
Malam harinya, Kasih mengajak Sekar untuk pergi ke butik yang ada di resort itu. Kasih menyuruh Sekar untuk mengambil beberapa set gaun untuk acara makan malam.
“Mahal banget, Kas? Gak salah kamu nyuruh aku ambil ini?” Sekar memekik melihat bandrol harga $450 Sing dollar. “Empat ratus lima puluh ribu rupiah aja aku mikir-mikir… Ini Singapore dollar hlo…” Sekar menggelengkan kepalanya.
“Ya kan emang currency mata uang di resort kawasan Lagoi emang pakai dollar, Kar…” sahut Kasih.
“Bukan masalah currency dari mana… Tapi nominalnya tahu!” timpal Sekar lagi.
“Gak pa-pa, Kar! Anggap aja ini kado dari aku buat kamu… Hihiii. Jangan nolak ah! Demi ayah baru buat Boy dan Gadis.”
Antara senang dan sungkan dirasakan Sekar. Tapi ucapan Kasih membuatnya tidak bisa menolak.
“Ya udah, doa in aja biar aku bisa dapat suami yang baik… Ntar shopping berikutnya aku yang bayarin,” kata Sekar tidak mau terlihat membebani Kasih.
“Terserah kamu, Kar. Yang penting kamu harus terlihat cantik besok malam,” sambung Kasih.
_____
Keesokan harinya, Sekar membawa kedua buah hatinya ke taman rumput depan villa. Sekar sengaja membawa Gadis dan Boy keluar pagi-pagi untuk berjemur. Menyerap vitamin D dari sinar matahari pagi pukul 7:30 – 8:30, sangat membantu untuk memperkuat tulang dan gigi bayi. Termasuk meningkatkan sistem saraf dan imunitas untuk baby twins.
“Sekar…” sapa Raja dengan berjalan menghampiri Sekar. Sekar hanya menoleh sedikit, dan berlanjut tidak mempedulikan Raja lagi.
Raja menatap mata ibu dari anak-anaknya itu dengan intens. Tubuhnya terasa lesu memandangi Sekar. Lama kelamaan, Sekar merasa tidak nyaman dengan cara Raja memandanginya.
“Kenapa?” tanya Sekar membuka pembicaraan setelah beberapa detik saling mematung.
“Kamu serius mau berhubungan dengan Teo?”
Sekar sebetulnya tidak tahu apakah keputusannya itu betul atau tidak. Tapi apa salahnya kan mencoba? Mungkin saja Teo akan menjadi sosok ayah yang baik untuk Gadis dan Boy.
“Hm… Iya,” jawab Sekar. Raja mulai berkacak pinggang setelah mendengar jawaban Sekar. Tidak menyangka Sekar akan berani mengambil keputusan seperti itu.
“Huft… Jam berapa kalian akan kencan?”
“Bukan kencan kok. Cuma makan malam biasa. Lagian juga bukan urusan kamu,” jawab Sekar dengan ketus.
Percuma juga Raja menanyai Sekar. Raja cukup sadar diri, dirinya bagi Sekar bukanlah orang penting lagi. Hanya seorang laki-laki plin-plan tidak bertanggung jawab. Begitulah Raja menafsikan cara pandang Sekar terhadap dirinya.
_____
Akhirnya malam pun tiba. Raja yang sengaja tidak berhenti mengajak Boy dan Gadis bermain, ingin menyaksikan makan malam Sekar dengan Teo di depan villa.
Memang beberapa hari ini, Sekar sengaja membiarkan Raja bermain dengan Boy dan Gadis di dalam kamar. Sekar berharap dengan cara itu, Raja tidak nekat membawa kabur Boy dan Gadis.
“Kamu butuh bantuan buat nyisir rambut?” tanya Raja memperhatikan Sekar yang sedang berada di depan kaca rias.
“Gak usah,” jawab sekar sambil melempar rambutnya. Melihat rambut Sekar yang berantakan tapi sexy terurai itu membuat perasaan Raja semakin tidak tenang. “Sekar…”
“Apa?” Sekar melihat wajah Raja dari kaca riasnya. “Mas Raja kapan check out sih dari sini?” tanya Sekar merasa risih dengan keberadaan Raja. (check out: selesai menginap)
“Selama kamu di sini, aku gak akan check out,” jawab Raja dengan senyum yang berseringai. “Kamu kapan mulai kerja di sini?” tanya Raja balik.
“Minggu depan… Aku keluar ke bawah dulu. Mas Teo kayaknya udah sampai.” Sekar mulai beranjak berdiri dan mengambil tasnya.
Raja mulai mengikuti langkah kaki Sekar. Masih belum bisa merelakan kalau Sekar akan pergi makan malam dengan Teo.
“Sekar…” Raja berdiri di hadapan Sekar. Sekar memandang mata Raja penuh memelas.
“Apa sih?”
“Kamu batalin ya acaranya… Kasihan Boy sama Gadis, kalau nangis gimana?” Raja masih mencari peluang untuk menggagalkan acara makan makan.
“Kan kamu ada di sini, mas… Kalau Boy sama Gadis nangis tinggal ambilin susu botolnya aja yang udah ku siapin di chiller itu…” Sekar menunjuk chiller di dekat sofa. “Aku udah stock susu buat mereka… Mas Raja jagain Boy sama Gadis ya…” Sekar mulai melangkahkan kakinya menjauhi Raja.
Hihiii… Rasanya kok aku suka banget lihat mukanya yang bete… Hehee. Emnag enak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, batin Sekar dalam hati.
“Mmuach… Sini giliran kamu Gadis, sini sini cium mama sayang… Mmmuach… Mama pergi cari ayah buat kalian ya… Hehee… Anak pinter gak boleh nangis ya… ada Papa Raja yang jagain kalian.”
Sial Sial Sial! Raja mengumpat dalam hatinya. Tidak rela… Dan tidak akan pernah rela Sekar mencari ayah baru untuk Boy dan Gadis.
Sekar merasa sangat puas melihat wajah Raja yang kesal.
“Mas… Aku candle light dinner dulu ya sama mas Teo… Jaga Boy sama Gadis ya, mas. Jangan buat mereka nangis,” kata Sekar penuh kemenangan.
Raja benar-benar cemburu malam ini. Ingin menyetubuhi Sekar lagi rasanya tidak mungkin. Raja tidak mau menorehkan trauma yang semakin dalam untuk Sekar.
Akhirnya malam itu Raja memutuskan untuk melihat Sekar dari teras lantai dua dengan meletakkan Boy dan Gadis di bed kecil. Tak lupa juga Raja menyiapkan susu dan alat main Boy dan Gadis agar anaknya itu tidak rewel.
_____
Saat ini Teo sudah siap dengan kemeja warna putih menyambut kedatangan Sekar. Teo yang memang dulu pernah menaruh hati ke Sekar merasa tidak percaya akhirnya dirinya bisa makan malam dengan wanita pujaannya itu. Teo tidak begitu mempermasalahkan status Sekar yang sudah beranak dua. Teo justru salut dengan perjuangan Sekar melahirkan bayi kembar tanpa seorang laki-laki di sampingnya. Itu adalah suatu perjuangan yang luar biasa, karena tidak sembarang wanita bisa berjuang sampai di fase itu.
“Selamat malam Sekar… Cantik banget…” puji Teo.
“E’HEMMM!” sahut Raja dari atas teras lantai dua. Raja memang sengaja menyuruh waiter yang menata meja makan untuk memasang alat perekan suara di bawah meja. Tentu saja dengan kekuatan tip alias duit bisa dilaksanan oleh waiter. (waiter: pelayan laki-laki)
“Jangan dihiraukan, mas. Orangnya emang kayak gitu…” Ucap Sekar dengan senyumnya.
“Iya… Hehee… Eh, sini kubantu narik kursinya.” Teo mulai menarik kursi untuk Sekar.
“BASI BASIII! CARA LAMA…” Sahut Raja dari atas teras lagi.
Sekar dan Teo berusaha tidak menghiraukan ocehan Raja.
“Jangan digubris, mas… Kita lanjut makan yuk…” Ajak Sekar dengan menatap mata Teo yang baru saja melirik Raja di lantai dua.
“Kamu mau makan steak ayam atau steak ikan? Biar aku potongin ya…” kata Teo menawarkan.
“CUIHHH! SOK PERHATIAN…!” Lagi-lagi Raja mengganggu Teo dan Sekar.
Teo semakin tidak suka karena setiap ucapannya dibumbui kalimat sengak dari Raja.
“Sekar…”
“Ya mas? Kenapa?” tanya Sekar.
“Ini bakal jadi makan malam terhororRR sepanjang sejarah ngedate,” celetuk Teo membuat Raja tertawa puas di atas teras. Boy dan Gadis pun ikut tertawa melihat papanya cekikikan.
“Sukurin… Rasain… Emang enak digangguin…!” Kata Raja dengan memperhatikan anak-anaknya. “Kalian dukung papa kan nak? Sini sini tos dulu… Hap! Satunya Gadis tos dulu… Hap! Eyaaa… Kita harus gagalin om Teo buat deketin mama Sekar… Mama Sekar kan Cuma buat papa Raja doang kan, nak… Kalian dukung papa terus ya… Pokoknya kita bertiga adalah tim yang kompak.” Raja merasa didukung oleh kedua anaknya karena senyuman di bibir Boy dan Gadis terus merekah.
Akhirnya makan malam pun selesai. Raja memperhatikan muka masam Sekar ketika menemui dirinya di teras lantai 2.
“Puas...? Udah puas mas Raja gangguin aku sama mas Teo? Ha?!” Sekar memukul lengan Raja. PLAK! PLAK! PLAK! Terus menerus membuat Boy dan Gadis bergulung-gulung cekikikan. Mengganggap kedua orang tuanya sedang bercanda. Padahal ini adalah jurus tangan mengeplak salah satu andalan mama Sekar.
*****
Minum cucu dulu yuk Boy… Gadis… Udah mayem...👶👶👦👧
Biarkan mama papa kalian berantem-berantem manjah...
Bersambung…
*****