Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Cik Cello Mau Brojol



“Shan, kamu tahu benda apa ini?” tanya Raja sambil menyodorkan recorder kecil yang dia temukan di ruang kerjanya. Shan mengambil benda itu dan mengamatinya. “Itu adalah recorder yang dipasang Ben. Kalau kamu mau bekerja dengan saya, kamu cari recorder-recorder yang lain di yacht ini. Saya gak suka obrolan saya disadap.”


“Baik pak. Saya akan memusnahkan benda ini.” Shan berlajut mencari benda yang sama seperti yang dia pegang.


Ben yang mendengar pembicaraan itu lewat sambungan recordernya, mulai menjedor jedorkan kepalanya ke meja. “Hadeehhh… Koplak! Koplak! Senjata makan tua ini namanya,” Ben mendengus kesal dan gemas kepada keponakannya.


_____


Sementara itu, saat ini kandungan Sekar yang sudah memasuki bulan kedelapan, membuat dirinya harus mengambil cuti hamil. Perut yang sudah buncit itu sangat kesusahan bila bermain cello. Sekar menghabiskan hari-harinya dengan berjalan ke pasar di depan rumah dokter Ucy.


“Cik Cello, mau nyoba es jus tak?” tanya seorang pedagang.


Yah, semenjak kejadian sod0mi itu, Sekar mendapat saran dari bosnya yang bernama pak Djayus untuk merubah namanya menjadi ‘Cik Cello’. Pak Djayus berharap dengan Sekar memakai nama panggung, keselamatan Sekar bisa lebih terjaga. Karena pak Djayus sebagai bos ikut bertanggung jawab untuk khasus sod0mi yang diterima Sekar. Dia cukup tahu bagaimana watak Raja, si pemiliki perusahaan Raja Phinisi. Garang, kejam dan ambisius dalam urusan bisnis. Tapi ternyata tidak hanya soal bisnis saja. Pak Djayus sangat heran dengan Raja yang melakukan tindakan sod0mi.


Pernah juga pak Djayus mendapat laporan dari beberapa sumber kalau resortnya yang ada di bagian Utara Tarempa sering banyak orang bertanya tentang Sekar. Pak Djayus menduga itu adalah orang suruhannya Raja. Itulah mengapa pak Djayus memindah kerjakan Sekar di resortnya bagian Timur.


“Hm… Enaknya es jus buatan ibuk,” kata Sekar sambil menyruput es jus itu.


“Habisin aja. Saya lebih suka Teh Obeng. Nih, masih ada satu bungkus lagi buat dokter Ucy. Katanya kalau kita sering berbagi sama ibu hamil itu, rejeki kita jadi lancar… Ternyata emang benar. Hehee… Udah 4 hari ini saya bagi terus es jus ke cik Cello… Es jus dagangan saya habis terus,” kata pedagang itu dengan senyum gembiranya. (Teh obeng: artinya teh manis dingin dalam bahasa Kep. Riau)


“Terimakasih ya, buk. Ini es jus yang satunya saya bawa pulang buat dokter Ucy.” Sekar mengambil bungkus yang satunya.


Dari arah berlawanan, terdengar suara khas ibu penjual ikan yang dulu pernah memprediksi kalau Sekar hamil.


“Ikannya… ikan selar segar yok ayok dibeli cik… Banting harga sore sore… Mari mari masih segar…!” kata ibu itu mencari pembeli. Dia berjalan mendekati Sekar. “Cik Cello apa kabar? Lama tak jumpa. Udah gede aja tuh perut,” kata ibu itu sambil meletakan dagangannya.


“Kabar baik, buk. Iya udah lama ya ga jumpa,” Sekar membantu ibu itu meletakan dagangan.


“Saya rasa dah 3 bulan lebih lah kita tak jumpe… Kapan babynya mau keluar?” tanya ibu yang kemudian mengusap perut buncit Sekar. Sekar pun ikut mengusap perutnya.


“Kurang lebih dalam waktu dekat ini, buk. Dah gak sabar pingin lihat mereka.”


“Tuh dek… mama nya mau kalian cepat keluar. Cepat lah kalian brojol dek… Biar papa sama mama senang.” Sekar hanya tersenyum mendengar kata papa. Selama ini Sekar tidak pernah menceritakan kisahnya kepada orang-orang di sekitarnya. Kecuali dokter Ucy dan pak Djayus bosnya. Selebihnya Sekar akan mengatakan ke orang-orang kalau ayah bayi di rahimnya sibuk bekerja. “Udah siapin nama belom, cik?”


“Nama…? Em… belum buk. Ada ide gak? Hehee. Siapa tahu saya suka,” jawab Sekar dengan senyumnya.


Seseorang laki-laki dari arah lain ikut gabung menyambar pembicaraan mereka.


“Napoleon sama napolini aja cik Cello…” Sahut pedagang ikan Napoleon itu.


“Kok nama ikan sih?” ibu penjual es jus tidak terima.


“Habis ngidam nya suka makan ikan napoleon… Ngidam nya cik Cello bener-bener parah. Ikan sebiji napoleon aja jutaan… Seminggu bisa 4 kali dia beli berkilo kilo... Haduh haduhhh… berat seleranya.” Sekar hanya tertawa menanggapi ucapan laki-laki itu.


“Ya biarin… Suaminya kuat beliin kok pakcik yang repot...?” Sahut ibu pedagan ikan selar.


“Betul juga ya… Kalau gitu borong lah hasil tangkapan ikan pakcik mu ni… Pakcik kasih discount. Mau tak? Mau lah cik Cello… Itung itung bagi rejeki...” membujuk tapi sedikit memaksa. Sekar hanya mengangguk dengan tawanya melihat pakcik.


“Iya pakcik… Saya borong juga ikan punya ibuk. Dokter Ucy suka ikan selar,” kata Sekar membuat kedua pedagang itu senang. “Boleh dianterin ke depan sana tak? Ini banyak banget belanjaan saya tadi. Gak kuat bawa ikannya,” pinta Sekar dengan menyatukan kedua tangannya memohon.


“Boleh lah cik Cello… Pakcik pasti antar.” Sekar mulai berjalan keluar dari area pasar dengan kedua pedagang ikan.


Sesampainya di rumah dokter Ucy, Sekar membayar hasil belanjaan nya itu. Dokter Ucy yang baru saja selesai menerima pasien, ikut mengecek hasil belanjaan Sekar.


“Ini buat pakcik. Ini buat ibuk,” kata Sekar dengan memberi uang kepada kedua pedagang.


Tiba-tiba setelah melakukan transaksi pembayaran, Sekar merasa perutnya mulas.


“Aduh…” Sekar memekik sambil menahan rasa sakit. Dia meraba tembok yang ada di belakanya. “Au…” Sekar mengrenyitkan alisnya. “Huuuhhhh Aw…”


Dokter Ucy dan kedua pedagang tadi menjadi kaget dengan suara rintihan Sekar. Dengan sigap dokter Ucy memapah Sekar untuk menuju ruang persalinan yang ada di kliniknya. Kedua pedagang tadi juga ikut membantu dokter Ucy.


“Ah...! Huuhh…” Sekar menggelengkan kepalanya. “Aku gak kuat jalan dok… Gak bisa ini…” Sekar memegangi tangan dokter Ucy dan pakcik dengan kuat.


“Haduh gimana ini? Pakcik tak bisa angkat?” Ekspresi muka pakcik yang kebingungan membuat Sekar tersenyum sambil menahan rasa sakitnya.


“Pakcik tolong ambilkan kursi roda di pojok sana,” dokter Ucy menepuk lengan pakcik.


Cepat-cepat pakcik menuju pojokan.


“Tak ada lah disini! Jangan boong dokter…! Jangan bikin pusing pakcikmu ni,” teriak pakcik.


“Pojok sebelah sana, pakcik!” dokter Ucy sedikit memekik.


“AU! AU!” Sekar membuat panik ibu pedagang ikan selar.


“Waaaa?? Gimana ni, dok…? Cik Cello dah mau brojol! Pakcik cepatlah!” Teriak ibu itu.


“Au au sakit dok…” Sekar mengrenyitkan matanya menahan rasa sakit.


“Waaaa?? Ada darah keluar dok…” ibu itu semakin panik. “Sebentar sebentar… saya susul pakcik dulu…” Begitu ibu itu mau berlari menyusul pakcik, tangan Sekar menarik baju ibu itu. “Duh duh… gimana sih ni?”


“Huft… sakit dok…”


“Pakcik….!” Dokter Ucy dan ibu penjual ikan selar memekik bersamaan.


“IYAAAA Ini iniiii…” Akhirnya pakcik muncul dengan kursi roda.


Sekar segera duduk di kursi roda. Dokter Ucy yang belum sempat makan siang kehabisan tenaga untuk mendorong Sekar yang sedang hamil bayi kembar.


“Uuuhhh…” Dokter Ucy mengerahkan tenaganya untuk mendorong kursi roda Sekar. Melihat dokter Ucy yang kesusahan, pakcik dan ibu pedagang selar ikut mendorong kursi roda itu.


“Satu… dua… tiga… Ciaaaaaa!” teriakan kedua pedagang membuat dokter Ucy geleng-gelang menahan tawanya.


 


*****


Apakah nama Napoleon dan Napolini cocok untuk baby twins?


Bersambung


*****