Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Suasana Malam Malioboro



Akhirnya acara lamaran yang diharapkan keluarga pak Ram selesai juga. Malam itu Raja dan keluarganya menginap di hotel dekat rumah Sekar. Mereka bermalam sambil membahas acara pernikahan Sekar dan Raja.


Ben selaku ketua panitia mengajak Shan keponakannya untuk berdiskusi membahas acara pernikahan Raja. Meskipun acara pernikahannya akan dilangsungkan secara private, Ben akan tetap mengusung tema gelamor untuk acara itu. Ben akan tetap memberikan hasil kerja terbaiknya. Apalagi ini untuk bosnya dan calon istri bosnya.


“Pak Raja…” Ben menepuk bahu Raja yang duduk di belakangnya.


“Tumben manggil, pak?” tanya Raja heran.


“Kan emang udah jadi bapak-bapak sekarang… Emang mau muda terus? Saya bilangin nyonya Sekar nanti,” celetuk Ben dengan gaya manjanya.


“Hahaa! Kebiasan lapor melapor kamu tuw! Ada apa manggil tadi?” tanya Raja dengan raut muka bahagia. Masih terbawa suasana lamaran.


“Bukannya calon nyonya kita punya phobia naik kapal ya?” Mendengar ucapan Ben itu, Raja menepuk jidatnya.


“Aku sampai lupa soal itu.” Raja yang panik, mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya. Dia meremas rambutnya sambil mencari kontak nomor Sekar di handphonenya.


Tut…Tut…Tut…


“Hallo? Kenapa, mas?” tanya Sekar.


“Sayang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Bisa kita ketemu sekarang?” tanya Raja sambil berjalan keluar dari area hotel.


“Tapi ini udah malam loh. Emang gak bisa dibahas besok? Kasian anak-anak kalau aku tinggal sendiri.” Sekar memandangi Boy dan Gadis yang sudah mengenyot jempol.


“Kamu bisa pasang baby monitor yang waktu itu, sayang. Aku taruh di dalam koper warna biru. Coba cek.”


Sekar yang sudah sedikit mengantuk harus membuka kopernya untuk mengecek. Memang benar baby monitor itu ada di dalam koper.


“Gimana? Ketemu?” Ingin sekali Sekar berbohong agar bisa mengistirahkan tubuhnya untuk berbaring manja bersama Boy dan Gadis. Tapi mendengar nada suara Raja yang menggebu, rasanya tidak tega membohongi calon suaminya itu.


“Iya, mas. Ketemu.”


“Bentar lagi aku nyampai di rumah mu ni, sayang. Kamu keluar sebentar ya? Ada yang mau ku omongin… Ini penting banget soal pernikahan kita.”


“Hihiii… Iya iya… Jadi penasaran deh.” Sekar mulai mengambil jaket dan memakainya. Sepintas dalam pikiran Sekar terbesit hal negatif. “Mas Raja mau batalin rencana nikahan kita ya?” tanya Sekar secara terang-terangan.


“Hush! Jangan pernah kamu bilang kayak gitu. Udah sini cepet keluar! Aku udah di depan rumahmu,” Raja memperhatikan kaca jendela di kamar Sekar.


“Wow? Express ya jalan kakinya. Padahal jarak hotel ke sini lumayan jauh tuh.” Sekar memandangi Raja dari jendela kaca.


Akhirnya malam itu, Sekar berjalan keluar dari rumahnya. Area sekitar jalan Malioboro yang tidak pernah sepi itu membuat Sekar berani keluar tengah malam.


“Mas… Mau ngomong apa, mas?” Tanya Sekar membuat Raja mematung memperhatikannya. Meskipun tidak memakai gaun cantik, Sekar tetap terlihat cantik di mata Raja. “Mas Raja? Kok senyam senyum sih?” Sekar menepuk lengan Raja.


“Kamu tetap cantik,” puji Raja membuat Sekar memoncongkan bibirnya tersipu malu.


“Ish! Gombal! Udah ah cepet mau ngomong apa? Takut bentar lagi turun ujan.” Sekar mendongakan kepalnya melihat langit malam. Ternyata banyak bintang bertaburan.


“Mana bisa hujan? Banyak bintang gitu, kok. Yuk! Jalan bentar. Mumpung dah di luar kamar.” Raja dengan gerak cepat meraih siku Sekar. Menarik perempuan itu berjalan keluar dari gang depan rumah menuju depan jalan Maliboro.


Mereka berdua menyusuri jalan dengan bercakap-cakap.


“Jadi sayang, aku cuma mau tahu tentang phobia kamu. Apa kamu sanggup acara pernikahan kita diadakan di kapal?” tanya Raja sambil memasukan tangan Sekar ke saku jaketnya.


“Iya mas. Gak pa pa…”


“Kamu yakin?” Raja meremas jari-jari Sekar di dalam sakunya.


“He’em… Aku yakin. Aku dah jarang mimpi buruk juga,” ucapan Sekar itu menghentikan langkah kaki Raja. Raja penasaran, mimpi buruk apakah itu.


“Mimpi buruk apa sayang?”


“Mimpi masa lalu tentang kejadian di hotel Utara Tarempa dulu,” jawab Sekar sambil mengarahkan Raja mengingat kejadian di masa lalu.


“Maaf ya, sayang,” Raja menghamburkan pelukannya kepada Sekar. Mereka berdiam diri di tengah keramaian jalan.


“Mas, malu tahu peluk-pelukan di tengah jalan gini… Udah ah lepas!” Sekar menggoyangkan tubuhnya. Tapi Raja seakan mengeratkan pelukannya untuk membuat Sekar semakin salah tingkah.


Malam itu mereka berdua melanjutkan langkah mereka ke salah satu angkringan.


“Buk, jeruk panasnya dua njih (ya) buk,” ucap Sekar memesan minuman. Selesai memesan, dia kembali menghampiri Raja yang sudah duduk dengan tampang bengong melihat mobil dan motor yang melintas.


“Hayo… Mikirin apa? Kenapa bengong?” Sekar menepuk bahu Raja.


Tak lama selang waktu mereka berbicara, pesanan jeruk panas diantar oleh pedagang angkringan. Mereka membahas banyak hal tentang rencana pernikahan mereka yang akan dilangsungkan dalam waktu beberapa hari kedepan lagi.


Mereka memutuskan hanya akan mengundang sedikit tamu saja. Pastinya keluarga Galang dan Kasih akan menjadi tamu undangan spesial untuk mereka berdua.


“Selain Galang dan Kasih, siapa lagi yang mau kamu undang, sayang?” Raja menggeser pinggang Sekar agar lebih dekat dengannya.


“Mas… Ini jalan umum loh. Kita kan belom nikah. Ntar kena garukan pak polisi hlo… Mau?” celetuk Sekar setelah mencicipi jeruk panasnya dengan sendok.


“Mana mungkin cuma depel-depelan gini kena garukan? Tuh yang masih ABG pada pangku-pangkuan…”


“Ish… dasar. Ngomong sama mas Raja nih emang gak bisa menang.”


“Hahaa! Siapa dulu dong… Papanya baby twins emang selalu menangan.” Raja semakin menggoda Sekar dengan mendaratkan kecupan di kepala Sekar.


Beberapa saat ketika Raja dan Sekar saling bermesraan, mereka mendengar suara yang tidak asing dari meja belakang tempat mereka duduk.


“Sebaiknya besok kamu beli obat-obatan di apotek buat stok di kapal. Obat untuk anak-anak dan orang dewasa harus komplit. Jangan sampai ada yang terlewat,” pinta pak Ansu.


“Baik, pak,” sambung dokter Ucy.


Pak Ansu dan dokter Ucy yang tidak sadar dengan keberadaan Raja dan Sekar, terus melanjutkan pembicaraan mereka.


“Ow ya… Saya juga undang ibunya Galang yang namanya madam Lily. Dia itu teman lama saya. Stok juga obat alergi dingin. Saya ingat dia punya alergi dingin.”


“Baik, pak. Akan saya ingat,” sambung dokter Ucy.


“Yah, sementara itu dulu yang mau saya sampaikan. Kamu mau pesan makanan? Mumpung ada di Jogja, kamu harus wisata kuliner di sini. Istri saya dulu suka nasi kucing sambal teri sama sate usus pedas manis. Mau gak kamu coba?” tanya pak Ansu.


“Boleh, pak.”


Raja yang tidak mau keberadaannya diketahui oleh pak Ansu, segera berjinjit meninggalkan meja mereka. Tidak lupa Raja meyeliapkan uang dibawah gelas untuk memberi tip ibu pedagang angkringan.


“Agak cepat yank jalannya…” bisik Raja sambil menarik tangan Sekar.


“Kenapa, mas? Kenapa kita gak nyamperin mereka aja?” tanya Sekar bingung.


“Aneh aja, yank. Gak biasanya ayahku ngajak perempuan keluar malem-malem. Jam segini lagi… buat bahas masalah obat? Mencurigakan.” Raja menjadi heran ada hubungan apa antara ayahnya dengan dokter itu.


“Hihiii… Emang mas Raja gak tahu ya kalau mereka udah deket cukup lama?”


“Maksudnya?” Raja masih tidak paham. Karena hubungannya dengan ayahnya tidaklah begitu akrab sebelumnya.


“Ntar mas Raja tahu sendiri… Makanya mas Raja itu sebagai anak harus sering-sering ngobrol sama orang tua. Bukan ngobrol sama lumba-lumba di tengah laut,” sindir Sekar mengingat cerita dari Shan.


“Hloh? Kok tahu? Shan yang bilang ya? Awas aja dia ntar. Mulut dia sama Ben itu emang 11 12 sama. Gak pernah bisa jaga rahasia.”


“Bagus tahu kalau menurutku… Aku juga jadi tahu kalau mas Raja sering nangis gulung-gulung di dalam yacht. Hehee…”


“Senang kamu denger aku nangisin kamu?”


“Iya… Seneng banget, puas… Hihiii.” Raja yang gemas melihat senyum Sekar berseringai, dia mulai menarik hidung Sekar. “Aduh… jangan! Merah ntar!”


Akhirnya malam itu Raja mengantar Sekar kembali pulang ke rumah. Raja mengkecup kening Sekar sebelum Sekar masuk ke halaman rumah.


“Mwuah… Good nite sayang…”


KROMPYANG… “Meong… Meong…!” terdengar suara aneh dari sebelah rumah Sekar.


“Tetangga sebelahmu tuh. CCTV berjalan. Gak bisa lihat kita mesra-mesraan dikit,” bisik Raja.


“Hehee…Biarain ajalah. Kalau gak ada dia, keseharian ayah pasti juga monoton. Aku masuk dulu ya… Good nite, mas…” Sekar melambaikan tangannya dan masuk ke rumah.


 


*****


Bersambung…


*****