
Pertanyaan pak Ansu itu membuat rasa malu dokter Ucy mencuat. Mukanya memerah panas.
“Iya kan…? Kamu suka saya?” tanya pak Ansu semakin percaya diri. Bibirnya tersenyum miring karena melihat gestur tubuh dokter Ucy yang salah tingkah.
“Bukan…!” Semakin menarik pintu gerbang untuk ditutup. Tapi tangan pak Ansu terus menghalangi.
“Jangan bohong… Muka mu tuw udah merah kayak kepiting rebus. Mau ditutup-tutupi sampai kapan? Kalau suka ya bilang suka… Kenapa harus malu?” pertanyaan pak Ansu itu semakin menyudutkan dokter Ucy. “Pakai acara kabur dari kapal… Terus resign… Apalagi tadi bikin drama sok pergi ke Batam. Nyuruh tetangga kamu buat boongin saya…”
“IYA IYA IYA…! Saya suka bapak! Gak usah menyudutkaan saya begini! Kalau bapak gak suka sama saya ya udah! Saya gak akan maksa! Saya cukup tahu diri kok kalau bu Lily lebih baik dari saya. Puas… Udah bikin saya malu?” akhirnya meledak juga gejolak hati dokter Ucy.
Karena rasa malu yang tidak kunjung reda, dokter Ucy berlari menuju dalam rumahnya. Dia membiarkan pintu gerbangnya itu terbuka.
“Duh…? Aku salah lagi ya?” pak Ansu merasa dirinya telah salah langkah. “Cy… Buka pintunya Cy… Saya belom selesai ngomongnya.” Pak Ansu terus menerus mengetuk pintu rumah doketr Ucy. Bukannya dibukakan lagi, tapi semua lampu di teras depan rumahnya dia matikan. “Hm… Bakal lama nih ngambeknya…”
Pak Ansu pun memilih menunggu dokter Ucy di teras depan. Dia merebahkan tubuhnya di jaring-jaring ayunan yang menggantung di pohon sampai akhirnya malam itu dia tertidur di tempat itu.
Keesokan harinya, pak Ansu terbangun dari tidurnya. Dia melihat pintu rumah dokter Ucy masih tertutup. Gorden yang terlihat dari kaca bening pun masih tertutup.
Selama seharian pak Ansu menunggui dokter Ucy di halaman rumah itu. Tapi harapannya itu tidak kunjung datang sampai larut petang. Akhirnya pak Ansu memutuskan menginap di salah satu hotel terdekat dari rumah dokter Ucy. Pak Ansu tidak sanggup untuk menunggui dokter Ucy di halaman depan rumah karena rasa lelah dan dinginnya angin malam semalam yang dirasakannya.
Hari berikutnya pada siang hari, pak Ansu datang kembali ke rumah dokter Ucy. Kali ini pak Ansu bertekad untuk mendobrak pintu rumah itu bila dokter Ucy tidak mau membukakan pintu rumah untuknya.
BRUG! BRUG! BRUG! BRUG! BRUG!
Berkali-kali pak Ansu mencoba menerjang pintu itu dengan lengannya, tapi hanya rasa sakit yang dia dapatkan. Ini tidak semudah seperti di film-film action yang dia tonton.
“Sudah gila aku sampai mendobrak rumahmu segala…” menggerutu kesal dengan mengusap lengan kanannya, karena hasilnya nihil. Pintu itu tidak bisa dia buka.
Ternyata aksi pak Ansu untuk mendobrak rumah itu diketahui oleh pak cik pedagang ikan napoleon. Pak cik yang penasaran dengan sikap aneh pak Ansu bagai pencuri di siang bolong, mulai mengeluarkan suara garangnya.
“WOI…! MAU APA KAU ITU?” Pak cik mengadahkan pisaunya yang berlumuran darah ikan napoleon. “Udah tua tak ingat tobat… Mau nyuri ya…?!” Dengan memegang pisaunya pak cik terlihat garang mendekat untuk menghampiri pak Ansu. “Mau apa kau dobrakin pintu?” pak Ansu yang melihat pisau jadi bergedik merinding. Dia mengadahkan kedua tangannya.
“Saya gak ada maksud nyuri, pak. Mau… nyari pemilik rumah ini aja,” ucap pak Ansu dengan melihat pisau pak cik. Astaga… seumur-umur aku gak pernah ditodong pisau. Sekalinya ditodong gara-gara masalah perempuan… Kemana sih si Ucy ini… Punya tetangga gak waras semua, batin pak Ansu memberi kode ke pak cik agar menurunkan pisaunya. “Itu pisau tajem banget, pak…” tangan pak Ansu melambai-lambai agar pisau itu diturunkan.
“Ya iya lah ini pisau emang tajam… Itu kanapa tadi nyariin dokter Ucy pakai acara dobarak-dobrak pintu segala…? Mau nyakitin bu dokter ya? HA?!” pak cik masih tidak percaya kalau pak Ansu tidak punya niatan jahat.
“Astaga… Mana ada saya punya niat jahat ke dokter Ucy…” pak cik semakin mendelik melihat muka pak Ansu. “Saya berusaha dobrak pintu ini karena Ucy gak ngasih kesempatan saya bicara... Makanya saya maksa untuk masuk ke rumah ini. Tapi pintunya tetap susah dibuka.” Pak cik mulai sedikit percaya dengan ucapan pak Ansu, dia mulai menurunkan pisau mengkilaunya itu.
“Makanya… Jangan suka mainin perasaan perempuan. Ujung-ujungnya dia pasti ngambek… Ya kayak gini ni…” Pak cik mensensor postur tubuh pak Ansu dari atas sampai bawah. Dari pakaiannya, orangnya terlihat berada alias kaya. Mobil yang terparkir di depan pintu gerbang terbilang mewah dan mahal. Tapi dari tampangnya menunjukan usianya tidak jauh berbeda dengan ku. Jadi seperti ini selera dokter Ucy…? Tak keren-keren amat… Dia cuma menang tipis aja soal tinggi badan. Kenapa bu dokter gak tertarik dengan ku ya? Padahal aku terkenal sebagai duda terkeren di pasar depan, gumam pak cik dalam batinnya.
“Percuma kamu nyariin bu dokter sekarang… Orangnya udah pergi dari tadi pagi.”
“Pergi kemana, pak?”
“Bilangnya sih pergi liburan… Maldev Maldev gitu selatan India… Maldev atau Malaysia ya… Em…” pak cik berusaha mengingat nama negara yang menurut telinganya asing.
Astagaaa… kenapa aku gak kepikiran kesana… Ucy pasti lagi di pesawat. Aku harus menyusulnya, pak Ansu mulai meremas rambut kepalanya.
“Maldives, pak.”
Tanpa pikir panjang lagi, pak Ansu berpamitan dengan pak cik untuk menyusul dokter Ucy. Dia menelpon ke Ben untuk menanyakan resort mana yang di datangi oleh dokter Ucy.
“Hallo Ben…” sapa pak Ansu sambil mengendari mobilnya.
“Good afternoon pak. Hallo, ada apa?”
“Apa nama resort yang kamu booking untuk Ucy?” tanya pak Ansu.
“Nama resort…?” Ben yang sedang sibuk berusaha menangkap arah pertanyaan pak Ansu. “Oh… yang soal voucher minginap itu ya…?”
“Iya apa nama resortnya?” Pak Ansu semakin mendesak tidak sabar ingin tahu.
“Bapak bilang saya harus booking resort terbaik di Maldives, jadi saya booking ‘One & Only Reethi Rah’. Ada apa emangnya, pak?” tanya Ben balik.
“Bisa kamu booking kan satu villa untuk saya? Saya mau berangkat ke Maldives sekarang.”
“Tapi pak… Kayaknya udah gak bisa deh… Udah penuh. Kemarin terakhir booking untuk pak Raja aja dapet Water Villa. Padahal maunya yang Lagoon Villa. Ini lagi musim liburan orang Eropa, pak,” ucap Ben menjelaskan apa adanya.
“Saya gak mau tahu! Pokonya saya tunggu setengah jam lagi kamu harus bisa bookingkan kamar untuk saya disana. Saya ada keperluan sama Ucy. Saya mau ketemu Ucy.” Pak Ansu segera menutup telponnya. Tidak mau mendengar alasan apapun dari Ben.
_____
Ben yang mendengar sambungan telponnya terputus mulai menghentakan kedua kaki penuh kekesalan.
“Dia pikir Maldives itu kota metropolitan apa?! Itu negara kepulauan. Satu pulau cuma ada satu resort,” Ben menggerutu memikirkan bagaimana caranya dia bisa membooking villa resort yang sudah fully booked alias mbludak.
Beberapa menit otaknya befikir mengikuti kehendak pak Ansu. Akhirnya tercetuslah sebuah ide gila dalam otaknya.
“Tadi kan pak Ansu bilang mau ketemu dokter Ucy… Dokter Ucy kan cuma pakai kamar sendiri… Aku buat aja mereka berdua sekamar… Hihiii… Urusan selanjutnya biar dokter Ucy yang menanggung disana… Ide cerdas…”
Begitulah ide Ben yang menurutnya cerdas. Dia melanjutkan menghubungi pihak resort untuk memberi data scan passport pak Ansu ke ‘One & Only Rethi Rah Maldives’.
Pak Ansu yang mendapat informasi dari Ben lewat telpon kalau dirinya akan sekamar dengan dokter Ucy merasa baik-baik saja.
“Maaf ya pak, saya buat bapak sekamar dengan dokter Ucy. Nanti disana bapak bisa minta housekeeping untuk menukar bed nya menjadi twins bed alias bed terpisah,” ucap Ben.
“It’s ok Ben. Gak masalah.”
Entah kenapa pak Ansu merasa senang kalau dirinya akan sekamar dengan dokter Ucy. Dia semakin bersemangat untuk pergi ke Maldives.
*****
Dasar Ben… Idenya selalu bikin orang sekamar aja hlo…
Bersambung…
*****