
Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama 2 jam menggunakan pesawat, akhirnya Sekar sampai di Batam. Sekar berjalan keluar dari pesawat menuju gate bandara untuk melanjutkan penerbangan ke Tarempa.
“Huft… Semoga gak delay. Mana mendung lagi sekarang,” bisik Sekar mengamati cuaca sambil berjalan ke ruang transit.
Tiba-tiba langkah kaki Sekar terhenti. Dia melihat sosok laki-laki bertubuh tegap yang dulu sangat dia kenal. Keringat dingin mulai keluar dan badannya sedikit gemetaran. Kepalanya terasa berat karena memori yang hampir membuat nyawanya melayang itu terlintas di kepalanya. ‘Sakit… Sakit… Aku hamil mas… huuUUuu Jangan… jangan…!’ Rasa sakit yang pernah dia alami itu tiba-tiba muncul lagi setelah melihat Raja.
Sekar membalikan badannya dan berlari ke salah satu ruangan yang pencahayaan nya tidak begitu terang. Ruangan yang penuh dengan sapu, kain pel dan cairan pembersih. Yang tidak lain lagi adalah ruang cleaning service.
Di ruangan itu Sekar mulai mengatur pernafasannya. Dadanya sedikit nyeri. Setelah sekian lama dia tidak melihat Raja, dia harus melihat laki-laki itu lagi.
Huh… Huh… Huft… Sialan! Ngapain dia ada di depan gate transitku…? Apa dia mau ke Tarempa juga…? Tapi kan dia punya helikopter... Ngapain dia mau pakai pesawat umum? Batin Sekar sambil menerka-nerka kenapa Raja bisa ada di bandara Batam.
Sekar mencoba bersabar untuk menunggu kepergian Raja, tapi jarum jam terus berputar. Sekar seperti dikejar waktu. Sekar mencoba memberanikan dirinya mengintip Raja dari jauh. Laki-laki itu masih berdiri di ruang tunggu gate yang ingin dituju Sekar. Sampai pada akhirnya Sekar mendengar pengumuman yang disampaikan petugas bandara lewat pengeras suara.
“Your attention please, Miss Brigitta Sekar please boarding from door D12 to continue your trip to Tarempa, thank you… Perhatian, Nona Brigitta Sekar dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu D12 untuk melanjutkan perjalanan ke Tarempa, terimakasih.” Pengumuman dari petugas badara itu Sekar dengar sampai 3x.
Kenapa sih monster itu gak pergi-pergi? Huh! 5 menit lagi pasti pesawatnya jalan. Sial! Batin Sekar sambil mengintip kebaradaan Raja.
Sedangkan Raja yang tengah mondar-mandir ditemani Shan mulai kuatir kalau Sekar melarikan diri darinya. Raja yang merasa kesal semakin meluap emosinya karena melihat Shan begitu tenang sambil membaca aplikasi Noveltoon.
“Shan…”
“…Ya pak? Bisa dibantu?” tanya Shan sedikit gelagapan sambil memasukan handphonenya ke saku celana.
“Bisa kau cari Sekar di gate lain? Mungkin dia lagi salah masuk gate.”
“Siap pak,” sahut Shan sambil berjalan menuju gate lain melakukan pengecheckan.
Shan juga membuka galeri di handphonenya untuk melihat foto Sekar yang pernah diberikan oleh Raja. Ada belasan detective, masa nyari sebiji perempuan aja gak bisa ketemu dari dulu!? Sekar… Sekar… makin penasaran aja sama muka asli cewek itu. Gue ikat kalau sampai gue berhasil nemuin tuh cewek. Huh! Dah 5 gate dicek gak ketemu-temu… Padahal lagi asyik-asyiknya baca novel ‘My Butler’… Mengganggu fantasi aja nih… what the he*ck! (Anjirrr!) Shan terus menggerutu selama mengecek tiap gate di dekatnya.
Akhirnya 5 menit kemudian Sekar melihat pesawat yang harus dia naiki itu lepas landas. Semakin gemas saja Sekar menghadapi Raja. Sementara itu Sekar terus-terusan mendapat pesan dari dokter Ucy kalau kondisi Gadis semakin menurun.
Dangan berat hati Sekar terpaksa menelpon pak Ansu untuk meminta bantuan.
Tut…Tut…Tut…
“Hallo?” sapa pak Ansu.
“Hallo pak... Em boleh saya minta bantuan bapak?” Pak Ansu sangat senang sekali mendapat pertanyan itu dari Sekar.
“Yeah! Pasti. Ada apa Sekar? Sudah sampai mana kamu? Saya sama Ucy sedang menunggu Gadis di rumah sakit.”
“Saya ketinggalan pesawat dari Batam menuju Tarempa. Ada mas Raja yang dari tadi berdiri di gate saya. Dan sekarang saya lagi sembunyi di ruang OB dekat gate D12.” Mendengar ucapan Sekar itu sebenarnya pak Ansu sangat senang membiarkan Sekar tertangkap oleh Raja. Paling-paling aku akan nambah cucu baru lagi, begitu pikiran pak Ansu membayangkan apa yang akan dilakukan Raja ke Sekar. Tapi sebagai calon mertua yang baik, pak Ansu harus besikap kooperatif kepada calon menantu idamannya itu. Lagi pula kondisi Gadis yang sedang sakit sangat membutuhkan kehadiran mamanya. Itulah mengapa pak Ansu harus menekan egonya itu.
Akhirnya setelah 1 jam menunggu di dalam ruangan OB, Sekar dijemput oleh seorang laki-laki. Sekar dibawa orang itu menuju helikopter untuk terbang ke Tarempa.
_____
Raja yang kesal karena tidak berhasil mendapatkan Sekar mulai emosi kembali. Seluruh kata-kata kotor keluar dari mulutnya melampiaskan kekesalan. Shan yang sudah hafal dengan kebiasaan Raja mulai mencarikan alkohol di bandara. Memberi cairan surga dunia untuk menenangkan bosnya.
“Mari, pak. Silahkan…” kata Shan menyodorkan sebotol whisky yang baru saja dia beli.
Setelah emosinya cukup reda, Raja mulai berfikir kembali. Kalau Sekar tidak menuju Tarempa lewat bandara, mungkin saja Sekar memakai transportasi laut alias kapal. Dengan opininya itu, Raja menuju pelabuhan di Batam. Kebetulan salah satu yachtnya diparkirkan di Batam.
Raja mengajak Shan untuk meninggalkan bandara dan menuju pelabuhan. Shan hanya mengikuti kemana pun Raja pergi. Karena itu memang adalah tugas utama Shan.
Seperti biasa, Shan yang masih belum bisa menjalankan yacht akan duduk di kursi. Sedangkan Raja yang akan menjalankan yachtnya, meskipun kondisi tubuhnya saat ini sudah mabuk. Mabuk tidak mabuk pun Raja akan mengemudikan yacht dengan kasar. Shan sudah hafal itu, dan dia akan melanjutkan membuka aplikasi noveltoonnya.
“DuuUhhh! Lagi seru-serunya malah hilang jaringan internet! Sial!” gerutu Shan sambil memperhatikan Raja yang sudah kesetanan menjalankan yacht. “Lama-lama gue bisa goyang ngebor kalau naik yacht terus-terusan kaya gini!” Shan berusaha berjalan menuju kursi di dekat kemudi Raja.
“Bisa kau ambilkan rokok di laci itu?” tanya Raja memerintah Shan.
Sudah ada 4 kapal umum dari Batam menuju Tarempa yang Raja kejar untuk mendapatkan informasi tentang Sekar. Tapi informasi yang dia dapat dari 4 nahkoda adalah sama. Tidak ada penumpang bernama Brigitta Sekar. Ini membuat Raja frustasi. Raja mulai menghentikan yachtnya dan berjalan menuju deck belakang.
“Hm… Mulai dah…” Gumam Shan memperhatikan gerak-gerik Raja.
“SEKARRRRRRRR!!!... Hiks.” Raja kembali tidak bisa mengontrol emosinya. Air matanya mulai mengalir lagi meluapkan kerinduannya untuk Sekar. “Dimana kamu diamana kamu… Se--karrr…… HUAAAAAAAA!!! Hiks.”
Begitulah kondisi kejiwaan Raja bila kehilangan kendali. Raja akan meninju besi deck kapal berulang-ulang sampai dirinya lelah dan tangannya berdarah. Shan hanya akan membiarkan Raja menyakiti dirinya sendiri. Karena pernah Shan mencoba melerai Raja, tapi justru tonjokan sampai hidungnya berdarah yang dia dapatkan.
“Gue rasa dokter rumah sakit jiwa gak akan sanggup menghadapi kamu, pak,” bisik Shan sambil memperhatikan Raja.
Akhirnya malam itu Shan menyeret Raja yang sudah setengah sadar menuju kamar di deck bawah. Sedangkan Shan akan tidur di kursi panjang deck tengah sambil melanjutkan membaca novel.
“Huft… Akhirnya selesai juga baca novel My Butler. Berasa nyata karena lokasinya di Kep. Riau…” kata Shan sambil mengucek mata karena pandangannya kabur melihat layar handphone. “Ngomong-ngomong kenapa authornya namanya Sekar ya? Mirip betul sama cewek yang lagi dicari bos gila gue…? Novel apa lagi nih? Hm… Love Story Of Sekar?”
*****
Bersambung…
*****