Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Nikah-Nikahan



Karena rasa nyeri yang tak kunjung reda, Pak Ansu memilih untuk merebahkan tubuhnya. Dia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua. Pinggangnya benar-benar sudah tidak bisa diajak bekerjasama malam ini.


“Huft… Mungkin ini teguran agar aku menikahi mu dulu baru bisa enak-enak…” ucap pak Ansu dengan memeluk tubuh dokter Ucy.


Dia mengecupi rambut… telinga… dan pipi dokter Ucy sambil sesekali menahan rasa nyeri yang nyut-nyutan.


_____


 


Keesokan harinya, pak Ansu mendengar suara telpon kamar berdering. Tangannya sebenarnya masih malas untuk mengangkat gagang telpon.


Tululut… Tululut… Tululut…


“Hm… Mengganggu saja lagi enak-enak main susu kenyal,” menggerutu karena aktifitas olahraga jarinya terganggu. Tapi mau tidak mau pak Ansu harus mengangkat panggilan telpon itu. “Hallo…” sapa pak Ansu. “Hallo…?” masih menunggu sahutan dari si penelpon.


“Ayah…?” Si penelpon justru kaget mendengar suara pak Ansu.


“Iya, ini ayah, Sekar…” jawab pak Ansu.


“Kenapa?” pertanyaan ‘kenapa’ ini justru yang ingin dilontarkan Sekar. Kenapa sampai bisa ayah mertuanya itu ada di kamar dokter Ucy?


“Em… Betulan kan ini ayah?” Sekar masih tidak percaya.


“Iya… ini saya… Garandpanya Boy sama Gadis.” Sekar mulai percaya kalau orang yang sedang berbicara dengan dirinya adalah pak Ansu.


“Mau ngomong sama Ucy ya?”


“Hehee… Iya sih, Yah. Mau ajak kak Ucy breakfast di restaurant,” jawab Sekar sambil melirik suaminya yang ikut penasaran.


“Oh… breakfast ya… Huaamm…” pak Ansu menengok jam tangan di atas nakas. “Kalian duluan aja breakfast. Ucy masih tidur. Semalam kita minum sampai larut malam,” jawab pak Ansu membuat pikiran Sekar bertravelling membayangkan apa saja yang terjadi antara dokter Ucy dengan ayah mertuanya. “Nanti biar saya pesan makanan dari room service buat Ucy.”


“Ow… Iya Yah. Saya pergi sama mas Raja aja. Maaf ya, Yah… Ganggu tidurnya. Selamat tidur lagi…”


“Iya… Sampai jumpa nanti.”


Panggilan telpon pun selesai. Pak Ansu kembali memeluk tubuh dokter Ucy. Dia berlanjut Mendaki gunung menuruni lembah dan menggoyangkan jarinya di Samudra sampai samudra itu meluap membasahai jarinya.


“Ah…” dokter Ucy menggeliyat lebih dekat ke tubuh pak Ansu. Dokter Ucy semakin mempererat pelukannya dengan mengusap-usapkan hidung ke dada pak Ansu.


Apa ini…? Kenapa banyak bulu di bantalku? Gumam dokter Ucy dengan kesadaran yang mulai pulih.


Karena rasa penasaran, dokter Ucy membuka matanya.


“HAH…? Pak Ansu?” membelalakan mata sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk.


“HAH?! Kenapa bapak telanjang? Semakin kaget melihat pak Ansu yang tidak memakai apapun. “HUAAAAAA…???” Dokter Ucy melempar bantal ke muka pak Ansu karena dirinya bertambah kaget saat menyadari tubuhnya tidak memakai apapun. “Bapak perkosa saya ya…?!” dokter Ucy menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Pak Ansu mendelik memikirkan sikap dokter Ucy yang menurutnya aneh. Bukannya perempuan ini menyukaiku? Lalu apa salahnya jika aku menidurinya? Kenapa reaksinya jadi begini? Batin pak Ansu memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang dilemparkan dokter Ucy.


Dalam hitungan detik, ada sebuah ide genius yang melintas di pikiran pak Ansu.


“HUAAA…” pak Ansu ikut menjerit sambil merebut selimut yang dipegang dokter Ucy. “Kamu yang perkosa saya semalam.”


GLEK!


“Ha...? Saya perkosa bapak?” kali ini dokter Ucy yang mendelik. Dia berusaha mengingat-ingat bagaimana caranya dia memperkosa laki-laki. Selama hidupnya 38 tahun ini dia tidak punya pengalaman dalam berhubungan badan. Lalu bagaimana mungkin dia sampai memperkosa laki-laki?


“Kamu yang memperkosa saya semalam. Masa gak ingat…?” Keduanya saling beradu pandang. Pak Ansu cukup terhibur melihat ekspresi lucu dokter Ucy. Perempuan itu seolah-olah mempercayai kalau dirinya betul-betul memperkosanya. “Kamu harus tanggung jawab! Kamu harus nikahin saya!”


Seumur-umur baru kali ini ada laki-laki minta dinikahi karena diperkosa. Bukan kah laki-laki tidak akan hamil? Lalu apa yang harus dipertanggung jawabkan? Toh, pak Ansu bukan perjaka ting-ting lagi. Apakah ini adalah hari kebalikan seperti di dunia spongebob? Semua terasa aneh bagi dokter Ucy. Secara dirinya lah yang seharusnya merasa dirugikan. Keperawanan nya sudah hilang tanpa mengetahui bagaimana prosesnya.


“Huft… Tapi kan bapak sudah punya bu Lily… Lagi pula saya yang mungkin hamil kalau saya memperkosa bapak. Saya gak mau nikahin anda. Saya gak mau jadi istri kedua!” celetuk dokter Ucy dengan muka kesalnya. Dia membuang muka tidak mau melihat wajah pak Ansu di hadapanya.


Lucu sekali sih dia ini… Hahaaa Siapa juga yang mau menjadikannya kedua… Ucy Ucy… gumam pak Ansu semakin gemas.


“Cy… Kamu gak ingat betulan?” tanya pak Ansu dengan senyum tipis di bibirnya. Dokter Ucy hanya menoleh sesaat dan membuang pandangannya ke arah lain. Dia masih berusaha mengingat bagaimana caranya dia memperkosa pak Ansu.


“Cy…” pak Ansu membuka kotak perhiasan di depan dokter Ucy. Tentu saja kilauan berlian yang cukup menarik mata membuat dokter Ucy melirik ke kalung berlian yang ada disana. “Mau kah kamu menikah denganku?”


Deg… Serrrrrr… Jantung dokter Ucy serasa melompat lompat kegirangan.


Pertanyaan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh dokter Ucy dalam mencari jodoh, akhirnya didengarnya juga. Apalagi dia mendengar dari laki-laki yang dia cintai. Tapi… Bagaimana dengan ibu Lily? Apakah pak Ansu berniat memiliki 2 istri?


“Cy…”


“Kenapa pak?”


“Kok gak dijawab…? Kamu mau kan menjadi neneknya Boy sama Gadis?” tanya pak Ansu dengan memperhatikan tangan dokter Ucy yang terus menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Em… Terus gimana dengan bu Lily?” Pak Ansu tersenyum gemas mendengar pertanyaan dokter Ucy.


“Aku sama Lily gak ada apa-apa. Kita cuma berteman.” Dokter Ucy merasa senang mengetahui kalau pak Ansu dengan ibu Lily tidak ada hubungan spesial. “Kamu Mau kan menikah dengan ku?”


Tak lama setelah pak Ansu melontarkan ajakannya lagi untuk menikah, dokter Ucy mengangguk-anggukan kepalanya. Rasa senang pak Ansu bukan main karena dirinya akan menikahi wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.


Pak Ansu mulai mengambil kalung dari kotak perhiasan dan memakaikan ke leher dokter Ucy. Senyum kebahagian merekah diantara keduanya.


“Terimakasih, pak,” ucap dokter Ucy masih malu-malu. Dokter Ucy memegangi liontin yang menggantung di lehernya sekarang.


“Kamu suka?”


“Iya, pak. Saya suka,” jawab dokter Ucy dengan memberanikan dirinya menatap mata pak Ansu.


“Panggil saya abang atau mas… Rasanya aneh calon istriku masih manggil pak.” Pak Ansu semakin membuat tubuh dokter Ucy merinding saat tangannya menyentuh di bahunya.


“Jangan sentuh-sentuh dulu mas… Kita kan belum nikah…” ucap dokter Ucy dengan memegang tangan pak Ansu yang mulai berkelana.


“Kan kamu sudah perkosa saya semalam…” mencari celah untuk menipu calon istrinya.


“Gak mungkin!” Meski dokter Ucy terus mengelak, pak Ansu tetap mendekatinya sampai badan mereka berhimpitan.


“Iya… Coba ingat-ingat!” semakin menggoda perempuan di depannya.


Meski dokter Ucy mencoba mengingat kejadian apa yang sebenarnya terjadi semalam, tapi memorinya itu hanya mentok saat dirinya menantang berciuman dengan pak Ansu. Selanjutnya dia masih belum bisa mengingat kejadian apa yang terjadi semalam bersama pak Ansu.


“Mas… Jangan gini dong… Kita nikah dulu ya…” Dokter Ucy menjauhi bibir pak Ansu yang sudah siap melahapnya.


“Mau tanggal berapa kita nikah?”


“Em… Saya tanya orang tua saya dulu boleh? Takutnya mereka gak setuju…” Masih sok jual mahal meskipun kedua orang tuanya selalu menghantui dengan pertanyaan… ‘KAPAN KAMU NIKAH?’… ‘MANA CALON KAMU?’


“Kok gitu?” Pak Ansu mulai cemas dengan masalah restu dari orang tua dokter Ucy.


“Gimana kalau kita nikah dulu disini?”


“Nikah disini?” tanya dokter Ucy penasaran.


 


“Iya… Nikah-nikahan ala European Style yang banyak dilakukan saat holliday. Biar dapat Certificate Of Marriage yang legal… Kalau udah dapat sertifikat itu kan mau gak mau orang tua kamu setuju…” ucap pak Ansu membuat dokter Ucy berfikir keras. Padahal awalnya dia cuma mau menakut-nakuti pak Ansu. Tapi ternyata justru ditanggapi secara serius. “Nanti kalau udah sampai Indonesia, kita nikah lagi pakai adat yang kamu suka.” Membujuk terus pantang menyerah. “Mau ya?”


“Em…”


 


*****


Bersambung…


*****