Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Kalimat Yang Berdengung Di Telinga Raja



Kemarahan dan kekesalan Sekar semakin menjadi.


“Aku dah bilang ini anak dia! Hkz, huuUu Huk! Uhuk…” Ucapan Sekar yang tersenggal-senggal itu membuat kedua dokter ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Sekar. “Dia gak percaya… Hkz. Dia sebut aku pelacurr… Hiks... Aku mau lapor ke polisi aja,” suara Sekar semakin lirih kehilangan tenaga.


Dia mencoba untuk bangkit dari tempat tidur tapi tubuh rapuhnya itu oleng sampai kepalanya terbentur siku kabinet yang runcing. Sekar kembali kehilangan kesadaran.


Darah yang bercucuran itu membuat hati dokter Ucy terkoyak. Rencana untuk mempersatukan Sekar dan Raja diurungkan olehnya. Dokter Ucy dan dokter yang satunya cepat-cepat membaringkan tubuh Sekar ke bed lagi dan mengobati luka di dahi Sekar.


Setega ini kamu Raja menghancurkan Sekar?! Kamu bukan monster lagi, tapi iblis… Tega sekali kamu menyod0mi perempuan yang mengandung anakmu! Kamu bahkan tidak mempedulikannya seperti sampah. Kamu harus merasakan sakit hatinya Sekar!! Dokter Ucy begitu geram melihat Sekar yang hidupnya diobrak-abrik oleh Raja.


“Dok, tolong jaga Sekar. Saya akan keluar sebentar,” kata dokter Ucy yang kemudian keluar dari ruang UGD.


Di luar ruangan masih ada pak Ansu yang menunggu hasil pemeriksaan Sekar. Pak Ansu yang melihat dokter Ucy keluar ruangan, mulai mendekatinya.


“Pak… Saya sangat minta maaf. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan rencana untuk menikahkan Raja dan Sekar.”


“Kenapa…? Sekar mengandung cucu saya. Saya mau Sekar jadi istrinya Raja.” Pak Ansu terkejut dengan perubahan jalan pikiran Ucy.


“Tapi anak bapak sudah melakukan kekerasan…! Ini bahkan kategori kriminal! Pemerk0saan! Bahkan masuk kategori percobaan pembunuhan!”


PEMBUNUHAN… PEMBUNUHAN… PEMBUNUHAN…


Kata-kata lantang dokter Ucy itu terngiang di kepala pak Ansu. Tubuhnya gemetar anaknya disebut pembunuh. Raut muka semakin tegang dan pucat.


“Saya mau ke kantor polisi. Menjebloskan anak bapak ke penjara…” Dokter Ucy melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi.


Pak Ansu yang mendengar ucapan dokter Ucy itu menghentikan langkah dokter itu. Dia menarik tangan dokter Ucy. Sebagai ayah, sebesar apa pun kesalahan anaknya pasti akan ditutupi dan dilindungi. Dia juga tidak mampu melihat Raja mendekam di penjara. Mungkin bila Raja masuk penjara akan tetap mudah baginya mengeluarkan Raja dari balik jeruji besi. Tapi tidak dengan sanksi sosial yang akan diterima Raja. Pak Ansu sudah cukup merasa bersalah dengan kehadiran El membuat kehidupan Raja tidak bahagia. Raja harus kehilangan ibu yang amat dicintainya karena depresi… Lalu El merebut Mona dari sisi Raja… Dan Sekarang tidak mungkin pak Ansu melihat anak kebanggaannya mau dijebloskan ke penjara.


“JANGAN! Raja anak saya… Kamu tidak bisa melakukan itu kepada Raja!” pak Ansu menatap mata dokter Ucy dengan tajam.


“Tapi anak bapak memberi luka yang amat dalam untuk Sekar. Mungkin saja sudah menjadi trauma untuk Sekar.” Dokter Ucy menentang pendapat pak Ansu. Emosi keduanya semakin memanas.


“Kalau kamu sampai melaporkan Raja ke polisi… Saya... Saya bisa mencabut izin praktekmu sebagai dokter! Dimanapun itu!” Kalimat singkat yang keluar dari mulut pak Ansu itu bagai mantra dari malaikat pencabut nyawa untuk dunia karir dokter Ucy.


Tubuh dokter Ucy gemetar dan kesal. Tatapan mematikan yang ditunjukan mata pak Ansu itu terlihat tidak main-main. Begitu kejamnya bapak dan anak yang sudah tidak waras itu. Nyali dokter Ucy menciut. Tapi kebenciannya semakin bertambah terhadap pak Ansu dan Raja.


“Apa mau bapak sekarang?” tanya dokter Ucy mencoba mendengar penjelasan pak Ansu.


“Saya akan menyadarkan Raja agar mau bertanggung jawab… Dan juga…” pak Ansu mulai merogoh kantongnya dan mengeluarkan dompet. Dia menarik 2 kartu ajaibnya, kartu debit dan kartu kredit unlimited. “Pakai ini untuk kamu dan Sekar,” pak Ansu menyerahkan dua kartu itu. Ragu-ragu dokter Ucy menerima kartu itu. Dilihatnya 2 kartu yang ada di tangannya.


“Saya tidak butuh, pak. Saya tidak yakin Sekar juga mau. Dia bukan tipe meterialistis. Itu kenapa dia memilih mencari kerja.”


“Kamu dan Sekar akan butuh. Dia hamil bayi kembar. Saya sangat paham ibu hamil membutuhkan banyak pengeluaran. Tolong diterima Ucy… Jaga Sekar untuk saya. Secepatnya saya akan membuat Raja sadar dan menerima Sekar. Jaga cucu saya, Ucy… Saya mohon.”Pak Ansu mulai memelas, menurunkan drajatnya sebagai pengusaha kaya.


Dari sisi ini, dokter Ucy melihat kesungguhan pak Ansu untuk melindungi calon cucunya. Dokter Ucy mulai menggenggam dua kartu itu.


“Huft... Saya akan menggunakan kartu ini untuk kebutuhan Sekar. Saya pasti akan menjaga Sekar dan bayi yang dikandungnya.” Kalimat dokter Ucy membuat pak Ansu lega. Setidaknya masalah ini tidak sampai ke ranah hukum.


 


Sementara itu Raja yang terbang balik ke pulaunya dengan heli. Dia sangat cemas dengan kodisi Mona. Dia sangat takut kalau Mona kembali mengalami koma.


Sesampainya di pulau, Raja menuju ruang rawat Mona. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa disana. Ada seorang karyawan meminta Raja agar naik buggy.


“Mas Raja... Mari saya antar menemui non Mona,” kata karyawan itu sambil mengarahkan Raja menaiki buggy. Raja mulai mengikuti karyawan laki-laki itu dan menaiki buggy.


“Gimana kondisi Mona? Apa dia sudah siuman? Dimana dia sekarang?” tanya Raja sedikit panik.


“Non Mona sehat. Jangan kuatir… Non Mona lagi nunggu mas Raja di villa ujung,” jawab karyawan laki-laki itu.


Setelah 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di villa baru yang bangunannya tampak besar dan megah. Disana ada banyak teman-teman Mona, termasuk El yang wajahnya tidak begitu ceria. Begitu pula dengan Ben.


Terpaksa aku mengiyakan ide Mona untuk menelpon Raja agar segera balik ke resort. Party apa lagi ini…? Kumpul-kumpul gak jelas! Gumam Ben sambil memperhatikan Raja yang baru saja datang.


“Mas Raja… How are you darling? I miss you…” Mona menghamburkan pelukannya ke Raja. Menciumi dan mengkecup-kecup bibir Raja.


Raja masih tampak belum mengerti karena berita yang dia terima kalau Mona pingsan. Tapi sekarang perempuan yang dihadapannya itu sehat bahkan sedang menikmati segelas red wine di tangannya.


“Mo? Kata Ben kamu pingsan?” tanya Raja bingung.


“Hehee… Enggak kok mas. Aku baik-baik aja… Maaf ya aku suruh Ben boong. Habis kalau gak digituin kamu akan lebih milih rapat daripada aku…” jawab Mona dengan manja. Melingkarkan kedua tangannya di leher Raja.


“Terus ini pesta apa?”


“Ini Pesta… Masa lajang sebelum nikah… Nanti kalau kita nikah pasti aku akan sibuk ngurus kamu. Jadi gak pa pa kan kalau ada party beginian… Sekalian bagi tahu teman-teman aku kalau kita akan nikah bulan depan.” Mona mulai meelu*mat bibir Raja.


Didalam mata terpejam itu Raja teringat dengan ekspresi wajah Sekar yang memelas ‘to-long a-ku mas’. Kata-kata itu berdengung di telinga Raja. Raja berusaha berkonsentrasi menikmati ciuman Mona, tapi wajah memelas Sekar dengan kalimat lirih yang diucapkannya ikut berdengung mengganggu ciuman yang diberikan Mona… ‘I-ni anak mu…’


“Mo, aku capek. Aku mau ke kamar buat mandi dulu,” kata Raja sambil melepaskan rangkulan tangan Mona di lehernya.


Mona menjadi canggung menerima penolakan Raja. Mona berjalan mengikuti langkah Raja yang menuju kamar.


 


 


*****


Bersambung…


*****