
“Ini salahku Sekar... Kamu gak perlu minta maaf,” ucap Raja dengan mendekap tubuh Sekar lebih erat.
“Aku juga salah, mas… Hks. Maafin aku yang takut memberi mu kesempatan.” Ucap Sekar dengan menatap mata Raja. “Aku takut kamu berpaling lagi. A-aku takut kamu masih mencintai Mo-na…” Sekar semakin tersenggal-senggal mengungkapkan isi hatinya.
“Gak lagi, Sekar. Cuma kamu yang aku cintai… Cuma kamu, sayang…” kata Raja dengan menghapus air mata yang mengalir di pipi Sekar. “Perasaanku dengan dia sudah berakhir sejak lama. Tapi aku terlambat menyadarinya… Aku juga terlambat menyadari perasaanku buat kamu,” Raja mulai mengkecup kening Sekar. Bibirnya mulai merekah tersenyum. Ada kelegaan di dalam hati Raja. Keduanya merasakan getaran cinta yang begitu hebat. Mereka seakan lupa dengan keberadaan pak Ram dan bu Ica.
Bu Ica yang melihat adegan tangisan roamantis itu ikut terhanyut terbawa suasana. Termasuk Tia dan Aan, kecuali pak Ram yang masih tidak suka dengan Raja. Hatinya sebagai seorang ayah masih terluka dengan setiap kata yang diceritakan Raja. Rasanya tidak rela karena anaknya pernah disakiti.
Ketika suasana haru itu sedang berlangsung, tiba -tiba terdengar suara sirene mobil polisi. Aan dan Tia berjalan menuju pintu utama untuk mengecek kedatangan mobil yang terasa berhenti di depan rumah mereka.
NGUING NGUING NGUING…!
Raja saat ini masih tidak mempedulikan suara sirine itu. Yang diperhatikan nya hanyalah memberikan perhatian untuk Sekar agar tangisan wanita yang ia cintai itu berhenti.
“Jangan nangis lagi ya…” kata Raja dengan mengusap-usap wajah Sekar.
“Permisi… Selamat malam, pak, bu…” sapa 2 orang polisi yang diantar masuk Tia dan Aan. Semua mata tertuju kepada 2 polisi itu.
“Kami mendapat laporan kalau salah satu anggota keluarga kalian mendapat tindakan pelecehan. Apa betul itu pak, bu?” tanya seorang polisi. Kedua polisi itu menatap setiap pasang mata yang ada di ruangan itu.
“Enggak, pak! Gak ada tindakan pelecehan di sini. Bapak salah alamat pasti!” sahut Sekar. Dia berdiri di depan tubuh Raja. Membusungkan dadanya untuk melindungi Raja. Sekar tidak rela kalau Raja sampai ditangkap oleh polisi itu.
Muka Sekar yang sudah tegang dan panik membuat pak Ram sebagai ayah harus memahami dan menuruti keinginan anaknya. Akhirnya pak Ram membawa kedua polisi itu keluar dari rumahnya.
"Mari, pak... Kita ke ruang tamu depan," ajak pak Ram yang diikuti oleh kedua polisi tadi.
Sekar mulai merasa lega karena dia sudah berhasil menggagalkan niat Raja untuk menyerahkan diri.
“Jangan pernah kamu ngelakuin kayak gini lagi, mas…” Sekar meraih tangan Raja. “Aku gak mau ayah kandung kedua anak ku menjadi narapidana… Kita melakukannya suka sama suka waktu itu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” bisik Sekar memandangi sorot mata Raja.
Raja masih tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar. Raja merasa dirinya sudah benar-benar diterima kembali oleh Sekar. Raja mengusap bibir Sekar. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir Sekar. Tapi…
KLONTANG KLONTANG PREEENGGG…
Suara panci yang terjatuh dekat kaki bu Ica, menyadarkan Raja kalau ciuman itu tidak mungkin dia lakukan sekarang. Raja meregangkan pelukannya ke Sekar. Mereka berdua menatap bu Ica yang masih syok menyaksikan tingkah laku mereka.
“Maaf, bu,” kata Raja menjadi serba salah dengan kondisi yang canggung.
“Hati-hati kalian… Nanti ayah marah lagi hlo!” ucap bu Ica membuat Raja dan Sekar beradu pandang saling tersenyum. Tia dan suaminya senahan senyum mereka. Keduanya ikut gemas dengan Raja dan Sekar.
Akhirnya malam itu terjadilah pembicaraan yang berlanjut antara Raja dan pak Ram. Pak Ram sebagai ayah dari Sekar meminta pertanggung jawaban Raja untuk Sekar dan cucu-cucunya.
Sudah ada hidangan teh panas dan kue-kue kecil di meja depan Raja dan pak Ram. Sekar duduk di samping Raja. Pak Ram duduk bersampingan dengan istrinya. Sedangkan Tia dan Aan memegangi stroller dimana bayi kembar sudah tidur di sana.
“Pak, bu… Saya Raymundus Raja. Saya sangat menyukai anak bapak dan ibu. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya di masa lalu. Saya ingin meminta Sekar, anak bapak dan ibu untuk menjadi pendamping hidup saya dan juga ibu untuk anak-anak saya.” Ucapan Raja itu tidak ada balasan dari pak Ram. Laki-laki paruh baya itu hanya mendelik melihat sorot mata Raja. Hal itu membuat Raja dan Sekar makin canggung dengan suasana yang tercipta.
Bu Ica pun keheranan dengan sikap suaminya yang mendadak berubah. Padahal bisanya pak Ram yang paling aktif berbicara.
“Yah…” ucap bu Ica menggoyangkan tangan suaminya yang mengepal. "Jawab dong, yah! Anak kita butuh suami."
“Hm… Suruh orang tuamu datang kemari. Kita lakukan prosesi lamaran secara formal. Biar saya bisa lihat, sampai mana keseriusanmu itu dengan anak saya,” ucap pak Ram membuat Raja sedikit lega. Setidaknya bukan penolakan.
“Baik, pak. Saya akan suruh orang tua saya kemari secepatnya.”
“Baik, pak. Saya akan minta orang tua saya untuk datang besok,” kata Raja. Bagi Raja ini adalah kesempatan terbaik untuk menunjukan keseriusannya.
Begitulah percakapan antara pak Ram dan Raja. Pak Ram meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya. Sedangkan bu Ica menyuruh Sekar untuk mengantar Raja agar bisa beristirahat di kamar tamu yang berada di sebelah kamar lama Sekar.
“Mas, selamat malam. Aku sama anak-anak tidur di sebelah ya,” kata Sekar sambil melanjutkan mendorong stroller.
“Selamat malam, Sekar… Kamu masuk duluan. Biar aku bisa lihat.” Raja memandangi Sekar dengan senyum bahagianya. Begitupun sebaliknya Sekar membalas senyuman Raja.
_____
Akhirnya Sekar masuk ke dalam kamarnya dengan Boy dan Gadis. Sekar memindahkan kedua anaknya ke bed agar tidurnya lebih nyaman.
“Sayang… mama kangen sama kamu…” kata Sekar mengusap-usapkan hidungnya ke hidung Boy. Anaknya itu sudah tertidur pulas.
Selanjutnya Sekar meraih tubuh Gadis. Sekar merasa popok Gadis sudah penuh, waktunya untuk ganti popok. Sekar mencari stok popok yang biasa dia simpan di bawah stroller.
Setelah mengganti popok Boy dan Gadis, Sekar menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kamar mandi Sekar itu ada di luar kamar. Sekar mengganti bajunya dengan baju tidur yang masih tersimpan di lemari.
Suara pintu yang cukup bising itu membuat Raja membuka kamarnya. Mengecek siapa yang ada di luar kamarnya. Dilihatnya pintu kamar Sekar baru saja tertutup kembali.
Habis ngapain Sekar ya? Apa Boy dan Gadis tebangun? Apa mereka rewel? Hm… apa aku harus ngecek mereka? tanya Raja dalam pikirannya.
Raja yang penasaran dengan kamar di sebelahnya, mulai melangkahkan kakinya mendekati kamar itu. Raja mengetuk pintu kamar Sekar dengan pelan agar tidak membangunkan penghuni kamar lain.
“Sekar… Sekar…” Raja menggoyangkan gagang pintu. Sekar yang melihat gagang pintu di kamarnya bergerak-gerak, mulai mendekati pintu itu dan membukanya.
“Mas Raja? Belom tidur?” tanya Sekar dengan baju tidurnya.
“Aku kangen sama Boy dan Gadis…” Senyum Raja berseringai. Raja segera menyusup masuk lewat celah di samping Sekar berdiri.
Raja melangkahkan kakinya menaiki bed milik Sekar dan menciumi wajah kedua anaknya. Sekar yang melihat senyum Raja mulai menggelengkan kepala memandangi tingkah laku Raja.
“Sekar, aku boleh tidur sini ya?” pinta Raja.
“Iya… Boleh…” Jawab Sekar sambil mengambil bantal dan menaruhnya di kursi rotan panjang. “Mas Raja tidur di bed, aku tidur di kursi rotan panjang,” jawab Sekar dengan menunjuk kursi yang ada di dekat jendela kamarnya.
“Tapi itu keras buat kamu… Kamu juga tidur di sini sama aku, yank,” bujuk Raja.
“Mas… kita ini belom jadi suami istri hlo. Gimana kalau ntar ayah sama mama tahu... Mereka bisa marah sama kita.” Sekar memberi pengertian ke Raja. “Aku udah biasa kok dulu tidur di sini. Mas Raja tidur aja sama anak-anak.” Sekar mulai merebahkan tubuhnya di kursi rotan.
Raja yang malas berdebat dengan Sekar mulai merebahkan tubuhnya juga di bed. Raja memandangi mata Sekar yang terpejam. Raja memperhatikan setiap pergerakan tubuh Sekar dari tempat dia berbaring.
*****
Bersambung…
*****