
“Cup cup cup sayang… Bentar ya Boy… kamu ngalah dulu ya sama adik,” kata Sekar sambil memberi asi kepada Gadis.
“HoekKK! OekKK…!” Suara Boy itu membuat dokter Ucy datang menengok kamar Sekar. Dengan sigap dokter Ucy mengambil botol asi yang sudah Sekar stok di chiller. Dia membantu Sekar memberi asi dengan botol.
Begitulah hari-hari Sekar selalu memprioritaskan Boy dan Gadis. Tapi sebetulnya Sekar sedikit memberi perhatian lebih kepada Gadis. Hal itu dikarenakan bayi perempuannya itu sering demam. Tidak ada tanda-tanda penyakit berbahaya yang terdeteksi. Hanya saja suhu tubuh Gadis terkadang mengalami peningkatan. Tapi setelah beberapa jam akan kembali normal.
Pagi ini Sekar mengajak kedua buah hatinya untuk berjemur di teras lantai dua. Dokter Ucy menggendong Boy dan Sekar menggendong Gadis. Sekar menggunakan kesempatan itu untuk memompa asinya juga. Stok asi harus selalu ada karena Boy yang super gembul bisa menghabiskan jatah asi milik Gadis.
(Visual Boy dan sebelahnya Gadis)
Dokter Ucy memperhatikan betapa telatennya Sekar mengurus bayi kembarnya.
“Sekar…”
“Ya kak? Kenapa?” tanya Sekar sambil menimang-nimang Gadis.
“Em… Seminggu yang lalu, pak Ansu telpon kakak.” Ucapan dokter Ucy itu membuat muka Sekar tegang. “Dia minta izin buat ketemu cucunya… Apa boleh dek?”
Sekar mulai berfikir kenapa lagi keluarga pemilik perusahan kapal phinisi itu mau mendekatinya? Apa masih kurang puas mereka menghancurkan hidupnya? Bahkan gara-gara banyaknya peristiwa menyedihkan itu, Sekar mengidap phobia takut naik kapal. Pernah dokter Ucy memberi therapy dengan naik kapal bersama dengan Sekar. Tapi sesampainya di tengah lautan, Sekar pingsan.
“Dek… Mungkin saja kalau pak Ansu bisa sering menengok cucunya, akan memberi efek yang baik untuk kesehatan Gadis. Siapa tahu demam yang sering Gadis alami bisa sembuh. Secara pengobatan medis sering dilakukan. Mungkin kita perlu mengelola emosional baby mu ini,” bujuk dokter Ucy. “Boleh ya…?”
Rasanya berat sekali Sekar harus menjalin hubungan dengan keluarga dari ayah bayi kembarnya. Tapi saran dokter Ucy itu ada benarnya juga. Kesehatan bayinya lebih penting daripada egonya.
“Kapan bapak itu mau nengok cucunya?” Senang sekali akhirnya pertanyaan yang ditunggu-tunggu itu keluar dari mulut Sekar.
“Em… Sebenarnya udah 3 hari ini pak Ansu nginap di hotel yang letaknya gak jauh dari sini. Kalau kamu izinkan sekarang, pasti dia akan datang.”
Ego Sekar kembali bersorak ‘JANGAN!’ Rasanya masih belum siap untuk bertemu dengan pak Ansu. Meskipun Sekar tahu, pak Ansu tidak pernah berbuat jahat. Tapi hati kecilnya takut kalau orang-orang kaya itu akan mengambil buah hatinya. Secara mereka memiliki kekuasaan untuk menjadikan apa yang mereka mau.
“Bapak itu akan datang sendiri kan, kak?” tanya Sekar dengan suara cemasnya.
“Iya… Dia akan datang sendiri.”
“Monster itu gak akan datang kan?”
“Gak akan. Aku janji cuma pak Ansu aja.” Dokter Ucy meyakinkan Sekar. Tapi Sekar masih ragu. Rasa trauma dan sakit hatinya masih membekas terlalu dalam. “Kalau kamu mau… kamu bisa nemenin Boy sama Gadis bertemu pak Ansu… Kamu jangan kuatir. Kakak pasti ikut mendampingi kamu… Mau ya…?”
Sekali lagi Sekar harus menekan egonya. Akhirnya siang itu Sekar ditemani dokter Ucy untuk mempertemukan bayi kembarnya dengan kakeknya di sebuah private restaurant. Ada rasa kikuk karena lama tidak bertemu dengan pak Ansu. Sekalinya dipertemukan kembali, Sekar membawa 2 cucu untuk pak Ansu.
Rasa bahagia, sedih dan haru bercampur menjadi satu. Pak Ansu memeluk cucunya untuk pertama kalinya. Rasa kesal dan marah terhadap Raja semakin mencuat ketika kedua cucunya yang ada dalam pelukannya memberi kedip-kedipan mata untuk pak Ansu. Ingin sekali pak Ansu menjadikan Sekar menantu seutuhnya. Tapi menurut laporan dari dokter Ucy, Kondisi kejiwaan Sekar masih belum siap untuk menerima Raja kembali. Itu lah mengapa meskipun Raja sudah bercerai, pak Ansu tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mempersatukan Raja dan Sekar.
“Ini siapa ini namanya… Ganteng banget cucu grandpa…?” Pak Ansu mengajak bermain Boy.
Sekar hanya memandangi pemandangan itu. Matanya selalu mengikuti kemanapun pak Ansu melangkah. Sekar takut kalau anaknya dibawa kabur. Dokter Ucy yang melihat ketegangan itu mencoba mengusap punggung Sekar untuk memberi ketenangan.
“Sudah berapa bulan usia mereka, Sekar?” tanya pak Ansu.
“Sudah 4 bulan lebih 2minggu,” jawab Sekar dengan singkat.
“Wah… lucu-lucunya cucu grandpa… Bisa dibawa keliling naik yacht nih… Mau ya kapan-kapan jalan-jalan naik yacht sama grandpa…?” Ketegangan mulai terjadi mendengar kata yacht.
“Enggak! Gak boleh!” Sekar sedikit emosi karena dirinya tidak bisa menikmati naik kapal karena phobia barunya. Selain itu Sekar tidak mau menyerahkan bayi kembarnya untuk diajak bepergian oleh pak Ansu. Kembali lagi dengan kata ‘Trauma dan Sakit Hati’. Sekar tidak mau merasakan kepedihan lagi di hidupnya bila anaknya itu direbut oleh pak Ansu.
Dokter Ucy yang mendengar nada suara Sekar sedikit naik, mulai mengrenyitkan alisnya sambil mengangguk. Memberi kode ke pak Ansu agar mengikuti keinginan Sekar.
“Ah, kalau gitu grandpa ajak naik vespa aja keliling Tarempa… Boleh kan Sekar kalau naik vespa aja?” Sekar sedikit tersenyum mendengar kata vespa. Tidak bisa membayangkan kalangan konglomerat akan naik vespa.
“Iya pak, boleh.” Sekar tersenyum lebar menatap pak Ansu yang sebetulnya laki-laki itu ketakutan karena Sekar sempat emosi.
Akhirnya rasa ketegangan sedikit demi sedikit mencair antara Sekar dan pak Ansu. Sekar mulai memperbolehkan pak Ansu sering mengunjungi Boy dan Gadis. Pak Ansu juga sering mengunjungi rumah dokter Ucy dimana Sekar tinggal untuk membawakan oleh-oleh kapada cucunya.
Sore itu pak Ansu datang membawakan stroller baru untuk cucunya Boy dan Gadis. Kebetulan sekali Sekar sudah berangkat kerja. Jadi hanya ada dokter Ucy dan baby sitter penjaga Boy dan Gadis.
“Makasih ya pak. Nanti saya sampaikan ke Sekar kalau ini hadiah dari bapak,” kata dokter Ucy menerima pemberian pak Ansu.
“Ya… Ini harusnya menjadi kewajiban Raja. Tapi mau bagaimana lagi, Sekar masih belum bisa memaafkan Raja.”
“Iya, bahkan sampai Sekar mengidap phobia naik kapal segala...”
“Hm… Bukan phobia dengan kapal… Lebih tepatnya phobia dengan Raja.” Dokter Ucy sedikit terkejut mendengar pernyataan pak Ansu. “Apa kamu tahu cara mengobati phobianya Sekar?”
“Em… Sebetulnya phobia itu tidak ada obatnya pak. Meskipun kita bisa memakai obat penenang, tapi itu sifatnya hanya sementara. Mungkin kita bisa mencoba dengan terapi mendekatkan Sekar dengan Raja. Kalau menurut bapak Sekar mengidap ketakutan dengan Raja. Dari situ kita bisa mempelajari sampai mana rasa ketakutannya Sekar, sehingga kita bisa mencari solusinya. Tapi masalahnya sekarang Sekar lagi dalam masa menyusui. Saya kuatir akan mengganggu produksi asinya kalau Sekar sampai mengalami stress… Apalagi Gadis sering demam. Dia sangat butuh asupan asi yang berkualitas dari mamanya.” Pak Ansu mulai memijat kepalanya karena belum menemukan solusi.
“Hm… Pusing saya. Ngomong-ngomong kamu sudah ngasih tahu Sekar belum kalau Raja sama Mona sudah cerai?”
“Belum sih pak… Tapi Sekar pernah bilang, dia tidak mau peduli dan tidak mau tahu dengan kehidupan Raja. Setelah itu setiap kali saya mengajak dia membahas soal Raja, Sekar selalu bilang pusing. Jadi saya belum menceritakan soal perceraian Raja dengan Mona. Saya masih mencari tahu waktu yang pas untuk memberi tahu Sekar.”
*****
Bersambung…
*****