Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Sundel Bolong



Akhirnya setelah melakukan banyak gaya pada malam pertama, pak Ansu mengajak istrinya untuk tidur. Dia memeluk tubuh kecil istrinya yang sudah kelelahan melayaninya.


Pada tengah malam, suara handphone pak Ansu bergetar-getar karena menerima pesan di whatsappnya. Sebetulnya dia sangat malas untuk menanggapai handphone miliknya. Tapi karena nada panggilan berdering beberapa kali, pak Ansu meraih handphonenya. Tapi sayangnya saat akan diangkat, panggilan itu berhenti.


“Hm… Banyak kali dia kirim pesan…” bisik pak Ansu dengan mengecek layar depan handphone. Dia meletakkan handphone miliknya ke atas nakas lagi dan berlanjut untuk memeluk tubuh istrinya yang sudah terlelap tidur.


_____


 


Keesokan harinya, pak Ansu terbangun dari tidurnya. Dia mencium bau masakan yang berasal dari dapur.


“Hm… Harumnya. Masak apa si Ucy? Dari baunya sepertinya enak,” mulai menurunkan kakinya ke lantai. Dia melangkahkan kaki untuk menyusul istrinya ke dapur. “Cy, good morning…”


“Mas… Good morning. Baru bangun ya?” sapa dokter Ucy yang sedang sibuk memindahkan hasil masakan ke piring. “Aku masak nasi goreng seafood. Sisa seafood kemarin aku masak lagi jadi kayak gini. Hihiii… Semoga kamu suka,” ucap dokter Ucy dengan menaruhkan 2 piring yang berisi masakannya ke meja makan.


“Humm… looks tasty dari baunya,” memuji masakan pertama dari istri barunya. “Kita makannya di teras depan yuk… sambil duduk-duduk santai di jaring-jaring sana,” ajak pak Ansu dengan membawa kedua piring itu.



Mereka menuju teras depan. Pak Ansu menebarkan selimut di atas jaring agar nyaman saat duduk. Keduanya menikmati breakfast bersama untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka. Selesai makan, mereka duduk rebahan di tempat itu dengan saling bercerita.


“Mas, itu kenapa dari tadi handphone kamu bergetar terus?” tanya dokter Ucy penasaran saat dirinya memakai perut suaminya sebagai bantal.


“Biarin aja. Gak usah kamu pikirin,” jawab pak Ansu dengan mengusap-usap leher dan telinga dokter Ucy.


“Nanti kalau penting gimana? Paling tidak kamu balas pesannya atau kalau tidak kamu angkat panggilannya,” celetuk dokter Ucy.


Karena petuah istrinya itu, pak Ansu membalas pesan yang berasal dari Mona. Wajahnya cukup serius saat mengetik di layar handphone. Sudah beberapa kali pak Ansu membalas setiap pesan yang dikirim Mona, tapi perempuan itu tetap terus-terusan mengirim pesan ke pak Ansu. Dokter Ucy pun merasa risih degan handphone suaminya yang bergetar terus-menerus.


“Siapa sih, mas? Kok dari tadi gak selesai-selesai?” tanya dokter Ucy ikut mengintip layar handphone suaminya.


“Katanya tadi suruh balas. Sekarang aku balas, kamu malah cemberut gini,” jawab pak Ansu.


“Masak udah 5 menit tetap dret dret dret Hp nya? Soal kerjaan ya?”


“Bukan kerjaan. Ini pesan dari si Mona,” jawab pak Ansu membuat dokter Ucy menjauhi suaminya. “Kok duduknya geser?” pak Ansu berusaha meraih tubuh istrinya tapi perempuan itu tidak mau.


Ish! Kenapa sih ada sundel bolong lagi harus muncul ke permukaan? Mau apa dia ngirim-ngirim pesan ke mantan mertuanya? Kadar insecure dokter Ucy meningkat karena Mona lebih muda darinya.


“Jangan sentuh-sentuh! Kamu ada hubungan apa sama perempuan itu?” tanya dokter Ucy dengan nada sewot.


Wajah cemburu dari istrinya itu membuat pak Ansu gemas. Dia tersenyum tipis menanggapi kecemburuan istri mudanya. Tangan pak Ansu mulai mencolek dan mencubit-cubit pantat istrinya.


“Cy… Hihiii...”


“Ish! Malas ah kalau punya suami banyak fans kayak gini. Bikin hati gak tenang,” celetuk dokter Ucy dengan masih membuang mukanya.


“Pantatmu agak geseran sini…” menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. “Jangan jauh-jauh,” merangkul erat meski tubuh istrinya tidak mau dipeluk. “Kamu ini cemburuan banget sih. Kemarin sama Lily kamu cemburu. Sekarang aku balas whatsapp Mona kamu cemburu.” Pak Ansu mendaratkan ciuman ke bibir istrinya. “Gimana? Masih tetep marah meski udah dicium?”


“Iya!” masih tetap ngambek karena rasa curiga belum mendapat penjelasan. “Emangnya ngirim pesan apa dia?” tanya dokter Ucy.


“Ucy Ucy… Nih… baca sendiri,” pak Ansu memberikan handphone ke istrinya. “Si Mona dari semalem whatsapp buat minta tolong ngebujuk El agar mau maafin dia. Terus aku cek ke El emang dia mau menerima ajakan Mona buat balikan lagi. Tapi El masih mau mengulur waktu biar Mona bisa lebih berubah lagi menjadi yang lebih baik,” jelas pak Ansu sambil mengusap-usap rambut istrinya.


“Ow…”


“Hm… A O A O aja kamu sekarang. Makanya jangan asal nuduh. Kadar cemburunya dikurangi dikit… Aku kalau mau main serong juga pilih-pilih yang kualitasnya bagus,” mulai bercanda membangunkan tekanan darah tinggi istrinya naik lagi.


“Ish! Kamu ni kalau ngomong hati-hati! Awas kalau sampai berani main serong…”


“Hahahaaa… Iya-iya. Jangan mikir negatif-negatif lagi. Aku gak mungkin main serong. Punya istri muda satu aja ternyata cemburuan. Gimama mau main serong kalau galaknya kayak gini...” celetuk pak Ansu kembali mendaratkan ciuman ke bibir istrinya.


_____


Begitulah Honeymoon pak Ansu dan dokter Ucy selama 2 hari 2 malam. Setelah itu mereka kembali ke resort One & Only Reeti Rah ke villa pertama kali mereka menginap. Dokter Ucy cukup lelah setelah honeymoon di villa tengah laut.


“Huft… Akhirnya kita balik lagi di sini,” celetuk dokter Ucy dengan melempar tubuhnya ke bed. Begitu pun pak Ansu. Dia mengikuti istrinya untuk berbaring di tempat tidur.


Tapi baru saja mereka beristirahat sejenak, keduanya harus terbangun lagi karena ada suara ketukan pintu dan bunyi bel di villa mereka.


“Grandpa… Oma…” Suara Gadis dan Boy terdengar sampai dalam kamar. “Grandpa… Oma…” Keduanya saling bersahutan menggedor pintu.


“Sayang, jangan gedor-gedor pintu. Ini mama udah pencet belnya,” ucap Sekar melerai halus kedua anaknya.


Tak lama kemudian pak Ansu membukakan pintu untuk kedua cucunya. Dia mempersilahkan Raja, Sekar dan kedua cucu kembarnya untuk masuk ke dalam villa.


“Gendpa…! How a you? Eviting is okey?” sapa Gadis dengan memeluk kaki pak Ansu terlebih dahulu.


“Ini grandpaku! Jangan peluk-peluk!” Terjadilah peperangan antara Boy dan Gadis mencari perhatian.


“Everything is awesome! Sekarang udah pinter cucu grandpa ngomong bahasa bule,” celetuk pak Ansu dengan mengusap pipi gembul Gadis. Anak kecil itu tersenyum manis mendapat pujian.


“No No Nooo! Boy juga bisa speaking Inggis! Boy juga jago gak cuma adis aja!” anak kecil laki-laki itu mulai protes lagi.


“Hahaaa! Iya… Cucu-cucu grandpa emang pinter. Smart like (seperti) grandpa,” pak Ansu memeluk kedua cucunya itu.


“Apa kabar, Yah? Mana mama?” tanya Raja.


“Dia ada di dalam. Katanya badannya capek. Yok masuk!” ajak pak Ansu dengan membuka pintu lebih lebar.


Mereka semua mulai masuk ke dalam villa. Dokter Ucy yang mendengar suara Boy dan Gadis menjadi terbangun. Dia menyambut kedatangan mereka.


“Waah… Pada datang rupanya. Sini peluk dulu,” ucap dokter Ucy mengadahkan tangannya untuk Boy dan Gadis. Seperti biasa keduanya saling berebut lagi mendapat jatah pelukan terlebih dahulu. “Haduh… Jangan rebut-rebutan gitu. Nanti dapet jatah peluk kok dari Oma,” ucap dokter Ucy membuat semua orang dewasa tersenyum.


Hihiii untung dia ingat kalau sudah jadi oma, batin Sekar dengan melingkarkan tangan ke lengan suaminya.


“Yah, aku sama Sekar pesan private grilled barbeque on the beach dengan api unggun. Kalau kalian mau, kita bisa dinner sama-sama malam ini,” ucap Raja membuat pak Ansu memandang istrinya.


“Gimana ma? Kamu mau join sama mereka?” tanya pak Ansu.


“Aku sih mau-mau aja. Apalagi makannya sama Boy ama Gadis… Ya kan sayang...” dokter Ucy kembali memeluk kedua cucunya.


“Hihiii iya, oma…” sambung Boy dan Gadis.


_________



Akhirnya sore itu mereka menuju tepi pantai tempat lokasi private barbeque yang dipesan oleh Raja. Keempat orang dewasa itu memandangi Boy dan Gadis yang sedang bermain api unggun dengan ditemani oleh karyawan resort.


“Raj, semalem ayah diwhatsapp sama Mona.” Pak Ansu membuka pembicaraan. Setiap pasang matang yang duduk di meja itu mulai memandangi pak Ansu. “Dia bilang mau balikan lagi sama El. El juga udah bilang kalau dia mau menerima Mona kembali. Tapi El masih menunggu waktu yang tepat. Gimana menurutmu?” tanya pak Ansu.


“Yah…” Raja mulai menggenggam tangan Sekar. “Aku sih gak masalah. Kalau mereka mau menikah juga aku dukung. Lagian aku sudah punya Sekar. Mungkin jodoh kita waktu itu tertukar,” ucap Raja memuat Sekar sedikit tidak sependapat.


“Apanya yang tertukar mas…? Aku kan gak pernah sama bang El!” sahut Sekar dengan tampang mengejek.


“Iya-iya… Jangan ditekuk lagi mukanya, sayang... Pokoknya aku cuma punya kamu,” Raja merangkul pinggang Sekar yang duduk bersebelahan dengannya.


“Hahaaa… Kamu ini, mirip sekali sama mama mertuamu ini. Suka cemburu,” celetuk pak Ansu memandangi tingkah laku Raja dan Sekar.


“Ya pokoknya gitulah, Yah. Aku sama Sekar dukung mereka kalau mau menikah. Ayah jangan pusing-pusing mikir hal itu. Yang lebih penting sekarang, ayah perlu mikirin minta restu nenek dan kakek tiri aku. Kan waktu itu ayah bilang mau nikah lagi pakai adat Indonesia,” celetuk Raja mengingatkan ucapan Ayahnya yang tempo hari ingin menggelar pesta pernikahan dengan salah satu adat di Indonesia.


Hm… Sampai lupa aku belum minta restu dari orang tuanya Ucy. Huft… Semoga mereka gak kaget sekalinya ku peristri anaknya, mereka mendadak jadi kakek nenek buyut, batin pak Ansu dengan mengusap kepala istrinya.


Setelah percakapan itu, mereka berlanjut menuju tempat pembakaran ikan dan daging barbeque yang berada di sebelah tempat duduk mereka.


 


*****


Bersambung…


*****