
Kondisi Pesawat Jet yang ditumpangi Sekar dan Raja
____________________________________________
Sepanjang perjalanan menuju Pulau Bintan, Raja dilanda dilema. Raja memandangi punggung Sekar yang membelakanginya. Diperhatikannya perempuan itu sepertinya tidak tidur. Hanya memejamkan matanya, tapi kelopak matanya bergerak-gerak tidak tenang. Lebih tepatnya seperti pura-pura tidur.
Jangan sampai aku tidur betulan! Aku harus menangkap basah orang gila ini kalau dia berani mencium ku. Untung saja Kasih pernah bercerita tentang kisahnya. Awas aja kalau sampai dia berani macam-macam! Gerutu Sekar dengan mata yang terpejam.
Raja tidak melepaskan pandangannya dari perempuan di sampingnya itu. Raja mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Kenapa rasa cintanya bisa goyah. Apakah ini akibat penghianatan yang dilakukan oleh Mona dan El? Sehingga dirinya juga jenuh dengan situasi cinta segitiga itu. Apakah dirinya sudah menyerah untuk memperjuangkan Mona?
Pertanyaan yang belum ada jawabannya itu membuat Raja ingin memastikan tentang isi hatinya. Dilihatnya wajah Sekar dengan cermat. Mulut Sekar yang sedikit menganga itu sudah dipastikan perempuan itu sedang tertidur lelap.
Raja mulai menaikan pembatas kursi antara dirinya dan Sekar. Menurunkan sandaran kursi, agar membuat dirinya nyaman memeluk perempuan di sebelahnya itu.
Raja mengusap rambut Sekar dengan pelan. Mencium aroma rambut Sekar. Tapi tidak ada aroma sedikitpun. Yah, tidak ada bau-bau wanita pada umumnya yang menjaga penampilan.
Tapi saat hidungnya menyentuh leher Sekar, ada aroma yang membuatnya ketagihan. Raja mencium lembut leher perempuan itu. Tubuhnya seakan ingin terus berhimpitan dengan Sekar. Ingin terus mencari tahu perasaan gila macam apa yang dirasakannya saat ini.
Otaknya semakin tidak bisa berfikir jernih akibat alkohol. Tanganya mulai mengusap lengan Sekar yang memakai kaos panjang. Otaknya seakan mengatakan…. Kamu sudah menikmati benda kenyal milik Sekar, pergilah meraba bagian yang lain. Yah, perasannya semakin tidak terkendali. Raja meraba bagian intimnya Sekar, rasanya ingin memasukan jarinya kebagian itu, tapi celana jeans itu sulit sekali dibuka. Raja meremasnya dengan tangan kekarnya. Meremas beberapa kali seperti ingin mencicipi apa rasanya bila kejantanannya masuk ke bagian yang dia remas sekarang.
Aksinya itu membuat Sekar menggeliyat. Raja segera menjauhkan tangannya. Memandangi pergerakan tubuh Sekar. Perempuan itu memalingkan tubuhnya menghadap Raja.
Perasaan Raja yang sudah memuncak itu tiba-tiba sirna. Dia tersenyum memandangi wajah Sekar yang sedang ngiler. Yah, bibir Sekar yang sempat dia ciumi tadi benar-benar mengeluarkan air liur. Raja hanya bisa menahan tawanya. Bagaimana bisa perempuan ini menghentikan aksinya tanpa harus melakukan perlawanan. Hanya cukup ngiler.
“Mimpi apa kamu?” Bisik Raja sambil mengusap area mulut Sekar dengan penuh hati-hati agar tidak membangunkan Sekar.
Raja mulai mengambilkan selimut dan menyelimuti tubuh Sekar agar semakin nyenyak perempuan itu tidur.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Sekar terbangun karena mendengar suara speaker dari pramugari.
“Selamat Pagi pak Raja dan kak Sekar. Sesaat lagi kita akan mendarat di lapangan udara Luxus Company. Mohon pasang sabuk pengaman anda. Terimakasih.”
Sekar merasa malas untuk membuka matanya. Ingin terus lanjut tidur dengan guling besarnya. Guling besar? Alam bawah sadar Sekar mulai aktif pelan-pelan. Bagaimana mungkin ada guling sebesar dan sekeras yang dia pegang saat ini? Matanya mulai terbelalak dan…
“HUAAAAAAA?!” Sekar berteriak melihat Raja dalam pelukannya. Tapi Raja seolah tidak mendengar teriakan Sekar. Jantung Sekar berpacu dengan kencang. Ini merupakan tindakan yang tidak sopan dia lakukan. Sekar segera menurunkan kakinya yang sudah berada di atas paha Raja. Membetulkan kursi senderannya dan mengatur pernafasannya.
Dia mulai melihat ke luar jendela. Dilihatnya hamparan laut berwarna biru mulai nampak. Sekar mulai menepuk-nepuk lengan Raja agar laki-laki itu bangun. Tapi Raja tak kunjung bangun. Sekar segera membantu Raja untuk memasang sabuk pengaman. Kaos yang dipakai Raja itu sedikit menyingkap naik. Dilihatnya betapa padat perut Raja yang berkotak-kotak.
“Huft… Ini bukan Roti sobek lagi. Ini tumpukan batako yang berotot. Makanannya apa coba? Pasti banyak makan daging. Huft… Sadar sadar… Misi ku adalah bang El. Mas Raja dari awal udah sama Mona. Jangan terkecoh Sekar…” gumam Sekar pelan.
Sekar mulai membetulan kaos Raja yang tersingkap naik. Raja yang melihat kejadian itu berusha untuk duduk. Karena perut Raja sedikit menghantam tangan Sekar, membuat tangan Sekar jatuh menekan perkutut Raja yang berlapis kain jeans.
Raja hanya tersenyum menikmati kejadian barusan. Merasakan tekanan dari tangan Sekar. Rasanya sudah lama tidak ada yang memegang teman bermainnya itu.
Yah, Selama berpacaran dengan Mona, Raja hanya melakukan sekali. Kesibukan Mona sebagai model membuat intensitas pertemuan keduanya susah bertemu. Raja juga tipe pebisnis yang sibuk mondar-mandir wilayah laut Indonesia. Raja tidak suka perusahan yang dia namai Raja Phinisi itu disentuh oleh El. Itulah mengapa pak Ansu, ayah mereka mulai membuka bisnis kapal baru untuk El.
Tapi kinerja El tidak sehebat Raja. Yah, El sibuk dengan urusan pribadinya sendiri. Yang tidak lain lagi adalah bermain api dengan Mona di belakang Raja. Kejadian itu sudah berlangsung lama. El menceritakan ke Raja tentang hubungannya dengan Mona setelah Mona mengalami kecelakaan. El mengatakan kalau dirinya sudah 2 tahun menjalin cinta dengan Mona. Padahal Raja juga merasa menjalin hubungan selama 2 tahun dengan Mona.
“Maaf Sekar. Saya ketiduran,” kata Raja dengan mata merahnya.
“Mas Raja gak pa pa kan? Matanya merah banget loh. Lain kali jangan minum banyak-banyak.” Ucapan Sekar itu hanya ditanggapi Raja dengan senyuman.
“Udah mau sampai ya?” tanya Raja sambil mengusap kepala Sekar.
Lagi-lagi sikap Raja itu membuat hati Sekar berdesir. Sekar merasa heran dengan dirinya sendiri. Padahal otaknya sudah disetting untuk mendapatkan hati El. Tapi setiap perlakukan Raja kepadanya membuat tubuhnya menginginkan Raja.
“Iya mas,” Sekar hanya mengangguk. Badannya tiba-tiba lemas mendapatkan perhatian Raja yang mengusap-usap kepalanya.
Raja menatap wajah Sekar. Di sudut bibir Sekar ada warna putih. Sudah bisa dipastikan itu adalah bekas air liur. Raja segera meraih tissue basah yang tidaka jauh dari kursinya dan mengusap bagian wajah Sekar itu.
Dan sekali lagi ini membuat Sekar semakin canggung memandangi wajah Raja dari dekat. Bau alkohol sangat terasa, tapi bukan itu yang dipikirkan Sekar. Hembusan nafas Raja terasa hangat dirasakan oleh Sekar. Semakin lemas Sekar merasakan perasaan gilanya itu.
“Em… makasih mas. Biar saya aja,” kata Sekar sambil menjauhkan tangan Raja. Sekar segera mengambil tissue basah dari tangan Raja.
Akhirnya setelah cukup lama kurang lebih 8 jam melakukan penerbangan, pesawat yang ditumpangi mereka sampai di Pulau Bintan. Pesawat itu mendarat di lapangan terbang milik Luxus Company.
*****
Akhirnya sampai juga di tempat Kasih
Bersambung…
*****