
Sekar yang baru saja selesai bermain cello, menaruh kembali alat musik itu ke tempatnya semula. Dia juga menyentuh alat mic yang dia pakai untuk menyanyi tadi. Perasaanya mulai senang karena dirinya akan memulai karirnya lagi di industry musik sebagai entertainment di hotel.
“Mama akan menjadi pemain cello hebat buat kalian dek… Kita pasti bisa hidup bahagia bersama. Mama sudah mantap dan siap untuk menjadi sosok ayah dan ibu buat kalian nanti. Kalian harus sehat terus ya disana. Mama gak akan berfikir buat aborsi lagi. Mama janji… I love you my baby twins…” Sekar mengusap perutnya dengan penuh sayang.
Tiba-tiba tubuh Sekar diangkat oleh seorang laki-laki. Dia membopong Sekar di bahu kekarnya. Yang tidak lain lagi adalah Raja.
“Siapa kamu?! Lepasin! Jangan gila! Lepasin! AAAAA tolonggg!!” Sekar berteriak meronta sambil menendang perut orang yang belum dia ketahui wajahnya. Sekar memukul-mukul punggung orang itu.
Raja membawa Sekar keluar dari ballroom dan menaiki lift yang ada di samping ruang ballroom. Kebetulan ada tamu bule yang keluar dari lift.
“Help me sir! Help me please. He is crazy bas*tard Helppp mee!” Sekar mencoba berkomunikasi dengan bule itu agar menolongnya. Raja yang mendengar ucapan Sekar segera menepis tuduhan gila dari Sekar.
“She is my fiance. Don’t worry,” kata Raja sambil menekan tombol lift. Sekar yang baru saja mendengar kata fiance langsung tersadar kalau orang yang membopongnya saat ini adalah Raja. (Dia adalah tunanganku. Jangan cemas)
“Mas Raja...? Mau ngapain?! Lepasin! Lepasin!” Sekar terus meronta di dalam lift.
Akhirnya Raja sampai di lantai 8 tempat kamar dia menginap. Raja melempar tubuh Sekar ke bed dengan keras.
“Mau apa kamu? MAU APAAA?!” Sekar berteriak histeris sambil turun dari bed.
Raja mencengkram rahang Sekar dengan tangan kekarnya. Cengkraman yang kuat dan kasar membuat Sekar tersentak dan reflek memukul tangan Raja.
“Sudah ku bilangkan kalau kamu butuh kamu tinggal minta sama aku…? Apa masing kurang jelas perintahku?” Raja semakin mencengkram rahang hingga ke pipi Sekar.
Tanpa permisi dan belaian sayang, Raja mendorong kepala Sekar menyusup ke bed.
“Mmpphhhh!” Sekar semakin meronta karena wajahnya ditekan terus ke bed oleh Raja. Sekar mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan Raja. Tapi posisi kepala Sekar semakin di tekan oleh Raja ke bed dengan salah satu tangannya.
Sekar mulai menyadari apa yang dilakukan Raja kepada tubuhnya saat ini. Betapa kejamnya Raja melakukan tindakan sod0*mi ke Sekar yang tengah hamil. Ada satu kesempatan saat tangan Raja tidak menyusupkan kepala Sekar ke bed. Sekar berusaha mengatakan kondisi tubuhnya ke Raja.
“Sakit… Sakit… Aku hamil mas… huuUUuu Jangan… jangan…” Ucapan Sekar itu membuat Raja semakin kalap.
“Dasar Pelacurrr! Bisa bisanya kamu hamil sama orang ituuu?!” Raja semakin geram dan kesal. Dia semakin menghujam kejantanannya ke Sekar berkali-kali. Sekar menggeleng-gelangkan kepalanya yang dibekap menyusup ke bed. Seluruh otot terasa tegang dan kaku.
“Gak mass… ppp”
“DIAMMM!” Raja tidak memberi kesempatan untuk Sekar berbicara. Kepalanya ditekan lagi ke bed.
Tubuh Sekar semakin melemah. Percuma saja memberontak. Semakin memberontak, kemarahan Raja semakin menjadi. Tapi jika tidak memberontak, janin yang ada di perutnya bisa mati. Sekar sudah benar-benar pasrah dengan hidup dan matinya. Jaringan otot seperti terputus bersamaan. Perutnya terasa sakit, bukan hanya kram tapi juga sangat nyeri yang luar biasa.
Tuhan… andai niat ku untuk aborsi harus ku bayar dengan nyawa ku… Ambillah aku dan janin ku. Aku pasrah bila harus mati sekarang. Aku tidak tega janin ini merasa kesakitan seperti ini. Maaf kan mama ya nak… Mama gagal menjaga kalian, batin Sekar yang juga susah untuk benafas.
“Ah…! Argh…! Argh…!” Raja semakin menghajar Sekar meski dia tahu perempuan itu tubuhnya sudah melemah.
Belum sempat dia mencapai klimaksnya, handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Ben. Raja menerima panggilan itu.
“Kenapa Ben?”
Tanpa menjawab panjang dan lebar, Raja menutup telpon itu. Dia menyudahi permainannya. Dan membetulkan celananya.
Sekar yang masih punya sedikit tenaga berusaha menggeliyat menjauhi Raja. Tapi rasa sakit yang luar biasa itu masih dirasakannya.
“To-long a-ku mas,” bisik Sekar dengan suara terbata. Tapi Raja tidak mempedulikan ucapan Sekar. Raja hanya mengira itu adalah sandiwara seorang penghianat.
Raja melangkahkan kakinya ke pintu keluar. Sayup-sayup Raja mendengar suara Sekar.
“I-ni anak mu…” Suara kecil itu dianggap angin lewat oleh Raja. Ah! Itu tidak mungkin! Sekar pasti berbohong untuk menutupi kesalahannya karena telah selingkuh dengan laki-laki lain. Begitulah Raja berfikir. Dia tidak mau menerima penjelasan apapun dari Sekar.
Rasa sakit yang luar biasa semakin menjadi dirasakan oleh Sekar setelah melihat kepergian Raja tanpa menolong tubuh lemahnya. Air matanya deras mengalir dalam diam. Pelan-pelan Sekar meraih handphonenya. Dia mencari kontak nomor dokter Ucy. Telponnya tersambung, tapi Sekar kesulitan berbicara. Akhirnya Sekar mengetik…
Sekar
(Lantai 8, kamar Raja. Tolong aku)
Saat ini dokter Ucy tengah berbicara dengan pak Ansu tentang kondisi Sekar yang hamil bayi kembar anak Raja. Yah, mereka bertemu karena sebelumnya sudah membuat janji terlebih dahulu. Dokter Ucy dan pak Ansu membahas ingin menggagalkan pernikahan Raja dan Mona. Karena Sekar yang hamil berhak untuk mendapat pertanggung jawaban dari Raja. Dokter Ucy yang melihat pesan Sekar langsung menuju kamar Raja bersama pak Ansu yang tahu berapa nomor kamar Raja.
Bibir Sekar yang sudah memutih pucat pasi dengan keringat dingin membuat dokter Ucy panik. Sebelum Sekar kehilangan kesadaran secara total, dia melihat pak Ansu yang membopongnya.
“Astaga…? Kenapa kamu dek?” Dokter Ucy meraih tas Sekar dan berjalan keluar dari kamar.
Dokter Ucy dan pak Ansu membawa Sekar menuju ke rumah sakit terdekat. Pak Ansu membopong Sekar menuju ke ruang UGD. Kebetulan sekali rumah sakit itu adalah milik pak Ansu, jadi pak Ansu meminta dokter Ucy untuk ikut menangani Sekar.
Sekitar 20 menit Sekar menjalani pemeriksaan dengan cardiotocography atau CTG untuk memeriksa denyut jantung janin. Sekar yang kesadarannya sudah pulih mulai meneteskan air mata kembali karena teringat perlakuan Raja kepadanya.
“Gimana bayiku dok?” Suara parau dan memelas Sekar membuat dokter Ucy lega. Untunglah Sekar bisa cepat sadar. Jika tidak akan semakin membahayakan janinnya. Tapi dokter Ucy tetap kuatir karena tekanan darah Sekar cukup rendah.
“Dia hampir membunuh anaknya sendiri… Dia perrkosa aku lagi… Dia bukan Raja yang ku kenal… Dia monster yang hampir membunuh kami. DIA MONSTERRR!” Suara Sekar itu membuat dokter yang lain tersentak kaget. Dokter Ucy mencoba menenangkan Sekar.
Ternyata ucapan Sekar itu didengar oleh pak Ansu yang sengaja sedikit membuka pintu UGD. Jantungnya memompa lebih cepat setelah mendengar ucapan dari Sekar.
Anak macam apa yang telah ku didik? Kenapa dia sekeji ini? Gumam pak Ansu.
*****
Bersambung
*****