Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Rencana Ben



Sekar yang tengah mengambil air mineral, diamati oleh Ben. Saat ini Ben sedang berfikir bagaimana membujuk Sekar agar mau diajak dinner dengan El. Ben mulai melangkah mendekati Sekar.


“Sekar, selamat ya buat pertunangan kamu sama mas Raja,” Ben ikut mengambil botol air mineral.


“Iya… Makasih ya, kak Ben,” jawab Sekar singkat.


“Em… jadi kamu mau gak terima ajakan bang El buat dinner? Dia berharap loh kamu bisa datang.” Ucapan Ben itu membuat Sekar heran.


“Kak Ben udah gila ya? Aku kan udah sama mas Raja. Aku gak mau bermain api sama bang El. Nih… bentar lagi kita mau nikah,” kata Sekar sambil menunjukan cincin tunangannya.


Jelas saja ini membuat Ben mati kata. Di dalam pikiran Ben, Sekar akan sama seperti Mona yang akan meleleh bila disukai laki-laki. Ternyata itu tidak berlaku untuk Sekar. Sekar sangat memegang komitmen menjaga dirinya untuk Raja.


“Jangan paksa aku lagi buat dinner sama bang El. Nanti aku kena hajar sama mas Raja. Aku ke sana dulu ya kak… Bye…” kata Sekar sebelum meninggalkan Ben.


Ben memandangi punggung Sekar yang berjalan menjauh. Ben tidak menyangka bonusnya dari El akan melayang. Ben tidak mau menyerah begitu saja. Dia berfikir nantinya akan mencari cara agar bisa mempertemukan El dan Sekar. Tentu saja demi pundi pundi uang.


Anak ini emang agak susah. Gak kaya Mona kalau ditawari perkutut langsung angguk-angguk melahap. Aku harus temukan cara lain, bisik Ben.


Sekar berjalan menuju tempat terakhir kalinya dia meninggalkan Raja dan pak Ansu. Dilihatnya hanya ada Raja yang berdiri di sana.


“Mas, ayah mas Raja dimana?”


“Udah pergi. Mana minumnya buat aku aja,” Raja meraih botol minum yang dibawa Sekar.


“Ikut aku yuk!” Raja meraih tangan Sekar.


Raja mengajak Sekar untuk menikmati indahnya panorama pantai di sore hari. Mereka berjalan menjauh dari keramaian orang. Berjalan menyusuri bibir pantai sambil bercerita tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukai oleh keduanya.


“Mas, kamu tahu gak… Aku sempat berfikir untuk melaporkan kamu ke polisi,” kata Sekar sambil menggoyangkan tangan Raja yang menggenggamnya.


“Kenapa?”


“Ya waktu itu aku pikir kamu perkosa aku dan gak mau tanggung jawab. Ternyata… kamu gak sejahat yang aku kira. Makasih ya udah ajak aku tunangan. Ditunggu cincin nikahnya…” kata Sekar sambil menyodorkan telapak tangan kirinya.


Senyum tulus Sekar yang dilihat Raja saat ini membuat dia menjadi laki-laki paling kejam. Bagaimana bisa di menginginkan 2 perempuan untuk dirinya? Jika itu mungkin, apa Mona dan Sekar akan hidup rukun? Berbagi cinta dan berbagi ranjang. Apa Mona dan Sekar bisa hidup dalam kebahagian seperti dirinya yang bahagia menginginkan keduanya?


“Sekar…” Raja mulai mendekatkan bibirnya di kening Sekar untuk mencium.


Raja mengusap pipi halus tunangannya itu. Sekar hanya terdiam menikmati ciuman di keningnya. Yang dirasakan Sekar saat ini adalah keseriusan Raja untuk membangun rumah tangga. Dengan adanya cincin tunangan sudah bisa dipastikan Raja akan menjadi miliknya seutuhnya. Sekar sangat bersyukur karena dirinya dicintai oleh Raja.


“Mas…”


“Ya?” Raja mulai memeluk punggung belakang Sekar.


“Balik ke pulau mu yuk! Aku mau telpon ayah. Sini gak ada signal buat telpon. Aku mau cerita ke ayah kalau aku udah tunangan sama mas Raja. Pasti ayah senang kalau dia sudah punya calon mantu,” kata Sekar dengan senyum bahagianya.


“Sekar…” Raja membalikan tubuh Sekar untuk menatap wajahnya.


“Apa?”


“Ke kamar kapal yuk,” ajak Raja dengan senyum menggoda. Merangkup pipi Sekar dan memandangi dua bola mata itu.


“Enggak, ah mas! Aku gak mau. Mas Raja sabar dulu sampai kita nikah.”


“Apa bedanya sekarang atau nanti? Lagian aku udah mencicipinya semalam di kapal.”


“Ya karena lokasinya di kapal itu aku takut, kalau aku gak melayani mas Raja bisa dibuang ke laut! Aku kan gak bisa renang. Di tengah lautan lagi!” jawab Sekar mulai ngambek.


“Hahaa… Mana mungkin aku buang kamu ke laut,” Raja tertawa mendengar ucapan Sekar.


_____


Saat ini Raja dan Sekar sudah ada di dalam kapal. Begitu juga dengan pak Ansu dan Ben berada dalam kapal yang sama. Mereka akan menuju pulau pribadi Raja.


Cahaya lampu kapal yang kemerlip di deck lantai 7 sangat romantis. Raja tengah menggunakan kesempatan untuk melampiaskan hasratnya. Sekar menjadi sangat penurut kalau berada di dalam kapal.


“Sekar, mau lihat manta malam hari gak? Di perairan ini ada banyak manta. Ada banyak hewan laut muncul di permukaan kalau jam-jam segini,” kata Raja.


“Gak ah! Kalau mau nyelam itu kan harus belajar dulu gak boleh asal nyelam. Belajar nafas dari tabung oksigen dan harus ngontrol agar air gak masuk ke mulut. No! Lagian aku takut sama hewan laut.” Sekar menolak mentah-mentah. Tapi justru ini yang diharapkan oleh Raja.


“Kalau gitu ayo masuk ke kamar!” Raja mulai menggiring Sekar agar masuk ke kamar.


“Mas, aku laper. Aku belom makan dari tadi siang.” Sekar berusaha mencari ide untuk mengulur waktu agar kapal bisa cepat sampai ke Pulaunya Raja. Karena kalau sudah sampai daratan, Sekar bisa lebih mudah menghindari Raja.


“Nanti habis ronde pertama selesai.” Raja mulai membuka pintu kamar, masuk dan mengunci kamar itu.


“Mas… Em…”


“Apalagi? Kalau gak mau ayo ku ajak nyebur ke laut! Mau?”


“Ish! Enggak… Em… kayanya ayah mas Raja manggil aku tadi. Aku keluar dulu ya…” Sekar mengedipkan matanya dengan muka memelas.


“Sekar, aku mau sekarang…!” Raja sudah malas menanggapi celotehan Sekar yang dianggap membuang waktunya. Dia mulai memegang kendali permainan. Menggiring Sekar ke bed dan melepaskan pakaian Sekar.


Raja Point Of View


Sekar aku tidak tahu apa bedanya cinta dan nafsu. Memandangmu yang sangat mengairahkan seperti ini, mengingatkan ku melihat rokok  yang tinggal sebatang di bungkus. Rasanya aku ingin terus menyesapi… menahan hawa nikmat di mulut… dan khusus untukmu, akan ku gigit bagian ini.


“Awww mas Raja! Nanti aku sakit pipisnya!” Aku sangat puas melihat dia kesakitan manja seperti ini. Rasanya sangat menggairahkan karena ototnya masih kencang.


“Ah, baru juga kaya gini. Buka lebih lebar!” Ku paksa dia agar aku lebih mudah menjelajahinya. Milik Sekar membuatku ingin terus mengukungnya. Yah, sudah waktunya aku menelusup. Bisa kurasakan miliknya sudah berdenyut-denyut.


“Ouh… Sekar…” Mari kita nikmati permainan ini.


Author Point Of View


Setelah menyalurkan hasratnya, Raja mengajak Sekar untuk makan malam. Ada banyak hidangan makanan sebagai hadiah karena Sekar sudah melayaninya. Sekar memandangi setiap perhatian Raja kepadanya.


“Sekar…”


“Kenapa, mas?”


“Tadi Ben bilang saya harus pergi meeting ke Natuna. Biasanya untuk urusan ke Natuna aku selalu suruh Ben yang menangani. Tapi besok dia bilang gak bisa karena ada acara. Kamu baik-baik ya di Pulau sendiri. Nanti setelah urusan dari Natuna, aku ajak kamu jalan lagi.”


“Berapa hari di Natuna nya? Lama?”


“Tergantung. Jangan kuatir, aku pasti balik cepat,” jawab Raja  mengusap tangan Sekar.


Mereka pun lanjut menikmati hidangan makan malam ditemani semilir angin laut.


*****


Sekar, jaga diri baik-baik ya…


Bersambung…


*****