali perbuatannya.


“Iya… Iya…”


Ha? Apa? Iya…? Apa kamu lupa sama aku, mas? Aku tidak mimpi kan? Aku sangat kecewa sama kamu, mas, gumam Sekar.


“Don’t cry Momo…” Raja berusaha menenangkan Mona. Mengusap air mata yang mengalir di pipi Mona.


Tanpa dia sadari ada perempuan yang matanya sudah merah menahan air mata di depan pintu. Posisi tubuh El, Ben dan pak Ansu yang membelakangi pintu itu tidak melihat Sekar.


Mereka hanya memperhatikan Raja dan Mona.


Sekar yang tidak tahan melihat pemandangan Raja dan Mona segera beranjak pergi. Berlari secepat mungkin dengan derai air mata. Dia berlari menuju kamarnya. Pikirannya hanya ingin segera pergi dari Pulau. Rasa kesal sedih ingin dia tumpahkan kepada sang Ayah. Rasanya ingin menangis dalam pelukan ayahnya.


“HUAAAAA hkz hkz hkz hkz… Brengsek kamu mas! Hiks… Hu hu hu… Uhh… Uhuk… Hiks…” Sekar menangis sejadinya di dalam kamarnya.


“Aku nyesel udah mencintaimu!  Huhuhu… Aku gak mau jadi Mona! Aku gak mau belajar jadi orang lain! Aku mau jadi diriku sendiri! Hiks. Aku mau jadi Sekar ajaa… hkz hkz. Gak mau bermimpi jadi Mona atau Kasih... huhuhuu. Jadi Sekar aja... hkz."


“Sekar…” Tok Tok Tok…! Dokter mulai masuk ke kamar Sekar yang tidak dikunci. Dia memeluk Sekar untuk memberi ketenangan. “Udah… Cup cup… Jangan nangis lagi ya. Pasti mas Raja salah ngomong tadi.”


“Salah ngomong gimana…?! 2x dia bilang iya! Aku yang puluhan kali ngajak dia nikah, GAK PERNAH sekali pun dia berkata IYA! AAAAA! Lalu aku ini apa...? Bak Sampah lendir lendirnya dia?!... HU huuu hu… Aku sudah gila menyerahkan tubuhku ke dia! aku sudah kotor. AKU KOTOR kak… hkzz hu huuu!” Suara tangisan Sekar semakin mengeras.


Dokter Ucy juga tidak tahu harus bagaimana. Memanggil Raja? Itu jelas tidak mungkin. Siapa dia bila ingin ikut campur urusan percintaan Raja dan sekar?


“Tenang… Kamu harus berfikir jernih. Harus jadi wanita yang kuat. Kamu gak boleh cengeng disini. Kasihan kan orang tua mu kalau sampai tahu kamu sesedih ini…?” Sekar semakin mengeratkan pelukannya ke dokter Ucy.


Rasa sedih, marah, kecewa dan hancur sedang dirasakan Sekar. Masih bingung jalan apa yang harus dia tempuh untuk kedepannya tanpa Raja. Tapi satu yang dia tahu. Dia tidak bisa lagi berlama-lamaan tinggal di pulau itu. Pergi adalah pilihan yang tepat. Mungkin dengan begitu akan lebih mudah bagianya melupakan Raja.


“Iya kak… Aku harus ikhlas. Aku akan belajar untuk ikhlas…” Rasanya sangat sedih mendengar kata itu. Mulut memang terasa mudah berucap. Tapi prakteknya sudah pasti bagai roller coster jumpalitan. “Dok, bantu aku untuk pergi dari sini. Aku mau balik Jogja aja. Aku gak mungkin lagi bisa disini,” Sekar menatap dokter itu dengan mata yang sudah bengkak. Rasanya teriris-iris melihat adik temannya diperlakukan seperti binatang. Hanya pemuas nafsu dan selebihnya dibuang.


“Yuk! Ikut aku ke Tarempa ke rumahku dulu. Kamu tenangkan hati dan pikiran mu. Kamu gak boleh sesedih ini kalau pulang ke rumah. Apa kata orang tuamu nanti? Mereka pasti kecewa karena gak bisa jagaiin kamu.” Ucapan dokter Ucy itu ada benarnya juga bila dipikir-pikir. “Kamu masih muda, manis, cantik, baik lagi… Aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Raja.” Sekar hanya terdiam mendengar ucapan dokter Ucy


Masa depan yang dia bayangkan bersama Raja sudah terlihat gelap. Akhirnya Sekar menuruti ide dokter Ucy pergi ke Tarempa. Dia harus menjadi perempuan yang lebih kuat lagi.


 


*****


Bersambung…


*****