
Acara pesta pernikahan masih berlanjut pada malam harinya. Raja dan Sekar terlihat semakin mesra tidak terpisahkan. Raja menggenggam tangan istrinya itu untuk menghampiri setiap tamu. Memastikan kalau tamu mereka menikmati rangkaian acara private wedding.
“Selamat ya nak Raja… Sekar. Tante doain pernikahan kalian selalu dipenuhi kebahagian sampai maut memisahkan,” kata bu Sarah (Ibu dari Kasih sekaligus besan dari pak Ram).
“Terus cepet tambah momongan lagi mumpung masih muda…” seringai bu Sarah yang di dukung para wanita paruh baya.
Selanjutnya pasangan baru itu berjalan mendekati grup laki-laki yang tengah asyik bermain kartu remi.
“Kocok lagi pak Ansss…! Ini udah yang ketiga kalinya anda kalah dari kita-kita.” Pak Ram terlihat sangat bersemangat bermain kartu dengan Pak Ansu, El, Galang, Aan, Ben dan Shan.
“Saya bukannya kalah… Tapi sengaja mengalah,” pak Ansu menyangkal kalau dirinya disebut kalah.
“Udah tiga kali ngocok kartu masa gak bisa-bisa toh? Pie tow iki (Gimana sih ini)?” sambung pak Ram sambil melihat cara pak Ansu mengocok kartu remi. Terlihat tidak jago.
“Ben, kocokin kartunya… Masa soal kocok mengkocok lebih jago Ben? Hm…” celetuk pak Ram masih berlanjut. Para laki-laki disekitar mereka hanya bisa senyam-senyum cengingisan menyaksikan pak Ram dan Ansu terus berdebat hal-hal kecil.
“Mari pak… Saya ajarin,” Ben meraih tumpukan kartu remi dari tangan pak Ansu. “Gini… Pegang sedikit… Selipkan… Pegang dikit lagi… Masukan… Harus pakai perasaan, pak,” Kata Ben menjelaskan.
“Nah… gitu baru betol! Pakai perasaan, pak…” sambung pak Ram lagi.
Group laki-laki itu melanjutkan untuk bermain kartu sampai menimbulakan gelak tawa karena terjadi kecurangan antar pemain. Mereka sangat menikmati suasana malam di atas kapal itu.
Setelah keseruan bermain kartu, mereka melanjutkan dengan makan malam bersama. Tatanan meja panjang pun sudah siap menyambut para tamu. Mereka mulai menyantap hidangan yang disajikan.
Selagi para tamu menikmati makan malam, Sekar justru sibuk memberi asi untuk Boy dan Gadis. Sekar ditemani oleh Raja berada di dalam deck kamar mereka.
“Haus ya dek ya…? Minum yang banyak ya sayang… Habis itu bobok deh,” Sekar mengusap-usap rambut Boy yang sudah bertumbuh lebat. Anak kecil itu lama kelamaan melepaskan bibirnya dari sumber minumannya.
Selesai Boy terlelap tidur, Sekar membaringkan tubuh anaknya itu di bed kecil. Sekar mulai meraih tubuh Gadis dan memberi asi untuk anak perempuannya. Anak itu menyedot asi seperti sangat kehausan. Raja yang memperhatikan kelucuan anaknya itu mendaratkan ciumannya ke pipi Gadis.
“Gigitnya jangan kencang-kencang ya nak ya… Biar itu jadi tugas papa malam ini,” kata Raja membuat Sekar mengrenyitkan alisnya.
“Kamu ni!” Sekar mencubit dada Raja. “Udah ah! Jangan gangguin adeknya,” ucap Sekar masih menahan senyumnya.
Raja mulai duduk di sofa sambil menikmati pemandangan manis di hadapannya. Dia terus-terusan membuat Sekar semakin salah tingkah.
Beberapa menit setelah Gadis selesai meminum asi, Sekar mengepuk-epuk pantat anaknya agar berlanjut tidur.
“Gimana sayang? Udah bobok Gadisnya?” tanya Raja ikut memperhatikan mata Gadis yang sesekali masih terbuka dan terpejam.
“Tuh… Tuh… Udah bobok dia…” Raja memperhatikan kelopak mata anaknya itu sudah tertutup. Pertanda anak itu sudah tertidur lelap.
Pelan-pelan Raja meraih pinggang Sekar. Dia menuntun istrinya menjauhi bed anak-anak mereka. Raja menatap mata istrinya. Mengusap wajah Sekar dengan pelan membuat aliran darah Sekar berdesir. Punggung tangan Raja yang terus mengusap pelan itu perlahan turun ke leher. Sekar semakin meremas tangannya menahan geli yang mulai muncul.
Raja mulai mengkecup bibir Sekar dan menggunkan tangan satunya untuk mendorong pinggang Sekar dekat ke tubuhnya. Bersamaan dengan lidah Raja yang mulai masuk ke mulut Sekar, tangan Raja yang satunya tadi menurunkan dress model kemben sampai buah dad4 itu mencuat separuh. Raja yang menggoyangkan lidahnya dengan pelan, mulai meraba bagian resleting di belakang punggung Sekar.
Saat resleting itu mulai ditarik sampai setengah, Gaun putih yang dikenakan Sekar itu mulai terbuka pada bagian atasnya. Raja melepaskan bhra yang masih terkait dengan sekali sentuhan. Kini dua benda yang sudah dirindukannya mulai tepampang nyata. Sekar yang badannya sedikit gemetaran, mulai dituntun Raja ke bed mereka. Sementara bibir masih beradu menghisap, Raja semakin menurunkan resleting gaun itu sampai bagian bawah. Dia merebahkan tubuh Sekar pelan-pelan sambil menarik gaun putih panjang itu.
“Aku kan udah lama ngak ngocok, sayang... Anggap saja ini pemanasan, biar ronde selanjutnya nanti aku lebih ahli,” ucap Raja dengan tampang menggodanya. Dia melepaskan baju dari tubuhnhya satu persatu.
“Kok bahasanya jadi kayak ayah sih? Kocok mengkocok macam mau main kartu. Huft…” Sekar semakin menghela nafasnya saat suaminya menggosok-gosok pusaka lonjongnya. “… Mm… Mas? Mas Raja minum obat kuat ya? Itu kenapa tegangnya bisa sampai berdiri setegak itu?”
Raja yang melihat ekspresi istrinya itu semakin membuat barangnya tegang. Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, Raja melepaskan celana perempuan itu. Dia menggeser paha Sekar agar terbuka lebih lebar. Selanjutnya menyusupkan wajahnya menyusuri sangkar sang istri.
Benda kenyal yang meliuk-liuk di bagian intimnya itu membuat Sekar menggeliat. Sekar merasakan sensasi yang membakar gairahnya.
Tidak dipungkiri, setelah sekian lama Sekar dihantui dengan ketakutan saat berhubungan badan denagn Raja, malam ini dirinya menginginkan suaminya itu berbuat lebih. Sekar tidak melakukan perlawanan. Dia juga masih canggung mengimbangi permainan suaminya. Yang bisa dilakukan Sekar hanya memasrahkan tubuhnya agar dinikmati sang suami.
Kaku sekali tubuh mu sayang. Kamu pasti masih takut denganku. Maaf ya Sekar ku, karena malam ini aku menginginkan ini. Aku membutuhkan tubuh mu untuk melampiaskan seluruh hasratku yang sudah lama terpendam. Ini bukanlah nafsu, ini adalah cara aku mencintai mu, batin Raja sambil terus menghisap, menekan dan mengoyangkan lidahnya pada bagian intim istrinya.
“Sekar, agak buka lebar lagi ya, sayang,” pinta Raja lebih melebarkan paha istrinya lagi. Dia menuntun Sekar dengan penuh kesabaran. Karena Raja merasa tubuh istrinya itu masih sedikit gemetaran.
Raja mencoba memasukan batang lonjongnya itu ke sangkar sang istri. Dia menekan-nekan beberapa kali tapi masih susah untuk masuk secara penuh. Raja mulai mengusap telinga sang istri.
“Sayang… Kamu harus rileks.” Sekar menatap mata suaminya. Tangan Sekar yang mencengkram seprei dengan kuat, perlahan mulai merenggang. Sekar menuruti kemauan suaminya untuk lebih rileks. Raja yang merasakan hembusan kelegaan dari nafas Sekar, segera mengambil kesempatan untuk mendorong sedikit memaksa agar si junior bisa masuk sampai ujung.
“Argh!... Mas! Sakit!” pekik Sekar dengan menutup rapat matanya.
“Gimana?” Senyum Raja berseringai memandangi wajah sang istri yang kesakitan.
“Udah gak sakit lagi kan? Makanya rileks sayang,” kata Raja perlahan menggoyangkan pinggangnya.
“Maaf mas… Soalnya aku masih takut kamu main kasar,” ucap Sekar dengan jujur.
“Gak akan sayang. Aku gak akan main kasar lagi sama kamu,” Raja mengkecup dahi istrinya.
“Aku lanjutin ya…” Sekar menganggukan kepala. Dia memandangi bagian tengah pada tubuhnya yang sudah tertutup rapat dengan maha karya yang terasa penuh sampai bagian perut teratasnya.
Raja mulai menggoyangkan pinggangnya dengan ritme naik turun. Ingin sekali Raja menghentakan juniornya lebih keras dan cepat. Tapi ini bukan saatnya. Yang diutamakan Raja saat ini adalah memberi kenyamanan kepada sang istri. Sambil bergoyang Raja meremas-remas dua benda kenyal yang terus menggiurkan pandangannya.
“Mas, remasnya jangan kencang-kencang. Nanti asinya keluar,” kata Sekar sedikit tersenggal-senggal karena hentakan dari suaminya.
Setelah cukup lama Raja menggoyangkan pinggang istrinya, akhirnya lahar hangat itu terasa akan menyembur. Raja meremas rambut Sekar dan menghembuskan nafas ke wajah sang istri.
“Huft… Love you. Thank you sayang,” ucap Raja dengan rasa penuh lega setelah mengeluarkan lahar. Sekar tersenyum dengan mengangguk dan mengusap keringat yang sedikit keluar dari pelipis suaminya itu.
*****
Bersambung…
Like Like Like
*****