Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Bertemu Lagi



Raja mulai mengendari buggynya menuju villa 050 yang lokasinya cukup jauh dari lobby resort.


“Padahal cuma mau nengok anak sendiri, macam main petak umpet segala,” bisik Raja sambil menyetir buggynya.


Raja memarkirkan buggynya sedikit jauh dari lokasi villa Sekar. Dia mulai berjalan agak cepat menuju villa 050 itu. Untung saja kunci duplikat yang dia pinjam tidak bermasalah sehingga Raja bisa memasuki villa itu dengan mudah.


Di villa itu ada 3 kamar, Raja mengecek satu persatu kamar yang tidak dikunci itu. Ternyata kedua anaknya ada di kamar lantai 2. Boy dan Gadis tengah tidur bersebelahan di bed yang berukuran besar. Yah, karena persedian box bayi di resort itu sudah terpakai semua oleh tamu resort. Jadi Sekar memasang banyak bantal di setiap tepi bed agar anaknya tidak jatuh.


Raja mulai membuka topi, masker penutup mulut, jaket dan sepatu boots ala rockernya. Raja menaiki bed itu dan mulai mendekati Boy terlebih dahulu. Raja mencium pipi Boy dan mengusap pipi anaknya itu dengan lembut.


“Ayah kangen, nak… Kamu lelap sekali tidurnya,” kata Raja dengan memperhatikan bulu mata Boy yang lentik. Raja mulai menggeser tubuhnya mendekati Gadis. Raja menghirup aroma bayinya yang sangat khas. “Love you, anak ayah…” bisik Raja.


Raja juga melihat baju baru yang sempat Sekar beli tadi pagi berada di samping bed anaknya. Raja membaringkan tubuhnya dekat disamping Boy sambil mengusap-usap bergantian kepala Boy dan Gadis. “Rasanya sangat nyaman sekali… Andai mama kalian bisa memaafkan ayahmu ini. Ayah bisa tidur di samping kalian setiap malam seperti ini,” bisik Raja mulai memiringkan tubuhnya memperhatikan Boy dan Gadis.


Beberapa menit kemudian ketika Raja masih memandangi 2 balita itu, Boy membuka matanya.


“Heeeg…” Boy tersenyum menatap muka ayahnya itu. Raja yang melihat senyuman anaknya jadi ikut tersenyum.


“Bagun kamu, nak…?” Raja mendaratkan bibirnya ke pipi Boy. Entah kenapa Boy yang sebelumnya dicium Raja saat di Tarempa tidak pernah menangis, tiba-tiba sekarang menangis.


“Huaaaa Heg! Haaaa hks… Hik hik…” Raja mulai meraih tubuh Boy untuk digendong.


“Cup cup cup sayang… Ini ayah, jangan nangis ya…” Kata Raja mencoba menenangkan. Raja mulai mencium Boy lagi. Lagi-lagi suara tangisan Boy semakin kencang. Raja mulai berfikir… Apa ini karena rambut jenggotku yang pendek jadi bikin geli menusuk kulit Boy? Raja mengepuk-epuk pantat Boy agar anaknya itu tidak menangis.


Suara tangisan Boy itu tak lama kemudian membuat Gadis jadi terbangun.


“Huaaaa hks heg… Ma mam… Ma…” Suara Gadis itu mengejutkan Raja karena untuk pertama kalinya Raja mendengar Gadis bisa mengucapkan kata ‘mama’. Raja mulai mendekati Gadis dan mengusap-usap rambut Gadis dengan tangan satunya. Tapi kedua anaknya itu semakin menangis.


“Huaaa Hks… Pap pa…” Raja tersenyum penuh bahagia mendengar kata ‘papa’ dari Boy. Rasanya sangat-sangat bahagia tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata mendengar kedua anaknya mulai ada perkembangan untuk berbicara. Raja mulai menaruh Boy di samping Gadis dan mencari mainan yang biasanya Raja gunakan untuk menggoda anaknya di Tarempa dulu.


Raja yang tidak tahu kalau ada baby monitor di samping tempat tidur, masih sibuk bermain dengan Boy dan Gadis yang masih bersahut-sahutan menangis.


“Cup cup cup…. Sayang… Ini ayah… Kalian takut ya ayah cukur rambut ayah?” tanya Raja sambil memegang kedua tangan Gadis dan Boy yang bersebelahan.


_____


Saat ini Kasih yang tengah duduk menikmati permainan cello Sekar, mulai dialihkan perhatiannya karena mendengar... ‘TIIITTT…TIIITTT’… Kasih mengecek alat baby monitornya yang berada di tasnya. Dilihatnya lewat layar handphone, anaknya itu masih tertidur pulas dengan ditemani baby sitter di samping bayi perempuannya.


Kasih mulai mencari-cari darimana suara ... ‘TIIITTT…TIIITTT’… itu. Kasih mulai medekatkan telinganya ke tasnya Sekar.


“Haduh? Ini pasti baby twins lagi bangun?” Bisik Kasih.


Kasih mulai membawa tasnya Sekar munuju panggung tempat Sekar bermain cello. Kasih mulai berbisik ke telinga Sekar agar menyudahi permainan cello, alat pendeteksi baby monitor terus menerus berbunyi. Sekar mulai izin untuk menghentikan permainan cellonya. Tentu saja kru akustik tidak keberatan karena orang yang mengajak Sekar pergi adalah istri pemilik resort.


“Sorry ya… Babynya Sekar lagi nangis…” kata Kasih sambil meraih tangan Sekar untuk cepat turun dari panggung. Para pemain akustik hanya memberi jempol karena mereka harus fokus dengan alat yang mereka mainkan.


“Thank you, udah diizinkan main… See you again!” Kata Sekar mulai beranjak berdiri.


Kasih yang sudah berjalan duluan mulai menoleh ke Sekar. Memanggil-manggil Sekar tapi temannya itu sepertinya tidak mendengarkannya.


Sekar yang tengah fokus mengamati layar di handphonenya tidak menyangka kalau Raja berani menemui Boy dan Gadis. Sekar mengamati usahanya Raja yang sedang menenagkan Boy dan Gadis. Gadis yang memang lebih suka di manja memang lebih rewel dari Boy. Bayi laki-lakinya itu mulai tersenyum menatap Raja. Ini membuat hati Sekar terketuk.


Apa kamu kangen ayahmu, nak? Batin Sekar sambil memperbesar layar untuk melihat senyum Boy dan Raja yang saling beradu. Kasih yang sudah berdiri di samping Sekar lagi, ikut mengintip layar di handphone itu.


“Sekar… Kayaknya kamu emang harus bicara baik-baik sama Raja… Kalian cari solusi dari masalah kalian,” kata Kasih sambil menatap mata Sekar. “Kasihan anak-anak kalian,” Kasih mencoba memberi solusi.


“Yok kita balik villa!” ajak Sekar. Sekar mencoba menguatkan jiwa dan hatinya untuk menemui Raja.


Apa yang kamu mau dariku lagi, mas? Aku dah lelah menjalin hubungan dengan mu lagi. Aku dah capek ada drama tangis-tangisan lagi! Gumam Sekar sambil memikirkan apa yang diinginkan Raja.


5 Menit kemudian Kasih yang menyetir buggy sudah sampai di depan villa Sekar.


“Kas, kayaknya aku harus ngomong sama dia sendiri,” kata Sekar setelah Kasih menghentikan buggynya.


“Kamu yakin gak mau ku temeni?” Sekar menganggukan kepalanya. “Kalau ada apa-apa langsung pencet tombol alarm di samping bedmu, ya… Biar ada security yang nolongin kamu.”


“Iya, pasti. Aku akan teriak kalau dia berani macem-macem,” kata Sekar mulai memiringkan kakinya untuk beranjak pergi dari buggy.


“Hati-hati, Kar… Telpon aku kalau sampai securitynya kelamaan!” Kasih mulai melambaikan tangannya.


“Iya… Aku pasti telpon kamu kalau urusannya dah selesai,” Sekar mulai melambaikan tangannya.


Akhirnya Sekar mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke villanya itu. Sekar mengusap dadanya beberapa kali dan meremas-remas tangannya untuk bersiap menghadapi Raja.


Sekar mulai menuju kamar dimana Boy dan Gadis dia baringkan.


Sekar mulai memasuki kamar anaknya yang pintunya tidak ditutup oleh Raja.


“Sayang… cup cup… Jangan nagis lagi anak ayah…” kata Raja mengepuk-epuk pantas Gadis dalam gendongannya. “Kamu haus ya, nak ya…? Mama cantik bentar lagi pulang… Berhenti dong nangisnya…” bujuk Raja ke Gadis sambil mengajak Boy bermain miniatur mobil.


Sekar sedikit tersentuh lagi melihat usaha Raja mendekati Boy dan Gadis. Sekar paham betul menghadapi 2 bayi yang satu rewel dan yang satu aktif bermain tidaklah mudah.


Andai kamu tidak memperlakukanku seperti dulu, Aku pasti gak akan merasakan sakit hati yang teramat dalam, batin Sekar sambil memandangi punggung Raja.


“Mas…”


*****


Bersambung…


*****