
Pak Ansu menuntun tubuh dokter Ucy untuk dibawa ke bed. Tubuhnya yang masih merasa lelah setelah perjalanan jauh, sedikit terhuyung saat menopang tubuh dokter Ucy. Ditambah lagi rasa nyut-nyutan di pinggangnya sedikit kambuh. Tapi pak Ansu berusaha sekuat tenaga menyampingkan rasa itu. Dia membopong tubuh dokter Ucy ke bed.
Dengan hati-hati pak Ansu membaringkan tubuh dokter Ucy. Mata dokter Ucy berkedip banyak kali memandangi pak Ansu. Masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Perempuan itu mengusap-usap wajah pak Ansu. Merabai dengan menggerak-gerakan ibu jarinya.
“Ini pasti bukan kamu…” ucap dokter Ucy masih tidak percaya.
Pak Ansu yang mendengar ucapan dokter Ucy menjadi tersenyum gemas. Tangannya membuka jaket yang dia pakai dengan merundukan wajahnya ke wajah dokter Ucy.
“Ini aku…” pak Ansu mulai meletakkan jaketnya di bed. Dia mendorong tubuh dokter Ucy agar lebih ke tengah.
Pak Ansu memandangi wajah perempuan yang ada di bawah kungkungannya. Mengusap pipi… bibir… dan berlanjut mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir ranum dokter Ucy. Tapi…
“Mau apa kamu?” telapak tangan dokter Ucy mendorong muka pak Ansu agar menjauhi wajahnya.
“Bukannya tadi kamu minta cium?” tanya pak Ansu dengan mengalihakan tangan dokter Ucy dari wajahnya. Perempuan itu tersenyum mengejek mendapat pertanyaan itu.
“Hahaaa… Jangan sembarangan ngomong! Kapan aku minta cium…? Bibir ku ini cuma buat pak Ansu…” dokter Ucy mendorong tubuh pak Ansu. Dia kembali berdiri menuju teras depan villanya.
“Cy…” langakah dokter Ucy terhenti mendengar namanya dipanggil. “Ini aku… Ansu…”
“Hahaaa… Mana mungkin pak Ansu ada disini…? Aku ini gak mabuk ya… Jangan coba-coba bohongin aku!” berkata dengan belepotan karena sudah terlalu mabuk. Dia berlanjut pergi ke terasa untuk mengambil botol minumannya.
“Cy…”
“Apalagi?” dokter Ucy menoleh lagi ke arah pak Ansu.
“Ini serius gak mau dilanjutin…?” tanya pak Ansu mengalihkan pandangannya ke bed.
“…Gak… Aku mau minum…” dokter Ucy mulai membuka pintu villanya.
“Ck! Nanggung banget…! Kenapa juga pakai amnesia mendadak? Jelas-jelas dia bilang minta dicium...” menggerutu tapi ikut melangkahkan kakinya menuju teras.
Di teras itu dokter Ucy menuangkan white wine ke gelas. Badannya kembali terhuyung karena angin malam cukup kencang.
“Kamu mau minum?” tanya dokter Ucy saat pak Ansu duduk di samping kursinya.
“Yeah…” jawab pak Ansu memandangi cara dokter Ucy menuang white wine ke gelas. Hm… Nanti kalau kamu jadi istriku, gak akan aku biarkan kamu minum-minum sebanyak ini, batinnya ikut membantu memegangi botol yang dituang dokter Ucy.
Mereka berdua mulai bersulang dan menikmati minuman di gelas masing-masing. Dokter Ucy menggoyangkan kaki gelas dengan tesenyum.
“Ini pertama kalinya aku minum bersama laki-laki…” Ucapnya membuat pak Ansu heran. “Kenapa wajahmu mirip sekali dengan pak Ansu…?” tanya dokter Ucy dengan merabai muka pak Ansu. Pak Ansu cukup senang mendengar namanya selalu disebut oleh bibir dokter Ucy. “Pasaran sekali mukanya sampai kamu bisa mirip dengannya…”
Hm… Ini kagum atau menghina sih? Gumam pak Ansu tetap membiarkan jari-jari dokter Ucy merabai mukanya.
“Aku sangat membencinya…” ucap dokter Ucy kembali menuang white wine ke gelasnya.
“Siapa?”
“Ansu… Duda beranak dua yang sok jual mahal…” Pak Ansu terkekeh mendengar jawaban dokter Ucy.
“Apa nya yang lucu…? It’s not funny at all!” menunjuk muka pak Ansu dengan gelas di tangannya.
“Ucy Ucy…” pak Ansu perlahan-lahan merebut gelas yang ada di tangan dokter Ucy. Dia meneguk air anggur itu sekali teguk. “Alkohol gak bagus buat kamu…”
“Itu punya ku! Hm... Kenapa kamu habiskan?” memegang kerah dan menggocang tubuh pak Ansu penuh kekesalan. Pak Ansu pun berdiri mengahadapi amukan dokter Ucy.
Keduanya saling beradu pandang. Kedua bola mata mereka saling mengikuti pergerakan satu sama lain. Matanya terpaut semakin dekat… semakin dekat... dan CUP!
Dokter Ucy yang hanya tahu rumus suntik menyuntik pasien, tidak begitu ahli dalam berciuman. Pak Ansu mendorong pinggang dan tengkuk dokter Ucy untuk lebih dekat ke tubuhnya. Laki-laki itu seolah lupa juga caranya berciuman. Dia hanya menempelkan bibirnya ke bibir dokter Ucy.
“HeeggkK…” Dokter Ucy tidak sengaja bersendawa disaat pak Ansu berusaha mengingat bagaimana caranya membuka mulut perempuan. Pak Ansu menahan senyumnya karena konsentrasinya buyar oleh bau alkohol.
“Kenapa… Kamu… Cii…” Belum sempat dokter Ucy selesai berbicara, pak Ansu menggunakan kesempatan itu untuk me3lum4+ bibir dokter Ucy yang terbuka. Dia menggoyangkan lidahnya menyelusuri setiap sudut mulut. Meremas rambut dokter Ucy sambil menghisap-hisap lidah perempuan itu. Pak Ansu membasahi bibir luar dan kembali menggoyangkan lidah perempuan itu. Entah sudah berapa menit pak Ansu menikmati ciuman panas yang diciptakannya. Sampai akhirnya pak Ansu merasa keberatan meneponag tubuh perempuan itu.
“Cy… Cy…” Sedikit kuatir karena mata dokter Ucy tertutup rapat. Pak Ansu kuatir dokter Ucy mengalami pingsan karena mendapat ciuman darinya. “Ucy bangun… Duh, Kenapa ini? Apa mulutku bau ya?"
“Ngooork…” dokter Ucy sedikit mendengkur.
“Astaga… Bisa-bisanya dia tidur saat dicium…” tersenyum heran memandangi wajah dokter Ucy yang tertidur nyenyak. Dia sedikit lega karena dokter Ucy tidak pingsan.
Pak Ansu mulai mengumpulkan tenaga untuk membopong tubuh dokter Ucy memasuki kamar villa.
“Huft… Beratnyaaa badan mu habis diglonggong pakai anggur putih.”
Dokter Ucy sedikit menggeliat setelah tubuhnya berada di bed. Dengan rasa sayang pak Ansu mengusap wajah perempuan itu agar tidak ditutupi rambut panjangnya.
Dia kembali menciumi bibir perempuan di hadapannya itu. Kali ini pak Ansu sudah cukup ahli setelah melakukan pemanasan di teras tadi. Tangannya mulai menarik tali piyama untuk membuka pengait. Perlahan-lahan pak Ansu menurunkan kedua tali bhra untuk memudahkannya menemui si gunung kembar. Bibirnya mulai mendaki mengkecupi satu per satu dengan menggoyangkan lidah di pucuk tertinggi.
“Ah…” pak Ansu merasa teman lamanya sudah menegang. Dia melepaskan seluruh baju dan celananya untuk menikmati hidangan tengah malam.
Pak Ansu mulai merangkak mendekati tubuh dokter Ucy yang sudah setengah telanjang. Dia menarik piyama tadi agar tidak menghalangi teman lamanya untuk berkunjung.
CUP! Pak Ansu mendaratkan bibirnya di bagian sangkar yang masih tertutup renda-renda. Dia mulai menggesekkan teman lamanya itu agar lebih menegang.
“Ah…” dokter Ucy sedikit menggeliyat mendapatkan permainan panas dari pak Ansu. Pelan-pelan tangan pak Ansu melepaskan celana rend4 milik dokter Ucy.
Begitu dirinya berhasil melepaskan celana tadi, pak Ansu menggosok kejantanannya untuk menghujam sangkar yang terpampang di hadapannya. Tapi begitu dia membungkuk…
“ARGHHH… Pinggang kuuu…”
Merintih kesakitan merasakan nyeri yang begitu hebat. Dia memegangi pinggangnya dengan menelusupkan wajah di samping leher dokter Ucy. Sang pusaka yang tadinya sudah berdiri tegak kembali layu karena encoknya kambuh.
“Sialnya… Kenapa gak bisa diajak kerja sama disaat kondisi penting! Huh!” Menumpahkan rasa kesalnya dengan meremas-remas rambut dokter Ucy.
*****
Bersambung…
*****