Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Pingsan



Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit, Raja memarkirkan yachtnya di dermaga depan pasar dekat rumah dokter Ucy. Raja berjalan lebih cepat dari Shan untuk segera menjumpai Sekar di rumah dokter Ucy. Sayangnya sesampainya Raja di depan rumah dokter Ucy, pintu gerbang rumah itu digembok. Beberapa kali Raja memencet bel namun tidak ada orang yang keluar membuka pintu.


Raja mencoba menghubungi nomor handphone dokter Ucy, tapi nomor itu sepertinya sedang tidak aktif. Akhirnya Raja memutuskan untuk menunggu di depan pintu gerbang. Sudah sekitar 2 jam lamanya Raja dan Shan menunggu di depan rumah itu. Shan yang merasa kehausan, mencoba mencari minuman dengan memasuki pasar yang ada di depannya.


Para pedagang di pasar yang melihat kedatangan Shan langsung memasarkan dagangannya. Meskipun tidak tahu apa yang dicari Shan.


“Ikannya ikan selar masih segarrrr… Fresh fresh harum harum yok ayok dibeli… Lobsternya mari mari…”


“Buk, pedagang es jusnya kemana?” tanya Shan kepada ibu penjual ikan.


“Ow, mau pesan es jus ya…? Tunggu dulu… Kak jus buah lagi beli plastik. Bentar lagi datang,” jawab ibu itu dengan ramah.


“Ya buk, saya tunggu.” Selagi Shan menunggu, dia mencoba bertanya tentang kapan pemilik klinik depan pasar itu buka kembali. “Buk, boleh numpang tanya tak? Em… Kira-kira kapan ya klinik depan pasar ini buka?”


“Klinik berobat punya dokter Ucy ya maksudnya?” tanya penjual ikan memastikan.


“Betul. Yang depan itu. Kapan kira-kira buka?”


“Biasanya sih jam segini dokter Ucy buka… Tapi kayanya tak buka lah buat hari ini. Dia antar anak cik Cello ke rumah sakit. Baby girlnya lagi demam tinggi.”


“Oo… Rumah sakit sebelah mana, buk?” tanya Shan semakin senang mendapat informasi untuk Raja.


“Ada tuh… Rumah sakit paling ujung sana,” jawab ibu itu dengan menujuk arah kiri.


“Makasih buk makasih infonya… Saya permisi dulu. Es jusnya lain kali aja.”


Shan segera beranjak keluar dari pasar. Dia dengan sangat bangga berjalan menghampiri bosnya lagi untuk memberi informasi yang dia dapat.


“Pak, kata orang di pasar, dokter Ucy lagi di rumah sakit antar anak cik Cello yang sakit demam. Bisa jadi orang bernama cik Cello itu adalah bu Sekar tunangan bapak. Secara tunangan bapak suka main cello. Saya sangat yakin itu. Saya masih ingat bu Sekar menuliskan hobbynya itu di novel. Mari pak kita cek ke rumah sakit di ujung barat,” ajak Shan.


Raja yang sudah berkeringat berdiri di depan pintu gerbang itu mulai tersenyum mendengar informasi dari Shan. Selama Shan bekerja dengan Raja, tidak pernah ada hasil kerjaan dari Shan yang bisa dibanggakan. Kali ini Raja harus mengapresiasi hobby Shan membaca novel di aplikasi Noveltoon.


“Ayo kita kesana!”


Raja dan Shan segera menuju ke rumah sakit di ujung barat menggunakan yacht. Dalam pikiran Raja terlintas… Bukankah itu rumah sakit milik ayahnya? Apa jangan-jangan selama ini ayahnya tahu keberadaan Sekar…? Lalu... Kenapa ayahnya tega sekali tidak memberi tahunya? Beberapa pertanyaan itu membuat Raja semakin kesal dengan sikap ayahnya. Padahal selama ini Raja tahu kalau dirinya dimata-matai oleh Ben asisten pribadi ayahnya. Sehingga seharusnya ayahnya tahu kalau dirinya sudah hampir gila mencari Sekar.


Pertanyaan yang tidak kalah melintas terus di benaknya adalah… Sakit apa anaknya sampai dibawa ke rumah sakit? Apakah anaknya memiliki penyakit serius? Raja semakin mempercepat laju yachtnya.


Akhirnya setelah kurang lebih 5 menit perjalanan menggunakan yacht, Raja dan Shan sampai di rumah sakit ujung barat Tarempa.


“Pak Raja, saya mau beli minum disana. Bapak duluan aja masuk ke rumah sakit. Nanti saya susul…” Kata Shan sambil melangkahkan kaki keluar dari yacht dan menunjuk toko di samping rumah sakit.


“Ok. Saya duluan.”


Raja mulai memasuki bangunan rumah sakit. Wajahnya yang cukup dikenal oleh karyawan rumah sakit milik ayahnya itu disambut dengan ramah. Raja bertanya tentang pasien balita yang ibu kandungnya bernama Brigitta Sekar.


“Sebentar ya mas saya cek… Emmm… Balita yang namanya Gabriella Gadis ada di ruang rawat VIP 17,” kata petugas resepsionis rumah sakit.


“Di lantai 2, mas. Habis keluar dari lift, lurus… belok kanan sampai mentok. Kamar VIP 17 ada di ujung.”


“Ok. Thanks”


Raja segera berjalan menuju ruang VIP 17 tempat anaknya dirawat.


Jadi anak ku adalah perempuan. Pasti dia sangat cantik seperti mamanya. Ayah datang nak… Batin Raja dalam hati saat menaiki lift.


_____


Sore itu Sekar sedang duduk di ruang VIP 17 menunggui anaknya yang terlelap tidur. Di ruangan itu hanya ada Sekar dan anaknya. Karena dokter Ucy, pak Ansu dan Boy sedang belanja di toko sebelah rumah sakit untuk mencari cemilan dan minuman botol.


“Dek, kamu harus sembuh ya dek. Mama sangat sayang sama kamu. Pokoknya mama mau kamu cepat sembuh dan sehat lagi. Mama janji gak akan pergi jauh-jauh lagi. Cepat sembuh ya nak ya…” bisik Sekar sambil berdiri di samping tempat tidur Gadis.


Tak lama kemudian Sekar mendengar suara pintu di kamar itu terbuka. Sekar membalikan badannya untuk melihat siapa yang datang ke ruang rawat anaknya.


Laki-laki bertubuh tegap dengan rambut yang sudah gondrong dan kucel itu berjalan cepat menghampiri Sekar. Yah, dia adalah Raja. Sekar yang teringat dengan bayangan kekejaman Raja di masa lalu membuat tubuhnya menegang dan kaku. Nafasnya tercekat melihat wajah Raja yang sudah ada di depan matanya.


Raja yang sudah dilanda rindu yang teramat dalam kepada Sekar menghamburkan pelukannya dan mendekap tubuh Sekar dengan erat. Air matanya kembali tumpah merasakan betapa hangat dan harumnya aroma tubuh Sekar. Setelah sekian lama akhirnya dia menemukan Sekarnya. Raja sadar tubuh Sekar mulai meronta dalam pelukannya. Sekar yang tiba-tiba kesusahan bernafas sampai tidak bisa berkata apapun. Sekar berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir Raja yang mulai mencium keningnya.


“Aku merindukan mu Sekar… Aku sangat merindukan mu…” bisik Raja memandangi wajah Sekar yang menutup rapat matanya.


Raja tidak tahu betapa ketakutannya Sekar saat ini. Bayangan kekejaman Raja saat menyod0mi… ‘Sakit… Sakit… Aku hamil mas… huuUUuu Jangan… jangan…’... ‘Dasar Pelacurrr!’ dan ucapan Mona… ‘Aku mau balik sama kamu, mas... Hiks… Hiks… Apa bisa kita lanjutin rencana nikahan kita dulu?... Iya… Iya… Memori menyakitkan yang membekas di hati dan pikiran Sekar terkuak kembali.


Air mata Sekar mulai mengalir sambil menghindar dari bibir Raja yang mulai menelusup lehernya. Sekar sangat takut jika Raja kembali melakukan hal-hal gila seperti dulu.


Sementara itu Raja yang sudah dibakar rasa rindu menikmati betapa hangatnya memeluk tubuh Sekar. Raja mengirup dalam-dalam aroma tubuh Sekar.


“Aku akan membawamu kembali ke sisiku…” Raja memandangi wajah Sekar yang matanya masih tertutup rapat. Hasrat lelakinya mulai muncul. Raja mulai mencium bibir Sekar. Air mata Sekar mengalir deras sampai menetes di bibir Raja. Keduanya sama-sama menangis. Raja menangis karena rasa rindu yang begitu hebat. Tapi Sekar menangis karena rasa traumanya.


Raja mulai menggigit kecil bibir mungil tunangannya itu. Menelusupkan lidahnya masuk kedalam bibir Sekar. Raja seolah tidak mengerti kalau Sekar kesusahan bernafas. Yang dia tahu dirinya merindukan Sekar. Raja menumpahkan rasa rindu itu dengan m3lum4** halus bibir Sekar. Raja menikmati tubuh Sekar yang gemetaran sampai tubuh perempuan itu melemah karena dadanya sesak. Lama kelamaan Raja merasakan tubuh Sekar lemas dan jatuh dalam pelukannya.


“Sekar… Sekar… Bangun… Kenapa kamu sayang…? Sekar… Dokterrrrrr!” Raja mendekap dan berteriak sekeras-kerasnya menopang Sekar yang pingsan sampai…


“Oekkk Oekkk…!” Gadis mulai terbangun mendengar suara ayahnya.


 


*****


Mengganggu bobok cantik dek Gadis aja ni si ayah…👶


Bersambung…


*****