Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Ditolak



“Jangan senang dulu. Kan saya bilang kalau tidak sibuk… Jadi kalau sibuk ya saya ga janji bisa nemenin kamu ke sana.”


“Iya pak… Terimakasih. Setidaknya ajakan saya nggak ditolak sama bapak secara langsung.” Masih bisa tersenyum meskipun peluangnya tipis. “Saya harap minggu depan bapak gak sibuk,” timpal dokter Ucy lagi membuat pak Ansu semakin sulit untuk menolak keinginan perempuan muda itu.


Haduh Cy… Apa kata orang tuamu nanti kalau kamu menyukai saya? Cucu saya sudah 2… Sedangkan kamu belom pernah menikah. Nanti kalau saya melangkah ke jenjang serius dengan mu… Kamu langsung menyandang status grandma nene-nenek… Pak Ansu mulai menggelengkan kepalanya, tidak mampu menyelami jalan pikiran dokter Ucy.


Akhirnya siang itu pak Ansu mengajak dokter Ucy melanjutkan dengan minum kopi bersama di kamarnya. Semilir angin laut yang masuk jendela, seakan memberi peluang dokter Ucy untuk melihat bagian atas bathrobe pak Ansu yang mulai terbuka lagi


“Minum, Cy kopinya…” pak Ansu menyodorkan secangkir kopi panas yang dia buat.


“Oh iya, pak… Makasih,” dokter Ucy semakin tidak fokus melihat pria matang itu.


Semoga aja nanti sampai Maldives, semua kamar penuh. Jadi… Hihiii aku bisa sekamar sama pak Ansu… Ya ampun… kenapa aku jadi ngebet gini ya? Batin dokter Ucy memandangi wajah pak Ansu yang menatap birunya laut Utara Pulau Jawa.


“Kamu udah pernah ke Maldives, Cy?”


“Belom, pak. Bapak udah pernah ke sana?” tanya dokter ucy balik.


“Sudah. Dulu sama mamanya Raja... Kami dulu main scuba diving disana. Kami juga pergi jalan-jalan ke kampung penduduk lokal di sana. Kebanyakan mata pencaharian mereka bertumpu pada industri pariwisata dan sektor perikanan. Seluruh warga negara di sana memeluk agama Muslim. Meskipun negara muslim seratus persen, mereka sangat welcome dengan semua pendatang yang berbeda agama, termasuk orang-orang barat yang beberapa diantaranya memiliki paham agnostik dan atheis. Begitulah salah satu teknik mereka mengenalkan kebudayaan mereka. Meskipun konon katanya menurut para ilmuwan kalau pulau itu bakal tenggelam 100 tahun lagi, penduduk disana tetap giat memajukan industri resort dan perhotelan.”


“Nah… Maka dari itu pak… Bapak harus mau saya ajak liburan ke sana lagi. Mumpung belum tenggelam,” dokter Ucy mencari celah untuk terus mendekati pak Ansu.


“Kamu ini… Saya bicara panjang kali lebar, nyangkutnya cuma bagian terakhir,” celetuk pak Ansu yang diikuti senyuman dokter Ucy. “Cy…”


“Ya pak? Kenapa?”


“Berapa usia orang tuamu?”


“Em… Ayah saya kayaknya 67 terus ibuk saya 64. Kenapa pak?”


Astaga… Apa mereka gak akan menjerit kalau tahu anaknya menyukai orang seusiaku? Pak Ansu memejamkan matanya dalam-dalam. Tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kalau kedua orang tua dokter Ucy tahu.


“Hm… Cuma mau tahu.”


Beberapa saat mereka diam dalam keheningan. Hanya ada suara angin semilir yang masuk dari jendela kamar itu. Dokter Ucy yang sedang mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan, justru tidak mampu membuka mulutnya saat ini.


“Kamu kenapa, Cy? Ngapain gigit-gigit bibir gitu?” Kamu pikir aku bisa tergoda apa buat nyium kamu? Hah! Jangan harap ya kamu bisa mudah menggoda ku, pak Ansu merasa tidak nyaman dengan suasana cangung yang tercipta.


Dokter Ucy yang tidak mampu berucap tapi ingin mengutarakan isi hatinya kepada pak Ansu itu meberanikan dirinya mendekati tempat di mana pak Ansu duduk. Wajah dokter Ucy yang terus mendekati wajah pak Ansu, membuat aliran darah pak Ansu tergelitik. Bola matanya semakin terbelalak saat bibir dokter Ucy mendarat di pipinya.


CUP!


“Ucy!” Suara tegas pak Ansu itu membuat dokter Ucy kaget. Cepat-cepat dokter Ucy berdiri tegak. Wajah pak Ansu terlihat kesal setelah mendapat ciuman dari perempuan di depannya itu.


Pak Ansu yang tidak suka dengan keberanian dokter Ucy mencium pipinya, mulai menarik lengan dokter Ucy sampai ke luar pintu.


“Saya tidak suka sikap kamu barusan. Saya gak akan pergi ke Maldives dengan mu.”


JEGLEK! Pak Ansu menutup pintu kamarnya. Tubuh dokter Ucy sedikit menggigil menghadapi reaksi kemarahan pak Ansu. Dia tidak menyangka kalau ciuman pipi saja bisa membuat pak Ansu semarah itu.


Astaga…? Apa yang aku lakuin tadi? Sekarang pak Ansu malah marah sama aku… Gimana ini… Ketuk pintu lagi gak ya? Dokter Ucy meremas-remas rambut di kepalanya. Dia bingung harus berbuat apa.


Akhirnya dokter Ucy memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia mengirim pesan ke Sekar agar datang ke kamarnya. Selagi menunggu kedatangan Sekar, dokter Ucy memikirkan kenapa pak Ansu bisa semarah tadi. Padahal hanha sekedar ciuman di pipi? begitulah cara dokter Ucy berfikir.


Ceklek…! Sekar memasuki kamar dokter Ucy yang tidak dikunci. Wajahnya terlihat antusias berharap kabar baik akan dia dengar.


“Kak… Gimana? Udah berhasil bujuk pak Ansu? Udah jadian belom kalian?” tanya Sekar ikut duduk di sofa.


“Kok bisa?” Sekar masih tidak percaya bagaimana mungkin dokter Ucy ditolak. Secara kalau dipikir-pikir ayah mertuanya itu justru lebih banyak beruntung kalau mendapatkan dokter Ucy. Kapan lagi bisa mendapatkan daun muda? Dokter lagi… Bisa jadi masih perawan ting-ting juga. “Kakak gak salah dengar kan? Mungkin aja…”


“Udah lah dek! Aku dah kepalang malu. Gak lagi deh aku nembak dia. Dah kapok takut kena tolak terus. Ini soal cinta… Buka soal CPNS CPNS-an yang kamu bilang itu!” Semakin cemberut mengingat raut wajah penolakan dari pak Ansu.


“Hm… Huft… Padahal Boy sama Gadis suka punya grandma kayak kakak…” Sekar pun ikut mencebikan bibirnya kali ini.


“Entahlah apa yang dicari orang tua itu. Aku mau cari berondong aja deh! Atau gak usah nyari jodoh sekalian… Hmmm… Pokoknya kesel! Kesel! Kesel!” semakin meluapkan amarahnya dengan memukul-mukul bantal sofa.


“Udah jangan marah-marah ntar cepet tua… Sini aku peluk dulu…” Sekar mengusap-usap rambut dokter Ucy yang tergerai di belakang punggung.


“Emang udah tua aku tuh, dek… Hampir tiap hari ditelpon ditanyaiin ibuk aku udah punya calon belom…? Kapan nikahnya…? Tekanan darahku selalu naik kalau mikirin begituan,” akhirnya keluar juga semua uneg-uneg dokter Ucy yang selama ini dia pendam sendirian.


Tapi tak lama kemudian dokter Ucy mulai bisa menstabilkan emosinya kembali. Dia tersenyum malu menyadari sikapnya sendiri.


“Gimana? Udah baikan?” senyum di bibir Sekar juga mulai berseringai.


“Laper aku habis marah-marah… Hihiii,” jawab dokter Ucy sambil mengusap perutnya.


“Ya udah, makan yuk! Mau ku masakin?”


“He’em…”


Mereka pun berjalan menuju dapur di deck lantai satu. Seorang perempuan yang bertugas sebagai kepala koki mendampingi Sekar dan dokter Ucy selama berada di dapur.


“Mari buk biar saya potongin…” kata kepala koki itu kepada Sekar. Sekar merasa aneh mendapat panggilan ‘buk’. Dia malu bukan tanpa alasan. Kepala koki yang bernama Lia itu, dulunya adalah teman kerjanya sewaktu part time di kapal phinisi.


“Mbak Lia ni… apa sih panggil buk buk… Kita kan teman,” celetuk Sekar membuat dokter Ucy terhibur. “Jangan senyum-senyum kamu kak… Ku bikin pedes ni soup tom yum nya…” kata Sekar dengan menyenggol pinggang dokter Ucy di sebehalnya.


“Kamu kan sekarang udah jadi nyonya… Kar… Bisa digantung ntar aku sama pak Raja kalau panggil kamu nama doang,” timpal Lia dengan senyumnya. “Pokoknya jangan nolak kalau aku panggil, BU-Se-kar.” Sekar mulai menggerakan bibirnya mengikuti ucapan Lia. Dokter Ucy hanya melirik, menyunggingkan bibirnya melihat wajah Sekar.


Tak lama kemudian, terdengar suara pak Ansu. Secepat kilat dokter Ucy mencari tempat persembunyian karena masih malu berhadapan langsung dengan pak Ansu. Tapi karena penataan ruang dapur itu tanpa sekat sedikitpun, dokter Ucy hanya mampu membuka chiller pendingin dan memasukan wajahnya, berpura-pura mencari sesuatu.


“Lia… Lia…” pak Ansu mulai terlihat di hadapan Sekar dan Lia. “Sekar? Ngapain disini?”


“Masak sup tom yum, Yah buat kak Ucy,” jawab Sekar sambil mengalihkan pandangannya melihat punggun dokter Ucy di belakangnya. Pak Ansu pun melihat punggung dokter Ucy sekilas. Tapi karena rasa kesalnya terhadap sikap dokter Ucy yang dia anggap tidak sopan, pak Ansu tidak mau mempedulikan dokter Ucy.


“Lia, kamu sudah siapkan kue ulang tahun untuk bu Lily?” pertanyaan pak Ansu itu membuat hati dokter Ucy kembali sakit. Tanpa sengaja air matanya mentes. Kulit wajahnya yang merasakan suhu dingin dari chiller mulai kaku, seoalah harapan untuk menjalin hubungan dengan pak Ansu benar-benar tidak ada harapan.


“Masih di oven, pak. Kurang lebih 20 menit lagi jadi,” jawab Lia ikut mencari sorot pandang pak Ansu yang melihat punggung dokter Ucy.


“Ya sudah, nanti kalau jadi kamu antar ke kamar saya ya… Sekar, saya juga mau mencicipi masakan menantu kesayangan saya,” ucap pak Ansu membuat Sekar semakin semangat untuk memasak sup Tom Yum.


“Kalian lanjutkan lagi acara masak-masaknya. Saya permisi…” ucap pak Ansu masih melirik punggung dokter Ucy.


Itu muka lama-lama jadi es batu ntar… batin pak Ansu sebelum keluar dari dapur.


 


*****


Bersambung…


*****