
Malam itu pak Ansu berlanjut mencari dokter Ucy. Tempat pertama yang dia cek adalah kamar dokter Ucy. Kamar itu terkunci. Dia mencoba mengetuk beberapa kali tapi tidak ada balasan. Akhirnya pak Ansu menggunakan kunci duplikat untuk membuka kamar. Tapi setelah dia berhasil masuk, ternyata kamar itu kosong.
Pak Ansu mulai menanyai beberapa karyawannya, siapa tahu ada yang melihat keberadaan dokter Ucy.
"Mas, kamu ada lihat dokter wanita di kapal ini gak?" tanyak pak Ansu kepada awak kabin yang sedang bersih bersih.
“Dokter wanita yang mana ya pak?” tanya karyawan itu.
“Rambutnya panjang. Badannya langsing. Lihat gak?”
“Ow yang dansa sama bapak tadi ya?” tebak karyawan itu.
“Bukann... Orangnya lebih pendek dari wanita yang saya ajak dansa. Tahu ngak?”
“Mm… Maaf pak saya kurang tahu. Saya akan cek sama awak kapal yang lain, pak. Siapa tahu ada yang lihat,” jawabnya sambil mengingat-ingat setiap wajah para tamu perempuan di kapal itu.
“Yah, Kasih tahu saya kalau ada yang tahu ya. Sama cek cctv. Ini handphone dia kayaknya ngak aktif. Jadi susah nemuin orangnya,” ucap pak Ansu mulai cemas, berharap dokter Ucy dalam kondisi baik-baik saja.
“Siap, pak. Saya akan cek.”
Pak Ansu yang dilanda rasa tidak tenang semakin kuatir mencari dokter Ucy. Dia berjalan menuju deck belakang. Hanya ada kumpulan karyawannya yang sedang merokok di sana. Dia mulai mengecek semua toilet wanita saat tidak ada pengguna. Tapi nihil hasilnya.
“Pak? Nyari apa?” tanya Shan yang tiba-tiba muncul di belakang pak Ansu saat akan masuk ke toilet.
“Nyari Ucy. Kamu ngapain ke toilet perempuan?” tanya pak Ansu balik.
“Heee… Hehee… Toilet laki penuh pak. Toilet di kamar saya lagi dipakai om Ben.”
“Lain kali jangan pakai toilet cewek! Kalau laki ya ke toilet laki…”
“Maaf, pak…” Menunduk tapi masih cengar-cengir.
“Em… Kamu ada lihat Ucy gak?”
“…Tadi… Dia bilang mau ke deck atas. Habis itu saya gak lihat lagi.” Pak Ansu sedikit lega karena ada yang mengetahui keberadaan dokter Ucy.
“Deck atas lantai berapa?”
“…Em… Kalau gak dua ya tiga, pak. Seluruh deck paling atas lantai empatkan diblock buat honeymoon sama pak Raja,” jawab Shan mengingat pembicaraan terakhir dengan dokter Ucy.
“Em, ok. Thanks Shan.”
“Sama-sama pak! Selamat malam!”
Pak Ansu segera melangkahkan kakinya menuju deck lantai dua, karena sebelumnya dia sudah mengecek deck lantai tiga dimana kamar dokter Ucy berada. Pak Ansu memandangi setiap sudut kapal. Dia menyalakan lampu agar lebih jelas mengamati suasana di lantai nomor dua.
Pada bagian depan deck itu, dia melihat ada gelas wine yang berada di lantai. Ada botol red wine juga yang sudah pecah. Dia mendekati benda-benda yang berserakan itu.
“Hm… Ternyata. Ngapain dia tidur di lantai begini? Makanya tadi aku sempat lewat disini gak kelihatan. Ini kaki malah bertengger di atas kursi badannya tidur di lantai…” Pak Ansu mulai mencolok pipi dokter Ucy dengan jari telunjuknya. “Cy… bangun,” pinta pak Ansu yang kemudian menggoyang-goyangkan lengan dokter Ucy.
Tubuh dokter Ucy yang sudah dipengaruhi oleh efek dari meminum alkohol, seperti susah diajak normal kembali. Matanya terbuka sedikit. Dia tersenyum tipis memandangi pak Ansu.
“Dokter kok gila?” ucap Pak Ansu. Dia menggelengkan kepalanya karena heran dengan sikap aneh dokter Ucy. Ini adalah pertama kalinya dia melihat dokter Ucy mabuk.
Pak Ansu mengangkat tubuh dokter Ucy. Dia membopongnya menaiki deck lantai tiga untuk menuju kamar dokter Ucy. Tubuh kecil perempuan itu cukup ringan diangkatnya.
Sesampainya di depan kamar, Pak Ansu menggunakan kunci duplikat yang masih ada di kantongnya untuk membuka kamar itu.
Dia membaringkan tubuh dokter Ucy di bed dan memakaikan selimut. Alih-alih tertidur dengan lelap, dokter Ucy justru menendang selimutnya. Dengan mata yang masih terpejam, dia mulai melepas bajunya satu persatu.
“Ah… Panas… Panas… Huft… Panas…”
Pak Ansu yang melihat tingkah laku perempuan itu merasa ikut panas. Dia yang sudah memegang gagang pintu untuk keluar mulai membalikan kakinya lagi. Pak Ansu mendekati dokter Ucy. Dia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh dokter Ucy.
Tapi entah kenapa niatnya untuk memberi selimut ke dokter Ucy terhenti. Dadanya terasa berdesir lagi memandangi lekuk tubuh perempuan yang hanya tinggal memakai pakaian dal4m. Pak Ansu mengkerjapkan matanya dalam-dalam untuk menyadarkan pikiran aneh yang melintas di benaknya.
“Ini tidak boleh… Huft… Dia terlalu muda untukku,” bisik pak Ansu yang kemudian menyelimuti tubuh dokter Ucy. Belum sempat dia menjauh dari bed dokter Ucy, perempuan itu menggeser tubuhnya dan menundukan kepalanya menghadap lantai. Pikirannya yang masih sedikit setengah sadar masih mampu mengingat letak tisu yang berada di atas nakas. Dia menarik beberapa lembar tissue dan menutup mulutnya.
“Hoek…! Mm… Hoek! Hoek!” Pak Ansu yang duduk di samping dokter Ucy meraih tubuh perempuan itu dan mengusap-usap punggung atas. Telapak tangan kiri pak Ansu tidak sengaja memegang benda kenyal yang tadi sempat menggodanya. Dirasakannya kenyal dan sedikit padat.
Selesai memuntahkan sedikit cairan, dokter Ucy kembali merebahkan tubuhnya ke bed. Dia masih belum sadar tentang keberadaan pak Ansu. Pak Ansu yang masih syok dengan kejadian tidak terduga itu semakin bertambah syok melihat salah satu bulatan kecil dari benda kenyal itu menyempul keluar dari bhra. Tangannya sedikit bergetar mendekati benda menggiyurkan itu. Dia menekan pelan bulatan itu agar masuk kembali ke bhra. Dirasakannya terasa sangat halus. Entah sudah berapa tahun dia tidak merasakan menyentuh bagian-bagian sensitive perempuan, mungkin hampir 13 tahun semenjak istrinya meninggal.
Iman pak Ansu malam ini sedikit terguncang dengan kemolekan tubuh dokter Ucy. Tapi sebagai laki-laki yang sudah berusia dengan banyak pengalaman, dia tidak mau membuat kesalahan. Dia tidak mau melukai dokter Ucy. Baginya Ucy sudah seperti anaknya sendiri. Tidak mungkin niat gila yang hanya sepintas melintas akan menghancurkan perempuan yang sudah dia anggap sebagai anak.
Pak Ansu menarik selimut tadi sampai seleher. Dia mengusap kepala dokter Ucy. Pak Ansu mulai berdiri dan beranjak menjauhi bed dokter Ucy. Tapi…
“Pak… Saya suka sama bapak… Argh…” Suara itu membuat dada pak Ansu berdesir lagi. Dia membalikan tubuhnya melihat dokter Ucy. Ternyata mata perempuan itu masih terpejam.
“Saya suka, bapak…” Pak Ansu tidak tahu laki-laki mana yang dimaksud dokter Ucy.
“Laki-laki mana yang membuatmu sampai mabuk seperti ini?” Pak Ansu melangkah mendekati dokter Ucy lagi. Dia mengusap-usap kepala perempuan itu penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. “Besok kalau kamu sudah sadar, bilang ke saya siapa laki-laki bodoh yang sudah membuatmu mabuk seperti ini… Tidur Cy… Jangan ngigau lagi…” pak Ansu mengusap-usap pipi dokter Ucy.
Alam bawah sadar dokter Ucy yang masih merasakan sakit hati melihat pak Ansu bermesra-mesraan dengan madam Lily membuat perempuan itu menggelengkan-gelangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tanpa sengaja dokter Ucy meraih tangan pak Ansu yang mengusap wajahnya. Dia meletakkan telapak tangan itu di dadanya.
“Jangan sama dia, pak… Saya suka bapak… Saya cin-tah sama bapak…” Dada pak Ansu berdesir kembali mendengar kalimat barusan. Ditambah kesabarannya sebagai lelaki diuji harus memegang benda kenyal yang putih mulus itu.
Pak Ansu tidak tahu, apa yang salah dengan perasaannya malam ini. Kalau perasaan sayang terhadap seorang anak bukanlah seperti ini. Pikirannya melayang… Apakah aku menyukai perempuan ini? Tapi dia menepis dugaan itu. Dia selalu beranggapan kalau dirinya sudah terlalu tua untuk Ucy. Jadi lebih baik pak Ansu mengubur perasaan menggelikan itu dalam dalam.
“Kamu harus mendapatkan laki-laki yang baik. Saya tahu kamu perempuan baik-baik. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Cy,” bisik pak Ansu pelan.
*****
Bersambung…
*****