
Selesai tahap pemanasan, Raja mengajak istrinya menemui para tamu yang masih melanjutkan pesta. Beberapa dari mereka masih duduk di meja makan malam sambil bercakap-cakap dengan yang lainnya.
“Ben, bisa ambilkan satu botol sauvignon blanc apa aja sama ice cube?” pinta Raja sambil memundurkan kursi untuk Sekar. (sauvignon blanc: salah satu variety white wine/anggur putih yang mengandung alkohol)
“Siap pak. Ada yang lain?” tanya Ben melirik Sekar.
“Kamu mau minum apa, sayang?” tanya Raja ke Sekar. Semua mata yang masih di meja itu memperhatikan kedua pengantin yang terus menunjukan kemesraannya.
“Watermelon juice nya satu ya kak Ben,” jawab Sekar.
“Siap nyonya,” sambung Ben.
Akhirnya Raja dan Sekar menyantap makan malam yang sempat tertunda. Para wanita paruh baya yang masih duduk di meja makan itu memperhatikan betapa perhatiannya Raja ke Sekar.
“Nak Raja…” sapa madam Lily (Ibu dari Galang)
“Ya buk?” Raja menoleh ke madam Lily selagi menaruh udang asam manis ke piring Sekar.
“Jadi gimana? Udah siap malam pertamanya…?” Goda madam Lily dengan senyumnya. Para wanita di meja itu ikut tersenyum memandangi Raja. “Makan yang banyak ya Sekar… Tante lihat stamina suamimu ini hem banget. Badan segede itu pasti rajin olahraga ya? Pakai suplemen gak? Tante mau beliin buat Galang sama menantu tante, si Kris. Hehee… Siapa tahu bisa merangsang hormon-hormon yang lain, supaya nambah cucu lagi... Biar makin rame kalau kumpul-kumpul lebaran.” Raja terenyum mendapat pujian seperti itu.
“Gak ada pakai suplemen kok, tante. Udah emang turunan. Ayah saya waktu muda badannya juga kayak gini. Cuma rajin olahraga dan menjaga asupan makanan,” sahut Raja.
“Ayah mu? Masak? Wah… Tante kenal ayahmu tuh baru 4 tahun terakhir ini. Jadi gak tahu kalau mudanya sekeren kamu. Tapi sekarang juga masih keren kok… Hihiii.” Para wanita di meja itu langsung tertawa melirik ke arah pak Ansu yang sedang sibuk ngobrol dengan pak Ram di meja lain.
“Duh jeng Lily ini makin tua makin menjadi ya… Padahal saya juga udah kedipin pak Ansu hlo tadi,” timpal bu Sarah menahan tawanya.
“Hloh jeng? … Kamu naksir sama Ansu juga ya?” sambung madam Lily lagi dengan senyum lebarnya.
“Cuma mengagumi aja jeng… Masa ya iya kali saya mau saingan sama besan! Hahaaa. Udah tua saya. Jeng Lily aja yang maju,” timpal bu Sarah lagi.
“Hloh? Gak pa pa kalau jeng Sarah juga naksir sama Ansu. Kita ini kan janda-janda. Ansu juga duda. Jadi ya sah sah aja kalau mau bersaing sehat.” Madam Lily semakin mengutarakan pendapatnya.
“Hahaa! Haduuhh… Gak lah jeng! Kamu kan besan saya. Nanti jadi huru hara malah repot. Saya pecinta damai. Saya dukung jeng Lily aja kalau mau maju,” sambung bu Sarah yang kemudian meneguk air mineral.
“Ya silahkan ibu ibu… Saya besannya pak Ansu cuma bisa dukung. Ngak bisa ikut turnamen berebut pak Ansu Hahaa! Bisa diamuk suami saya nanti,” timpal bu Ica membuat gelak tawa di meja itu semakin menjadi.
Dokter Ucy yang mendengar ucapan para ibu-ibu itu mencoba mengikuti suasana. Tersenyum dan menepiskan rasa cemburunya sambil mencuri-curi kesempatan melihat pak Ansu berada. Laki-laki itu nampak sama sekali tidak memiliki rasa untuknya.
Hm… kalau sainganku macam bu Lily yang secantik ini mana bisa aku menangin hati kamu, pak? Cocoklah kalian. Duda sama janda… Ganteng sama cantik… Bu Lily pengusaha resort, bapak pengusaha kapal… Apalah aku ini yang cuma dokter biasa di Pulau kecil Tarakan? Batin dokter Ucy dengan senyumnya. Memandangi madam Lily yang malam itu tampak cantik dengan dress warna hitam.
Tak lama ketika dokter Ucy hening dalam senyuman palsu, handphonenya bergetar. Dilihatnya dari layar depan handphone ada pesan dari Sekar, padahal saat ini Sekar sedang satu meja dengannya.
Sekar
(Kak, aku tetap dukung kamu 🤗 Jangan dengerin para sosialita ini)
Dokter Ucy bisa bernafas sedikit lega karena dirinya memiliki dukungan dari Sekar. Dia tersenyum melihat Sekar sambil mengkerlingkan matanya.
Selesai bersantap hidangan seafood, para tamu disuguhi live music. Malam itu banyak pasangan yang berdansa. Raja dengan Sekar, Galang dengan Kasih, pak Ram dengan bu Ica, bu Sarah ditemani oleh El, Aan dengan Tia dan pak Ansu dengan madam Lily.
“Bu dokter gak dansa? Mau dansa sama saya, bu?” tanya Shan yang berdiri di samping dokter Ucy.
“Hehee. Gak usah Shan. Saya lebih suka jadi penonton aja. Em… saya permisi dulu ke deck atas. Kamu kalau mau dansa ajak om mu Ben tuh…”
Dokter Ucy yang merasa dirinya diabaikan mulai menyembunyikan dirinya dari keramaian. Dia mengambil sebotol anggur merah dan gelas yang ada di sampingnya. Dia mulai berjalan menuju deck atas untuk menikmati kesendiriannya. Duduk di pojok merasakan semilirnya angin.
Cuurrr… Suara anggur merah yang dituang ke gelas oleh doker Ucy siap dia tengguk.
“Paling enak itu ya gak usah main perasaan… Emang salahku dari awal, hah! Mungkin aku digariskan untuk tidak berjodoh di kehidupan ini,” bisik dokter Ucy memandangi gelas anggurnya. Tersenyum, menyindir kehidupannya yang dirasa tidak adil.
Dari tempat dia duduk itu, dia melihat suasana pesta yang masih berlanjut di deck lantai satu. Dia memandangi pak Ansu yang tengah bercakap-cakap dengan madam Lily. Rasanya semakin cemburu disaat keduanya saling mengumbar senyuman.
Sudah 4 jam lamanya dokter Ucy duduk sendirian. Dia memandangi cahaya lampu di pulau Jawa yang tampak berkilauan dengan terus meminum anggur.
Cuurrr… Anggur terakhir dituang oleh dokter Ucy. Tubuhnya terasa panas. Kepalanya juga terasa berat saat ini.
“Huffttt… Pusing… Panas…” Dia meremas kepalanya dengan kedua tangan.
Mengkibas-kibaskan tangan ke area leher dan mukanya yang terasa panas. Dokter Ucy yang saat ini mengenakan blazer, membuka blazer itu dan meletakkannya di lantai deck.
Dia memejamkan matanya karena kepalanya sudah terasa berat karena alkohol. Lebih tepatnya karena dipicu oleh patah hati. Dia tidak mempedulikan tubuhnya yang diterpa oleh angin malam.
_____
Saat ini acara pesta pernikahan masih berlanjut di deck lantai bawah. Tapi ada dari beberapa tamu sudah masuk ke kamarnya karena rasa kantuk.
“Yah... Ayah lihat kak Ucy ngak? Kok dari tadi dia ngak kelihatan?” tanya Sekar kepada pak Ansu.
“…Mmm emang mau butuh apa nyari dia? Kamu butuh obat?” tanya pak Ansu balik.
“Saya cuma mau mastiin aja kalau dia baik-baik aja. Soalnya tadi saya lihat dia ambil sebotol red wine. Habis itu gak kelihatan lagi deh. Takutnya dia kecemplung di laut, terus gak ada yang tahu,” jawab Sekar sambil menengok setiap orang yang berdiri.
Tak lama kemudian Raja datang menghampiri Sekar dan ayahnya.
“Kenapa sayang? Kamu nyari aku?” tanya Raja dengan mengusap punggung belakang Sekar.
“Mas?” Sekar menoleh ke arah suaminya.
“Masuk yuk ke kamar... Kasihan Boy sama Gadis. Kita harus cek mereka, siapa tahu mereka kebangun dan nangis. Yuk?” bujuk Raja dengan gaya mengkerlingkan matanya. Sekar sudah cukup paham kode berkedip-kedip itu.
“Betul kata Raja. Kalian cek anak kalian. Biar saya yang ngecek Ucy. Lagian ini udah larut malam, waktunya istirahat. Raj, ajak istrimu ke kamar,” pak Ansu menepuk bahu Raja. Dia menggunakan kesempatan itu untuk memeluk anaknya. “Sekali lagi ayah ucapkan selamat menikah. Kamu harus jaga Sekar. Jangan sampai kamu membuatnya menangis lagi.”
“Pasti ayah. Aku akan menjaganya. Ayah tahu sendiri, aku hampir gila mendapatkannya kembali.” Raja tersenyum lega setelah sekian lama tidak berpelukan dengan ayahnya, malam ini keakraban antara ayah dan anak itu semakin erat terjalin.
“Ya sudah, sana cepat masuk ke kamar. Buat cucu baru untuk saya ya, Sekar.” Pak Ansu mengusap kepala Sekar.
“Hehee… Tergantung sama mas Raja itu, Yah,” sambung Sekar.
“Kalau tergantung aku, berarti malam ini kamu harus nurut,” bisik Raja membuat bola mata Sekar terbelalak. “Ya udah, Yah. Aku ajak Sekar ke kamar.”
“He'em… Enjoy...!”
Raja mulai meraih tangan istrinya untuk berjalan menuju kamar. Menggenggam erat telapak tangan istrinya membuat para awak kapal yang melihat itu ikut bahagia.
“Happy wedding pak!” ucap salah seorang karyawan.
“Thanks!” jawab Raja dengan senyumnya.
“Selamat ya pak, buk!” ucap karyawan lain.
“Thanks!” Sekar hanya mengangguk, masih canggung menjadi nyonya baru. Hal itu karena beberapa karyawan itu adalah teman kerjanya dulu.
“Pak…” Kali ini Shan menundukan kepalanya di hadapan Raja. “Keep fighting! CayoOO CayoOO! Cayo bu Sekar!” ucap Shan penuh semangat dengan gaya Korean style nya.
“Apa maksudnya?” tanya Raja heran dengan tingkah Shan.
“Maksudnya semangat bikin dedek baru… Hihiii.” Shan menggaruk kepalanya.
“Kamu ini sok tahu…Ck..." Raja tersenyum mengingat hari-harinya saat mencari Sekar bersama Shan. "Sana kamu lanjut baca novel aja!” Sebetulnya Raja sangat senang sekali dengan asisten pribadinya yang tidak banyak pengalaman itu. Shan adalah salah satu penghubung alias jalan baginya menemukan dan menyelami isi hati Sekar.
*****
Em… Enaknya pak Ansu sama madam Lily atau dokter Ucy ya…
Bersambung…
*****