Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Salah Paham



Sore itu sepanjang perjalanan dari Natuna menuju Pulau miliknya, pikiran Raja hanya dipenuhi emosi. Bagaimana bisa setiap perempuan yang dia cintai selalu diinginkan oleh El? Lalu apa itu artinya hubungan kakak adik yang selalu El gembar-gemborkan ke orang-orang? El seharusnya tahu kalau Sekar adalah tunangannya. Tapi kakak macam apa yang menginginkan tunangan adiknya? Hanya gelar laki-laki bejatt dan tidak berotak pantas disandang oleh El.


Jangan cabut nyawaku… Jangan cabut nyawaku… Aku mohon… Aku belum siap… Aku banyak dosa… Please… Please… Begitulah Ben berkomat-kamit sepanjang perjalanan.  Berkali-kali kepalanya terjedor di langit-langit atap helikopter. Sudah bisa dipastikan kecepatan detak jantung Ben sudah ambur adul tak karuan.


Setelah kurang lebih 45 menit bertarung dengan hujan badai di atas lautan Anambas, Raja bersiap untuk mendaratkan helikopternya.


SREEEEKKKKKK!


Pendaratan yang tergesa-gesa itu menyebabkan helikopter Raja yang seharusnya bisa mendarat di depan villa El justru meleset sampai jauh. Raja segera melompat keluar dari helikopter. Sedangkan Ben yang pikirannya masih panik membuatnya kesusahan melepas sabuk pengaman.


_____


 


Sekar saat ini tengah sibuk bermain cello dan bernyanyi di ruangan kedap suara. El selalu memperhatikan bagaimana Sekar bermain cello. Matanya selalu tertuju pada kedua kaki Sekar yang mengangkang memeluk cello dari belakang.


Huft… jadi selebar itu dia bisa ngangkang…? Bisa sangat leluasa aku menjebolnya… Ah! Paling sudah dibobol sama Raja… Gak masalah juga. Biarkan Sekar bersamaku. Biar Raja bersama Mona. Lagi pula Mona minta putus dariku. Ini gak adil buatku. Aku berikan hampir semua modal dan aset bisnisku ke Mona. Tapi dia justru minta putus biar bisa kembali ke Raja… Lebih baik memiliki Sekar yang hatinya baik. Meski dia tahu Mona adalah rivalnya (saingan), tapi dia justru mau menolong Mona. Sekar tidak pantas disakiti oleh Raja… Sebelum dia berangkat ke Natuna saja aku lihat dia masih menciumi pipi Mona… Tunangan macam apa itu? Dasar Bagudung! Maunya diembat semua. Abangnya gak dikasih, batin El.


El melangkahkan kakinya mendekati Sekar. Sekar yang sedang berkonsentrasi  bermain cello tidak begitu mempedulikan gerak-gerik El. Tiba-tiba tangan El mulai melingkar di perut Sekar dari posisi belakang. Dia sangat kaget karena El memeluk nya dengan erat.


“AAAAA! LEPASIN! LEPASIN! Jangan macam-macam!” Sekar memberontak dengan memukul tangan El berkali-kali. Cello yang ada di depannya sampai dia tendang karena melawan El. Kaki Sekar berusaha untuk menginjak kaki El. Sekar memutar badannya tapi El sudah menggigit tengkuk Sekar.


“AAAAAA! BRENGS3K KAMU..!” Sekar teringat dengan jurus terbarunya. Yah, dia mulai menggigit tangan El yang ada di depan dadanya dengan keras.


“AWWW!” El merintih kesakitan sampai membuat badannya oleng karena Sekar terus memberontak dari dekapannya. El yang kehilangan keseimbangan menarik badan Sekar sampai keduanya terjatuh di lantai. Sekar yang pinggulnya ditarik oleh El membuat Sekar terjatuh di dada El.


BRUG! El tetap berusaha merangkul pinggang Sekar. Dan…


JDUARRRR! Pintu ruangan terbuka.


Mata merah mendidih menangkap Sekar dan El sedang terlihat intim di lantai. Tanpa berkata apapun Raja mendorong Sekar sampai perempuan itu terpental di tembok.


“BRENGS3k KAMU! BRENGS3KKKKK! BIADAPPPP!” Raja menghajar El berkali-kali tanpa ampun. Hanya dalam hitungan detik muka El sudah hancur-hancuran berlumuran darah. Sekar merasa ngeri melihat keganasan Raja. Dia sampai merinding melihat kekerasan itu terjadi di depan matanya.


Raja mulai memalingkan penglihatannya ke Sekar. Emosinya masih mendidih belum padam. Raja menarik tangan Sekar keluar dari ruangan itu. Dia manarik… menyeret Sekar agar lebih cepat mengikutinya.


Suara petir dan hujan deras di pulau itu membuat Sekar semakin takut. Langkah kaki Raja menarik Sekar menuju dermaga. Mereka berdua basah kuyup sesampainya di yacht milik Raja.


“Mas, kita mau kemana?” tanya Sekar kebingungan karena Raja mulai menjalankan yacht. Raja masih diam membisu karena merasa dikhianati. “Mas... Ini hujan loh,” kata Sekar mengeratkan pegangannya di tiang belakang kemudi Raja. “Mas… ombaknya gede banget,” Sekar menyipitkan matanya karena angin menghantam wajahnya terus menerus. “Mas Raja aku takut…”


DUARRR! DUARRRRRR!


Suara petir terus menyambar tapi Raja terus menjalankan yachtnya ke tengah lautan. Kondisi alam yang belum pernah dialami oleh Sekar itu membuatnya menangis. Memejamkan mata... Memeluk tiang dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Karena gonjangan hebat di yacht itu membuatnya tidak bisa berbuat apapun.


Raja mulai menghentikan yachtnya dan menekan tombol untuk menurunkan 4 jangkar agar yacht tidak terlalu oleng karena ombak.


Sekar berusaha mendekati Raja. Berusaha melangkahkan kaki pelan-pelan untuk meraih lengan Raja. Tapi…


Sreeetttt! Raja mendorong kedua lengan Sekar sampai punggung Sekar terbentur ke dinding kapal.


“MASIH KURANG PUAS AKU MEMBERI SEKSSS?!!!”


Ha…? Mata Sekar mendelik kebingungan. Sekar masih tidak paham dengan ucapan Raja.


Ketakutan Sekar dengan kondisi alam yang tidak bersahabat ditambah dengan kemarahan Raja membuat air matanya mengalir. Dia ingin berlari menghindari Raja tapi dia juga butuh pegangan karena yacht terus oleng dengan dasyat. Mau tidak mau Sekar mengeratkan pegangannya ke tangan Raja.


“Enggak Mas...! Aku gak ngapa-ngapain sama El.” Kata Sekar mencoba menguatkan hatinya karena tuduhan yang tidak benar.


Raja yang masih belum percaya dengan Sekar mulai meraih kaos Sekar. Dia menarik, merobek kaos itu dan melempar ke laut.


“Mas Raja?!” Sekar sangat kaget dengan tindakan Raja. Raja juga melepas celana jeans Sekar secara kasar sampai resleting itu rusak. Sekar benar-benar sudah telanjang bulat di depan Raja. Raja meneliti setiap inci tubuh itu. Memastikan tidak ada tanda aneh yang dibuat El. Dan…


“APA INI?” Raja menjambak rambut Sekar karena dia melihat ada tanda merah di tengkuk leher.


“AWW…! Kenapa mas?” Sekar sangat ketakutan. Air laut yang bergerak hebat seperti ingin menelannya.


“KAMU NGAPAIN AJA SAMA EL?! JUJUR SAMA AKU!!” Raja menggonjang tubuh Sekar dengan kasar.


“ENGGAK…! Gak ada aku ngapa-ngapain sama El…! Dia gigit aku tapi aku melawan! SUMPAH! Aku gak mungkin bo-onggg… hiks… Huaaaa… hu… hu… hu… Aku gak suka El…! Hiks hiks… Jangan main tuduh aja... hu... hu...” Sekar meringsut menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


Tangisnya benar-benar pecah mendapat tuduhan tidak benar. Apalagi tuduhan itu datang dari Raja, orang yang dia cintai.


Raja tidak tega melihat Sekar menangis tersenggal-senggal. Raja meraih tubuh Sekar dan memeluknya. Mengkecupi kepala Sekar dan mengusap punggung Sekar.


“Aku gak ada main sama abang mu… Hkzz.”


“Jangan nangis… Iya aku percaya. Cup Cup…”


“Hiks… Mas Raja gak akan mukul aku kan kaya bang El…?” tanya Sekar membayangkan muka El yang babak belur. Raja tersenyum dan menghapus air mata Sekar.


“Gak akan… Tapi kamu janji jangan dekat-dekat El lagi.” Ucapan Raja itu disambut anggukan oleh Sekar.


“Mas… Dingin…”


“Kamu butuh sekarang?” Raja merangkup wajah Sekar dengan dua tangannya.


“Ish! Mesum mulu sih…?! Ambilin handuk belakang itu…” Raja mulai tersenyum memandangi wajah manis tunangannya.


Maaf ya Sekar, aku sudah salah paham dengan mu, batin Raja.


Raja meraih handuk di belakang dan memakaikan ke Sekar. Dia menuntun Sekar menuju deck lantai bawah. Mereka mulai masuk ke kamar.


*****


Mas Raja… Othor juga minta…


Bersambung…


Eh, Minta kapal maksudnya


Baru Bersambung…


*****