
Dokter Ucy ditemani oleh ibu penjual ikan selar masuk ke ruang prakteknya. Sedangkan pakcik menunggu di luar ruangan.
Sekar seakan tidak mau berpisah dengan ibu itu. Raut wajah setengah baya itu mengingatkannya kepada mamanya. Rasanya ingin sekali Sekar ditemani oleh orang tuanya di masa-masa menegangkan seperti ini.
“Mama…! Sakit huft… huft… huft…” Baru 15 menit kontraksi Sekar sudah merasa kelelahan.
“Ayo dek… kamu bisa… Tarik nafas panjang… dorong…” Dokter Ucy melihat Sekar sudah geleng-geleng berkali-kali.
Tak lama kemudian ada dokter spesialis kandungan yang sempat dokter Ucy telpon, akhirnya datang juga. Dokter perempuan itu ikut membantu persalinan Sekar. Keringat sudah bercucuran membasahi pakaian Sekar. Dia mengerahkan seluruh tenaganya. Akhirnya 20 menit kemudian terdengar suara tangisan bayi.
“Oek… Oek…!” Untuk pertama kalinya Sekar mendengar suara tangisan bayinya. Air matanya mengalir menikmati suara tangisan bayinya.
Terimakasih Tuhan, akhirnya anak yang sempat ingin ku aborsi sudah ku lahirkan. Terimakasih… Terimakasih… Untuk kesempatan mendapat anugrah terindah ini. Mama akan menjadi ayah dan ibu untukmu nak… Kita pasti bisa, gumam Sekar dalam derai air matanya.
“Jangan tidur cik Cello…!” ibu penjual selar menggoyangkan lengan Sekar. “Masih ada satu bayi lagi yang belom…!” Sekar terbelalak mendengar ucapan ibu itu.
“Dorong lagi Sekar… Ayo dek… Masih ada satu baby lagi…” Dokter Ucy memberi semangat.
“Huft… Uuuhhhh!” Sekar mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk mendorong si kembar satunya.
Sudah 45 menit Sekar mencoba mengeluarkan bayinya secara normal. Tenaganya terkuras habis. Kedua dokter itu saling berdiskusi untuk mengambil keputusan. Biasanya jarak bayi kembar akan lahir kisaran 10 sampai 30 menit. Tapi ini sudah melewati waktu itu. Kondisi tubuh sang ibu yang sudah kehabisan tenaga juga bisa beresiko untuk nyawa sang ibu. Akhirnya Sekar menuruti saran dokter Ucy untuk melakukan operasi caesar.
Dan setelah 40 menit melakukan operasi, bayi kembar satunya bisa keluar dengan selamat. Ini adalah peristiwa bersejarah bagi ibu penjual ikan selar. Berdiri menemani kelahiran bayi dari perempuan muda yang bukan anaknya. Ada rasa bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya kedua bayi kembar bisa dilahirkan dengan selamat meski dengan 2 cara berbeda. Dan sedih karena melihat perjuangan anak perempuan melahirkan tanpa ditemani satu orang keluarga pun.
“Selamat ya cik Cello… Semoga suami mu cepat balik dari dinas kerjanya. Dia pasti sangat beruntung memiliki bayi kembar cowok cewek.” Ibu itu mengusap keringat di wajah Sekar.
Lima hari kemudian setelah kondisi tubuh Sekar membaik, Sekar mengadakan pesta syukuran. Sekar mengundang para pedagang di pasar untuk merayakan kelahiran anaknya. Sekar juga mengundang pak Djayus dan kedua istrinya untuk berbagi kebahagiaan. Di acara itu Sekar memberi tahukan nama untuk kedua bayinya. Benedictus Boy untuk anak cowoknya dan Gabriella Gadis untuk anak perempuannya.
“Jadi siapa nama panggilannya?” tanya pak Djayus yang tengah menikmati hidangan makanan.
“Boy untuk yang cowok… Dan Gadis untuk yang cewek, pak,” jawab Sekar sambil membopong Gadis.
Sekar menikmati masa-masa cuti yang masih 3 bulan bersama kedua bayinya. Sekar merasa sangat beruntung karena pak Djayus sungguh baik dan perhatian kepada dirinya dan anak kembarnya. Banyak sekali perlengkapan bayi yang dibelikan oleh pak Djayus untuk Boy dan Gadis.
Setelah masa cuti habis, Sekar harus kembali bekerja di resort pak Djayus. Sekar juga menggunakan jasa baby sitter untuk menjaga Boy dan Gadis saat bekerja. Jam kerja Sekar yang dimulai dari sore sampai malam sebagai night entertainment cukup membantu pekerjaan baby sitter. Karena biasanya Boy dan Gadis mudah tidur pada sore hari. Bila tengah malam mereka terbangun untuk minta asi, Sekar sudah ada di rumah. Begitulah hari-hari Sekar di bulan keempat setelah kedua buah hatinya lahir.
Sampai pada suatu hari ayahnya menelpon pada pagi hari.
Tilulit… Tilulit… Tilulit… Suara telpon yang bising itu membangunkan Sekar yang masih tertidur karena rasa lelah. Gadis dan Boy pun ikut terbangun “Oek… Oek…!” Suara keduanya bersahutan. Sekar yang masih setengah sadar meraih handphoennya dan menggeser layar handphone tanpa melihat siapa yang menelpon.
“Hallo? Sekar? Ini apa sih kok oek oek?” Suara ayahnya itu menyadarkan Sekar. “Coba dengar ma… kok Oek oek gini? Apa salah nomor kita?” tanya pak Ram kepada istrinya.
“Iya nih… Kaya suara bayi,” sahut istri pak Ram.
Mendengar suara kedua orang tuanya itu, jantung Sekar berdegup kencang. Dia mengusap dadanya karena rasa kaget. Cepat-cepat Sekar pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
“Hallo ayah, ma? Kok gak kirim pesan dulu sih kalau mau telpon?”
“Halah kamu ni gimana toh? Masa harus pakai kirim pesan segala kalau mau telpon?! Biasanya ora po po loh?” (Biasanya gak pa pa loh) Sekar mulai memijit kepalanya. “Kamu lagi ngapain, nduk? Kok ayah dengar ada suara bayi? Bayi siapa?”
Akhirnya setelah sekian lama Sekar menutupi dari keluarganya, pertanyaan ini muncul juga. Selama Sekar mengandung sampai Sekar melahirkan, dia tidak pernah mengatakan kondisi dirinya kepada keluarganya. Dia masih belum memiliki keberanian untuk jujur kepada keluarganya.
Ayah, ma… Suara bayi ini sebenarnya cucu kalian. Apa kalian akan menerima cucu yang lahir dari hubungan sebelum nikah? Apa kalian akan menyayangi Boy dan Gadis…? Andai mas Raja tidak menelantarkan kami… Kami pasti menjadi keluarga yang bahagia. Tapi ternyata dia lebih memilih perempuan lain. Bahkan aku melihat foto pernikahan mereka di koran lokal sini. Mereka berciuman lagi. Mas Raja terlihat bahagia dengan Mona... Mereka memang serasi. Ganteng dan cantik. Sedangkan aku yang buruk rupa ini harus jungkir balik sendirian. Sekar mengingat masa-masa sulitnya saat hamil. Terlebih setelah kejadian sod0mi itu, Sekar harus menjalani perawatan yang intensif karena sempat ada darah yang keluar dari bagian belakang.
“Itu suara alarm temenku, yah. Ayah kenapa telpon sepagi ini?” Sekar mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ow… gede betul suara alarm nya…? Kaya suara demo...? Hm... Emmm ayah cuma mau ngabari kalau mbak Tia sama pacarnya mau nikah bulan depan. Kamu bisa ambil cuti kan? Udah setahun lebih loh kamu belom pulang.”
Sekar mulai pusing mendengar permintaan ayahnya. Bukan masalah izin cuti yang dia pikirkan. Tapi lebih dikarenakan sekarang sudah ada Boy dan Gadis, sehingga membuat dirinya tidak bisa pergi jauh.
“Iya ayah, nanti aku izin dulu sama atasan aku ya…” jawab Sekar sambil mengintip Boy dan Gadis yang meraung-raung.
“Iya nduk… Eh… kamu sudah punya pacar baru belum? Kamu harus bisa move on cari lelaki lain. Ayah gak mau kamu mikir orang itu terus… Eh… kamu mau gak ayah jodohin sama anaknya pak Joyo? Keren juga dia habis selesai kuliah sih belom kerja… Hm… Eh…!”
“Yah! Eh mulu ah? Aku masih ngantuk ni… Ntar aku telpon lagi ya yah… Salam buat mama sama mbak Tia ya…” Tuutt… Sambungan telpon diputus Sekar.
Sekar sudah tidak tega melihat Boy dan Gadis menangis. Dia Segera mendekati ranjang tempat Boy dan Gadis dibaringkan.
*****
Bersambung…
*****