
Saat ini dokter Ucy sedang berjalan di lorong rumah sakit lantai dua. Dia berjalan untuk menuju lift, melanjutkan rencananya untuk menyapa para dokter dan perawat di lantai 3.
Ting Tung… Suara lift terdengar, pertanda pintu lift akan terbuka. Dokter Ucy yang sedang menunggu pintu lift terbuka menjadi terkejut. Dia melihat wajah pak Ansu yang berada di dalam lift. Cepat-cepat dokter Ucy membalikan badannya untuk menjauhi pintu lift.
“Ucy…” ucap pak Ansu membuat para penumpang lift yang rata-rata dokter dan perawat menoleh ke arahnya. Pak Ansu segera keluar dari lift untuk mengejar dokter Ucy.
Perempuan itu cukup cepat melarikan diri dari pak Ansu. Meski pak Ansu terus-terusan memanggil namanya, tapi dokter Ucy pura-pura tidak mendengar. Dia berlanjut menggunakan tangga untuk menuju lantai dasar. Niatnya untuk berpamitan kepada semua dokter dia urungkan. Dokter Ucy memilih untuk segera keluar dari bangunan rumah sakit.
“Sial… Kenapa sih harus pakai turun tangga? Bikin encok pinggang ku kumat. Huuhhh!” gerutu pak Ansu. Dia terus berusaha mengejar dokter Ucy, meski rasa encok di pinggangnya sudah nyut-nyutan. “Awas kalau aku berhasil menangkap mu! Habis kamu, Cy…” tetap menggerutu dengan memegangi pinggangnya.
Sesampainya di area parkir depan rumah sakit, dokter Ucy menuju motor matiknya. Dari tempat dokter Ucy berdiri, dia melihat pak Ansu yang tertatih-tatih berlarian ke arahnya.
“Ish! Dasar! Mau pamer ya kalau habis main gulat sama madam Lily… Ngapain sih harus nyari aku lagi? Mau ngasih undangan nikahan ya? Gak akan aku datang… Bikin emosi aja,” celetuk dokter Ucy. Dia tergesa-gesa memakai helm. Setelah helm sudah dipakai, barulah dokter Ucy bergegas menyalakan motor untuk pergi dari rumah sakit.
“Mau kemana lagi dia…? Bagus sekali usahnya menghindari ku. Ck!” Pak Ansu mendengus kesal melihat motor dokter Ucy melaju dengan kencang.
Pak Ansu segera masuk ke mobilnya untuk mengikuti dokter Ucy. Tetapi begitu mobil dinyalakan, laju mobilnya terasa berat. Seingatnya, bahan bakar di mobilnya selalu ada dan penuh.
Pak Ansu mulai turun dari mobil untuk mengecek ban mobilnya. 2 ban di bagian belakang terlihat baik. Tapi beda halnya dengan 2 ban mobil bagian belakang. Semua terlihat kempes alias bocor.
“Kenapa juga ini pakai acara bocor segala… Hm! Sial betul hari ini,” celetuk pak Ansu dengan memandangi ban mobil yang bocor. Rencananya untuk menemui dokter Ucy gagal lagi.
Tapi pak Ansu tidak pantang menyerah. Dia meminjam motor ninja milik salah satu karyawan yang bekerja di rumah sakitnya. Tentu saja karyawan itu akan meminjamkannya secara cuma-cuma. Baginya ini adalah suatu kehormatan meminjamkan motor kepada pemilik rumah sakit tempat dia bekerja.
“Bang, saya pinjam dulu ya motornya. Saya akan kembalikan. Itu mobil saya bocor,” ucap pak Ansu.
“Pakai aja pak. Tak masalah. Saya senang bisa bantu bapak.”
Akhirnya pak Ansu bisa melanjutkan niatnya untuk menjumpai dokter Ucy. Dia mengendarai motor ninja itu dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di depan pintu gerbang rumah dokter Ucy, pak Ansu segera turun dari motor untuk memencet bel rumah itu.
TING TONG TING TONG… Sudah beberapa kali pak Ansu memencet bel tapi tidak ada respon dari penghuni rumah itu.
“UCY…! KELUAR…! Saya tahu kamu di dalam.” Pak Ansu merasa kesal karena sudah beberapa menit dia berdiri di depan pintu gerbang, terlihat tidak ada pergerakan di dalam rumah itu. “UCY… BUKA PINTUNYA, SAYA MAU NGOMONG SAMA KAMU,” suara pak Ansu semakin keras sampai salah satu tetangga dokter Ucy keluar dari rumah untuk mengecek.
“Ada apa, pak...? Cari bu dokter…? Apa nya yang sakit?” tanya seorang wanita paruh baya.
“Saya gak sakit... Cuma ada perlu mau ketemu bu dokter,” jawab pak Ansu singkat.
“Tadi saya lihat bu dokter bawa koper terus naik taxi lewat belakang rumah.” Semakin kesal dan gemas saja pak Ansu dengan sikap dokter Ucy. “Katanya sih mau ke bandara, mau pergi ke Batam tempat orang tuanya.”
“Hm… Ke Batam ya…”
“Iya pak. Telpon aja orangnya. Mungkin masih di perjalanan menuju bandara.”
Meski rasanya sudah sangat lelah, malam itu pak Ansu menyusul dokter Ucy pergi ke bandara. Sayangnya setelah sampai di bandara, saat pak Ansu mengcek ke bagian informasi, penumpang bernama Ucy Kumala Sari tidak ditemukan dipencarian sistem.
Akhirnya pak Ansu memutuskan untuk kembali mengecek rumah dokter Ucy. Dirinya lebih mempercayai informasi yang dia dapatkan dari pihak bandara, karena dia menganggap itu lebih akurat dari pada ucapan tetangga dokter Ucy.
Ternyata dugaan pak Ansu memang benar. Setelah sampai di depan rumah dokter Ucy lagi, pak Ansu melihat salah satu lampu kamar yang tadinya mati sekarang terlihat menyala terang.
_____
Malam itu dokter Ucy sedang makan camilan dan duduk di teras atas rumahnya. Biasanya dulu saat pak Ansu sering main ke rumahnya untuk menjenguk Boy dan Gadis, dirinya sering menghabiskan waktu bersama pak Ansu untuk mengajak Boy dan Gadis bermain di tempat itu.
“Duh… mau ngapain lagi sih orang ini datang ke rumah ku? Udah malam pun. Emang gak capek apa mondar-mandir malam-malam gini?” dokter Ucy segera masuk ke dalam rumahnya.
“UCY KELUAR KAMU! Gak usah pakai pura-pura pergi ke Batam. Saya tahu kamu di dalam sana,” ucap pak Ansu membuat tetangga samping rumah dokter Ucy yang tadinya memberi informasi palsu mengintip dari teras lantai duanya. Pak Ansu yang masih ingat wajah wanita paruh baya tadi, memberi tatapan kesalnya.
“Hm… Dari tampangnya ini puber ketiga…” ucap tetangga dokter Ucy. Dirinya mulai masuk ke dalam rumah, tidak mau ikut campur urusan dokter Ucy dan pak Ansu.
Suara pak Ansu yang terus-menerus memanggil namanya itu membuat dokter Ucy mendapat banyak teguran lewat pesan whatsapp dari para tetangganya. Akhirnya dokter Ucy memutuskan untuk menemui pak Ansu sebelum terkena demo dari ibu-ibu kompleks sekitar rumahnya.
“Ucy…” sapa pak Ansu melihat dokter Ucy membuka pintu gerbang rumahnya.
“Ada apa pak?” tanya dokter Ucy dengan santai.
“Kenapa kamu resign dari rumah sakit saya?”
“Em… Mau cari suasana baru aja,” menjawab dengan ekspresi datar.
“Kamu marah ya sama saya?” tanya pak Ansu dengan melangkah lebih dekat di tempat dokter Ucy berdiri.
“Enggak… Saya cuma gak enak aja udah bikin kesalahan. Jadi saya pikir dari pada saya dihantui rasa gak nyaman, mending saya resign aja. Bapak pulang aja. Ini udah malam. Saya mau tidur.” Dokter Ucy mulai menarik pintu gerbangnya untuk segera ditutup. Tapi tangan pak Ansu menghalangi pintu itu.
“Saya mau tahu… Siapa laki-laki pengusaha di bidang kelautan yang kamu sukai?” Semakin malas saja dokter Ucy meladeni pertanyaan pak Ansu. Sudah jelas tanda ciuman di pipi yang pernah dia berikan kepada pak Ansu, menandai dirinya menaruh hati kepada laki-laki itu. Tapi pertanyaan pak Ansu malam ini seolah dirinya tidak tahu. Menjengkelkan, begitulah yang dirasakan oleh dokter Ucy.
“Saya gak mau bahas orang itu lagi, pak. Orangnya udah punya calon yang lebih baik dari saya. Mungkin belom jodoh saya aja… Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya dokter Ucy mulai menarik pelan-pelan pintu gerbangnya.
“Kenapa kamu menghindar dari saya?” tanya pak Ansu membuat dokter Ucy merundukan kepalanya. “Laki-laki yang kamu sukai itu saya kan?”
*****
Bersambung…
*****